
Tiada hari tanpa berkeliling untuk melihat keadaan penduduk bagi Sayyid, dari pagi hingga larut malam tanpa merasa lelah dia terus bulak-balik mengangkutkan beberapa bahan pokok untuk keluaraga-keluarga miskin di negeri itu, tidak jarang dia harus bermalam di rumah penduduk yang dia tolong kerna terlalu larut malam.
Thalib yang saat itu masih belum melanjutkan perjalanan juga dengan senang hati membantu pangeran, begitu juga dengan Sayyid yang selalu menyiapkan tempat bagi para muslim di negeri itu untuk kembali mempertajam pengatahuannya dengan belajar kembali pada Thalib.
Suatu hari Sayyid singgah di suatu kedai obat, dia membeli jamu untuk menjaga kesehatannya. “Anu pangeran, sebenarnya ada seorang wanita yang sering datang ketempat saya, dia datang hampir tiga hari sekali untuk membeli obat, katanya dia membelikan obat untuk ibunya yang sakit, yang saya kasihankan dia harus berjalan sangat jauh untuk sampai ke sini,” ucap penjual itu bercerita.
“Loh emang tempat tinggalnya di mana?”
“Katanya dia berasal dari desa yang jauh dari kota Asyura ini, yang saya tahu ada desa kecil di arah utara setelah melewati tanah lapang dan jalan berbukit.”
Sayyid nampak memikirkan itu. “Kapan dia akan kembali ke sini?”
“Ahad, Senin, Selasa, emm … hari ini pengeran.”
“Ya sudah kalau begitu aku akan menunggunya datang.”
Sayyid pun menunggu hingga tertidur duduk di bangku bersandar di dinding kedai. “Paman beli obat seperti biasa,” ucap seorang wanita.
“Oh kau, duduklah dulu, aku akan menyiapkannya, kau pasti lelah.”
Wanita itu pun duduk dan tak sengaja melihat Sayyid tertidur. “Dia siapa paman?”
Paman itu pun menengok hingga di buat terkejut. “Ya ampun pangeran …”
“Pangeran!” wanita itu kaget.
“Ah iya cepat bangunkan pengeran, dia sudah menunggumu dari tadi,” pinta penjual itu.
“Ehh apa menungguku, untuk apa?” jawabnya heran.
“Sudah bangunkan dulu, nanti kau akan tahu.”
“Paman saja! Aku tidak berani,” jawabnya.
“Sudah tidak apa-apa, pengeran tidak akan marah, dia orang paling baik di negeri ini.”
Walau sedikit ragu dia pun mendekati dan duduk di sampingnya. “Pangeran,” panggilnya.
“Pangeran,” panggilnya lagi hendak menyentuh pundak Sayyid.
Sayyid membuka mata. “Astagfirullah!” teriaknya kaget bergeser ke ujung bangku.
Wanita itu juga kaget seketika berdiri. *Brakk!
Bangku panjang itu pun terjungkal bersama Sayyid yang terjatuh. “Maaf pangeran saya tidak sengaja,” ucapnya.
“Adu duduhhh …” ucap Sayyid kesakitan dan wanita itu mengulurkan tangannya membantu Sayyid berdiri.
Sayyid menyambut tangannya dan bangun. “Tidak apa-apa ini bukan salahmu.”
“Emm … terima kasih,” sambungnya tersenyum dan wanita itu mengangguk.
“Kata paman, pangeran menungguku, sebenarnya ada apa?”
“Benar! Perkenalkan aku Sayyid, dan kau?”
__ADS_1
“Faiha pangeran.”
“Begini aku sudah mendengar tentangmu dari penjual itu, maukah kau ikut aku sebentar ke istana ada yang ingin aku berikan padamu.”
“Maaf pangeran, ibuku sedang sakit, setelah membeli obat, aku harus segera pulang.”
“Sebentar saja, aku hanya ingin mengambilkan beras dan gandum untukmu, lalu setelah itu antarkan aku ke rumahmu.”
