The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Chapter 16 : Pemimpin di Balik Tirai


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Akira dan lainnya kembali menuju daerah pembangunan yang mereka kerjakan agar tidak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka.


“Cih dasar kalian ini, selalu saja menambah tugas dan masalah. Kalau terus begini, kita semua pasti akan melenceng dari tujuan utama kita menemukan Ramadhan,” ucap Shiro sangat kesal.


“Memang benar kita bisa saja melupakan itu, dan bagaimana pun juga, sejak kita dijebak hingga keadaan seperti sekarang, permasalahan yang kita hadapi tidak lagi menyelidiki petunjuk-petunjuk tentang kebaradaan Islam di negeri lain, kita sekarang hanya terus mencoba untuk menyelamatkan diri kita dari perbudakan yang mana harus merubah negeri ini terlebih dulu,” jawab Chio.


“A’ahh … aku sendiri tidak bisa menutup mata dari masalah ini, kita sebagai teman Daichi tentu harus ikut membantunya, hanya kita yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di masa lalu, semua yang bisa membulak-balikan kerajaan,” sahut akira.


“Cih … ingatlah kita hanya manusia biasa, kau pikir kita akan mampu,” balas Shiro membuat mereka terdiam.


Harley menggeleng. “Ya ampun … bukannya sudah kukatakan kalau masalah yang kalian hadapi akan jauh lebih susah, makanya aku datang membantu,” sahutnya.


“Kalian pun tak bisa pergi dari negeri ini untuk melanjutkan perjalanan, masih banyak hal yang tidak kita ketahui tentang masalah apa yang ada di negeri Soma,” sambungnya.


“Aku setuju dengannya, takutnya Bisa saja kita malah menghadapi masalah besar lainnya,” balas Chio.


“Kita selesaikan masalah ini terlebih dulu, baru kita cari tahu jalan keluarnya,” balas Harley.


“Cih dasar! Makanya gunakan kekuatanmu itu biar kami bisa langsung berpindah ke negeri lain!” sahut Shiro.


“Sudah kubilang juga itu mustahil, kau ini mengerti atau tidak,” balas Harley.


“Cih dasar! Masalah bertambah dan harta peninggalan kekek itu malah sudah habis mereka gunakan untuk desa! Yang benar saja!” lagi-lagi Shiro mendumal kesal.


“A’ahh … apa boleh buat, harta itu juga bukan milik kita,” jawab Akira tertunduk lesu.


“Kalau aku tidak masalah soal itu, kita masih bisa bersyukur ummi memberikan kalung ini sebagai bayaran untuk menebus kalian,” ucap Chio sambil menetengkan kalung berwarna emas itu dengan permata ungu.


“Hemm … apa itu cukup untuk kami bertiga?” tanya Harley.


“Dari pada membahas itu apa kalian semua tidak mau memuji kehebatanku dalam menyelasasikan teka-teki Thalib he he …”


“Cih … itu cuma kebetulan,” balas Shiro memalingkan wajah.


“Kalian mendengar sendirikan dari Samih, kalau bekas rumah kakek dikelilingi oleh bunga dan entah kenapa bunga-bunga itu tidak mau tumbuh di atas rumahnya. Jadi akulah yang benar membaca tulisan Thalib itu,” ucapnya menyombongkan diri.


“Ketika kembang mekar di satu sisi, kembang-kembang yang lain pun bermunculan menghiasi.” Chio menyanandungkannya hingga memejamkan mata seolah sangat menghayati, hal itu membuat mereka semakin kesal lalu meninggalkannya.


“Hey Akira, katanya hebat membaca arab melayu kok bisa salah he he …” ejeknya .

__ADS_1


Namun saat dia membuka mata mereka sudah jauh meninggalkannya sendirian. “Eh apa, hey kalian tunggu!” teriak berlari menyusul.


...●●●●...


Saat itu Akira, Chio, Shiro dan Harley telah sampai di depan pos paman penjaga, dan ternyata Akiyama dan Arata pengawalnya telah menunggu kedatangan mereka.


Akiyama terlihat marah. “Habislah kita,” ucap Harley, namun mereka berusaha untuk tenang.


“Dari mana saja kalian,” ucap Akiyama.


“Kami hanya pergi mencari harta karun dari masa lalu untuk membebaskan Akira dan lainnya,” ucap Chio penuh percaya diri.


“Ha ha ha … mencari harta karun, apa ini ada hubungannya lagi dengan legenda musafir itu ha ha …” Akiyama tertawa keras.


“Yang benar saja! Kalian telah pergi keluar tanpa izin dariku, kalau terjadi …” sambungnya terhenti ketika Chio menetengkan kalung itu di hadapannya.


“Iya memang, tapi kami berhasil menemukan ini,” jawabnya dan Arata yang melihat itu pun juga tersentak kaget.


