The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Kehidupan dan Dunia Baru bagian 4


__ADS_3

Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.


Flashback On


"Kalian diam di sini biar aku yang menemuinya." Akira khawatir kalau terjadi sesuatu dengan anak-anak itu.


"Baiklah kak kami akan diam disini," ucap mereka bertiga sambil mengintip.


Ketiga anak-anak itu tertawa kerna telah merasa mengerjai Akira.


"He he ... kakak Ken tidak tahu kalau yang memanggilnya ke sini adalah kak Shiro," ucap Zen sambil tertawa.


"He he ... iya, kira-kira apa yang terjadi ya," jawab Haruka juga ikut tertawa.


"He he ... he he ... he he ...!" Naoto pun juga ikut mentertawakan dengan tawa aneh sambil sesekali membersihkan ingusnya.


"He he ... ayo kita liat lagi," ucap Zen


"Ahh ... melesit ya, ternyata kau memang bukanlah Ken, jika itu Ken dia tidak akan bisa menghindar seperti yang kau lakukan, ternyata dugaanku benar," ucap Shiro


"Lohh kenapa tiba-teba mereka jadi bertengkar apa yang terjadi?" Haruka heran dan takut melihatnya.


"Waahhh ...! hebatt ...! kalian melihatnya kak Ken bisa menghindar dari serangan kak Shiro." Zen tampak menikmati.


"Kita tidak bisa berdiam diri dan melihat saja, kita harus hentikan mereka berdua," jawab Naoto.


"Bagaimana kalau kita beritahu kepada kakak Ayumi dan juga kak Chio?" balas Haruka.


"Mantap terus kak Shiro serang, ayo! kak Ken jangan mau kalah serang juga ha ha ...." Zen asik menonton.


*Buagghhh ...!


Tiba-tiba haruka memukul Zen dibagian atas kepala, membuatnya terjongkok kesakitan.


"Akhh ...! sakitnya ...!" teriak Zen menahan sakit.


"Kamu dengar gak Zen kita harus hentikan mereka berdua." Haruka berusaha menjelaskan.


"Iya-iya aku dengar."


"Baiklah tunggu apa lagi cepat kita beri tahu kepada kakak Ayumi dan kak Chio," sahur Naoto.


"Yahh!" Haruka dan Zen serentak, ketiganya berlari menuju tempat mereka.


"Kak Chio ...!"


"Kak Ayumi ...!" Mereka berteriak dari kejauhan sambil berlari, sehingga membuat mereka tersengal-sengal dihadapan Ayumi dan Chio.


"Anoo ... huhh haahh ... kak Ken ..." ucap Zen.


"Huhh ... kak Shiro ... hahh ..." Haruka.


"Mereka ... huhh ... berkelahi!" teriak Naoto.


"Apaa?! kenapa mereka jadi berkelahi, apa yang mereka perdebatkan? dan sejak kapan Ken pergi aku tidak melihatnya, Chio kau ..." Ayumi takut dan kebingungan.


"Tenanglah Ayumi, mereka sudah sering berkalahi seperti itu, kita hanya harus hentikan mereka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, seperti biasa mereka cuma banyak bicara," jawab Chio tanpa khawatir.


"Kau tidak tahu apa-apa Chio!" teriak Ayumi membuat Chio terdiam heran.

__ADS_1


"Maksudku, terserah kau saja. Kalian bertiga cepat antarkan kami ke sana" sambungnya meminta. Ketiga anak-anak itu mengangguk dan kemudian mereka berlari disusul Ayumi dan Chio.


Flashback Off


"Shiro! Ken! hentikan!" Tiba-tiba Ayumi berteriak bersama dengan Chio, namun ...


*Buagkhh ...!


"Arghh ...!"


*Braakkkk ...!


Akira terjatuh ketanah akibat pukulan Shiro yang mengenai rahangnya.


"Adududuhh ..." ucapnya memegang pipi dan rahang. Sedangkan Shiro hanya bisa merasa bingung dan tidak menyangka kalau Ayumi dan Chio akan datang menghentikan.


"Kau tidak apa-apa Ken biar aku lihat." Ayumi berlari ke arah Akira yang sedang terduduk di tanah.


"Yah tenang saja aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil, sebaiknya kau juga mengkhawatirkan Shiro, kerna dia juga terjatuh karenaku," pinta Akira, namun Ayumi tidak mendangarkan, dia hanya fokus memperhatikan bekas pukulan Shiro.


