
“Jika kita pergi menuju negeri sabbat maka kita juga berkemungkinan untuk bisa pergi kenegeri yang jauh lebih berkembang dari negeri Sabbat dan negeri kita ini,” sahut Akira membuat Chio dan Ayumi bertatapan senang, sedangkan Shiro dia terlihat sedih dan cemas.
“Cih .. jadi apa rencana kalian selanjutnya?” tanya Shiro seraya mengambil buku kecoklatan itu yang ada dipangkuan Ayumi dan membuka setiap lembarannya.
Akira nampak sedih. “Aku tidak akan memaksa kalian semua untuk ikut atau tidak, hanya saja aku punya keyakinan bahwa petunjuk selanjutnya untuk menemukan bulan Ramadan atau peradaban Islam ada dinegeri Sabbat. Dan pastinya aku akan jadi musafir seperti Thalib mendatangi negeri satu persatu, jadi kupikir ini akan jadi jalan yang berba … “ ucap Akira mendongakkan wajahnya cemas untuk menatap mereka.
*Plakk …!
Dua tamparan mendarat dikedua pipi Akira menyebabkan dirinya terjungkang kebelakang. “Apa maksudmu dengan aku, seharusnya kita!” teriak Ayumi dan Chio berdiri dan menatap marah Akira yang terbaring memegang pipi.
“Kau ini sudah sering aku bilang bahwa aku sudah jadi bagian dirimu yang beragama muslim,” ucap Ayumi.
“Ayumi benar! Aku juga sama, kali ini bukan hanya kau yang harus menemukan bulan Ramadan, tapi kita bersama,” ucap Chio tersenyum dan mengulurkan tangan.
Akira menyembutnya dan berdiri. “Kita semua mulai saat ini akan jadi seorang musafir!,” sambung Chio penuh semangat dan anggukan Ayumi penuh senyum hangat.
“A’ahh … kalian benar, mulai saat ini perjalanan kita untuk menemukan bulan Ramadan akan dimulai!” jawab Akira juga penuh semangat.
Shiro tersenyum dibalik buku yang dia pegang. “Cih … dasar kalian ini, emangnya kalian punya peta untuk pergi,” ucapnya seraya membalik halaman dan tiba-tiba satu halaman yang terlipat jatuh dari buku itu.
*Plakk …!
Dua tamparan kembali mendarat dan kali ini dipipi Shiro hingga membuatnya terjengkang sama seperti Akira.
Chio dan Ayumi kembali memarahinya sama seperti memarahi Akira. “Apa maksudmu dengan kalian seharusnya kita!” teriak keduanya serempak.
“Pakai merusak buku segala lagi! Cepat ganti dengan uangmu!” teriak Chio.
Saat itu Shiro sedikit tersentuh, namun segera memelingkan wajahnya kesisi kanan agar tidak melihat wajah Ayumi dan Chio yang berdiri dihadapannya yang terbaring. Sedangkan Akira dia hanya dibuat tertawa melihat kelakuan mereka dan mengambil halaman terlipat yang terlepas itu.
Alangkah terkejutnya dia ketika membuka lipatannya. “Ini … ini adalah peta!” teriaknya seraya memperlihatkan pada mereka.
Mereka bertiga pun bersorak gembira dan menari-nari berkeliling membuat shiro marah-marah kerna terlalu berisik, tetapi tidak dihiraukan mereka. Entah apa yang dipikirkan Shiro wajahnya tiba-tiba berubah sedih dan cemas kembali, hal itu pun tak sangaja dilihat ayahnya yang ternyata sedari tadi duduk bersebrangan dengan mereka mendengarkan semuanya.
...●●●●...
Mendekati siang harinya hujan deras dan berangin kencang mengguyur seluruh negeri mereka yang tidak terlalu luas kerna dinding tinggi yang mengekang mereka. Hari ini adalah hari upacara seperti biasa akan digelar, akan tetapi kerusakan tenda-tenda yang mereka persiapkan telah menyebabkan tertunda. Para tetua desa pun memutuskan untuk melaksanakannya pada malam hari saja, ini juga diperkuat dengan persiapan yang sama sekali belum tercapai sermpurna.
