
Shiro terus menatap tajam Niky dan tiba-tiba dia mengela nafas. “Ehh apa dia tidak jadi marah,” ucap Niky heran.
Chio pun seketika dibuat senang. “Bagus Shiro! kau bisa melakukannya, kemarahan hanya akan membuat kita semua celaka!”
Shiro seketika berlari sambil mengayunkan tinjunya. “Cih ... akan kubalas pukulannya dan aku janji ini akan segera selesai!” teriaknya.
“Ehhh ...!” Niky dan Chio serempak sedangkan Arata menepuk jidatnya sambil menggeleng.
Kerna Shiro serius ingin memukulnya Niky pun bersiap siaga dan selalu menghindar. “Lakukan saja apa yang dia minta!” teriak Chio pada Niky.
“Kau pikir kena pukulan itu tidak sakit! Dan sekarang ditambah lagi dengan Shiro yang sedang marah, bisa dua kali lipat sakitnya!” jawab Niky terus menghindar.
“Cih ... sambil berbicara pun kau masih menghindarinya,” ucap Shiro kemudian menendang dan Niky pun berhasil menghindar menjauh.
“Sudah terima saja! Ini terjadi kerana ulahmu sendiri!” Chio kembali membujuknya.
“Kalau begitu kau saja yang menerima pukulannya!” Niky terus menghindari Shiro dengan berlari ke sana ke mari.
“Kalau kau tak melakukannya, kau tidak akan mendapat gaji, lalu bagaimana kau bisa mendapakan wanita!’ teriak Arata ikut membantu.
“Hah ... baiklah tapi jangan di wa ...”
*Buaghh!
Niky teralihkan dan pukulan Shiro pun telak menganai pipi hingga dia jatuh tersungkur, sedangkan Chio dan Arata malah lega sambil mengacungkan jempol bersama.
“Satu serangan mengenai Niky!” teriak pembawa acara dan disoraki penonton.
“Sudah kubilang jangan di wajah, kalau begini aku bisa tidak ganteng lagi!” Niky marah-marah sambil memegang pipinya.
“Shiro! Shiro! Shiro!” para penonton terus bersorak mendukung.
“Cih ... aku menyarah!” teriak Shiro mengangkat tangan.
Semua penonton pun seketika dibuat hening. “Menyarah, aku baru saja mendengar kalau Shiro berkata menyerah, kalau begitu Niky dan pemiliknya Chio menang!” teriak pembawa acara itu lantang, sedangkan para penonton bertanya-tanya kenapa Shiro melakukan itu.
“Shiro ayo kita segera pergi dari sini,” pinta Chio.
Shiro pun turun bersama Niky dari panggung itu menemui Chio. “Kita masih balum bisa pergi, masih ada petarung yang harus kita lawan, dan itu yang akan menjadi penentunya,” ucap Arata.
“Cih ... apa yang dikatakan Arata benar, dia harus melawan satu patarung lagi yang dimiliki tuanku dan ini akan jauh lebih berat,” balas Shiro seraya menunjuk Niky.
Niky tersenyum sombong. “Kerna aku tidak bisa membalasmu, biar kubalaskan pukulan bertubi-tubi nanti pada temanmu.”
“Cih ... dia bukan temanku,” bantah Shiro.
“Jadi di mana mereka sekarang?” tanya Chio.
__ADS_1
“Mereka tidak hadir, tapi pastinya mereka akan segera ke sini ketika tau kalau jagoannya telah dikalahkan,” jawab Arata.
“Cih ... kepercayaannya berlebihan itu membuatku diuntungkan,” sahut Shiro.
“Benar, saudagar itu sangat percaya Shiro dan membebaskannya begitu saja, kerna itulah kita bisa melakukan rencana ini,” balas Arata.
Kabar kekelahan itu pun sampai kepemilik Shiro yang sedang bertemu dengan para saudagar kaya membahas pertarungan, dia sangat marah dan segera berangkat bersama pengawal-pengawalnya.
Setelah itu tuannya pun datang menemui Shiro yang tengah berkumpul bersama Chio dan lainnya. “Apa! Jadi kau baik-baik saja, lantas apa yang membuatmu menyerah!” ucap laki sapantaran Akiyama itu.
“Oh sekarang aku ingat, kau adalah orang yang tidak ingin Akiyama jual ke siapa pun, jadi ini semua akal-akalan kaliankan, yang kutahu kalian berdua berasal dari tempat yang sama,” sambungnya manatap Chio.
Chio hanya bisa terdiam menatapnya kesal. “Tidak apa-apa aku biarkan kalian berdua bertemu sebentar, tapi setelah ini dia akan kembali padaku, ayo petarung kebanggaanku segeralah naik ke panggung pertarungan itu dan kalahkan mereka,” ucapnya mengancam dan berjalan pergi.
“Baik tuan,” ucap petarung bertubuh besar itu dan segera pergi mengikuti di belakang.
“Jadi itukah temanmu yang akan kulawan?” tanya Niky yang dari tadi di belakang mereka.
“Cih ... sudah kubilang dia bukan temanku,” bantah Shiro.
