
Flashback On
Suasana pagi hari ini sangat cerah, burung-burung mulai terbang mencari makanannya masing-masing. Cahaya mentari mulai menyinari rerumputan serta dedaunan dipohon, lalu binarnya menembus celah-celah dinding rumah Ken yang agak renggang dan menyentuhnya hangat.
Saat itu dia tengah bersiap-siap berangkat untuk pergi bekerja, dia duduk sambil mengenakan sepatu bot lusuh miliknya.
"Kek, aku berangkat dulu, aku sudah membuatkan teh dan ada roti di meja, jangan lupa dimakan ya kek," ucapnya memandang kakeknya yang masih berbaring di ranjang, namun dia tidak menjawab.
"Loh apa kakek masih tidur," sambungnya kemudian menghampiri.
"Kek Kakek ..." panggilnya membangunkan.
Kakeknya sedikit terkejut "Oh kamu sudah mau berangkat, kakek ketiduran lagi padahal sudah bangun."
"Iya Kek tidak apa-apa, Kakek jangan lupa makan, aku sudah siapkan di meja, setelah itu Kakek bisa lanjutkan tidurnya," jawabnya pelan.
"Baiklah, sebaiknya kamu berangkat sakarang nanti terlambat, tenang saja kakek pasti makan."
"Baik Kek, kalau gitu aku berangkat dulu," jawabnya seraya bersalaman dan mencium tangan kakeknya.
kemudian dia pun pergi keluar rumah, setelah merasa benar-benar mengunci semua pintu, dia pun langsung berangkat pergi bekerja.
Kakek Ken sudah sangat tua dan sangat pelupa, bahkan sering lupa jalan pulang kerumahnya, hal inilah yang membuat Ken harus pergi ke sana kemari untuk menemukan kakeknya, maka dari itu setiap kali Ken pergi keluar dia selalu mengunci setiap pintu rumahnya, namun bukan berarti dia mengurung kakeknya begitu saja, dia selalu menitipkan kunci itu kepada bibi sebelah rumah dan memintanya untuk sekali-kali melihat keadaan kakek, dia bahkan selalu memberikan sejumlah uang kepada bibi agar memasakkan makanan untuk kakeknya, sekaligus untuk bibi itu sebagai tanda terima kasih.
Disepanjang jalan Ken selalu merasa gelisah dan memikirkan tentang kakeknya setiap kali pergi keluar, dia takut kalau-kalau kakeknya hilang lagi, akan tetapi dia selalu berusaha untuk mayakinkan diri sendiri bahwa kakek akan baik-baik saja, lalu tidak lama kemudian akhirnya sampai ditempat dia bekerja.
"Aku sedikit cemas dengan Kakek, tapi aku harus fokus untuk bekerja hari ini, dan semoga saja aku dapat banyak uang untuk Kakek."
"Ken cepat sekali kau sampai disini, apa pekerjaan rumahmu sudah selasai," tanya seorang pria sekaligus majikannya.
Ken melihat kearahnya. "Iya tuan semuanya sudah selasai makanya saya langsung segera pergi ke sini."
Majikannya tersenyum bangga. "Baiklah, kalau gitu sebaiknya kau langsung saja bekerja, kerna ini masih sangat pagi, sebaiknya mengerjakan yang ringan-ringan saja, di sana ada beberapa patung kayu yang belum dihaluskan, lebih baik menyelasaikan yang itu dulu."
"Baik tuan, akan saya kerjakan," jawabnya kemudian pergi kearah patung-patung kayu itu.
Ken bekerja sebagai pembuat patung di desanya, namun dia hanya membuat patung-patung kecil dari tanah liat, kebanyakan yang dia kerjakan adalah menghaluskan atau mengecatnya.
Ken begitu asik bekerja hingga tidak sadar bahwa matahari mulai meninggi dan terasa panas, dari kejauhan ada seorang laki-laki seumurannya berlari ke tempat pekerjaan itu dan disambut marah oleh majikannya.
"Kenapa telat lagi, ini sudah hampir siang mau jadi apa kau ini!"
"Maaf tuan aku harus membantu orang tuaku dulu dirumah, mereka sedang sakit."
"Ahh ... aku tidak percaya kemarin kau juga bilang begitu, dan ternyata cuma santai-santai dirumah, kau pikir aku tidak tahu!"
