
Saat itu disebuah tenda tempat Chio menjadi bos mereka dalam pengerjaan pembangunan. Akira dan lainnya sedang beristirahat hingga Arata datang menemui mereka.
“Ada kabar baru lagi dari pangeran, dia ingin kalian datang kembali ke istana siang ini menemuinya, sepertinya adahal penting yang ingin dia bicarakan,” ucap Arata seraya ikut duduk bersama.
“Ah … pas sekali, kita bisa segera membicarakan tentang apa yang kita temui di desa itu,” ucap Harley dan di angguki Akira.
“Bagaimana keadaan Daichi, apa masih terus mendapat pengawasan?” tanya Chio.
“Keadaan nampak tak berubah, salah satu pengawal kelas atas pun bahkan sering datang menemuinya,” balas Arata membuat Shiro berdecak lidah.
“Begitu ya hemm … oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu, apa kau tahu sesuatu tentang desa Tasu’a?” tanya Chio.
Arata nampak mengingat-ingat. “Ah iya, desa itu telah lama hancur.”
“Hancur?” Akira menatap heran.
“Itu terjadi saat aku masih kecil, saat malam tiba, sebuah cahaya merah menyala hingga ke langit, orang bilang itu kebakaran, dan benar keesokan harinya kabar datang dari kerajaan bahwa telah terjadi kebakaran lahan yang merambat ke sebuah desa, mereka bilang itu desa Tasu’a, orang-orang kami pun sangat mengkhawatirkan keadaan penduduk di sana, namun mereka mengatakan sudah terlambat, semua penduduk telah binasa, mereka meminta kami semua untuk menjauhinya, kerna akan sangat berbahaya,” ucap Arata bercerita.
“Tidak ada satu pun orang yang selamat?” tanya Harley.
“Tidak satu pun,” jawabnya menggeleng.
Chio tersenyum. “Ternyata begitu ya …”
“Tunggu, apa kamaren kalian benar-benar hanya mencari harta karun itu?” tanya Arata nampak curiga dengan tingkah mereka.
“Cih … kami datang ke desa itu,” sahut Shiro.
“Ap-apa! Kok bisa,” Arata sengat bingung.
Akira tersenyum menatapnya. “Desa itu masih ada, itu tempat tinggal Faruq dan Samih.”
“Ehh.”
“Yah kami juga malah bertemu dengan Ibunda Daichi,” sahut Chio sedikit tertawa.
“Eehhh …!”
“Hahh … ceritanya panjang, jika kau sangat ingin tahu ikutlah bersama kami siang ini,” ucap Harley.
“Eeehhh …!” Arata nampak sangat terkejut hingga hanya terus berkata demikian.
__ADS_1
...●●●●...
Saat siang tiba mereka pun pergi ke istana dan saat bejalan di lorong istana menuju ruang Daichi, mereka berpepasan dengan seorang laki-laki bejalan tegak dengan kumis tebal membuatnya nampak sangat gagah. Dia terus menatap Akira dan lainnya dengan dagu sedikit terangkat.
Arata menyapanya dengan tersenyum lalu diikuti Akira dan lainnya, dia pun membalasnya dengan ikut tersenyum, sedangkan Shiro justru membalas menatapnya dengan dagu sedikit terangkat membuat laki-laki itu tersenyum sambil menggeleng.
Setelah itu mereka pun sampai di ruangan Daichi. “Bagus, akhirnya kalian datang juga,” ucapnya sambil berjalan ke jendela.
“Lihatlah,” pintanya.
Akira dan lainnya pun melihat para orang-orang sedang melakukan peribadatan yang tidak lain menyembah matahari. Mereka juga melihat beberapa orang dengan pakaian hitam berada di setiap sudutnya bahkan memimpin mereka.
“Lihatlah orang yang berpakaian hitam itu, mereka semua adalah para penyihir kerajaan,” ucap daichi.
“Jadi maksudmu, mereka tidak seharusnya berada di sana?” tanya Chio.
“Hanya saja ... ini yang pertama kali terjadi, bukan begitu Arata,” balas Daichi.
Arata ikut melihat lewat jendela. "Apa yang dikatakan pangeran benar, aku sering ikut mengawal mereka, dan salama ini sama sekali tidak pernah para penyihir ikut bahkan menjadi pemimipin peribadatan di sana," jawab Arata mayakinkan mereka.
“Dan kalian lihatah laki-laki yang di sana,” tunjuknya.
