
Hari selasa adalah hari yang mereka tetapkan secara asal kerna ketidak tahuan kapan waktu tepatnya, ini semua tidak lain hanya untuk memudahkan mereka dalam menentukan suatu rencana dikehidupan sehari-hari. Hari ini Akira dan lainnya telah sangat siap untuk memulai perjalanan, namun sebelum itu mereka menunggu kedatangan Shiro yang tak kunjung muncul.
Saat itu mereka menunggu ditengah desa dekat dinding yang mengelilingi tempat upacara. “Apa menurut kalian Shiro benar-benar tidak ingin pergi?” tanya Ayumi.
“Dari ucapannya malam tadi dia sangat serius untuk tidak ikut dan melarang kita pergi, kalau menurutmu Akira?” jawab Chio.
“A’ahh … aku tidak tau lagi bagaimana caranya membujuknya, dia benar-benar serius, tapi kita tidak boleh menyerah kerna kita membutuhkannya,” jawab Akira.
“Apa kita pergi menuju gerbang desa dulu, supaya bisa melihat kearah mana kita harus pergi.” Saran Chio.
“kupikir itu ide bagus, bagaimana menurutmu Akira?” tanya Ayumi dan Akira mengangguk.
Setelah itu mereka pun pergi menuju gerbang desa yang mana itu adalah satu-satunya jalan keluar masuk, namun pada kenyataannya tidak ada satupun orang yang pernah keluar.
Saat itu ada dua penjaga gerbang yang di utus oleh tetua. “Paman kami semua ingin keluar dari desa ini untuk melakukan perjalanan, jadi kami minta tolong untuk dibukakan gerbangnya,” pinta Chio.
“Maaf kalian harus minta izin terlebih dulu pada semua tetua jika ingin keluar dari desa,” jawab penjaga itu.
“Apa! Kenapa harus minta izin segala,” jawab Chio.
Ayumi terlihat kaget dan takut pada Akira dan Chio. “Emm … teman-teman aku baru ingat soal ini, Ken pernah bilang soal ini, jika kita ingin keluar dari desa kita harus meminta izin pada tetua, tapi Ken saat itu juga bilang kalau semua itu omong kosong.”
Akira tersentak. “A’ahh … benar aku juga mendengar ini dari kakek,” jawab Akira.
“Itu artinya ada kemungkinan bahwa tidak ada satupun orang yang mendapat izin keluar dari desa,” sahut Chio.
“Paman kami mohon biarkan kami keluar dari desa ini, apa kalian tahu kami lah yang kemarin disidang atas tuduhan pemberontakan dan penganiayaan, tapi beruntung kami selamat. Maka dari itu biarkan kami keluar agar tidak membuat keributan lagi didesa ini,” ucap Ayumi pada Penjaga.
“Yah benar, apa kalian tahu akulah Muhammad Akira yang kemarin yang jadi pelaku utama, dengan kepergian diriku maka tidak ada lagi masalah begini,” sahut Akira juga memohon.
“Kalian ini bicara apa, meskipun kalian telah berbuat masalah dan disidang tidak ada hubungannya dengan perizinan keluar dari desa, sana kalian pergi minta langsung pada tetua kerna ini sudah jadi peraturan desa,” jawabnya acuh.
“Hah … dasar! Peraturan ini memang omong kosong aku yakin tidak ada satu orang pun yang pernah dapat izin keluar dari desa!” teriak Chio kesal.
__ADS_1
“Omong kosong apanya, ada satu orang yang pernah keluar dan mendapatkan izin!” ucap seseorang dibelakang mereka.
Mendengar itu para penjaga seketika hormat pada orang tersebut. “Hormat tetua kedua!” ucap penjaga serempak.
Akira dan lainnya menoleh dan mereka dibuat kaget ketika melihat tetua kedua datang bersama dua utusannya membawakan dua ekor kuda. “ha ha … kalian ini bodoh sekali ya, katanya mau melakukan perjalanan jauh, tapi malah berniat jalan kaki,” ucap tetua kedua seraya tersenyum hangat pada mereka.
