The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Tahanan yang Kabur


__ADS_3

Orang-orang mulai berkerumunan untuk melihat seorang peria yang terluka itu. “Cepat panggil tetua agar orang ini bisa segera di obati!” teriak Chio.


“Biar aku saja yang menjemput tetua,” jawab Akira segera pergi.


Tidak lama berselang tetua pun datang bersama dua utusannya. “Semuanya harap tenang, dan segera pulang ke rumah masing-masing, jangan khawatir, biar kami yang mengurus orang ini!” teriak Kanzo lantang.


“Kalian cepat bawa orang ini kerumahku, setelah itu jamputlah seorang tabib untuk mengobatinya,” perintahnya pada utusan.


“Kalian bertiga ikut aku untuk menjelaskan bagaimana kejadiannya,” pinta Kanzo pada Akira, Chio dan Shiro.


Akira dan Chio mengangguk sedangkan Shiro nampak malas. “Kalau begitu aku ikut pulang bersama Naya dan ibunya,” ucap Ayumi.


“Kalian berhati-hatilah,” jawab Akira.


Setelah itu Tabib pun telah selesai mengobati semua luka peria itu di sebuah kamar yang telah Kanzo sediakan. “Bagaimana keadaan orang ini?” tanya Kanzo.


“Dari semua luka ditubuhnya, bisa dipastikan kalau ini diakibatkan oleh pukulan cambuk, entah apa yang sebenarnya terjadi, namun dia sangat beruntung bisa bertahan sampai sekarang,” jawab tabib.


“Terima kasih banyak sudah mengobatinya, ” balas Kanzo kemudian keluar menemui Akira dan lainnya yang sedang duduk bersama di ruang tamu.


“Bagaimana keadaannya Paman?” tanya Chio.


“Dia masih tidak sadarkan diri,” jawabnya.


“Kenapa dia bisa berada disini, apa kalian tahu sesuatu?” sambungnya.


“Kami semua juga tidak tahu, saat kami melihatnya dia sudah pingsan dipukul Shiro,” jawab Chio.


“Cih ... aku hanya membela diri, bagaimana bisa aku berdiam saja kalau dia menyerangku dengan pisau,” sahut Shiro.


“Menyerang ...” ucap Kanzo heran.


“Cih ... dia tiba-tiba saja menabrakku dari belakang, aku tidak tau kenapa, namun yang pasti dia sangat ketakutan hingga bertindak seperti itu,” sambungnya.


“Tetua! Dia sudah sadar,” panggil tabib.


“Kalian ikuti aku,” pinta Kanzo.


Saat sampai kamar mereka semua di kejutkan dengan orang itu yang duduk merengkuk ketakutan. “Lepaskan aku, aku sudah tidak tahan, lepaskan aku ...” ucapnya pelan dengan tatapan kosong, mereka semua heran melihatnya.

__ADS_1


“Tolong ceritakan pada kami kau berasal dari mana, dan siapa yang melakukan ini padamu,” pinta Kanzo.


Dia menatap Kanzo. “Tolong sembunyikan aku dari mereka, aku tidak ingin kembali lagi ke sana,” ucapnya terus ketakutan sendiri.


Seorang utusan datang dan menghadap Kanzo. “Tetua, seorang Menteri kerajaan datang ingin bertemu.”


“Ada apa lagi ini," ucap Kanzo pelan.


"Aku akan menemuinya, dan kau tolong jaga orang ini sebentar” perintahnya.


Saat mereka keluar rumah untuk menemui Menteri itu, ternyata dia adalah Akiyama. “Maaf jika aku mengganggumu, aku datang kemari hanya ingin menjemput orang yang kalian tolong,” ucap Akiyama.


“Kenapa dia sampai seperti itu?” tanya Kanzo sedikit marah.


“Dia seorang tahanan di negeri kami, entah bagaimana dia bisa kabur, namun yang pasti dia menyusup bersama rombongan orang-orang yang kembali pulang ke negeri ini," jawabnya.


Kanzo terdiam. “Aku dengar kau di serangnya dengan pisau, apa kau baik-baik saja?” sambungnya mengkhawatirkan Shiro.


“Cih ... jangan cemaskan aku, cemaskan saja tahananmu itu,” jawab Shiro.


Akiyama tersenyum menatapnya."Syukurlah kalau begitu."


“Dia ada di dalam bersama tabib,” jawabnya.


Akiyama mengangguk pada pengawalnya memberi isyarat untuk menyuruh menjemput tahanan itu. “Lepaskan! Lepaskan aku!” Tahanan itu terus berteriak sampai keluar rumah.