Akiyama spontan ingin merebutnya dari tangan Chio, namun keburu dia lempar ke belakang dan disambut Shiro. “Berikan itu padaku,” ucapnya marah berjalan menuju Shiro hendak merebut.


Harley tersenyum. “Hoo … apa kau sangat menginginkannya, hemm ... kerna itu mahal, atau kau tahu sesuatu?”


“Cih … kalau begitu kalung kita coba jual saja,” sahut Shiro.


“Tidak perlu, biar aku saja yang mengurus pembebasan kalian dan wanita itu, aku akan gunakan kalungnya nanti sebagai tambahan, anggap saja ini sebagai balasan kerna kalian telah bekerja sangat baik,” ucapnya membuat Chio nampak terdiam memikirkan itu.


“Beberapa pengawal pelangganku yang membeli kalian telah datang ke sini mencari kalian, kalau tidak segera diselesaikan kalian bisa saja dibawa kembali,” sambungnya.


“Cih … sebaiknya kau benar-benar melakukannya,” Shiro melemparnya dan ditangkap Akiyama.


Akiyama pun mengangguk. “Arata, awasi mereka berkeja,” pintanya dan pergi begitu saja.


“Baik tuan!"


...●●●●...


Saat itu di istana, tepatnya di sebuah dapur yang mana Ayumi sedang sibuk bekerja dengan pelayan lainnya.


“Ayumi!” penggil seorang nyonya sekaligus kepala pelayan.

__ADS_1


“Iya Nyonya!”


“Tolong kau juga ikut membantu menyajikan makanan pada tamu-tamu raja, mereka akan datang siang ini.”


“Baik Nyonya saya akan melakukannya,” jawab Ayumi dan dia pun mengangguk lalu pergi.


“Inilah yang aku tunggu, kesempatan untuk bisa berada di lingkungan raja, dengan begitu aku bisa menyelidiki apa-apa yang terjadi di antara mereka, susuai tugas yang hanya bisa kulakukan sekarang,”ucapnya bersemangat.


Setelah itu dia pun pergi bersama pelayan lainnya memasuki ruangan makan untuk menjamu para tamu yang saat itu duduk dikursi-kursi menghadap meja panjang, saat dia sudah masuk matanya langsung tertuju pada seorang pemuda yang jauh lebih muda darinya, dengan pakaian begitu mewah, yang tidak lain adalah Raja Kanechi


“Jadi dia adalah Pangeran Kanechi adik dari Daichi ya, dia masih terlihat seperti anak kecil,” batinnya.


Ayumi terus menatapnya dan sedikit heran kerna tatapan kilau seri mata raja itu nampak hampa. Di saat itu juga seorang yang lebih tua dari Akiyama tengah berbicara pada para tamu yang hadir, dia duduk di sebelah raja.


Para tamu-tamu itu adalah para saudagar-saudagar kaya yang punya pengaruh besar dalam negeri, dan nampak juga orang-orang dengan pakaian serba hitam yang tidak lain para penyihir kerajaan.


Ayumi pun menyajikan minuman pada Akiyama yang saat itu juga hadir duduk di sebelah raja. “Tolong kau tanyakan pada raja apa dia mau minum sesuatu,” pintanya.


“Terserah kau saja Akiyama,” balasnya pelan nada kesal, sedangkan Akiyama hanya menggeleng tersenyum.


Ayumi pun mendakatinya. “Apa Raja mau minum sesuatu?”


Raja Kanechi hanya diam terus menatap ke depan. “Emm … Raja mau minuman yang mana?” tanya Ayumi lagi.


Masih seperti tadi tak ada jawaban, Ayumi pun heran dan bingung lalu dia memandang Akiyama, namun saat itu dia sedang berbicara pada para tamu.


Ayumi pun hendak menyentuh tangannya. “Raja ingin minuman apa,” ucapnya sedikit nyaring.


“Hey apa yang mau kau lakukan, hanya aku menteri pendamping yang boleh berbicara dengannya,” ucap paman yang duduk di sebalah raja bersebrangan dengan Akiyama tadi membuat Ayumi terkejut.


“Jika kau mau menanyakan sesuatu pada raja, minta izinlah padaku lebih dulu,” sambungnya marah.


“Maaf tuan saya tidak tahu soal itu, saya hanya di minta oleh tuan Akiyama untuk menanyakan apa raja ingin minum sesuatu.”


Tatapan tajam langsung tertuju pada Akiyama yang saat itu masih berbicara pada yang lain. “Sekali lagi saya minta maaf tuan,” ucap Ayumi.


“Ya sudah, katakan pada pelayan lain jika sudah selesai maka cepatlah pergi,” jawabnya.


Setelah itu Ayumi dan para pelayan lain pun segera keluar dari ruangan, sedangkan Ayumi tak henti-hentinya terus memandang Kanechi yang mana sama sekali raut wajah dan tatapan matanya tak bergeming sedikit pun, sampai pintu ruangan itu dia tutup rapat.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2