"Benar tuan aku tidak bohong," jawabnya dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Sudahlah sebaiknya kau langsung bekerja, tapi waktu kerjamu akan ditambah, dan satu hal lagi, kau sebaiknya mencontoh Ken, dia bahkan datang sangat pagi-pagi sekali, tidak seperti kau ini, datang saja telat masih syukur kamu tidak kupecat."
Mendangar namanya disebut, Ken pun memperhatikan keduanya, laki-laki itu juga melihat ke arahnya, tetapi, dari matanya nampak tidak suka, kerna dibandingkan dengan Ken, melihat laki-laki itu menatapnya, dia langsung mengalihkan pandangan.
"Baik tuan, maafkan saya, saya akan berjanji untuk ...."
"Sudah sana pergi tidak perlu banyak bicara," potong majikannya kemudian pergi, "punya anak buah tidak berguna," sambungnya dari kejauhan.
Laki-laki itu pun masuk ke tempatnya bekerja, dari kejauhan dia terus memperhatikan Ken, tetapi, Ken pura-pura tidak melihatnya.
"Kenapa orang itu terus melihatku begitu, apa dia tidak suka denganku, kenal juga tidak dan baru saja bertemu, kesannya sudah benci, ada-ada saja orang jaman sekarang, lebih baik aku mementingkan pekerjaan dari pada memikirkan orang itu, cuma buang-buang waktu," gumamnya dalam hati sambil terus melanjutkan pekerjaan.
Setelah itu waktu istirahat makan siang sudah tiba, para buruh tempat itu mulai keluar untuk cari makan sekaligus beristirahat.
"Akh ... syukurlah semua sudah selesai, sebaiknya aku istirahat dulu dan makan siang," ucap Ken sambil ngulet atau menggeliat kerna merasa lelah.
Setelah itu dia pun berdiri dan berjalan pergi dari tempatnya, namun tiba-tiba laki-laki yang memperhatikan tadi menabraknya dari belakang hingga membuat Ken terjatuh.
"Aduhh ... hey apa yang kau lakukan, tidak bisakah kau berhati-hati!" teriak Ken.
"Oh maaf aku tidak sengaja," jawabnya buru-buru pergi.
Ken berdiri dan membersihkan bajunya. "Bukannya membantu malah langsung pergi huh ... dasar." Dia nampak kesal.
"Ken apa kamu masih disana!" panggil sang majikan.
Dia pergi menghampiri. "Iya tuan ada apa?"
"Iya tuan semua sudah selesai, jadi setelah ini apa ada lagi yang bisa saya kerjakan."
"Sudah tidak perlu lagi, setelah istirahat kau bisa langsung pulang saja, nah besok baru bisa datang lagi."
"Oh baiklah kalau gitu saya izin pulang sekarang saja tuan."
"Yah terserah kau saja, dan ini ada sedikit tambahan untukmu," ucapnya sambil menyodorkan uang kepada Ken.
Dari kejauhan laki-laki yang menabrak Ken tadi melihat percakapan mereka berdua, melihat majikannya memberi uang dia salah mengira bahwa itu adalah uang gajihan.
"Terima kasih banyak tuan," jawabnya mengambil uang tersebut.
Laki-laki tadi tiba-tiba berkata di balakang majikannya. "Hari ini gajihan ya tuan?"
Majikannya berpaling kearahnya dengan wajah marah dan kesal. "Gajihan-gajihan, kau pikir kau bekerja sudah berapa hari, dia ini dapat tambahan kerna rajin tidak sepertimu," teriaknya marah sedangkan Ken hanya tersenyum sambil menahan tawa.
"Baru juga kemarin gajihan udah lupa, sana pergi nyusahin aja," sambungnya berlalu pergi begitu juga Ken mengikuti dibelakangnya dan sedikit tertawa.
Melihat Ken yang senyum-senyum dia merasa Ken tengah mentertawakannya, Laki-laki itu terlihat marah sambil memandang Ken yang telah menjauh.
__ADS_1
"Awas saja kau Ken, hari ini kau sudah mempermalukanku di depan tuan, liat saja akan kubalas nanti, dan akan kubuat kau menderita cuh ..." ucapnya kemudian berludah.
...●●●●...
