
Flashback On
“Ayah, tolong ceritakan tentang ibu padaku, aku sangat penasaran secantik apa ibuku,” pinta Ayumi penuh harap pada sang ayah yang sedang bersiap pergi dengan pakayan putih bersih.
“Maaf Ayumi ayah mau pergi ke rapat para tetua yang akan mencari penggantinya,” jawabnya nampak sibuk.
Ayumi menunduk sedih. “Ayah akan lama, jadi sebaiknya kau pergi bermain bersama anak-anak lain,” ucapnya pergi keluar dan menutup pintu meninggalkan Ayumi yang tertunduk lesu.
Sesuai permintaan ayahnya, Ayumi pun pergi ketanah lapang dimana saat itu Ken berlari dan terjatuh kerna ulah Shiro, sedangkan Chio tertawa keras melihatnya. Ayumi berlari mengahampiri mereka dan menyapa. Mereka menyambut kedatangan Ayumi dan bermain bersama, Ken selalu jadi bahan tertawaan mereka kerna Shiro selalu mengerjai tak habisnya. Mereka pun bermain bersama hingga senja.
Saat pulang kerumah, Ayumi nampak kaget melihat seisi rumah berantakan dan juga melihat ayahnya yang duduk di sudut ruangan nampak banyak beban pikiran, saat itu Ayumi tak berani mendekat bahkan melihat ketika dia berjalan melewatinya.
“Ayumi,” panggil sang ayah tiba-tiba membuat Ayumi tersentak.
“Kalau kau ingin makan ambilah didapur,” ucap sang ayah.
“Baik Ayah,” balas Ayumi tanpa melihat.
Saat pergi kedepur yang dia lihat justru makanan yang berantakan dimana-mana, tentu saja melihat hal itu membuat Ayumi ketakutan dan memilih segera pergi kekamar untuk bersembunyi.
“Ibu aku takut …” ucapnya lirih dibalik selimut.
Suasana pagi yang dingin dan gelap menampakkan sebuah cahaya dari lampu obor di halaman belakang dekat rumah Ayumi. Suara dari seseorang tengah menggali tanah terdengar samar, yang terdengar hanyalah suara mulut seorang laki-laki yang menggali itu.
“Ini semua kesalahannya, ini semua kesalahannya , ini semua kesalahannya!” ucap Ayah Ayumi dengan mata merah seperti orang yang tak tidur semalaman.
Kini pagi hari telah tiba, cahaya terang menembus masuk kamar Ayumi. “Ayumi bangunlah sudah siang,” ucap sang ayah membangunkan.
Ayumi terbangun dan dibuat kaget dengan mata ayahnya yang merah. “Apa Ayah tak tidur semalam?”
“Tidak kok, ayah tidur sangat nyenyak,” jawabnya tersenyum.
“Tapi …”
“Kau bilang ingin tau seperti apa ibumukan, jika kau mau tau ikutlah ayah sebentar,” pintanya mengajak pergi seraya memegang pergelangan tangan Ayumi.
Ayumi terlihat senang melihat ayahnya yang mau memberi tahunya. “Tapi kenapa kita kesini?” tanya Ayumi heran ketika sampai dihalaman belakang.
“Ibumu! Kau ingin tahu bagaimana ibumukan. eh tapikan ... dia sudah meninggal saat dia melahirkanmu, apa kau mengingatnya,” ucapnya terus berjalan bersama Ayumi mendakati lubang hasil galian.
“Ayah … apa yang ingin kau lakukan,” tanya Ayumi ketakutan.
“Apa kau ingat hah!, dia mati kerna melahirkanmu! Kaulah penyebab kematiannya!, kau terus bertanya seperti apa ibumu padaku yang sangat merasa kehilangan ini! Kau ingin tahu seperti apa dia hah! kalau begitu masuklah kedalam!” teriak sang ayah seraya menyeret Ayumi hingga terjatuh kedalam lobang itu.
“Ayah! maafkan aku kerna selalu bertanya padamu tentangnya ,aku janji tidak akan seperti itu lagi!” teriak Ayumi berusaha naik keatas, namun selalu di dorong sang ayah.
“Aku gagal jadi tetua kerna punya anak perampuan sepertimu! Lebih baik kau dikubur hidup-hidup kerna tak membawa keberuntungan padaku, seharusnya kau tidak pernah lahir, kau ini hanya menyusahkan saja!” teriaknya terus mendorong dan menimbun tanah.
__ADS_1
“Kau tau kenapa aku tidak terpilih? Itu semua kerna kau seorang anak perampuan, benar kata ayahku dahulu jika nantinya istriku melahirkan anak perampuan maka hanya akan jadi aib dan tak membawa keberuntungan, lebih baik kau mati saja di sini!” teriak sang ayah terus berusaha menimbun tanah kelobang itu untuk mengubur Ayumi hidup-hidup.