"Ken ini harus segara diobati aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu," jawab Ayumi sangat khawatir.


"Cih ... apa-apaan kau Ayumi! kau tidak perlu mengakhawatirkan Ken gadungan ini!" Shiro berteriak kesal.


Ayumi tersentak mendengar ucapan Shiro, begitu juga Akira yang melihat perubahan wajah khawatir Ayumi menjadi syok dengan tatapan kosong.


"Shiro! jaga bicaramu, apa semua yang kau lakukan ini balum cukup, aku tahu kalian sering bertengkar, tapi aku tidak pernah melihatmu seserius itu untuk memukulnya," ucap Chio membela.


"Cih ... apa kau tidak menyadari selama kau bersamanya, bahwa dia berbeda dengan Ken yang kita kenal, aku melakukan itu kerna aku melihatnya sendiri, dia bukanlah Ken," jawabnya meyakinkan.


"Apa maksudmu dengan berbeda dan melihatnya sendiri, dia itu Ken yang biasa kita kenal, dan, tidak ada yang berbeda darinya! justru kaulah yang berbeda saat ini, apa yang telah terjadi denganmu sehingga kau berpikiran seperti itu?" Chio merasa heran dengannya.


"Bukan apa yang terjadi denganku yang seharusnya kau tanyakan! tapi apa yang telah terjadi dengan Ken yang seharusnya kau tanyakan!" balasnya, namun Chio hanya terdiam heran tidak mengerti.


Dia terlihat sangat syok dengan apa yang dikatakan Shiro, begitu juga Akira dan Chio yang sama sekali tidak mengerti apa saja yang telah terjadi di antara keduanya.


Tiba-tiba Zen berlari kearah mereka dan membuat semua pandangan kearahnya.


"Eh apa yang terjadi di sini kenapa mereka menatapku seperti itu," ucap batinnya.


"Ada apa Zen kenapa kau berlari ke sini, bukankah tadi kami menyuruhmu pergi setelah memberi tahu bahwa mereka bertengkar," ucap Ayumi tiba-tiba berbicara.


"Ahh iya, aku disuruh paman dari utusan tetua untuk mengumpulkan orang-orang, katanya ada pengumuman yang harus disampai kepada para penduduk desa," jawabnya menjelaskan.


"Ayo semuanya, tidak ada waktu lagi, kita harus ke sana untuk mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan," pinta Ayumi, namun mereka hanya terdiam heran melihat Ayumi yang tadinya diam dan terlihat syok  berubah seketika.


"Chio kau bisa bantu Ken berdiri?" sambungnya meminta.


"Oh iya tentu saja, ayo Ken kita harus bergegas, tapi sebelum itu apa kau baik-baik saja?" ucapnya menawarkan bantuan.


"Ah yah terima kasih, aku tidak apa-apa, aku bisa sendiri," balasnya kemudian bangun berdiri.


"Baiklah kalau gitu antarkan kami ke sana Zen," pinta Ayumi


Zen mengangguk dan mulai berjalan lebih dulu kemudian disusul Chio dan Akira, namun Ayumi dan Shiro mereka masih terdiam ditempatnya.


"Komohon Shiro, beri aku waktu, nanti kita bicarakan lagi," pinta Ayumi.


Shiro yang berada di belakangnya hanya terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendangar permintaannya.

__ADS_1


"Ayumi! Shiro! cepatlah!" teriak Chio memanggil.


"Shiro kau juga cepat kita harus kesana," pinta Ayumi tersenyum ke arah Shiro.


"Ayumi kau ..." Shiro berucap pelan dan heran, akan tetapi setelah melihat mata Ayumi dia menyadari sesuatu dan memutuskan untuk menuruti.


"Baiklah, tentu saja aku akan ke sana juga," jawab Shiro juga tersenyum.


"Apa yang kau inginkan darinya Ayumi?" sambung batinnya sambil memandang Ayumi dari jauh.


Setelah itu mereka pun tiba ditempat utusan tetua desa yang ingin menyampaikan pengumuman kepada para penduduk, terlihat semua orang dari penjual dan pembeli tengah berkerumun.


Terdengar berbagai suara percakapan penduduk penuh tanda tanya, ada yang tak tahan dengan rasa panas siang hari membuat mereka saling menyapa.


Akira dan yang lainnya baru saja datang, meski sedikit terlambat, namun suara pengumuman masih terdengar sampai ke belakang.