Waktu tengah hari telah tiba, terlihat dari matahari yang sejajar berada di atas kepala. Nampak ken tergesa-gesa untuk segara pulang kerumah memberi kabar gembira kepada kakeknya tentang apa yang dia peroleh hari ini.
Disepanjang jalan yang dia lewati terbantang luas area persawahahan, di sisi kiri dan kanan, banyak orang yang sedang memancing dan menanam padi, tiba-tiba seorang laki-laki memanggil namanya, orang itu sedang asik memancing di sungai kecil yang terhubung dengan persawahan, tidak lain orang itu adalah Osama.
“Ken! apa kau sedang terburu-buru, ikutlah memancing sebentar denganku!”
Mendangar panggilan tersebut membuatnya terhenti dan menoleh. “Oh paman, ada apa?"
"Sini temenin aku mancing."
"Aku rasa aku bisa ikut sebentar, tapi aku tidak punya alat pancing,” jawab Ken menghampiri.
“Tidak perlu cemas aku membawa dua, ambilah ini,” balas Osama sambil menunjuk alat pancing didekatnya, Ken pun mengambil alat pancing itu dan duduk bersamanya.
"Bagaimana kabar Kakekmu?"
"Seperti biasa paman, dia sehat, tapi sangat pelupa."
"Kau harus terus sabar dalam mengahadapi kakekmu, bagaimana pun keadaannya dia adalah orang sudah merawatmu dari kecil, sudah saharusnya kau berbakti padanya, tapi ... jika kau butuh bantuan orang lain jangan malu-malu memintanya, orang di desa ini pasti bersedia membatu." jawabnya menasihati.
"Iya paman aku juga tau itu."
Osama tersenyum kearahnya dan mengelus kepalanya. "Iya-iya kau memang anak yang hebat, tidak ada yang sehebat dirimu, jika aku jadi ayahmu aku pasti sangat bangga."
"Aduh paman aku sudah besar, bukan anak kecil lagi," jawab Ken melepaskan tangan Osama dari kepalanya, "gimana mau jadi Ayah, istri aja gak punya, padahal sudah tua," sambungnya mengejek.
Osama tersentak mendengar perkataan Ken. "Oh jadi kau meremehkanku ya ... apa kau tidak tahu hampir disetiap penjuru desa ini, semua wanita suka padaku! namun semuanya kutolak kerna begiku bibi dekat rumahmu lah yang utama."
"Bukannya semua wanita yang menolak paman, dan cuma bibi itu saja yang mau menerima, bahkan sampai sekarang pun enggak nikah-nikah, aduhh ... kesian sekali paman ini, dahlah aku mau pindah ke sana saja mancingnya, samua ikannya kabur kerna menolak paman," jawab Ken berlalu pergi.
Perkataan Ken lagi-lagi membuat Osama tersentak. "Dasar anak itu selalu saja terangterangan," ucapnya sembari tersenyum memandang Ken.
Ken nampak menikmati suasana tempatnya memancing, angin yang sedikit berhembus dan hawa begitu sejuk serta keindahan alam dengan pemandangan sawah terbentang luas, membuatnya tidak sadar bahwa hari telah petang,
“Oh iya aku lupa, aku harus segera pulang dan menemui kakek. Paman aku mau pulang duluan!” teriaknya dari kejauhan serta membawa alat pancing milik Osama dan wadah yang dipinjam.
“Iya! eh tapi kembalikan dulu alat pancing milikku!” jawabnya juga berteriak.
“Dah, paman beli aja lagi, yang ini biar aku ambil nanti wadah ikan ini akan kukembalikan!” teriaknya lagi kemudian berlari pergi dengan cepat.
“Ehh, Ken aa ... hemmh ... Ken Ken dasar anak itu,” ucapnya sedikit tertawa sambil memandangnya.
Ken terus berlari untuk segera sampai ke rumah dan menemui kakeknya “Bisa-bisanya aku lupa dengan kakek kerna keasikan memancing, semoga kakek baik-baik saja dirumah.”
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama akhirnya dia sampai ke rumah dan segera menemui kakeknya, namun betapa terkejutnya dia, ketika melihat kakek yang tidak ada di ranjangnya. “Kakek, Kakek dimana!” teriaknya khawatir.
-Bersambung-