Kabar ini pun secara cepat tersebar keseluruh warga hingga mereka semua berbondong-bondong pergi membantu persiapan disaat tengah hari telah berlalu. Tidak hanya mereka yang beragama leluhur itu, bahkan Osama dan ibunya pun ikut membantu kerna sebagai utusan tetua dan sebagai warga yang rukun. Tidak hanya itu Akira dan lainnya pun ikut datang untuk membantu agar sifat saling menghargai bisa terbangun dinegeri ini.
“Lihatlah kerusakan yang di akibatkan oleh hujan dan angin tadi, apa kau juga berpikiran sama denganku, bahwa kejadian ini di akibatkan kerna kita membiarkan para pemberontak itu selamat dari hukuman,” ucap salah satu orang yang tengah membangun tenda-tenda kembali.
__ADS_1
“Hushh … kau pikir ini belum pernah terjadi, ini sudah sering dan tidak ada hubungan dengan itu. Lihatlah Osama dan ibunya dan beberapa orang disana, mereka adalah orang yang telah memeluk Islam, tapi apa yang mereka lakukan, mereka semua membantu kita,” jawab yang ditanya.
“Iya juga ya, aku dengar agama yang dibawa Thalib dan si anak itu sama, yaitu agama yang tidak pernah memaksa orang untuk ikut mereka,” balas yang lain.
“Begitulah …” jawab yang ditanya lagi.
“Anu … Paman … “ ucap Akira hendak bertanya.
Mereka berdua pun dibuat kaget atas kedetangan Akira dan lainnya yang tadi mereka bicarakan. “Kalian semua mengagetkan kami saja, emangnya ada apa?” tanya salah satu dari mereka.
“Kami ingin ikut membantu apa diperbolehkan?” tanya Akira.
Mereka saling bertatapan kerna bingung. “Sebaiknya kalian tanyakan pada tetua dahulu. Jawab yang lain ragu.
“Cih … padahal cuma mau membantu, tapi malah harus izin dulu,” jawab Shiro kesal.
“Sudah, ayo kita tanya tetua mumpung dia berada disana,” tunjuk Ayumi kepada dua tetua yang sedang berjalan dan melihat-lihat.
Akira dan lainnya pun langsung pergi menuju tetua yang ternyata adalah tetua Pertama dan kedua. “Ada apa kalian datang kesini,” ucap tetua pertama sedikit kesal dan marah.
“Anu … kami kesini ingin ikut membantu,” jawab Akira.
“Tidak ada yang perlu kalian bantu,” jawabnya ketus.
"Siap tetua!" Chio dan Akira seketika membungkuk tanda hormat sedang Shiro terlihat malas dan Ayumi hanya tersenyum melihat Akira dan Chio bertingkah.
Setelah itu mereka pun pergi dari hadapan tetua seraya berterima kasih, melihat itu tetua kedua tersenyum bangga.
“Kita harus membantu yang mana ya?” tanya Chio bingung memperhatikan semuanya sangat sibuk.
“Hemm … sebaiknya kau dan Akira membantu penyembalihan hewan agar kita bisa ikut makan daging itu nantinya.” Ayumi menyerankan.
“A’ahh … dia benar aku dan Chio akan pergi kesana kalian berdua bisa pergi ketempat yang kalian inginkan oke bro,” jawab Akira seraya tersenyum menatap shiro.
“Cih … dasar! Terserah kau saja,” ucapnya seraya berpaling.
“Baiklah kalau begitu kita ketempat para ibu-ibu memasak saja,” ajak Ayumi pada shiro hingga membuatnya kaget tak percaya, sedangkan Akira berpaling pergi seraya menahan tawa bersama Chio.
Saat menuju tempat penyembelihan hewan Chio dan Akira dibuat kaget ketika melihal seorang laki-laki berambut panjang dan ikal tanpa baju sedang mengangkat sebuah golok sangat tinggi ingin menebaskan ke hewan yang dia sembelih.
“Berhenti …!” teriak Akira dan Chio serempak berlari seraya mengangkat sebelah tangan mereka.