“Oh yang itu, kami tadi sempat berpepasan dengannya, emang ada apa dengan dia?” tanya Akira.
“Apa ada sesuatu yang dia katakan?” tanya Harley.
Daichi mengangguk. “Dia memberitahuku kalau akhir-akhir ini sering diadakan pertemuan oleh menteri pendamping antara para saudagar kaya dan para penyihir kerajaan, dan tadi dia baru saja memberitahuku kalau negeri ini bisa jadi lebih buruk.”
Mereka semua tercengang. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Chio.
“Aku juga tidak tahu itu,” balasnya menggeleng.
“Cih … lalu bagaimana dengan Ayumi? Apa kau benar-benar menjaganya?!” sahut Shiro kesal.
“Iya mana dia, kenapa tidak datang?” ucap Akira.
“Tenang saja kalian tidak usah cemas, aku pasti melindunginya jika terjadi sesuatu. Belakangan sekarang dia nampak semakin sibuk kerna sudah mendapat kepercayaan dari kepala pelayan, dia bisa saja sudah bertemu dengan Kanechi,” jawabnya membuat mereka sedikit tenang.
“Itu artinya kesempatan untuk mengatahui labih banyak akan semakin mudah,” sahut Harley.
"Benar, aku juga yakin ini akan jadi kesempatan bagus untuk kita, walaupun begitu aku sering menyuruhnya untuk tetap berhati-hati agar tidak mudah tergoda meski kesempatan untuk mengatahui terbuka lebar," balas Daichi.
__ADS_1
"Cih ... syukurlah kalau kau masih ingat tugasmu."
Chio dan Akira saling menatap lalu mengangguk yakin.”Daichi, maaf jika pembicaraan ini melenceng, tapi ada hal yang ingin kami pastikan,” ucap Akira.
Daichi sedikit bingung. “Ya .. silahkan.”
“Apa kau dan Kanechi memang adik kakak yang punya hubungan darah?” tanya Akira.
“Aha ha ha … ya ampun aku kira apa. Jujur, sebenarnya kami sama sekali bukan adik kakak, hanya saja kami berdua menganggap demikian, ada lagi,” jawabnya tersenyum.
“Bagaimana dengan ibumu dan desa Tasu’a?” sahut Chio membuat raut wajahnya seketika berubah.
Dia tercengang. “Maaf sepertinya bukan saatnya berbicara tentang itu, bukannya hal yang tadi harus kita selidiki lagi,” jawabnya mengalihkan.
“Cih … sampai kapan kau ingin menghindar,” ucap Shiro.
“Apa maksudmu, menghindari tentang apa,” balasnya.
“Cih … masalah keluargamu, jika kami mulai menanyakan tentang keluargamu, kau pasti menghindarinya.”
“Maaf aku lupa soal itu.”
“Cih … kami baru saja bertemu dengan ibumu puas!” teriak Shiro.
“Aha ha ha … astaga ayolah jangan bercanda.” Walau terkejut dia malah tertawa.
“Hoo … jadi pangeran kita telah menganggap ibunya telah lama maninggal ya ...” sahut Harley membuat Daichi terbelalak hingga pupil matanya mengecil.
“Cih … begitu ya, ternyata kau seorang pangeran yang mudah menyerah dan lebih memilih melupakan semuanya,” sahut Shiro.
Daichi seketika menarik pergelangan baju Shiro. “Emangnya kau tahu apa tentang diriku dan ibuku! Sampai berani mengatakan kalau aku sudah menyerah!” teriaknya sangat marah.
“Cih … kalau begitu kenapa kau salama ini memilih diam!” balas Shiro mendorongnya.
“Woi kalian berdua tenanglah!” Chio melerai keduanya.
"Pangeran tolong tenanglah, biarkan mereka menjalaskan semuanya," Arata ikut menenangkan.
“Shiro tidak bohong atau sedang bercanda Daichi, kami semua memang telah bertemu dengan ibumu, kami tahu di mana dia berada sekarang,” ucap Akira mulai menceritakan semuanya bersama Chio dan lainnya hingga semuanya telah jelas.
Daichi seketika terduduk di lantai, dia mulai meneteskan air mata hingga akhirnya menangis kencang, mereka semua yang melihatnya langsung merasa kalau beban yang di tanggung Daichi, tentang masalah keberadaan ibunya salama ini telah sirna bersama dengan kucuran air matanya.
__ADS_1
-Bersambung-