“Tolong …! tolong …” teriak Ayumi menangis ketakutan.
Beruntunglah para warga yang sudah mulai bekerja mendengar teriakan Ayumi dan segera berlarian mengarah keasal suara, sontak saja semua orang dibuat terkejut ketika melihat di halaman belakang rumah Ayumi yang mana saat itu calon tetua yang gagal tengah panik dan berusaha terus menimbun tanah pada seorang anak yang terus berteriak minta pertolongan.
Orang-orang melihat itu segera berlari dan menghajar bersama kepada calon tetua yang gagal itu, sedangkan Ayumi diselamatkan oleh beberapa ibu-ibu. Melihat sang ayah dihajar masa, sontak saja membuat Ayumi berlari mencoba melindunginya.
“Hentikan komohon hentikan jangan lakukan itu padanya!” teriak Ayumi menghadang mereka membuat semua orang berhenti walau dari tatapan mereka masih balum puas, padahal sang ayah sudah terkulai lemah bebak belur.
“Sudah jangan lakukan itu lagi, lebih baik kalian bawa dia ke tetua desa agar bisa ditentukan hukumannya,” ucap seorang ibu-ibu mengahmpiri Ayumi yang menangis. Mendengar perkataan ibu itu mereka pun membawa pergi ayah Ayumi menuju tetua desa.
Beberapa kali upacara telah berlalu, kabar tentang Ayumi pun tersiar dimana-mana. Shiro, Ken dan Chio yang baru tahu kalau sekarang Ayumi berada di rumah tetua pertama yang kini merawatnya, berkunjung kerumah tetua untuk melihat Ayumi.
“Ayumi! Ini teman-temanmu datang berkunjung,” panggil istri tetua.
Ayumi pun berjalan keluar menemui mereka. Shiro dan lainnya nampak cemas melihat Ayumi yang terlihat lemah dan lesu. “Ayumi apa istri tetua ini bersikap buruk padamu,” ucap Ken.
Mendengar itu seketika Chio memukul atas kepala Ken membuat Ken merengek kesakitan. Sedangkan Ayumi menggeleng. “Mereka sangat baik padaku,” jawabnya singkat.
“Ayumi jika kau butuh sesuatu mintalah pada kami, kami pasti akan berusaha membantumu,” balas Chio penuh harap.
“Dia benar Ayumi, jika kau ingin makan enak mintalah kepada Shiro, dia pasti akan membelikannya,” sahut Ken.
“Kau ini dari tadi bicara apa, sudah jelas Ayumi makan enak disini!” jawab Chio kesal sedangkan Ayumi sedikit tertawa melihatnya. Shiro yang mendengar perkataan Ken membuatnya terpikir sesuatu.
Ayumi datang menghampiri dan sedikit kaget melihat Shiro yang tersenyum dengan ibunya. “Ayumi, mereka bilang ingin merawatmu, bukan berarti aku tak ingin merawatmu, hanya saja keputusan ini ada padamu,” ucap istri tetua.
“Iya Ayumi, aku dan ayah Shiro ingin merawatmu, kamu bisa jadi adik Shiro,” ucap ibu Shiro.
Ayumi menatap Shiro heran, sedangkan Shiro justru memalingkan wajahnya seolah tak tahu apa-apa. “Baik Bibi, aku mau jadi adik Shiro,” ucap Ayumi tersenyum senang membuat Shiro ikut tersenyum juga.
Hari-hari terus berlalu dan kini Ayumi, Shiro, Ken dan Chio telah beranjak remaja, sifat mereka pun mulai berubah menjadi lebih dewasa. Saat itu Ayumi dan Shiro pergi kedaerah sebelah kerna mencari sesuatu, mereka pergi kepasar untuk mencarinya diwaktu siang hari.
Suara orang marah-marah terdengar dari salah satu kedai dipasar itu. “Hey cepat pergi dari sini, kalau kau terus ada disini yang ada malah tidak ada pengunjung yang datang!” teriak pemilik kedai pada seorang pria berbaju lusuh dan kotor.
Ayumi dan Shiro melihat kearah suara, tiba-tiba Ayumi terperangah melihat orang yang diusir itu tengah memakan daging hasil mencuri dikedai itu. “Dasar kau ini cepat pergi sana, aku ikhlaskan itu asal kau pergi!” bentak pemilik kedai.
Ayumi segera berlari menghampiri orang itu dan melindunginya dari pemilik kedai yang mulai kasar, melihat Ayumi yang pergi dari hadapan Shiro malah termenung melihatnya.
“Tolong jangan sakiti Ayahku, apa yang telah dicurinya akan aku bayar!” teriak Ayumi seraya menghadang sipemilik kedai.
“Ayahmu kau bilang! Dia ini hanyalah orang gila yang berkeliaran di daerah sini, jangan mengada-ngada biar kuusir dia dari sini,” jawab sipemilik.
