
Dia melihat kesekeliling rumah dan menemukan kotoran ayam dilantai. “Apa Kakek berusaha mengusir ayam dan malah terjadi sesuatu, atau jangan-jangan aku lupa mengunci pintu belakang, dan Kakek mengusirnya lewat pintu itu, dan kemudian malah pergi dari rumah.”
Prasangka berlebihan membuatnya tambah cemas, setelah itu segara menuju pintu belakang, tetapi, ketika dia membuka pintu itu, pintu tersebut masih terkunci rapat.
“Masih terkunci, lalu ... kema ....”
Dia pun menyadari bahwa pintu depan yang dilewati sama sekali tidak terkunci, kerna tergesa-gesa sehingga lupa akan hal itu.
“Kakek ...!” teriaknya segera berlari ke depan.
“Iya ada apa?” jawab kakeknya yang ternyata berada didapur sambil memegang segelas air, membuat Ken terhanti dan segera menoleh.
“Ahh Kakek ... Kakek membuatku cemas saja huhh ...!” ucapnya sambil menunduk lesu dan merasa lega.
“Apa yang kamu bawa ditanganmu?” tanya sang kakek.
“Oh iya, ini ikan Kek, aku memancing tadi bersama Paman Osama.”
Kakeknya menghampiri dan melihat isi wadah tempat itu. “Banyak juga ya, melihat kamu begini mengingatkan kakek saat kamu masih kecil, saat itu kakek dan nenek tengah menanam padi sedangkan kamu malah asik bermain lumpur, kami kira hanya sedang bermain saja, tiba-tiba kamu datang menghampiri membawa ikan yang besar dengan wajah penuh lumpur, kami berdua tertawa melihat kamu yang sedang tersenyum penuh percaya diri dangan ikan ditanganmu."
"Sekarang kamu sudah besar yah. Dengan usia kakek seperti ini, kakek harap kakek tidak akan merepotkanmu lagi,” ucapnya sambil menepuk pundak Ken.
“Kakek ... Kakek jangan bicara seperti itu, aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan, aku janji akan selalu menjaga Kakek seperti Kakek menjagaku saat masih bayi sampai aku besar, Kakek dan Nenek sudah seperti Ayah dan Ibu bagiku.”
“Tidak Ken kami akan tetap menjadi kakek dan nenekmu dan mereka yang meninggalkanmu saat bayi di depan rumah ini akan tetap menjadi ayah dan ibumu,” jawab kakek tegas.
“Iya Kek, aku tidak akan menyalahkan mereka dengan semua yang mereka lakukan terhadapku, bagiku mereka adalah ayah dan ibu yang baik.” jawab Ken tersenyum dan air mata yang mengalir dipipi, lalu segera memeluk kakeknya.
...●●●●...
Malam itu bulan bersinar sangat terang, memperlihatkan cahaya bintang-bintang. Nyanyian binatang malam terdengar sangat merdu saling bersahutan, namun suara kodok malah sedang memanggil hujan.
Nyanyian tersebut menjadi kacau dan terus bertambah kacau hingga tak lagi beraturan, kerna berpadu dengan suara patung-patung yang jatuh dihempas hingga pecah berserakan.
"Ahh ... Ken ... he he ... untuk pagi esok ucapkanlah selamat tinggal pada pekerjaanmu ini," ucap seorang laki-laki yang sengaja melakukannya.
...●●●●...
Matahari kembali terbit menandakan waktu sudah pagi, suasana sejuk pun tengah menyelimuti. kali ini ia sedang asik bersembunyi dibalik awan mendung, seolah hari ini tak akan mendukung.
Seperti biasa Ken selalu bangun sangat pagi-pagi sekali untuk menyelasaikan pekerjaan rumahnya terlebih dahulu, dari mencuci pakaian sampai membersihkan rumah, dan tentunya menyiapkan makanan untuk kakeknya sebelum berangkat pergi bekerja.
“Oh ya Kek, kemarin ada ayam masuk rumah kita ya? aku lihat ada kotorannya dilantai,” tanya Ken tengah bersiap-siap.
“Aku lupa soal itu, tapi, sepertinya ayam tetangga mau bertelur lagi, makanya dia masuk rumah kita.”