Akira dan Chio dibuat terbelalak kerna tak menyadari hal itu. “Ahh … tetua kedua benar masa kita pergi jalan kaki, tentu saja kita akan membutuhkan waktu yang lama!” ucap Chio seraya meremas rambutnya.
Akira ikut meremas rambutnya. “A’ahh … walaupun begitu kita tidak punya uang untuk membeli kuda!”
“Kita terlalu buru-buru sampai melupakan banyak hal!” sahut Ayumi.
“Kita harus memaksa Shiro untuk ikut dan membelikan kuda untuk kita, ha ha … apa pun itu kita harus memaksanya sampai ikut,” balas Chio dan Ayumi mengangguk.
“Dasar kalian ini, sekarang kalian tak perlu khawatir aku bawakan kuda untuk kalian dan rawatlah dengan baik,” ucap tetua kedua seraya menyuruh kedua utusannya untuk memberikan pada mereka.
“Terimakasih Tetua!” teriak Akira seraya membungkuk tanda hormat dan diikuti oleh Chio.
“Tunggu dulu, kenapa tetua bisa tau kalau kami mau pergi, dan lagi kenapa tetua malah tidak melarang dan malah memberi kami kuda?” tanya Chio heran.
“Aku mendengar semuanya dari Osama kalau kalian akan pergi menuju negeri sabbat, aku pikir kalian tidak akan bisa pergi jika aku tidak datang kesini untuk menyuruh penjaga mengizinkan kalian. Aku memberikan kuda ini pada kalian berhubungan langsung dengan pertanyaan Ayumi,” jawabnya.
“Satu orang yang mendapat izin itu adalah adikku namanya Kanzo, seperti namanya dia punya harapan seperti Thalib dan kalian untuk membuat negeri bisa saling menghargai perbedaan. Dia bilang pada tetua terdahulu dan pertama ini kalau apa yang dilakukan mereka terus-terusan mengikuti larangan menceritakan dan menyebarkan cerita Thalib yang nyata adalah sebuah kekalahan besar, tidak seharusnya kita terus bersikap seperti itu, yang kita lakukan adalah melakukan hal yang sama seperti Thalib datang ke negeri yang dekat dengan kita dan memperkenalkan agama leluhur kita. Dia juga bilang kalau tetua dizaman Thalib adalah sebuah kebodohan, padahal thalib datang membawakan perubahan dan pengetahuan untuk negeri kita berkembang dan Thalib pastinya mengizinkan untuk meniru peta yang dia miliki agar kita juga bisa pergi kenegeri Sabbat yang telah lama dia singgahi."
"Dia mengatakan itu dihadapan tetua, namun mereka tidak ada yang peduli bahkan mereka bilang bahwa dialah yang bodoh berpikiran seperti itu,” ucapnya bercerita.
“Aku sebagai kakanya yang saat itu menjabat jadi tetua ketiga merasa tak terima adikku yang kudukung tapi malah tidak didengar akan sarannya. Melihatnya putus asa aku pun pergi ketempat penyimpanan barang berharga dan meniru satu-satunya barang peninggalan Thalib yaitu peta menuju negeri sabbat yang Thalib buat yang masih tersisa. Aku menyerahkannya pada Kanzo hingga dia memutuskan untuk pergi menuju negeri Sabbat untuk mencapai mimpinya, dia juga berjanji akan menjadi tetua disana dan menjadikan negeri itu tak mengenal yang namanya mengekang,” sambungnya.
Akira dan Chio saling menatap dan tersenyum. “Itu artinya ada orang lain yang sama seperti kita!” teriak Akira dan Chio serempak sedang Ayumi justru bingung.
“lalu kenapa tetua memberitahukan itu pada kami?” tanya Ayumi.
