The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Telah Kembali Pulang


__ADS_3

“Tidak lama setelah itu kekek yang di rawat Thalib pun meninggal dunia, dia pun menguburkannya bersama pangeran Sayyid dan dua penjaga gerbang, para warga lain pun ikut membantu mengantarkan dia keperisterahatan terakhir,” ucap kakek Naya pada Akira, Chio dan juga Shiro.


Mendengar cerita itu membuat mereka merasakan sedikit kesedihan yang di alami Thalib, mereka bertiga tertunduk diam. “Kalian semua harus bisa mengambil pelajaran dari kisah ini, jadilah seorang anak yang berbakti pada orang tua, lihatlah Thalib dia bahkan tidak punya hubungan darah dengan orang itu, namun dia dengan penuh kasih sayang merawatnya,” sambungnya menasehati.


“Terima kasih Kek, sekarang kami semua mendapat pelajaran berharga lagi, seperti yang kakek bilang, berbakti pada orang tua adalah cara terbaik untuk mendapatkan keridhoan Allah, seorang Guru di duniaku pernah bilang apa pun yang kita lakukan, adalah bagaimana caranya agar yang kita lakukan itu di senangi oleh Allah, dengan begitu jika dia senang maka kita akan mendapat keridhoannya,” ucap Akira.


Mereka semua tersenyum haru dan sangat kagum mendengarnya. “Nah Ayo semuanya makanlah, aku sengaja membuat banyak untuk kalian,” ucap nenek Naya menghampiri mereka sambil membawa kue gegatas berlumur gula yang sering dia bagikan.


“Wah ... terima kasih banyak Nek,” ucap Chio mengambil lebih dulu.


“Woy aku duluan!” sahut Shiro menyerobotnya, Akira pun tak kalah dengan mereka memakan dengan lahap.


“Hey tenanglah, semua kebagian,” teriak Naya, kakek dan nenek pun di buat tertawa.


...●●●●...


Keesokan harinya menjelang siang, saat itu Akira dan lainnya telah selesai melaksanakan acara yang mereka selenggarakan ditempat peribadatan yang juga di gunakan sebagai mejelis untuk mengumpulkan orang. Sebagian dari mereka telah beranjak pulang, ada juga yang masih berbincang santai bersama di bawah pohon rindang dekat tempat itu.


“Mereka telah kembali dari negeri Matahari Ekhad, temuilah keluarga kalian masing-masing di istana Raja kota sebelah!” teriak para utusan tetua Kanzo dari rumah ke rumah.


Mereka semua yang mendengar kabar gembira itu segara beramai-ramai pergi. “Syukurlah! mereka kembali dengan selamat,” ucap Ayumi.


“A’ahh ... semoga ibu Naya termasuk di antara mereka,” jawab Akira.


Chio memandangi mereka yang berjalan menuju kota shukufuku. “Mereka semua terlihat cemas,” ucapnya.


“Cih ... tentu saja mereka begitu, siapa yang merasa tidak cemas jika mengatahui kalau beberapa dari mereka tidak ingin kembali,” sahut Shiro.


Ayumi dan Chio seketika diam. “Mari kita ikuti mereka, siapa tau ada yang bisa kita bantu,” ucap Akira tersenyum halus memandangi Shiro dan lainnya.


Setelah sampai di istana Ayumi dan Naya tak sengaja saling bertemu pandang di tengah kerumunan penduduk dan orang yang telah kembali, melhat itu Naya merasa senang dan segera berlari menuju Ayumi dan lainnya.


“Kak! Tolong bantu aku mencari ibuku, dari tadi aku tidak menemukannya,” pinta Naya cemas.


“Tenang saja kami akan ikut membantu!” jawab Ayumi bersemangat sekaligus menenangkannya yang sedang panik.


“Cih ... bagaimana caranya kami bisa menemukan ibumu, kami tidak tahu bagaimana rupanya,” sahut Shiro.


“Kita hanya perlu menanyakannya pada mereka yang telah kembali itu, tentunya pencarian kita persempit pada perampuannya saja,” ucap Chio.


“Cih ... meskipun kau bicara begitu nyatanya kebanyakan dari mereka adalah perempuan,” balas Shiro.


“Kau ini mau membantu atau tidak!” teriak Ayumi.


“Ah ... ya ampun apa boleh buat,” jawab Shiro menggeleng.


