
Setelah dituduh berzina hingga di usir oleh ibunya, kini Sayyid tinggal di rumahnya sendiri yang sudah lama dia bangun, rumahnya bertempat di kawasan pertanian penduduk, dengan kekayaan yang dimiliki sebelumnya, berupa tanah dan usaha, kini dia gunakan untuk lahan perkebunan dan menjadi petani.
Dia juga sering berkunjung menemui Faiha untuk melihat keadaan mereka, serta kawasan pedesaan itu. Suatu hari Sayyid mengajak Thalib untuk berkunjung ke desa terpencil itu menemui Faiha dan ibunya, saat itu mereka sedang duduk di teras.
“Saya sudah sering berkunjung ke sini dan melihat sekeliling desa ini, saya lihat banyak sekali rumah kosong yang di tinggalkan begitu saja, dan hanya ada beberapa penduduk saja selain kalian,” ucap Sayyid pada ibunya Faiha.
“Dulu tempat ini cukup ramai, sekarang mereka semua sudah pindah ke kota, makanya, sekarang desa ini tak terawat dan banyak pohon-pohon liar,” jawabnya.
“Sebenarnya saya sudah lama memikirkan ini, dan tujuan saya mengajak tuan Thalib kesini kerna ingin membahas itu,” ucap Sayyid.
“Katakan saja pangeran kami akan mendengarkan,” jawab Tahlib dan diangguki mereka.
“Saya ingin mengajak kalian untuk membangun desa ini kembali,” ucapnya membuat mereka sedikit terkejut dan saling menatap.
“Saya tau ini mungkin akan sulit, tapi saya juga sudah lama memikirkan para pengemis yang ada di kota-kota, mereka semua tidak memiliki rumah, dan ada juga orang miskin yang memiliki rumah tak layak,” sambungnya dan mereka pun nampak memikirkan itu.
“Desa ini juga punya semua yang kita butuhkan, banyak rumah-rumah yang masih bisa kita manfaatkan, bahan berupa kayu pun nampaknya bukan jadi masalah, di desa ini banyak pohon liar dan ada juga hutan, setalah menebang beberapa pohon, kita bisa memanfaatkanya lagi sebagai lahan pertanian, jadi mereka akan punya pekerjaan,” ucapnya berapi-api.
Mereka saling menatap mengangguk dan tersenyum. “Saya sudah tahu keadaan pangeran sekarang, kita pasti memerlukan banyak dana, bagaimana kalau kita gunakan harta paninggalan kakek itu untuk ini, beliau pasti senang dengan itu,” ucap Thalib.
“Tidak perlu tuan, saya masih punya harta lain, saya juga ingin harta itu di gunakan oleh orang yang tepat seperti yang tuan inginkan, saya yakin, di masa depan nanti akan ada orang seperti tuan Alhudari dan tuan Thalib datang ke negeri ini membawa perubahan yang lebih besar,” jawabnya.
Thlib tersenyum bangga. “Yah semoga saja.”
“Saya juga pasti akan membantu pangeran, saya senang pangeran memilih desa kami ini,” ucap Faiha tersenyum haru.
“Saya juga senang pangeran mau membantu rakyat kecil seperti kami,” ucap ibunya Faiha.
“Memang harus seperti itu Bu, itu sudah jadi kewajiban seorang perwakilan pemimpin seperti saya,” jawab Sayyid.
Setelah itu mereka pun mengajak orang-orang miskin dan para pengemis untuk membangun rumah bersama di desa terpencil itu, raut wajah mereka berseri-seri mendapat kabar gambira tersebut, kedua penjaga gerbang yang kini berguru pada Thalib juga ikut membantu mereka, hingga pelan tapi pasti, desa yang dulunya hampir terbengkelai kini mulai berubah, yang dulunya sunyi kini mulai ramai, banyak anak-anak bermain dan banyak orang yang berlalu lalang, semua orang punya andil besar dalam pembangunan kembali desa ini.
Namun berbeda dengan kerajaan yang di pimpin Nashif yang justru malah tak teratur, saat itu yang mengurus pembalian hasil panen dipegang oleh pamannya, kembali seperti semula, mereka membeli hasil panen dengan harga yang sedikit jauh dari pasaran, hal ini membuat para petani mulai resah.
Saat itu Nashif berkeliling bersama pengawal-pengawalnya membagikan bahan pokok di kawasan istana. “Wahai Raja tolong beri kami juga,” ucap seorang wanita sambil mengendong bayi.
“Apa agamamu?” tanya Nashif mengejutkan.