Tetua tersenyum. “Kerna kuda yang kuberikan ini tidak gratis, kalian semua harus temukan adikku yang bernama Kanzo dan serahkan surat ini padanya, tapi aku tidak akan menuntut lebih jika dia tidak kalian temukan disana,” ucapnya berubah sedih.
__ADS_1
“Aku yakin dia berhasil, kerna kami harus menemukannya untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk dari negeri Sabbat, kerna dia adalah orang pertama dan terlama dari negeri kita yang datang kenegeri itu!” jawab Akira penuh keyakinan.
Tetua tersenyum menatap mereka. “Penjaga bukakan gerbangnya untuk mereka dan jangan pernah lagi ditutup untuk siapa pun,” perintahnya.
“Tapi, bagaimana dengan tetua pertama apa dia sudah …” jawab penjaga masih takut.
“Tenang saja, satu kali upacara lagi aku akan jadi tetua pertama dan akan membuat negeri ini jadi terbuka untuk siapapun seperti sedia kala,” jawabnya penuh keyakinan seraya menatap Akira dan kemudian berpaling pergi.
“Jika kalian berhasil menemukan Kanzo katakan padanya untuk pulang kerna negerinya sudah berubah,” sambungnya seraya terus berjalan menjauh.
“Siap tetua!” teriak Akira dan lainnya sambil membungkuk tanda hormat.
Chio tersenyum sombong berpaling menghadap penjaga. “Cepat bukakan gerbangnya, apa kalian tidak mendengar dari tetua tadi he he …” mereka pun membukakan gerbangnya walau sedikit ragu.
Mereka semua terkesima melihat indahnya dunia luar dari jauh terlihat pemandangan hutan lebat dan rerumputan luas. “Biasanya kita cuma melihat dari tebing ujung desa sekarang langsung dihadapan,” ucap Ayumi.
“Inilah yang akan kita hadapi sebuah dunia liar penuh rahasia dan tanda tanya,” ucap Chio dengan tatapan serius dan sedikit kecemasan dari wajahnya.
Akira meneguk liurnya dan Ayumi sedikit merinding. “Sembelihkan!” teriak Arnius seketika mengagetkan.
Akira dan Ayumi berteriak kerna kaget sedangkan Chio seketika berpaling menghadap Arnius yang membawa satu ekor kuda dengan tali ditangannya seraya terus tertawa dengan khasnya.
“Arnius! Biar lehermu saja yang aku sembalihkan, dari kemarin kau terus mengagetkan! aku sudah tidak tahan akhh …” teriak Chio marah-marah, namun ditahan oleh Akira dan Ayumi.
“Ha ha ha ha … Kedatanganku disini membawakan pesan dari osama yang tidak bisa mengantarkan kalian kerna banyak orang yang belajar Islam padanya! Ha ha ha … dia bilang kalian harus berhati-hati dan harus saling menjaga! Itu saja dan ini kuda untuk kalian pemberian darinya!” ucap Arnus dengan khasnya seraya menyodorkan tali kuda itu.
Chio berhenti marah dan menyambutnya. “Ha ha ha ha … dia juga minta maaf kerna tidak sempat menyiapkan hal lainnya untuk kalian! aku harus pergi lagi kerna banyak pesan dari Osama untuk disempaikan! Ha ha ha … pekerjaanku sudah bertambah jadi pembawa pesan! Sekarang aku harus pergi!” ucapnya seketika berlari sangat cepat.
“Cepatnya!” ucap Akira memandang heran pada Arnius yang berlari sangat cepat dari orang pada umumnya.
Disaat kebingungan melihat Arnius berlari semakin menjauh dengan tangan mereka yang memgang kuda masing-masing satu, tiba-tiba pandangan mereka teralihkan kesisi Arnius yang sedang berlari berpepasan dengan seseorang yang mengendarai kuda menuju mereka.
Akira dan lainnya terbelalak ketika pandangan mereka semakin jelas memperlihatkan Shiro dengan wajah kesal dan marah manatap tajam pada mereka bertiga. “Shiro!” teriak mereka bahagia.
__ADS_1
-Bersambung-