“Sepertinya begitu, emm ... ikan kemarin belum aku masak Kek, bagaimana kalu kita kasih ke bibi sebelah untuk memasakkannya, sekaligus dibagi dua,” tanya Ken meminta pendapat.
“Sudah seharusnya begitu, dia sangat sering membantu kita, uang yang kamu dapat kemarin sisihkan untuk kamu dulu, nah sisanya kasih ke bibimu untuk dia beli bahan,” jawab sang kakek.
__ADS_1
“Baik Kek, emm Kakek mau aku belikan sesuatu, sapa tau ada yang mau Kakek makan.”
“Entah kenapa aku rasa ingin makan buah-buahan,” pinta sang Kakek.
Setelah itu Ken berdiri dan menghampiri kakeknya untuk pamit berangkat. “Baik Kek nanti aku balikan,” ucapnya sambil bersalaman.
“Nenekmu mana kan kamu sudah mau berangkat, apa dia keasikan tidur?”
Pertanyaan kakeknya bagai sebuah panah yang menghujam jantung hingga membuatnya terdiam membeku merasakan sakit dan kepedihan, mulutnya nampak sulit berucap bagaimana cara menjelaskan.
“Kek ... nenek sudah tidur nyenyak dengan senyum diwajahnya, dia sudah meninggalkan kita untuk selamanya, dan dia sudah bahagia di sana, jadi Kakek tak perlu mengkhawatirkan nenek lagi,” jawab Ken dengan air mata yang terus menetes dipipi, air matanya tanpa sengaja menetes ditangan kakeknya hingga sang kakek telah ingat bahwa istrinya sudah lama meninggal dunia.
Ken sudah sering memberitahukan hal itu kepadanya setiap kali dia bertanya, dikarenakan selalu lupa, kakeknya selalu menanyakan tentang neneknya, namun Ken tak pernah bisa terbiasa untuk menjawab tanpa menangis, pertanyaan tersebut selalu saja terasa sangat menyakitkan.
Melihat wajah kakeknya yang berubah sedih Ken segera menyapu air matanya. “Baiklah Kek, aku harus segera berangkat dan membawakan ikan itu kepada Bibi,” ucapnya sambil bersalaman kembali dan kemudian pergi menuju rumah bibi, tentunya setelah mengunci semua pintu rumahnya.
Kerna rumahnya bersebelahan dengan rumah sang bibi dan dia pun sedang menjemur pakaian, seketika itu Ken segera menghampirinya.
“Bibi, ini aku ada ikan hasil memancing kemarin, kerna aku kurang bisa memasak ikan, jadi apa Bibi bisa memasakkannya untuk kakek?”
“Iyah, tenang saja nanti bibi akan masakin buat kakek,” jawabnya sambil tersenyum.
Ken mengambil uang disakunya “ini Bi buat beli bahan untuk memasak,” ucapnya seraya menyodorkan uang.
“Astaga tidak perlu, untuk masalah itu biar aku saja nanti, simpan saja buat kamu.”
“Oh iya Bi, nanti tolong liat kakek sekali-sekali, aku takut dia keluar lagi, nih Bi kuncinya.”
“Baiklah kamu tenang saja, kamu yang rajin aja bekerjanya.”
“Aku berangkat dulu terima kasih banyak Bi,” jawab ken kemudian pergi.
...●●●●...
Saat itu ken sudah sampai diruangan tempat dia bekerja, dia sangat kaget ketika melihat semua patung yang dia kerjakan kemarin telah hancur berserakan.
“Apa ... apa yang terjadi di sini! siapa yang melakukan ini?!” ucapnya heran dan panik.
Kepanikannya bertambah setelah mendengar suara siulan orang yang berjalan menghampiri ruangan itu, orang tersebut tidak lain adalah laki-laki yang datang telat kemarin namanya adalah Guni, seorang yang sengaja menghancurkan patung-patung itu untuk menjebak Ken.
“Wah ... apa yang terjadi di sini hampir semua hancur he he ... kalau punya masalah jangan menghancurkan barang punya orang dong!” ucapnya dengan senyum dan tatapan menghina.
Ken menyadarinya. “Kau ...! apa kau yang melakukan semua ini, cepatlah mengaku kepada tuan kita, kalau tidak aku bisa dipecat.”