Dia heran. “Sama seperti engkau wahai Rajaku, beragama leluhur.”
“Baguslah bawa ini dan pergilah,” jawab Nashif menyodorkan tas terbuat dari anyaman bambu itu.
“Ano … kenapa raja bertanya begitu?” tanya pengawal heran.
“Aku hanya ingin membagikan semua ini untuk kaum kita bukan untuk mereka yang beragama Alhudari.”
“Tapi … itu.”
“Diamlah, lakukan saja apa yang kupinta!” bentaknya.
“Jika ada di antara kalian seorang muslim maka pergilah dari sini, kami tidak memberikan ini untuk kalian!” teriak Nashif.
Semua orang pun dibuat terkejut dan heran. “Kenapa bisa begitu?”
“Iya kenapa?” orang saling bertanya-tanya.
“Maaf Raja, kami rasa itu tidak adil, pengeran Sayyid sendiri tidak pernah pandang bulu terhadap siapa pun,” ucap salah satu dari mereka.
“Jengan sebut nama itu, jika kalian tak setuju maka jangan ambil ini dan pergilah seperti mereka!” teriaknya.
Semua orang pun menjadi bingung, sedangkan para muslim saat itu pasrah dan pergi dari kerumunan tersebut. “Pengawal! Cepat selesaikan ini biar aku segera kembali ke istana,” perintahnya dan para pengawal pun bersegra.
...●●●...
Suatu hari seorang pengawal datang menemui pangeran Sayyid yang mana saat itu dia masih sangat sibuk dengan pembangunan desa. Faiha saat itu juga sedang bersamanya.
“Salam pangeran.”
Sayyid menatap bingung. “Apa yang membawamu kemari?”
“Saya mendapat perintah dari ibunda tuan untuk membawakan ini,” balasnya menyodorkan lipatan kertas..
“Surat! Apa yang terjadi?”
“Hendaknya tuan segera membaca surat itu, saya hanya diperintahkan untuk mengantarkannya.”
Sayyid pun dengan segera membuka surat itu dan membacanya. “Wahai anakku pangeran Sayyid, kembalilah ke istana, maafkan ibumu ini yang telah percaya dengan kabar fitnah yang mereka buat, seorang pengawal ibu sudah menceritakan kebenaran semuanya, bahwa kau tidak seperti yang mereka katakan, ibu juga meminta kau untuk memaafkan mereka. Lalu tolong ajaklah wanita yang akhir-akhir ini sering dekat bersamamu, kenalkan dia kepadaku dan izinkan aku juga meminta maaf padanya.”
__ADS_1
Setelah membaca surat itu Sayyid dan Faiha pun tersenyum saling menatap, seolah-olah mereka memang sudah punya hubungan yang sangat dekat.
Tidak perlu membuat ibundanya menunggu Sayyid dan Faiha pun pergi ke istana menemui ibunya dan ayahnya yang masih terbaring sakit. “Ayah, Ibu, kami ingin meminta restu kepada kalian agar kami di izinkan untuk segera menikah,” pinta Sayyid.
Mendengar hal itu membuat keduanya terkejut sekaligus senang. “Sayyid memang sudah waktunya kau untuk menikah, ayah sudah sangat ingin melihatmu bahagia,” ucap sang ayah tersenyum haru.
“Jika kalian sudah merasa yakin maka untuk apa lagi menunggu, biar ibu yang akan mengurus semuanya.”
“Tidak perlu repot-repot Bu, biar kami saja yang mengurusnya,” jawab Sayyid.
“Hah kau ini sama sekali tidak mengerti, seorang ibu akan sangat bahagia jika dia mempersiapkan pernikahan untuk anaknya, apa lagi kau ini anak satu-satunya ibu, mana mungkin aku membiarkan kau yang mengurusnya, aku juga ingin memperlihatkan kepada ibu-ibu lain kalau anakku ini akan segera menikah,” balasnya bersemangat.
Ayahnya sedikit menggeleng. “Biarkan saja dia yang mengurusnya, kau ini seperti tidak tau ibumu saja.”
Mendengar itu Sayyid dan Faiha sedikit tertawa. “Jadi setelah ini apa kalian akan tinggal di istana?” tanya ibunya seketika sedih.
“Kami akan tinggal di desa yang baru kami bangun itu, tapi tenang saja kami akan sering ke sini,” jawab Sayyid.
“Jika ibu mau kami tinggal di sini, kami pasti akan menurutinya,” ucap Faiha.
