The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Sepakat!


__ADS_3

Keesokan harinya saat pagi, Akiyama datang bersama Arata, saat melihat proses pembangunan di tempat itu dari jauh Akiyama seketika terbelalak, bagaimana tidak, proses pembangunannya jauh lebih cepat ketimbang hari-hari sebelumnya.


“Siapa yang melakukan ini, apa ini benar ulah para budak pekerjaku?” tanya Akiyama heran.


“Anda bisa melihatnya sendiri tuan,” balas Arata seraya mempersilahkan.


Akiyama terus dibuat heran ketika semakin mendekatinya, banyak peralatan-peralatan yang sama sekali tidak pernah dia belikan untuk mempermudah pekerjaan. “Di mana kalian mendapat alat semacam ini, ini semuakan mahal!”


“Mereka membuatnya sendiri tuan, apa selama ini kerna itu tuan jadi tidak ingin memebelikannya, padahal ini akan mempercepat pengerjaan?” tanya Arata.


“Mereka harus belajar, hanya itu,” jawabnya.


“Tapi, sekarang tuan tidak perlu khawatir, ada seseorang yang memikirkan semuanya untuk membuat itu,” balas Arata.


“Apa maksudmu?” tanyanya heran.


“Mari tuan kita lihat lebih dekat lagi.” Arata kembali mempersilahkan.


Akiyama kembali terkejut ketika melihat para budak pekerjanya, bekerja dengan penuh semangat, mereka saling bahu membahu dalam membangun, kekompakan mereka membuat pekerjaan yang berat menjadi mudah.


“Apa yang terjadi pada para pekerja di sini, berminggu-minggu aku menyuruh mereka bekerja tapi tidak pernah melihat mereka melakukan seperti ini,” ucapnya kagum sekaligus heran melihat mereka bekerja dengan sangat cekatan dan terampil.


“Dan siapa orang baru di sana, aku tidak pernah melihatnya?” tunjuk Akiyama pada Kafa yang sedang menyusun bata dan menyemennya, sesekali Kafa menguap.


Arata tersentak kaget. “Ya'yah ... Mari tuan kita ke arah sana saja,” pintanya dan Akiyama pun berjalan lebih dulu.


Sepanjang jalan Akiyama tak henti-hentinya dibuat kagum dengan budak pekerjanya. “Dia di sana tuan, orang yang berhasil membuat mereka bekerja sangat baik seperti ini, dialah orang yang berhasil menumbuhkan semangat baru mereka.” Tunjuk Arata pada Chio yang sedang berbincang dengan dua orang kakek.

__ADS_1


Lagi-lagi Akiyama dibuat terbelalak ketika melihat Chio berjalan menghampiri setiap orang mengajak mereka berbincang memberi tahu untuk melakukan seperti ini dan seperti itu, seolah mengajarkan mereka agar melakukannya dengan baik.


“Chio berhasil membuat mereka jadi seperti ini hanya dalam waktu sehari, dia punya sebuah cara, di mana mereka bekerja bukan sebagai budak tapi menjadi pekerja biasa, cara itulah yang membuat mereka bersemangat dan bekerja sepenuh hati,” ucap Arata menjelaskan.


Akiyama terdiam terus menatap Chio. “Jujur, jika saya jadi tuan, saya akan memanfaatkan ini sebagai keuntungan, di tempat ini tidak ada bos atau pemimpin yang mengatur mereka, di sini hanya ada penjaga yang bertugas mengawasi saja, sedangkan tuan tidak begitu memperhatikan mereka, tuan hanya datang beberapa hari sekali melihat proses perkembangan sampai mana, tidak ada yang mengatur mereka secara langsung,” sambungnya.


“Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan?” Akiyama menatap tajam Arata.


“Ini hanya pendapat saya tuan, sebaiknya tuan segera menunjuk seorang pemimpin di tempat ini, menurut saya dengan adanya pemimpin di sini, tuan hanya perlu memberikannya sejumlah uang untuk menyuruhnya mengatur semua pekerja di sini, atau pun membeli keperluan lainnya, bayangkan, tuan hanya tinggal duduk santai tak perlu memikirkan hal lain untuk mengatur mereka, tuan pun juga bisa mengumpulkan uang dari usaha yang tuan rintis sebelumnya, atau pun mencari usaha yang baru,” ucap Arata.