“Loh memang itu kan rencananya, jadi persiapakanlah dirimu.”
“Kurang ajar kau!” Ken langsung berlari menuju Guni dengan sangat marah.
Guni menyeringai. “Tuan-tuan lihatlah apa yang dilakukan pekerja teladanmu!” ucapan tersebut membuat Ken terhenti, dan dengan segera tuan majikannya datang menemui.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan Ken, kenapa kau menghancurkan semua ini?!” ucap sang majikan
“Tidak tuan ini bukan salahku, aku yakin orang inilah yang melakukannya.” Tunjuk Ken ke Guni, dengan wajah polosnya Guni membantah.
Majikannya semakin marah. “Bukannya minta maaf kau malah menyalahkan orang lain, aku pikir kau anak baik-baik, ternyata sama saja dengan yang lain, sekarang cepat pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memintamu mengganti kerugian semua ini!” tariak sang majikan.
“Tapi ini bukan salahku tu ...”
“Pergi!” potong majikannya, dengan berat hati Ken segera keluar dari tempat itu, kerna tidak ada yang bisa dia lakukan.
...●●●●...
Saat itu Guni telah pulang dari tempatnya bekerja, dia tengah bersama teman rekan kerjanya, mereka nampak sangat akrab bercengkrama.
“Kalian tahu hari ini aku sangat puas kerna rencanaku sudah berhasil untuk menjatuhkan Ken, kalian lihat bagaimana dia dimarahi majikan, aha ha ... aku bener-bener tidak tahan melihat wajahnya,” ucap Guni mentertawakan bersama temannya.
“Parah ... Parah parah kau Guni, bagaimana bisa kau melakukan itu ha ha ha ...!”
“Pantas saja tidak ada yang berani denganmu, kau memang ahlinya membuat rencana,” sahut yang lain membuat mereka bertiga tertawa bersama.
“Ternyata benar kaulah yang menjebakku,” ucap Ken mengagetkan sambil berjalan keluar dari dalam gang, dia sengaja bersembunyi untuk mendengarkan.
Mereka bertiga yang tidak menyangka bahwa Ken berada disitu membuat mereka tersentak kaget. “Huhh ... ternyata cuma anak buangan, aku kira siapa tadi,” ucap guni mengejeknya.
“Astaga memang parah kau ini dihadapannya malah bicara begitu.”
“Ha ha ha ... aduhh ... iyanih jadi sakit perut aku, gara-gara kau!”
Ken berusaha tidak peduli dengan ucapan Guni seperti itu dia nampak menahan diri. “Ikut aku sekarang dan ceritakan semuanya pada tuan kita, bahwa itu ulahmu,” balas Ken meraih tangan Guni dan menyeretnya menuju tempat mereka bekerja.
“Lapaskan tanganmu bodoh,” jawab Guni melepas pegangan Ken, “hey ... anak kakek kau pikir aku mau melakukan itu hah ... dasar bodoh!” sambungnya di depan wajah Ken.
“Lihatlah anak kakek ini, kehidupannya benar-benar malang,” seru Guni membuat kedua temannya mentertawakan.
“Apa sebenarnya yang kau mau dariku,” balas Ken pelan.
“Apa heh apa, aku tidak dengar coba tanya sekali lagi.”
“Aku bilang kenapa kau melakukan itu kepadaku!” teriak Ken.
*Buaghh ...!
Guni memukul Ken dengan keras hingga membuatnya terjatuh. “Kau mau tau kenapa heh ... itu kerna kau sudah mempermalukanku di depan tuan! bahkan aku selalu dibandingkan dengan dirimu yang seperti ini!” teriak Guni dihadapan Ken.
“Tapi yah bukan hanya itu sih, melainkan kerna aku ingin bersenang-senang, apa lagi dengan anak buangan sepertimu,” jawab Guni terus mengejek dan mempermainkannya, sedangkan Ken nampak hanya tertunduk menahan amarahnya.
“Tahan dia kawan-kawan, mari kita hajar dia dan bersenang-senang.” Kedua temannya seketika itu memegang Ken dan menahannya, sedangkan Guni tersenyum menyeringai.
-Bersambung-
__ADS_1