
Beberapa hari kemudian telah berlalu. Mulai sejak itu Chio tidak pernah lagi bertemu Akira dan Ayumi, dia lebih sibuk melakukan pekerjaanya yang biasa, tidak jarang juga mereka tidak sengaja berpepasan dengan Ayumi dan Akira yang lebih sering kelihatan bersama.
Saat itu Chio tengah mencari barang-barang bekas di pasar yang biasa dan juga berbelanja berbagai hal, tak sengaja dia melihat Ayumi dan Akira sedang memilih pakaian dan kain dipasar itu, tiba-tiba Akira mengalihkan pandangan dan melihat Chio yang sedang memperhatikan mereka, entah apa yang dipikirkan Chio, dia segera berpaling dan pergi, seolah-seolah tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.
Akira ingin sekali menyapa, namun Chio sudah menjauh, Ayumi pun bahkan nampak sedih ketika melihat Chio yang tidak ingin lagi bertemu dengannya.
“Mereka sudah seperti suami istri saja, setelah kejadian itu Ayumi juga nampak telah berubah dari segi pakaiannya, apa yang sebenarnya terjadi ya,” ucapnya merasa penasaran.
“Ah tidak, aku tidak peduli lagi dengan mereka berdua, terserah apa pun yang mereka lakukan, itu bukan urusanku.” Sambungnya berusaha untuk tidak memikirkannya lagi lalu terus berjalan mencari barang bekas mengelilingi pasar.
Setelah selasai Chio pun pulang dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat Akira tengah berada di depan rumah sedang berduduk di teras menunggunya pulang, dia sedikit ragu untuk menuju rumahnya, akan tetapi dia berusaha tak peduli.
“Chio syukurlah kau sudah pulang aku ke sini untuk mengatakan sesuatu,” ucap Akira berusaha untuk akrab, namun Chio nampak tidak peduli dan berjalan terus ke pintu.
“Aku ingin minta maaf pada kalian, kerna kejadian itu kalian dan Ayumi malah bertengkar, aku ke sini untuk membicarakan itu agar kalian ....”
“Kau tidak perlu memperdulikan itu, bukankah ini sama sekali bukan urusanmu, jadi kuharap sebaiknya kau pergi dari sini,” potong Chio bersuara pelan sambil membuka pintu dan segera masuk, bahkan dia tidak melirik Akira sedikit pun, Lalu kembali menutup pintu rumah sedikit keras.
Mendengar jawaban itu tidak ada lagi yang bisa Akira lakukan selain pergi dari sana, dia nampak tertunduk lesu sambil berjalan menjauh, tiba-tiba Chio membuka pintunya lagi dan memperhatikan Akira yang sudah jauh.
“Hahh ... kau dan Ken bahkan sangat mirip, tidak hanya wajah kalian bahkan sifat kalian hampir sama, seperti yang dilakukan Ken jika terjadi suatu masalah di antara Kita dia akan meminta maaf lebih dulu,” ucap Chio merasa lelah dengan semua masalah ini.
“Sudah saatnya menyudahi semuanya, aku akan memikirkan cara agar masalah ini bisa terselasaikan.” Sambungnya serius.
...●●●●...
__ADS_1
Pagi hari telah menjelang kembali, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi untuk mencari bulan Ramadan di dunia tersebut, kerna saat ini dia lebih mengedepankan Ayumi yang sudah berubah menjadi seorang muslimah tepat setelah Chio dan Shiro meninggalkannya dengan Akira.
Flashback On
“Maafkan aku Ayumi! gara-garaku! kalian malah bertengkar!” ucap Akira merasa bersalah.
“Ini semua bukan salahmu, ini murni kesalahanku, dan seharusnya akulah yang meminta maaf kerna telah memanfaatkan hilangnya ingatanmu, aku benar-benar minta maaf.”
Akira mengangkat kedua tangan setinggi kepala dan menggeleng. “A'ahh ... tidak apa-apa, mari kita lupakan saja hal itu, lagi pula ingatanku telah kembali, hal ini sudah membuatku sangat bersyukur.”
Ayumi menyapu air matanya, Sedangkan Akira merasa canggung. “Duduklah dan tenangkan dirimu dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu.” Akira mencoba menenangkannya dan beranjak dari tempat duduk ingin menuju dapur.
“Tidak perlu Ken, ahh ... tidak tidak maksudku Akira,” jawab Ayumi sambil tersenyum dan menggeleng.
Akira kembali berduduk. “A'ahh ... apa aku ini sangat mirip dengan Ken sampai kau salah dalam memenggilku ha ha ...” balasnya sambil tertawa.
“Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan Ayumi?”
“Ini tentang kau yang harus mencari bulan Ramadan, dan kenapa kau menghancurkan patung-patung yang ada di rumah ini?” tanya Ayumi sangat penasaran.