“Baiklah pangeran.” Faiha mengangguk.
Setelah itu Sayyid pun membelikan banyak obat untuk Faiha, lalu mereka pergi ke istana dan dilihat oleh Nashif serta paman dan Ibunya yang sedang santai di taman istana.
“Siapa wanita itu, apa dia kekasih Sayyid?” ucap Nashif penasaran.
“Paling cuma orang desa yang meminta bantuan padanya,” jawab ibunya.
Tidak berselang lama Sayyid dan Faiha kembali pergi dengan membawa sebuah karung, Nashif terus memandangi keduanya yang terlihat berbicang dan tertawa. “Ceck …” dia terlihat kesal dan sedikit cemburu.
“Paman suruh orangmu untuk mengikuti mereka, siapa tahu ada hal yang di sembunyikannya,” pinta Nashif.
“Benar, siapa tahu ada sesuatu di antara mereka,”ucap ibunya ikut-ikutan.
“Hey kau mendengarnyakan, cepat ikuti mereka,” perintah pamannya pada pengawal yang berada di samping.
Saat itu sepanjang jalan Sayyid membawakan sendiri karung berukuran sedang itu dengan memikulnya. “kau yakin hanya beras sama gandum saja, kita bisa kembali sebentar mengambil yang lain,” ucap Sayyid.
“Itu sudah lebih dari cukup pengeran,” jawab Faiha.
Sayyid tersenyum. “Kenapa kau membeli obat sejauh itu, apa tidak ada yang lebih dekat? Dan kenapa tidak tinggal di kota Asyura saja?”
“Itu sudah yang paling dekat pengeran. Sebenarnya saya juga ingin tinggal di kota itu, hanya saja tidak mungkin bagi kami melakukannya, kami tidak punya rumah di sana dan akan merepotkan jika harus membongkar dan membangunnya kembali. Dan lagi, ibu saya tidak akan sanggup berjalan jauh seperti itu.”
Dia terpesona menatap Faiha yang tersenyum. “Pangeran.” Panggil Faiha sambil melambai.
“Ahh … kau benar, terima kasih kau telah mengingatkanku tentang hal itu,” jawabnya tersenyum haru.
“Oh ya apa masih jauh?"
“Apa pangeran sudah tidak tahan memikul itu?” ejek Faiha.
“Ini tidak seberapa, lihatlah ototku hemh …” Sayyid menyombongkan diri dan di tertawakannya.
Saat sampai ternyata banyak sekali rumah kosong yang sudah ditinggalkan, di tempat itu hanya banyak pohon liar, Sayyid nampak terdiam memandangi sekitaran itu, bahkan dengan rumah Faiha yang sudah riut.
"Pangeran masuklah," pinta Faiha menyuruhnya ke rumah.
Seorang utusan yang melihat kejadian itu tentu saja membuatnya berfikiran macam-macam tanpa tahu kebenarannya, apa lagi dengan desa yang seperti itu dan rumah Faiha yang tampak sepi, dia pun segera pergi melaporkan apa yang dia lihat.
Kebetulan saat itu Sayyid pulang waktu pagi kerna setiap harinya dia berkeliling seperti biasa, saat sampai di depan istana ternyata ibunya dan keluarga Nashif telah menunggu kedatangan Sayyid.
“Ada apa ini tumben pagi-pagi sudah ngumpul di sini,” ucap Sayyid hendak menyalami ibunya.
*Plak!
Tamparan keras ibunya membuat Sayyid sedikit tertunduk.
__ADS_1
*Plak!
Sekali lagi ibunya menampar dengan penuh amarah membuat yang lain sempat tercengang melihatnya, kerna bukan hanya sekali tapi dua kali tamparan di pipi yang sama.
“Kenapa kau melakukan itu Sayyid! Apa ketakutanmu pada Allah begitu kecil hingga kau berani berbuat keji seperti itu!” teriak ibunya berlerai air mata.