“Lihatlah tuan, hanya dalam waktu singkat tempat ini sudah jauh berkembang, lalu bagaimana jika para pekerjamu mempu menyelesaikan ini lebih cepat, bukanlah hal mustahil lagi bagi tuan untuk mendapat tawaran lebih banyak dari para orang kaya yang meminta untuk dibangunkan rumah atau tempat usaha mereka, tuan bisa kaya raya tanpa perlu berpikir keras mengatur semuanya, kita sudah punya orang yang sangat cocok dalam hal ini, jadikan Chio bosnya dan tuan akan jadi kaya raya,” sambung Arata.


Mendengar penjelasan Arata, Akiyama nampak terdiam dan memikirkan semuanya, Arata pun tersenyum merasa yakin kalau Akiyama telah terpengaruh.


“Apa maksudmu menjadi pekerja biasa itu, mereka akan mendapat upah, Ha ha ha ... ya ampun ternyata kalian mau menghianatiku ya!?” ucap Akiyama tertawa keras.


“Pengawal bawa orang itu menghadapku!” tunjuk Akiyama pada Chio.


Melihat itu Arata hanya bisa terdiam, sedangkan Chio pun segera dibawa menghadap Akiyama. Saat itu Arata memandang Chio masih tak bisa berucap apa-apa, Chio pun memandang Arata lalu beralih memandang Akiyama yang masih tertawa-tawa sendiri.


“Ha ha ha ... aku benar-benar tak percaya kalau kau berhasil merencanakan sejauh ini, aku juga tidak menyangka kalau perkataanmu yang berniat menjadi bos di tempat ini, hampir berhasil kau wujudkan,” ucap Akiyama tak hentinya tertawa.


Chio menatap tajam. “Jadi kau sudah paham semuanya?”


“Yah ... aku sangat mengerti itu, kau berniat menjadikan mereka sebagai pekerja biasa dan menerima upahkan, semuanya sudah jelas aku pahami,” jawab Akiyama.


“Lantas apa yang membuatmu tidak setuju?”

__ADS_1


“Tidak setuju, siapa bilang aku tidak setuju,” jawabnya membuat Arata dan Chio tersentak kaget.


“Aku sangat menyukai ini! dari dulu aku berusaha membuat mereka supaya bekerja dengan baik seperti ini, berbagai macam cara aku lakukan, bahkan menakuti mereka dengan cambuk pun masih tidak berhasil, tapi, kau berhasil membuat mereka seperti ini dalam waktu singkat, keputusanku untuk tidak menjualmu ternyata adalah hal yang benar,” balas Akiyama nampak sangat senang.


“Aku akan menjadikanmu bos di tempat ini, namun mengenai upah para pekerja, sepertinya aku tidak bisa melakukannya,” sambungnya.


“Apa, tapi ini pekerjamu sendiri, hanya ini cara agar mareka mau bekerja dengan baik!” Chio sedikit marah.


“Bukannya aku pelit, hanya saja aku tidak memiliki anggaran untuk itu, menggajih mereka sebanyak itu butuh panghasilan lain selain keuntungan pembangunan ini, tapi aku punya satu cara, akan aku berikan keuntungan usahaku yang lain untuk menggajih mereka, asalkan kau membuat Shiro kembali menjadi pekerjaku,” balas Akiyama membuat Chio heran.


“Apa yang kau inginkan darinya?” Chio mentap tajam.


“Jujur aku sempat tidak percaya dengan kabar yang aku dengar, katanya Akira berhasil kabur dengan dua orang lainnya dan itu membuat rugi pelangganku yang membelinya, sedangkan Shiro justru malah membuat keuntungan yang besar, dia menjadi budak petarung yang selalu menang akhir-akhir ini,” jawab Akiyama membuat Chio terbelalak.


"Budak petarung!"


“Mereka adalah sekelompok budak yang dipaksa bertarung satu sama lain, kebanyakan para pemiliknya akan mengadakan saimbara untuk mengelahkan patarungnya, jika mareka berhasil menang mareka akan mendapat hadiah, tapi jika kalah, mereka yang harus membayar. Namun bisa juga para pemiliknya saling mempertaruhkan petarungnya yang mereka banggakan." Akiyama menjelaskan.


"Jadi, apa kau mau membuat Shiro agar bekerja bersamaku lagi?” sambung Akiyama.


Chio terdiam memikirkan. “Baiklah akan aku usahakan ini, tapi, aku juga punya satu syarat?” balas Chio tersenyum sedangkan Akiyama menatap heran.


“Jika nanti taruhannya adalah uang kau boleh mengambil semuanya, tapi jika itu seorang budak petarung biar aku yang mengurusnya,” sambungnya.


“Kau cepat mengerti ternyata, baiklah kita sepakat!” jawab Akiyama seraya bersalaman dengan Chio.


“Sepakat!” balas Chio menatap serius.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2