“Hah ... jika kau ingin menyerah sebaiknya sekarang sebelum terlambat,” sambungnya.
“Baik aku menyerah,” ucap Niky tersenyum lebar.
“Ehh apa! Bukannya kau ingin melawannya tadi!” teriak Chio.
“Kalau begitu kau saja yang melawannya Shiro,” pinta Chio kebingungan dan pasrah.
“Cih ... apa boleh buat, biar aku yang melawannya” jawab Shiro menyeringai.
“Tapi itu ...” sahut Arata namun tak sempat kerna Shiro keburu pergi.
“Baik semuanya, petarung kedua dari yang punya saimbara telah di depan kita, selanjutnya sipenantang yang telah berhasil menang, segeralah naik ke panggung ini!” teriak pembawa acara itu.
Shiro pun melompat naik dan membuat semua orang heran. “Maaf sekarang kau belum bisa bertarung, kerna kau belum sepenuhnya milik saudagar Chio,” ucap pembawa acara itu sambil menghampiri.
“Apa! Kenapa seperti itu!” teriak Chio.
“Begitulah peraturannya, aku ingin mengatakan ini tapi, dia malah keburu pergi,” jawab Arata.
“Ha ha ... dasar bodoh, tidak usah cemas begitu Shiro kau akan segera kembali menjadi budakku,” ucap tuannya.
Shiro semakin cemas. “Cih ... biarkan aku melawannya, aku tidak peduli soal peraturan.”
“Maaf itu tidak bisa dilakukan, harus petarung lain milik saudagar Chio yang melakukannya,” tegur pembawa acara itu.
Chio pun meremas rambutnya kerna bingung harus bagaimana. “Niky kau saja yang melakukannya!”
__ADS_1
“Ehh ... di mana dia?” sambungnya heran ketika melihat Niky menghilang entah ke mana.
Arata pun hanya bisa tertunduk menggeleng. “Jika tidak ada petarung yang maju, maka mereka akan di anggap kalah!” teriak pembawa acara.
Tiba-tiba Kafa datang dan menepuk pundak Chio. “Biar aku saja yang melawannya huaaahh ...”
Chio pun seketika memandangi Kafa dari kaki sampai ujung kepala yang mana tubuhnya selalu terlihat lemas. “Yang benar saja! Lebih baik kita kalah dari pada kehilanganmu Kafa!” jawabnya sangat cemas.
“Eh tunggu dulu, kenapa dari tadi kau tak terlihat,” sambungnya heran.
“Huaahhh ...” Kafa hanya menguap lalu berjalan naik ke panggung.
“Kafa apa yang kau lakukan, jangan ke sana, kita akan cari cara lain!” teriak Chio terus melarangnya, namun Kafa nampak tak peduli dan terus maju.
“Astaga apa yang kau lakukan, kami memang mengajakmu ke sini, tapi bukan untuk bertarung!” Arata ikut melarang.
“Huaaahhh ... diamlah, aku melakukannya kerna ingin segera pulang,” jawab Kafa sambil berusaha naik panggung.
Shiro memandangnya. “Cih ... terserah kau saja,” ucapnya seraya berlalu turun.
Pembawa acara itu pun menghampiri Kafa. “Siapa namamu?”
“Huaaahhh ... aku tidak begitu peduli soal nama, namun panggil saja aku Kafa,” jawabnya.
“Baik semuanya! inilah penantang kedua dari saudagar Chio, dia adalah Kafa!” mendengar itu para penonton pun hanya bisa heran melihat Kafa dan mereka sangat menyayangkan kejadian itu.
“Kenapa kau tidak ikut melarangnya!” ucap Chio pada Shiro.
“Cih ... biarkan saja,” jawabnya tak peduli.
“Heh ... jika dia mati maka Chio harus bertanggung jawab ya,” ucap Niky tiba-tiba muncul kembali.
“Kenapa kau tiba-tiba menghilang, cepat gantikan dia sana!” pinta Chio sambil menarik-nariknya, sedangkan Niky terus bertahan di tempat.
“Baiklah Mulai!”
“Cih ... terlambat, mereka sudah mulai,” ucap Shiro.
“Maaf aku tidak bermaksud melawanmu, tapi kerna ini adalah perintah aku tidak bisa menghianatinya, aku harap kau memaafkanku,” ucap petarung bertubuh besar itu.
Kafa nampak tak peduli dan melangkah mendekat. “Huaaahhh ...”
Petarung itu pun hanya berdiam saja dan membiarkan Kafa berdiri sangat dekat dengannya. “Ha ha ha ... kalian semua ini benar-benar bodoh, cepat habisi dia!” teriak tuannya.
Petarung itu pun bersiap ingin memukul dan Kafa pun menatapnya hingga tiba-tiba petarung itu terhenti. Seluruh penonton heran dan bertanya-tanya kenapa sang lawan tidak jadi bergerak dan memukul, mereka semua tidak tahu apa yang terjadi.
“Huaaahhh ...” Kafa menguap lalu sedikit mendorongnya hingga petarung itu pun roboh terjatuh keluar panggung, Chio dan lainnya seketika terkejut dan tidak mengerti apa yang telah terjadi.
__ADS_1
-Bersambung-