__ADS_1
Laki-laki itu berhenti. “Tahan dulu huh ... bukan begitu cara menyembelih yang benar huh ... , hah ...sinih biar aku saja,” ucap Akira tersengal.
“Sembelihkan!,” teriaknya seraya berpaling menatap mereka dengan mata besar dan senyum lebar. Diwajah dan tubuhnya terdapat bercak warna merah membuat Akira dan Chio kaget sampai terjungkal ketanah kerna ketakutan.
Laki-laki itu berdiri seraya memegang goloknya. “Sembalihkan!” teriaknya dengan wajahnya yang tak berubah sambil menyerahkan goloknya pada Akira.
Chio mencoba menengkan diri. “Huh … ya ampun kau ini Arnius mengagetkan kami saja,” ucap Chio dan Akira heran.
“Tenang saja Akira dia orang yang sangat baik didesa ini, mata lebar serta senyum lebar sudah jadi ciri khasnya.”
“A’ahh … tentu aku akan menyembelihnya,” ucap Akira seraya mengambil golok yang dia kasih.
“Bersihkan dulu badanmu itu dari darah hewan!” teriak Chio.
“Ha ha ha … bukan! Ini cairan warna yang di sapukan ibu-ibu ketubuhku! Aku belum menyembelih satu pun hewan!” jawabnya.
“Syukurlah kalau begitu, sinih biar kami yang akan menyembelih semuanya! he he ...” ucap Akira tersenyum sombong dan bergaya.
“Emangnya kau bisa Akira?” tanya Chio ragu.
“A’ahh … tentu saja! Kalau cuma Ayam, bebek, burung dan unggas halal lainnya bisa!” jawab Akira percaya diri.
“Maksudku bukan itu, tapi hewan sebanyak ini,” balas Chio menujuk banyak ayam dan bebek didalam kandangnya, sontak saja membuat Akira tersentak dan seketika tertunduk lesu.
“Apa boleh buat kau juga harus membantuku, tenang saja nanti aku ajari caranya,” jawab Akira.
“Arnius! sinih kau juga ikut membantu memegangnya,” pinta Chio.
Arnius itu pun ikut mendekat dan melihat cara Akira yang menyembelih dengan baik sesuai Syariat Islam, dia juga heran ketika mendengar Akira setiap kali menyembelih satu hewan baik itu ayam ataupun bebek, Akira selalu mengucap bismilah, mendengar itu Arnius dibuat kagum, dia bahkan sangat bersemangat dengan selalu bersegera mengambil hewan-hewan yang berada dikandang. Saat itu Chio sudah mulai mengerti caranya kerna dia melihat dengan seksama, sehingga mereka berdua saling bergantian.
Hewan yang disembelih semakin berkurang dan para warga lain yang tidak memiliki kesibukan ikut berkumpul melihat Akira dan Chio menyembelih, mereka semua nampak kagum dengan cara Akira dalam menyembelih hewan kerna sangat manusiawi, bahkan bebarapa dari mereka ikut membantu dengan membersihkan hewan mati yang telah disembelih secara halal.
Arnius yang melihat hewannya yang tersisa sedikit meminta untuk pergi. “ha ha ha … aku akan pergi lagi untuk mengambil hewan yang telah disumbangkan para warga!” teriak Arnius dengan wajah khasnya seraya pergi berlari.
“Masih ada!” teriak Akira dan Chio serempak dan kemudian tertunduk lesu, para warga yang melihat dibuat tertawa.
Setelah semua selesai Akira dan Chio beristirahat dibawah pohon rindang didekat area penyembelihan itu, bahkan mata mereka sedang terpejam kerna merasa lelah. “Sembalihkan!” teriak Arnius.
Mereka berdua seketika berdiri kerna kaget melihat seekor sapi yang dibawanya. “Arniuss! Sini biar lehermu yang akan aku sembelih!” terik Chio marah-marah, namun Akira berusaha menahannya.
“Ha ha ha ha ….” Arnius hanya tertawa dengan tawa khasnya.
__ADS_1
-Bersambung-