“Ada apa Bu, apa yang Ibu bicarakan, Sayyid baru pulang berkeliling seperti biasa,” jawabnya berkaca-kaca.
“Mana perampuan itu!?”
“Perampuan, Sayyid tidak mengerti Bu.”
“Perampaun yang kau bawa pergi ke desa terpancil, apa kau masih ingin mengelak! Kau telah berzina Sayyid!”
Sayyid tersentak dan tek percaya ibunya mengatakan itu. “Siapa yang membawa kabar palsu itu pada ibuku!” teriak Sayyid sangat murka di hadapan Nashif dan lainnya.
“Mengakulah Sayyid! kakakku yang mengecewakan hati kami semua, tidak bisa kah kau mengakui dan merenungkan perbuatanmu, seorang pengawal telah melihat semuanya!” ucap Nashif.
“Sayyid-Sayyid,” ucap Syairah menggeleng.
“Kemarin kau mempermalukan Nashif di hadapan orang-orang, dan sekarang kau ingin mempermalukan kami semua,” sambungnya.
“Dasar kau! Apa kau ingin mengahancurkan kerjaan ini,” ucap pamannya ikutan.
“Utusanku melihatnya sendiri bagaimana kau merayunya dan membawanya pergi kerumah kosong di desa terpancil itu, jika kau ingin menikah, kenapa tidak bilang saja pada pamanmu ini, aku pasti mencarikannya untukmu!” sambungnya
Sayyid kembali tersentak. “Kalian tidak tahu apa-apa, kalian hanya melihat, namun tidak mendengar. Kalian hanya berfikir, namun tidak menyaring. Kalian hanya membuat prasangka, namun tak berdesar. Semuanya hanyalah fitnah yang sengaja kalian buat!”
“Hemh! dasar omong kosong!” jawab Nashif.
“Keterlaluan, sekarang kau malah menuduh kami!” teriak Syairah
“Kalian yang keterlaluan!” teriak Sayyid di hadapan mereka.
“Cukup Sayyid, cukup! lebih baik kau pergi dari sini,” sahut ibunya berlerai air mata.
Sayyid kembali tersantak mendengar itu. “Tapi bu, aku tidak …”
“Nyonya! Tuan memanggil kalian berdua!” potong salah satu pelayan wanita tergesa-gesa.
Ibu sayyid pun dengan berat hati mengalihkan pandangannya dari Sayyid pergi ke dalam istana dengan Syairah, Sayyid hendak menyusul namun di tahan oleh Nasihif dan pamannya.
“Sayyid kakakku apa kau tidak mendengar, ibumu telah mengusirmu, jadi pergilah sekarang,” ucap Nashif tersenyum bangga.
“Akan aku buktikan Nashif, bahwa aku tidak pernah melakukan seperti yang kalian tuduhkan, aku punya bukti!” teriaknya.
Nashif menyeringai. “Silahkan, apa perlu kita buat persidangan untuk membuktikannya di hadapan semua orang, tapi bagaimana dengan Faiha dan ibunya, apa mereka kuat menerima itu.”
Lagi-lagi Sayyid dibuat tercengang. “Apa yang kau mau?” Sayyid menatap tajam.
“Hemh … sudah kubilang pergilah dari sini,” balasnya manatap tajam.
Sayyid terdiam dan menghela nafas. “Baiklah jika itu maumu, aku akan pergi dari sini untuk sementara, namun ingatlah Nashif adikku, kebenaran tidak akan pernah tinggal diam untuk berdiri tegak.”
“Hemh … Itu sudah cukup bagiku Sayyid kakakku …”
__ADS_1
“Aku memang tidak lagi tinggal di istana, tapi aku akan tetap melakukan yang kulakukan seperti biasa, berkeliling membantu rakyat kita, jadi kuharap, kau tetap berkelakuan seperti seorang raja yang mencintai rakyatnya. Atau, aku harus memukulmu sekali lagi,” ucap Sayyid membuat Nashif menggertakkan gigi menahan kekesalannya.
-Bersambung-