
Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken, namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.
"Ken ...!" teriak seorang laki-laki memanggil.
Akira membalikkan badan dan melihat seorang laki-laki melambaikan tangan ke atas diantara orang-orang yang berlalu lalang. "Oh Chio kau kah itu?!" jawab Akira melambaikan tangan.
"Yah ini aku!" Dia berlari menghampiri Akira, kemudian mereka pun berjalan bersama.
Akira melihat Chio tengah membawa keranjang anyaman dan itu terlihat sangat berat. "Apa itu berat?"
"Ah iya, ini se-di-kit be-rat huh ..." Terdengar dari suaranya itu sangat berat.
"Sini biar aku bantu mengangkatnya," jawab Akira membantu mengangkat.
"Terima kasih Ken kau sangat membantu."
"Kau beli sebanyak ini untuk apa?" tanyanya heran melihat begitu banyak barang yang ada di dalam keranjang.
"Tidak, aku tidak membelinya, ini semua barang-barang yang telah dibuang kerna rusak, aku ingin memenfaatkannya kembali, tentu saja setelah kuperbaiki semua."
"Eh bukan kah ini mainan anak-anak ha ha ha ..." ucapnya kemudian mengambil satu buah mainan yang rusak.
"kamu juga mengambil ini, eh ... ternyata kau masih suka main-main dengan ini ya ...!" sambungnya nada bercanda.
"Bukann lah! masa iya aku bermain dengan itu." dia berteriak kesal merasa malu.
"Aku sangaja mengambilnya kerna ingin kuperbaiki, supaya bisa kuberikan ke anak-anak yang tidak mampu."
Akira tersenyum bangga, "Kenapa kau mau melakukannya, padahal kau juga bukan orang yang mampu, kenapa tidak menjualnya saja, kan itu bisa mencukupi, yah walaupun tidak seberapa."
"Itu cuma hal kecil begiku, masih banyak yang lain untuk bisa kujual, tidak ada salahnya juga kan kita saling membantu," jawabnya membuat Akira tersenyum.
"Ah iya Ken, kau mau bantu aku mengumpulkan barang-barang seperti ini lagi, aku belum mencari di daerah sana."
"Tentu saja Chio aku juga ingin banyak membantu, lagi pula aku tidak melakukan apa-apa saat ini," jawab Akira bersemangat.
Mereka berdua pun menuju tempat yang ditunjuk Chio sambil menjinjing keranjang yang mereka bawa bersama.
Chio adalah seorang yang sangat cerdas dia bisa memperbaiki barang-barang rusak yang dia temukan, bahkan dia mampu membuat hal-hal yang baru, sehingga bisa menjualnya kembali, dengan begitu itu dia bisa mencukupi kebutuhannya sahari-hari.
Tiba-tiba terdengar suara merdu melantunkan kata-kata yang sangat indah di keramaian pasar.
Akira terdiam sedangkan Chio terus berjalan . "Eitss ... adududuhhh ..." ucapnya hampir terjatuh.
"Kenapa kau tiba-tiba berhenti! dan apa yang sedang kau lihat?" sambungnya heran melihat Akira memandang ke arah lain.
"Hey Chio, apa yang mereka lakukan, kenapa mereka bergerombol di sana, dan suara merdu yang terdengar ini ..."
"Oh maksudmu mereka itu." Tunjuk Chio kearah banyak orang yang sedang berkumpul.
__ADS_1
"Ya, apa yang sedang terjadi," ucapnya terus bertanya, dia nampak sangat penasaran.
"Ehem! ehem!" Chio nampak berusaha menjelaskan dengan gaya yang tahu segalanya.
"Mereka adalah seorang penyair yang sedang menampilkan karya syair mereka, sehingga begitu banyak orang yang bergerombol untuk melihat dan mendengarkan, tidak hanya disatu tempat ini saja, melainkan terdapat dibeberapa tempat di pasar ini, mereka saling beradu kehebatan dalam membuat syair-syair indah, dengan begitu bisa menarik banyak pengunjung pasar untuk mendengarkan karya-karya mereka."
Tiba-tiba Akira melapaskan keranjang yang dia bawa bersama, sedangakan Chio terus menjalaskan.
*Bruukkk ...!!!
Chio terjatuh, barang-barangnya berhamburan, dia kehilangan keseimbangan kerna Akira melepaskan pegangan dari keranjang itu. Chio melihat barang-barangnya berhamburan serta orang-orang tengah memperhatikan, Sedangkan Akira, dia sudah berlari menjauh ke arah kerumunan orang yang menonton para penyair.
"Kenn ...!" teriak Chio kesal.
Suara merdu yang di dengar membuat para penjual dan pembeli yang ada di pasar terdiam serentak, kata-kata yang keluar dari mulut mereka memiliki makna yang indah dan tersusun bagai sajak.