“A'ahh yah ... seperti yang kusebut dalam ceritaku, aku adalah seorang yang beragama Islam dari Jepang, dan seperti yang kubilang Ramadan adalah suatu bulan yang istimewa di tahun hijriah, kami para muslim menjalankan Ibadah puasa sebulan penuh, di mana setiap harinya kami menahan lapar dan haus dari pagi sampai petang, dan kenapa aku menghancurkan patung-patung ini ... tentu berhubungan langsung dengan agamaku sendiri yaitu Islam,” jawab Akira menjelaskan disertai gerakan-gerakan tangannya yang justru malah membuat Ayumi pusing dan bingung.
“Aku masih tidak mengerti apa itu bulan Ramadhan dan tahun Hijriah, apa itu sebuah nama hari upacara, seperti yang kami lakukan setiap sepuluh hari sekali?”
“Tunggu dulu, lalu bagaimana cara kalian menghitung suatu hari dalam hitungan waktu lama?” Akira balik bertanya dan kali ini dia nampak sangat serius.
__ADS_1
Ayumi terlihat bingung dan mencoba memahami apa yang dikatakan Akira. “Emm ... kami menggunakan hitungan satu kali upacara yaitu sepuluh hari sekali, emm ... jadi jika terjadi waktu lama yang sudah berlalu kami menghitungnya dengan waktu berapa kali upacara telah berlalu, misalnya tigapuluh hari maka tiga kali upacara,” jawabnya membuat Akira menganga tak bergeming.
“Ehh Akira ... Akira ...” panggil Ayumi melambaikan tangan di depan wajah Akira.
“Pantas saja mereka tidak akan percaya dengan apa yang aku ceritakan, itu semua memang terdengar omong kosong jika aku ceritakan kepada orang-orang yang tidak mengenal istilah tahun dan bulan, apa lagi di sini nampak jelas Islam balum pernah tersebar.” Akira terus berbicara di dalam hati dengan mulut terus menganga, sedangkan Ayumi terus memanggil.
“Walaupun begitu nyatanya ceritaku memang sulit dipercayai, apa lagi denganku yang tidak pandai berbicara, sudah pasti itu akan terdengar sulit dimengerti, jika begini kejadiannya maka kemungkinan terburuknya adalah ... perjalananku akan sangat sulit dan lama.”
“Akira!” teriak Ayumi memanggil.
Akira tersentak sadar. “Ayumi! Jika kau memang serius ingin tahu dan mempercayaiku, maka Aku pasti akan ceritakan semuanya, sampai kau benar-benar paham!” teriak Akira berdiri dan memandangnya.
Ayumi sedikit terkejut kemudian tersenyum. “Saat kau mulai bercerita tentang dirimu lalu menyebut tentang Ramadan dan Islam, aku langsung merasa ada sesuatu dihatiku rasa yang tak pernah aku rasakan, aku penasaran, aku tertarik, aku merasa ada yang mengisi kekosongan dihatiku, kupikir aku jatuh cinta saat pertama kali mendengar itu semua.” Ayumi terlihat berkaca-kaca dari matanya, sedangkan Akira diam mendengarkan dan merasa merinding dengan apa yang Ayumi ucapkan.
“Maka dari itu Akira! Ajari aku semuanya, ajari aku tentang Islam!” sambung Ayumi langsung menatapnya dengan sangat senang, dan air matanya sedikit mengalir.
Saat ini Akira merasakan bagaimana rasanya seseorang yang sangat berharap padanya untuk di ajari tentang agama Islam, dia merinding dan tak percaya.
Bagaimana bisa seseorang yang bahkan tidak tahu menahu akan hal itu dan ini untuk pertama kalinya mendengar itu semua, tapi sudah bisa merasakan jatuh cinta kepada Islam, satu-satunya yang dia tahu bahwa suatu hidayah datang kepada seseorang tanpa memandang siapa orang tersebut.
“Tentu Ayumi, aku akan mengajari semua yang kutahu padamu, namun sebelum itu ikutilah kalimat yang aku ucapkan ini,” jawab Akira berlinang air mata, dan Ayumi pun mengangguk seraya tersenyum.
Flashback of
“Hmmh ... apa lagi yang harus kuajarkan pada Ayumi yah, setelah dia menjadi mualaf, dia sudah banyak belajar tentang sholat dan beruntunglah dia orang yang mudah sekali mengerti, bahkan sekarang sholatnya tak pernah tertinggal,” ucap Akira duduk bernaung dibawah pohon, dan memperhatikan anak-anak bermain dipadang rumput yang luas di desa.
__ADS_1
“Bolehkah aku duduk bersamamu?” pinta Chio tiba-tiba berada disampingnya hingga membuatnya sedikit terkejut.
-Bersambung-