"Kepada semua penduduk di sini, hari ini adalah hari yang kita nanti-nantikan telah tiba, yaitu upacara yang kita laksanakan setiap sepuluh hari sekali akan kita laksanakan siang ini, bagi kalian semua yang ada di pasar ini segeralah mengemasi barang-barang yang kalian jual dan segeralah berangkat dan berkumpul ke tengah desa, yaitu tempat yang biasa kita melaksanakan upacara ini, dan tidak ada satu orang pun yang boleh untuk tidak mengikuti upacara ini, semuanya harus datang dan berhadir!" teriak utusan tetua desa itu dengan lantang.


"Anoo maaf tuan, anak saya demam jadi apakah boleh saya tidak ikut hari ini untuk mengurus anak saya?" tanya seorang ibu yang berada di baris depan.


"Baiklah, bagi kalian yang mempunyai anak yang sedang sakit, kalian bisa menitipkan anak kalian kepada orang-orang yang sudah mendapatkan tugas dari tetua untuk menjaga mereka, maka dari itu kalian sebagai orang tuanya, tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak kalian lagi, jadi kalian masih memiliki kewajiban untuk mengikuti upacara ini, tetapi, jika itu adalah orang dewasa yang sakit, maka kalian diperbolehkan untuk tetap tinggal di rumah dan tidak boleh keluar sampai upacara selesai, terima kasih atas perhatiannya silahkan kalian bubar." Kemudian mereka semua membubarkan diri dan segera pergi ke tempat pengumuman tersebut.


Akita dan lainnya pun berjalan bersama menuju ke tengah desa, mereka nampak biasa dan melupakan kejadian perkelahian tadi, namun mereka merasa canggung.


"Hey! gadungan begaimana rasanya pukulanku tadi hah!" teriak Shiro menatap Akira.


"Shiro sudahlah," sahut Ayumi melerai


"Oh pukulanmu itukah, rasanya sangat pelan, kupikir itu akan sangat sakit ternyata seperti dipukul oleh anak-anak," jawab Akira seolah mengejek, padahal niat bercanda.


"Cih ..." Shiro memalingkan wajah.


"Ayolah kalian tidak usah dibahas lagi, inikan cuma salah paham, dan lagi pula aku melihatnya Shiro," ucap Chio memandangnya.


"Dia menahan pukulannya ketika melihat kedatangan kami, jadi kau tidak perlu dendam Ken," sambung Chio sambil merangkul Akira.


"Iya iyaa ... aku tau, coba kalian tidak datang bisa habis aku," balas Akira.


"Nah sekarang tunggu apa lagi kalian berdua harus berbaikan," pinta Ayumi sambil tersenyum memandang Shiro dan Akira.


Setelah melihat senyum Ayumi, Akira tak tahan kemudian menyodorkan tangan ke Shiro untuk meminta maaf.


"Itukah caramu agar aku mengakuimu gadungan, cihh ... yang benar saja."


"Apa lagi yang kau mau Shiro! kau yang salah dan akulah yang meminta maaf bukankah ini sudah keterlaluan?" teriak Akira tak sabar.


"Ken ... jika kau ingin minta maaf lakukan dengan sopan," gumamnya dalam hati merasa salah, namun Shiro terlihat tidak peduli hingga Ayumi memegang tangannya dan menyuruh untuk minta maaf.


"Shiro kumohon," pinta Ayumi membuat kedua pipi Shiro memerah malu.


"Baiklah gadungan, ini demi Ayumi aku akan mengakuimu sementara," ucapnya sambil menggenggam tangan Akira.


"Ehh! apa maksudmu dengan mengakuiku sementara? Chio lihatlah temanmu, dia bahkan masih memanggilku gadungan, apa tidak seharusnya kita beri pelajaran." balasnya mengadu, namun Chio hanya tersenyum melihat keduanya begitu juga Ayumi.


"Terima kasih Ken, Shiro," ucap ayumi sambil tersenyum memandang keduanya.


"Iya Ayumi sama-sama." Keduanya serentak tanpa sengaja.


"Cih ...." Shiro memalingkan wajah.

__ADS_1


"Ha ha ha ... baiklah semuanya ayo kita percepat jalannya, tempatnya sudah terlihat, jadi tunggu apa lagi," sahut Chio kemudian mereka mempercepat langkah kaki menuju tempat upacara itu.


-Bersambung-


__ADS_2