Akira melewati banyak orang untuk berada di barisan depan hanya agar bisa melihat secara jelas para penyair itu menampilkan karyanya, Akira sangat terkagum-kagum dengan kata-kata yang mereka syairkan hingga membuatnya terdiam mengahayati semuanya.
Syair itu selasai, dan membuat tepuk tangan riuh, tiba-tiba salah satu suruhan penyair itu menyodorkan keranjang sedang ke arahnya yang berisi koin.
"Ehh.. untuk apa ini?" Akira heran
"Apa kau bodoh! kami melakukan pertunjukan seperti ini untuk menghibur kalian dan kalian juga harus bayar," ucapnya marah.
"Apa ... aku kira ini gratis."
"Kau pikir hari ini ada yang gratis! kalau gak punya uang gak usah ke sini!" teriak orang itu marah.
"Maaf ya Ayumi, nanti aku ganti uangmu janji," ucap Akira merasa malu.
"Sudahlah Ken tenang saja tidak perlu kau pikirkan, sebagai gantinya kau temenin aku belanja di pasar gimana?"
"Yoshh ...! siap tuan putri." Akira berdiri tegak dan memberi hormat.
"Kenn! aha ha ha ...." Ayumi tertawa melihat tingkah Akira.
"He he he ... ayo kita berangkat," ucapnya membuat Ayumi tersenyum dan mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan menjauh dari kerumunan.
"Ken ...!" Chio berteriak sambil melempar sesuatu ke arah Akira dan mengenai belakangnya.
"Adududuh ... sakitnya ... Chio apa yang kau lakukan"
"Justru kau Ken, kemana saja kau dari tadi?!" jawabnya kesal kerena ditinggalkan begitu saja.
"Maaf-maaf Chio aku lupa he he he ...."
"Sudahlah kalau gitu kau harus bawa semua ini sendirian," balasnya sambil menjatuhkan keranjang.
"Hah ...! mana mungkin aku bisa membawa sendirian barang sebanyak ini," ucap Akira seolah tak mampu.
__ADS_1
"Aku saja bisa!, ah baiklah kalau gitu aku akan bawakan ini dan sisanya kau." Chio mengambil satu barang.
"Ap-apa, kau ...!" Akira sangat kesal.
"Apa apa hee ... mau berkelahi he ...." balas Chio sambil memancing-mancing Akira.
Mereka terus bertengkar dengan adu bicara, sedangkan Ayumi hanya tertawa melihat kelakuan mereka.
"Kalian berdua dari dulu selalu bertengkar, Ken kau harus bawa semuanya, kaulah yang salah di sini kerna sudah ninggalin Chio," ucapnya membela.
"Tapi kan Chio ..."
"Kenn ...!" ucap Ayumi dengan wajah seram.
"Baiklah-baiklah," ucap Akira pasrah.
"He he he ... bawa semuanya ya Ken ... jangan ada yang tertinggal, kami duluan ya ..." balas Chio dengan nada mengejek.
"Chio! awas kau yah akan ku ba ..." jawab Akira masih tidak terima sambil memukul-mukul telapak tangan menakut-nakutinya, namun Ayumi melihat.
"Ehemm!" Ayumi berdehem mengingatkan.
"...ntuu ... he he ..." sambung Akira mengalihkan.
"Chio ayo kita jalan duluan."
"Ayo, dadah Ken ...." Chio melambaikan tangan.
"Ya ampun, aku harus bawa semua ini, huh ... sudahlah lakukan saja," ucapnya pasrah.
Setelah itu mereka asik ke sana dan ke mari berjalan-jalan di pasar, membeli berbagai hal, mereka nampak bersenang-senang dan banyak hal-hal konyol terjadi, hingga membuat mereka tertawa bersama, namun tentunya, Akiralah yang paling kesulitan di antara mereka bertiga.
"Cih ..." ucap seorang laki-laki memukul tembok sedang memperhatikan mereka bertiga.
"Tidak kusangka, bukan hanya Ayumi yang dia kenal bahkan Chio pun tak luput darinya apa lagi yang dia tahu," sambungnya merasa heran.
...●●●●...
Dua orang laki-laki berjalan cepat menuju sebuah ruangan, mereka kemudian membuka pintu dan seketika itu membungkuk kepada tiga orang.
"Kami menghadap tetua ingin menyampaikan perihal tentang upacara itu." Salah satu dari mereka mangatakan.
"Bagaimana, apa semuanya sudah siap?" tanya salah satu tetua yang sedang duduk bersama.
"Yah semuanya sudah siap, kita bisa segera melaksanakannya."
Ketiga tetua itu saling bertatapan dan mengangguk. "Umumkan keseluruh penduduk untuk berkumpul ketengah desa, agar kita bisa segera melaksanakannya."
"Baik tetua akan segera kami laksanakan." Keduanya langsung pergi keluar untuk melaksanakan perintah mereka.
__ADS_1
-Bersambung-