
“Alhamdulillah, aku tidak percaya ini akan berhasil, sungguh perjuangan yang tidak sia-sia, betapa susahnya aku harus menyesuaikan pembicaraan ini dengan Shiro, aku bahkan berlatih dipinggir sungai hanya untuk bercermin melihat raut wajahku sendiri ketika berucap seperti dirinya, bahkan aku sempat diteriaki anak-anak orang gila kerna berbicara sendirian, tapi tidak apa-apa aku harus segera mengubah sifatku yang terlalu pendiam agar bisa mudah mendapat teman seperti yang di suruh oleh pria berjaket hitam itu, Alhamdulillah Ya Allah ...” ucap batinnya terus tersenyum dan bersyukur sembari berjalan dibelakang Shiro menuju tebing.
“Cih ... Apa kau yakin ini akan berhasil?” tanya Shiro.
“A'ahh ... tentu saja, jika kau memang berada jauh dari tempat mereka, kemungkinan besar meskipun kau berlari cepat, itu tidak akan cukup untuk bisa menolong mereka. Ini akan kita jadikan senjata untuk meyakinkan mereka agar kau memang tidak bersalah, kerna meskipun kau datang menolong, kejadian itu tidak akan berubah, kenyataannya kau memang tidak akan sempat menolongnya.”
“Tapi ... apa mereka bisa memaafkanku begitu saja, apa lagi Chio sempat menuduhku begitu.”
“Tenang saja mereka akan memaafkanmu, lagi pula tuduhan Chio tidak berdasar, kita punya peluang.”
“Cih ... apa boleh buat, terpaksa kali ini akan kupercayakan padamu Aira,” ucap Shiro lagi-lagi salah menyebut nama.
“A’aah ... serahkan saja padaku bro Shiro,” jawabnya sedikit tidak terima, “apa dia sengaja memanggilku begitu, dulu gadungan sekarang Aira, hemm ... biarkan sajalah,” sambungnya pasrah dalam hati.
Setelah itu keduanya pun sampai ditampat tujuan mereka, di mana ditempat itulah Ken dan Kakeknya di anggap hilang dan meninggal dunia terbawa arus sungai bawah tebing.
Seperti yang Akira katakan, dia berencana untuk melihat sendiri bagaimana kejadian itu melalui penjelasan Shiro, sekaligus ingin mencari bukti agar Shiro bisa lepas dari tuduhan mereka.
“Di sinilah aku berdiri memperhatikan mereka, aku ingin sangat dekat dengan mereka agar bisa mendengar percakapannya, hanya saja ini satu-satunya pohon yang ada agar aku bisa bersembunyi,” ucap Shiro mendekati pohon rindang itu.
Mendengar itu Akira hanya bisa terdiam tak menyangka dengan apa yang dia lihat, saat itu juga dia duduk berjongkok dan tertunduk melihat tanah kemudian malah tersenyum.
“Ini sesuai yang aku harapkan, Shiro memang tidak bersalah dan tak akan sempat menolongnya, itu sudah sangat jelas bagaimana mungkin dia bisa berlari cepat dengan jalan yang bergelombang dan jarak sejauh ini, yang ada dia akan tersandung dan terjatuh,” ucapnya batinnya kemudian mendongak melihat Shiro yang menatap dunia luar.
“Aku tidak menyangka dengan kemampuan pendengarannya, dia bisa sedikit mendengar percakapan mereka mengenai ingin meninggalkan negeri dengan jarak seperti ini, dia benar-benar berbeda. Yosh ... saatnya aku menjalankan rencana selanjutnya," sambungnya dalam hati kemudian berdiri.
“Hahh ... ini benar-benar buruk bro, kau memang bersalah, seandainya kau bisa berlari saat itu mungkin saja kau bisa menyelamatkan mereka, padahal kau bisa mendengar percakapan mereka dari sini, tetapi malah tak bisa bergarak, hemh parah sekali kau bro,” ucap Akira membohonginya.
“Cih ... yang benar saja, kalau begitu aku harus apa?”
“Cuma ada satu cara. Minta maaflah pada mereka dan mengakui kesalahanmu dengan sungguh-sungguh, hanya itu saja yang harus kau lakukan bro Shiro,” jawab Akira seraya menepuk pundaknya.