“Kalau aku berhasil menemukannya, maka buatkan aku kue gegatas yang banyak,” sambung Shiro pada Naya kemudian pergi lebih dulu.


Naya hanya bisa terdiam haru melihatnya. “Baiklah, kalian berdua ke sana, aku akan bertanya pada pemimpin rombongan mereka, kemungkinan besar mereka pasti punya daftar nama,” ucap Chio.


“Kalau begitu aku akan mencarinya dari ujung sana,” ucap Akira segara berlari.


Di saat berjalan pelan di kerumunan, Akira bisa melihat jelas beberapa dari mereka sangat bahagia bertemu anggota keluarganya yang telah lama tak dijumpa, namun banyak juga dari mereka yang terduduk lemas meratapi keluarganya yang tak ingin kembali.

__ADS_1


“Syukurlah kau telah pulang, kami sudah lama menunggumu!” ucap seorang ibu pada anak tertuanya.


“Maafkan aku sudah menghawatirkan kalian, namun jika kalian ingin pergi ke negeri itu, aku akan membantu kalian, kerna di sana sangat nyaman, Disana aku selalu makan enak setiap hari” jawabnya.


“Kau bohong! Kalau di sana nyaman seharusnya kau semakin gemuk, tapi yang sekarang malah kurusan,” jawab Ibunya.


Dia tertawa. “Ibu, Ayah, dan kalian adik-adikku nanti kalau aku punya banyak uang akan aku ajak kalian pergi kesana,” jawabnya membuat kedua orang tuanya tersenyum sedangkan adik-adiknya melompat-lompat senang.


Akira tersenyum melihat mereka lalu mengalihkan pandangan kelain. “Bagaimana perjalan Ayah!” ucap seorang anak kecil bersama ibunya.


“Nanti Ayah akan mengajak kalian berdua untuk pergi ke sana, di sana banyak mainan lo!” jawab sang Ayah membuat anaknya penasaran.


“Aku sangat bersyukur kau kembali, tapi kenapa kau bertambah kurus?” tanya istrinya.


Dia tersenyum. “Pokoknya nanti kita harus pergi ke sana bersama- sama,” ucapnya bersemangat.


Akira mengalihkan pendangannya lagi ke lain. “Bagaimana ini suamiku, anak lelaki satu-satunya kita tak kembali, kenapa dia tega melakukan itu,” ucap seorang wanita terduduk menangis.


“Tidak apa-apa, sepertinya dia sudah nyaman di sana, kita biarkan dan dukung saja ke inginannya,” jawab suaminya.


Melihat hal itu membuat perasaan Akira campur aduk, kerna hal itu dia pun memutuskan untuk segera mempercepat pencariannya.


Di tempat lain Chio tengah menemui pemimpin rombongan itu yang tengah sibuk menyuruh anak buahnya mengangkat barang-barang.


“Apa aku bisa lihat daftar nama orang-orang yang telah kembali ini,” pinta Chio.


“Oh kau ingin mencari anggota keluargamu,” jawabnya dan Chio mengangguk.


“Nah lihatlah, semoga ada nama keluargamu yang tertera disana,” sambung seraya menyerahkan beberapa helai kertas.


“Dari catatan tetua Kanzo ada labih dari tujuh puluh orang yang berangkat ke sana, itu artinya setengahnya memilih tidak ingin pulang, apa sebegitu nyamannya negeri mereka,” sambungnya heran.


“Kau sudah menemukannya?” tanya orang tadi.


“Ahh ... terima kasih banyak paman,” jawab seraya mengembalikan lalu membungkuk hormat.


Di tempat lain lagi Shiro tengah menanyai setiap wanita yang dia lihat. “Apa kau ibu Naya?”


“Bukan, aku bahkan belum menikah,” jawabnya.


“Apa kau ibu Naya?” tanyanya lagi, dan semua orang yang ditanya selalu menjawab bukan.


“Cih ... kalau begini tidak akan ada habisnya,” ucapnya kesal seraya terus berjalan di tengah kerumunan yang mulai bubar.


“Naya! Kau di mana!” teriak seorang perampuan membuat Shiro secara cepat berpaling ke arah asal suara.


...●●●●...


Setelah mencari cukup lama Akira, Chio, Ayumi dan Naya mereka kembali berkumpul. “Bagaimana apa kalian bertemu ibunya,” ucap Ayumi cemas.