“Kumohon biarkan aku yang mengurusnya!” teriak Ayumi penuh harap membuat hati sipemilik sedikit luluh.
“Terserah kau saja yang penting kau bawa dia menjauh dari sini,” jawabnya kemudian masuk kedalam kedai.
__ADS_1
Shiro yang dari tadi termenung segera berlari menghampiri. “Ayumi kenapa kau melindungi orang gila ini?” tanya Shiro seraya menunjuk.
“Jangan berucap seperti itu, dia ini Ayahku …!” teriak Ayumi marah.
Shiro seketika terperangah ketika melihat jelas orang itu yang berada dibelakang Ayumi tengah berdiri dan ingin memukul Ayumi dengan batu sedang ditangannya.
“Ayumi! Awas!” teriak Shiro seketika menarik tangan Ayumi untuk menghindar dan segera menendang bagian perut orang itu hingga terjatuh.
“Ayah!” teriak Ayumi kaget melihat Shiro dengan tega melakukannya.
Tidak berhenti disitu ayah Ayumi pun melemparkan batu tadi dan malah mengarah ke wajah Ayumi, beruntung dengan sigap Shiro menangkap batu tersebut dan malah membuat tangannya berdarah. Sedangkan Ayumi berusaha berlindung dengan pergelangan tangan kanannya.
Shiro bertambah marah dan ingin memukul lagi, akan tetapi segera dihadang oleh Ayumi. Tiba-tiba sang ayah tadi berteriak dan melarikan diri menjauh, melihat hal itu tentu saja membuat Ayumi ingin mengejarnya.
“Ayah jangan lari, aku Ayumi anakmu,” ucapnya hendak berlari.
“Ayumi hentikan!” ucap Shiro seraya menangkap pergelangan tangan kirinya.
“Shiro lepaskan! Kau sudah keterlaluan, kau tak usah ikut campur dan biarkan aku mengerjar ayahku!” teriak Ayumi berusaha melepas pegangan Shiro.
“Cih … ayahmu kau bilang! Dia bukan lagi ayahmu, dia sudah tak lagi mengenalmu, bahkan dia hampir mencelakakan dirimu Ayumi!” teriak Shiro seketika membuanya terdiam menatap Shiro.
“Sadarlah Ayumi … dia bukan lagi ayah yang kau kenal, apa kau lupa dengan yang dia lakukan saat kau masih kecil, dia tega melakukannya hanya kerna percaya dengan hal bodoh semacam itu,” ucap shiro menyadarkannya.
Ayumi masih diam hingga darah di telapak tangan kanan Shiro menetes ketanah lewat pergelangan tangan kirinya. “Lepaskan tanganmu dariku,” ucap Ayumi.
“Apa yang ingin kau lakukan jika kulepas?” tanya Shiro.
Dengan paksa Ayumi berusaha melapaskannya sendiri hingga membuat Shiro bersedia melepasnya, kemudian Ayumi merobik kain baju dan melelitkannya ketalapak tangan Shiro yang berdarah, setelah terikat kuat dia berjalan pergi lebih dulu.
“Mau kemana kau pergi?” tanya Shiro lagi.
“Pulang!” jawabnya terus berjalan menjauh.
“Cih … dasar, kenapa malah bajuku yang kau sobek,” ucapnya berusaha menahan tawa dengan senyuman sambil mengangkat kain depan yang sobek hingga memperlihatkan perutnya. Sedangkan Ayumi terus berjalan tak menjawab.
Keesokan harinya saat sarapan pagi bersama dirumah Shiro. “Paman, Bibi, aku ingin kembali tinggal dirumahku yang lama sendiri,” ucapnya membuat Ibu dan ayah Shiro kaget, “maksudku rasanya tidak mungkin aku tinggal bersama laki-laki seumuranku dalam satu rumah, walaupun aku di anggap adik Shiro, namun kami tak memiliki hubungan darah,” sambung Ayumi menjelaskan.
“Baiklah jika maumu begitu, tapi biarkan bibi yang akan mencarikan perkejaan untukmu supaya kau bisa hidup mandiri,” Jawab ibu Shiro.
“Yah seandainya Shiro ini sifatnya sudah lebih dewasa sepertimu, maka sudah pasti aku ingin menikahkannya denganmu,” ucap ayah Shiro membuat mereka tersentak kaget. Ibunya menggeleng sedangkan Ayahnya tertawa melihat mereka berdua yang diam tak bersuara.
Mulai saat itu Ayumi pun tinggal sendiri dirumah lamanya, dia berusaha untuk mengikhlaskan semua yang terjadi hingga beberapa waktu berlalu dan terdengar kabar kalau sang ayah telah meninggal dunia di daerah sebelah.
Flashback Of
-Bersambung-
__ADS_1