“Menurutmu ... apa mereka akan memaafkanku Aira?”
“A'ahh ... serahkan saja itu padaku, kau hanya perlu mengungkapkan rasa bersalahmu pada mereka. Besok pagi datanglah ke rumah Chio aku akan menjelaskan beberpa hal pada mereka menganai ini, namun yang pasti mereka akan memaafkanmu bro Shiro,” jawabnya sambil tersenyum menatap Shiro.
“Cih ... jangan menyentuhku,” jawabnya langsung berpaling.
“Aha ha ha ... baiklah-baiklah.” Jawabnya seraya mengangkat kedua tangan.
Keesokan harinya ketika matahari sudah meninggi dan terasa sedikit panas, Shiro segera berangkat dari rumahnya menuju Rumah Chio.
__ADS_1
Saat didepan pintu rumah Chio ada sedikit keraguan dihatinya dan takut kalau-kalau mereka tidak memaafkannya. Untunglah dia merasa mempercayai Akira yang siap membantu, hingga dia mulai marasa lebih berani dan yakin.
*Tok tok tok!
Shiro mengetuk pintu dan langsung dibukakan Akira. “Kenapa kau lama sekali kami sudah menunggumu, cepat masuk.”
Shiro pun melangkah perlahan masuk dan melihat Ayumi dan Chio tengah menatapnya seolah tidak suka, melihat itu dia segera menunduk terus berjalan menghadap mereka.
“Shiro aku ...” ucap Chio.
“Maafkan aku! Kumohon maafkan aku, Aku lah yang salah dari semuanya, gara-garaku kita semua harus kehilangan teman kita Ken, aku akan terima apapun hukumannya, jika itu bisa membuatku dimaafkan oleh kalian apapun pasti akan aku lakukan. Maafkan aku, komohon maafkan aku!” potong Shiro berteriak terus menunduk seperti orang yang rukuk.
“Pff Aha ha ha ...." serantak Chio dan Akira tertawa keras sedangkan Ayumi hanya tersenyum menahan tawa.
“Hey kalian jangan mentertawakannya, lihatlah aku tidak pernah melihat Shiro meminta maaf dengan sungguh-sungguh seperti ini,” ucap Ayumi berusaha menahan tawa dengan hanya tersenyum.
Shiro kemudian mendongak dengan posisi masih membungkuk rukuk melihat mereka yang berpaling menghadap dinding dan tertawa keras.
“Aira!” sontak Shiro berteriak marah, tersadar bahwa Akira ada dibalik semua ini.
Chio pun berpaling kembali menghadapnya. “Aha ha ... tenang-tenang Shiro kami sudah memaafkanmu, Akira sudah menceritakan semuanya menganai kau yang berada ditempat kejadian dimana Ken terjatuh, kau sama sekali tidak akan bisa menolong meskipun kau bisa berlari cepat.”
Chio berjalan mendekatinya. “Yahh ... Ayumi benar, menganai kemarin, aku sama sekali tidak berniat menuduhmu, itu sepontan saja keluar dari mulutku, maafkan aku Shiro,” ucapnya kemudian bersalaman dengan Shiro yang masih terlihat bingung.
“Kau masih tidak mengerti yah, ini semua rencana Akira agar kau bisa meminta maaf sendiri,” sambung Chio mengarahkan pandangan kepada Akira yang masih saja tertawa.
“Cih ... cepat hentikan tawamu sebelum aku ke sana dan menutup mulutmu,” ucap Shiro menatapnya kesal.
“Maaf-maaf bro aku sampai sakit perut kerna tertawa melihatmu begitu. Hahh ... maafkanku harus berbohong soal ini, aku terpaksa melakukannya."
"Sebenarnya ini hanya untuk membuat dirimu meminta maaf secara langsung pada mereka, kerna menjalaskan begitu saja aku rasa belum cukup, maka dari itu dengan meminta maaf secara langsung dan bersunguh-sungguh tentunya akan segera menyelasaikan masalah,” jawab Akira menatap mereka semua.