“Maafkan kami atas ketidak nyamanan ini, kami akan segera membawanya pergi,” ucap Akiyama segera pergi meninggalkan mereka menuju gerbang pembatas.


“Kenapa Paman membiarkan mereka pergi?” tanya Chio.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan, itu urusan negeri mereka, kita tidak boleh ikut campur,” ucap Kanzo segera masuk dengan raut wajah nampak kesal kerna tak bisa melakukan apa-apa.


...●●●●...


Saat itu setelah selesai makan malam, Akira dan lain tengah duduk bersama di rumah Gozali. Hana dan Ayumi masih sibuk membersihkan piring kotor sedangkan Gozali dan Hozy ikut duduk bersama dengan Akira dan Chio, beda dengan Shiro dia justru dengan santai berbaring tak jauh dari mereka.


“Kita sudah mendengarkan cerita Thalib di negeri Matahari Ekhad dari kakek Naya, dan ternyata itu sesuai dengan tulisan Thalib di bukunya, yang mana itu bertolak belakang dengan kisah Alhudari Bik,” ucap Chio.


“A’ahh ... saat Alhudari tiba raja yang memimpin adalah ayah dari pangeran Sayyid dan pangeran Nashif, lalu di kerenakan sakit yang menjadi pengganti kepemimpinan di pegang oleh pangeran Nashif, di masa inilah Thalib datang ke negeri Matahari,” jawab Akira.

__ADS_1


“Ehh ... bagaimana kalian bisa menemukan kesimpulan seperti itu,” teriak Hozy kagum sekaligus heran.


“Jujur saja aku juga di buat tak percaya akan hal ini,” sahut Gozali.


“Ha ha ... kami hanya menghubungkan cerita Alhudari dan Thalib,” jawab Chio.


“Ehh ...” ucap Hozy memandang heran mereka.


“Jadi maksud kalian saat Thalib sampai di negeri mereka, itu sudah tidak sebaik masa Alhudari?” tanya Gozali.


“A’ahh ... dari yang diceritakan kakek Naya, Raja Nashif sepertinya sangat tidak memperhatikan rakyatnya, banyak penduduk yang menjadi miskin,” jawab Akira.


“Raja yang selama ini mereka puja dan banggakan sebenarnya adalah raja yang haus akan kesombongan dan kekayaan, itulah gambaran yang ditulis Thalib pada buku peninggalannya, namun masih belum begitu persis dengan cerita kakek,” sahut Chio.


“Tapikan itukan masa lalu sekarang negeri itu sepertinya baik-baik saja,” ucap Hozy.


“A’ahh ... itulah yang sepertinya harus kami kembangkan,” ucap Akira membuat Hozy bingung.


“Oh ya, apa kalian pergi menemui orang-orang yang telah pulang itu?” tanya Chio.


“Yah ... kami ikut membantu hampir seharian berada di sana,” jawab Gozali.


“Apa ada yang menurut kalian aneh dari mereka yang baru saja pulang itu?” tanya Chio lagi.


“Aneh, emm ... mereka semua terlihat baik-baik saja,” Jawab Hozy memegang dagunya berusaha mengingat-ingat.


“Aku pernah lihat beberapa dari mereka sebelum pergi, dan sekarang mereka nampak semakin kurus, tapi aku rasa itu kerna kesibukan mereka,” sahut Gozali.


“Tepat, bahkan keluarga mareka sendiri menyebut demikian,” ucap Chio.


“Aku juga mendengar dari mereka yang bertemu keluarganya lagi, sebagian dari mereka memang mengatakan begitu,” jawab Akira.


Chio mengangguk pada Akira. “Masih ada lagi yang membuatku heran, setiap kali mereka di tanya bagaimana perjalanannya, bukannya menjawab saat di perjalanan, mereka malah menjawab saat mereka tinggal di negeri itu,” balas Chio.


“Cih ... jadi kesimpulannya apa!” sahut Shiro.


“Tidak, aku hanya heran saja dengan hal itu, dan lagi ... tidak  ada yang bisa kita simpulkan saat ini selain mencari tahu lebh lanjut, kita akan menyelidiki lebih dalam dengan menanyakan langsung kesetiap orang yang telah pulang itu dan juga anggota keluarganya, siapa tahu kita bisa mendapatkan petunjuk tentang negeri yang sekarang, ” jawab Chio.


Mereka semua mengangguk setuju. “Satu hal yang aku yakini, dalam waktu dekat ini kemungkinan besar Akiyama akan mengajak penduduk lainnya lagi untuk pergi ke negeri Matahari Ekhad,” sambung Chio menyeringai.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2