“Aku sudah menanyakannya pada setiap orang dan mereka selalu bilang tidak tahu,” ucap Chio.


“A’ahh ... aku juga melakukan hal yang sama dan hasilnya nihil,” sahut Akira.

__ADS_1


“Apa ibuku tidak ingin kembali bersama kami dan punya keluarga baru di sana, bagaimana ini, apa yang harus aku katakan pada kakek dan nenek?” ucapnya mulai menangis.


“Jangan begitu Naya, ibumu pasti kembali bersama kalian,” jawab Ayumi mulai panik dan cemas.


“Tapi kita sudah mencarinya kemana-mana,” jawab Naya bertambah sedih.


“Kita masih punya harapan! Shiro masih belum kembali, mungkin dia berhasil menemukan ibumu,” ucap Akira.


“Benar kita tunggu sebentar lagi,” sahut Chio.


“Naya!” teriak seorang wanita dari jauh membuat mereka menoleh cepat.


“Ibuku, dia ibuku,” ucap Naya terperangah sedangkan sang ibu tersenyum dengan pipi yang basah dan tubuhnya terlihat kurus lemah datang bersama Shiro.


Naya pun segera berlari langsung memeluk erat sang ibu yang telah lama tak kembali. “Hah ... kau ini lama sekali bikin kami khawatir saja,” ucap Chio menepuk pundak Shiro.


“Cih .... kalian ini selalu saja mengandalkanku,” jawabnya nampak sombong.


“A’ahh ... kerna ini kami selalu merepotkanmu,” sahut Akira.


“Cih ...” jawabnya segera memalingkan wajah


.


Saat suasana telah cair Chio pun mengahmpiri mereka. “Bagaimana perjalanan menuju negeri sana, apa perjalanannya mudah?” tanya Chio.


“Kalian semua harus merasakannya sendiri, di negeri itu sangatlah indah dan nyaman. Akiko, kau juga nanti harus ikut ibu kesana,” jawabnya.


Chio tersentak mendengarnya. “Jadi ... berapa waktu yang di butuhkan untuk sampai ....”


“Cih ... nanti saja kau tanyakan itu, aku ingin menagih janji Naya untuk membuatkan kue gegatas yang banyak,” potong Shiro.


“Baiklah ayo Bu kita pulang dan buatkan mereka kue yang banyak sebagai perayaan kepulangan ibu,” jawab Naya dan di angguki ibunya.


Akira dan lainnya pun mengikuti orang-orang yang telah berjalan pulang, ada yang di penuhi rasa kebahagian, ada juga yang meratapi kesedihan, tidak ada yang bisa lagi dilakukan selain pasrah dengan keadaan.


Saat memasuki gerbang kota Megumi tiba-tiba seorang laki-laki dengan tas besar menabrak belakang Shiro membuat dirinya sendiri terjatuh. “Cih ... apa yang kau lakukan!” teriak Shiro pada orang itu.


Shiro seketika kaget ketika melihat orang itu memandang tajam serta ketakutan, mata sembab, ada luka lebam di tangannya. “Cih ... kenapa kau memandangku seperti itu,” ucap Shiro sedikit takut.


Dia seketika memeluk erat tasnya dan semakin ketakutan melihat Shiro. “Ap-apa kau mau berkela ....”


“Akhhh ...!” teriaknya seketika beridiri dan menyerang Shiro dengan pisau.


Akira dan lainnya sedikit jauh di depan, ketika mendengar teriakan itu mereka menoleh dan seketika di buat kaget melihat Shiro memukul perut pria itu sangat keras sampai membuat mulutnya mengeluarkan darah.


“Shiro hentikan!” teriak Chio segera berlari melerai dan membangunkan orang itu yang terjatuh pingsan.


“Apa kau tidak bisa menahan di ... ri” teriak Chio seketika terhenti melihat Shiro yang tengah terperangah melotot pada laki-laki yang telah dia pukul.


Chio pun berpaling perlahan hendak melihat laki-laki yang dia bangunkan itu. “Dia sudah terluka parah sejak awal,” ucap Akira hampir tak kuasa.


Mereka semua pun terdiam menatap ngeri melihat punggung orang itu penuh luka lebam layaknya seorang yang sering mendapat siksaan.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2