“Cih ... apa boleh buat, kali ini kau kumaafkan,” balas Shiro seketika berpaling.
“Aha ha ... terimakasih bro Shiro! terima kasih banyak” jawab Akira sambil membungkuk hormat.
“Bro!” sahut Ayumi heran.
“A'aah ... itu panggilan untuk teman dekat, itu kesepakatan kami berdua jika aku bisa membantu Shiro untuk meminta maaf pada kalian maka dia harus berteman denganku.”
“Cih ... hanya untuk sementara bodoh!”
__ADS_1
“Aku tidak peduli apa itu sementara atau pun selamanya, namun yang pasti kita bisa saling mempercayai dan membantu satu sama lain, kita harus pertahankan ini agar tidak ada lagi perselihan di antara kita semua. Ayo kita satukan tangan kita di depan dan bersorak teman untuk saling percaya,” pinta Chio untuk bersorak bersama.
Chio pun dengan cepat mengarahkan telapak tangan ke depan lebih dulu, kemudian Ayumi di sisi kiri.
"Cih ... kenapa kita harus melakukan hal bodoh ini."
"Sudah ikut saja," ucap Chio memaksa Shiro untuk ikut dan menariknya ke sisi kanan.
Akira hanya diam di depan mereka dia sempat mengira bahwa itu hanya untuk mereka bertiga saja. Dia gembira melihat mereka bisa bersama lagi sekaligus sedih kerna semua masalah itu bisa terjadi di akibatkan kehadirannya di antara mereka. Merasakan itu dia malah melangkahkan kaki ke belakang mencoba untuk memberi jarak pada mereka untuk bersorak.
“Akira kau juga,” pinta Ayumi tiba-tiba membuatnya tersantak memandang.
“Yah Akira kenapa kau malah mundur ini untuk kita berampat,” pinta Chio juga.
“Cih ... dasar si Aira Bodoh, tanganku sudah lelah menunggu.”
“A’aah ...” Akira terkejut dan malah canggung, dan ikut melatakkan tangannya di atas mereka.
“1, 2 ... 3!” ucap Chio menghitung.
“Teman untuk saling percaya!” mereka serentak berteriak dan mengangkat tangan bersorak gembira.
Melihat mereka bergembira bersama membuat Akira meneteskan air matanya, suara riuh mereka bercanda membuak Akira tertunduk berusaha menahan Air mata.
“Aku ...” ucap Akira seraya menangis dan menundukkan kepala menjadikan mereka semua terdiam hening melihatnya.
“Aku ... aku sangat berterimakasih kerna kalian bisa mem ...” ucap Akira dengan bibir bergetar dan tersedu-sedu membuat sulit berkata-kata.
Chio berjalan mendekati dan menepuk pundaknya. “Sudahlah tidak perlu kau lanjutkan kami paham apa yang sebanarnya ingin kau katakan.”
“Akira, kau telah banyak mengajariku tentang Islam, dan aku ingin tahu lebih banyak lagi darimu, jadi kumohon ajari aku lagi semua yang kau tahu tentang Islam, agarku bisa lebih dekat dengan tuhan kita Allah,” sahut Ayumi ikut berjalan mendakati.
“Cih ... Aku tidak tau apa yang sudah terjadi disini, namun yang pasti kau bisa pegang kesepakatan kita, kerna aku akan bersedia selalu membantumu.” Sahut Shiro juga masih berada ditempatnya.
“Kau ingin bilang terima kasih kerna sudah mempercayaikukan? Maka dari itu tidak perlu kau lanjutkan kerna seharusnya kami yang mengatakan ‘Terimakasih Akira kerna kau sudah mempercayakan ceritamu yang berharga pada kami semua’.”
Ucapan Chio sontak saja membuat Akira menangis hesteris, tak bisa berkata-kata lagi.
Semua emosi yang dia tahan selama ini, kini telah lepas hingga tidak bersisa, dia terus menyapu kedua air matanya dengan pergalangan tangan, namun air mata terus bercucuran tak bisa dibendung. Dia pun menyerah dan membiarkan dirinya menangis keras dihadapan mereka semua yang kini telah menatapnya dengan tatapan seorang teman.
-Bersambung-
__ADS_1