“Tidak apa-apa, jika kalian berdua mau tetap tinggal di desa itu, ibu selalu mendukung keputusan kalian,” jawabnya seraya memeluk Faiha.
“Terima kasih kerna sudah memilih anakku sebagai suamimu, aku sangat bahagia dia bisa memiliki wanita cantik sepertimu, tolong jaga dia ya” sambungnya memeluk erat.
“Iya Bu, Faiha juga senang bisa bersamanya,” balasnya.
“Sayyid temui Nashif, barilah dia kabar gembira ini,” pinta ayahnya.
Sayyid mengangguk dan kemudian pergi menemui Nashif yang saat itu berada di gudang. “Ternyata kau memang benar di sini, aku dengar dari para pengawal kau sedang menyiapkan hasil panen untuk dibagikan kepada penduduk, aku senang mengatahui ini,” ucap Sayyid menatap senang.
Nashif terlihat tak suka dan menatap curiga. “Apa yang membuatmu ke sini?”
“Ah benar kenalkan dia Faiha calon istriku,” jawab Sayyid dan Faiha menunduk hormat.
“Aku ingin kau datang ke acara pernikahan kami, aku harap kau tidak terlalu sibuk nanti agar bisa datang menghadiri,” sambungnya.
“Oh ya baiklah aku akan berusaha untuk datang, maaf aku harus pergi aku sangat sibuk,” jawab Nashif berpaling dan pergi meninggalkan mereka.
“Ceh … tukang pamer, liat saja aku akan segera menikah juga dengan wanita yang jauh lebih baik darinya, akan kubalas kau,” batinnya sambil menatap kesal.
“Loh apa iya, aku sama sekali tidak tahu itu.”
“Nih ya, katanya wanita itu baru saja menikah dengan orang lain, tapi raja malah merebutnya dan mengancam mereka agar segera bercerai.”
“Apa benar begitu, jangan-jangan cuma kabar bohong saja.”
“Yah aku juga mendengarnya dari yang lain.”
Hal itu tidak sengaja di dengar oleh Sayyid, dia terdiam memikirkan lalu kemudian pergi pulang ke rumah. “Faiha apa kau mendengar kabar baru-baru ini?” tanyanya seketika menemui Faiha.
“Kabar, tentang apa?”
“Ya misalnya tentang pernikahan.”
“Oh iya, ibu tadi datang ke sini, dia mengundang kita untuk menghadiri pernikahan Nashif.”
“Hanya itu?”
“Iya hanya itu, emangnya ada apa?’
“Tidak apa-apa, kanda hanya mendengar kabar tidak sedap, tapi sepertinya itu tidak benar.”
“Tapi kenapa Kanda tiba-tiba datang dan menanyakan itu pada dinda?”
“Emm aku hanya berfikir kalau Dinda suka menggosip dengan tetangga he he …” jawabnya membuat Faiha cemberut.
...●●●...
Suatu hari dua penjaga gerbang datang menemui Sayyid dan Thalib yang mana saat itu mereka sedang membuat lahan perkebunan. Kebanyakan dari mereka sedang mengangkat batang-batang pohon yang telah di tebang. “Tuan Thalib! Pangeran! Gawat-gawat!” teriak kedua penjaga gerbang itu.
Semua mata tertuju panuh tanda tanya pada keduanya. “Bicaralah ada apa?’ tanya Sayyid.
“Para muslim di kota mendapat perlakuan buruk dari anggota kerajaan, para muslim di kawasan istana tidak pernah mendapat bantuan dari raja, bahkan mereka ada yang di usir dari tempat tinggalnya,” ucap salah satunya.
“Iya pangeran, salah satu pengawal raja bercerita pada saya kalau pembagian hasil panen itu ditujukan untuk orang yang beragama leluhur, mereka di perintahkan Raja untuk tidak memberikannya pada para muslim,” sambung yang satunya.
“Apa semua itu benar?” tanya Thalib
__ADS_1
“Kami juga melihatnya sendiri tuan, orang-orang desa yang berjualan di kota pun mendapati perlakuan kasar, mereka sering dipalak oleh para pegawal dengan alasan uang keamanan, ternyata itu sudah terjadi sejak lama, saat pengeran tidak lagi tinggal di istana Tuan, dan yang terbaru ada larang membeli terhadap para pedagang muslim,” jawab mereka.
Sayyid terlihat diam dan mengepalkan kedua tengannya tengah menunduk, tiba-tiba dia berjalan cepat meninggalkan mereka menuju istana. “Pangeran tunggu, tahan amarah pengeran,” ucap Thalib namun tak di jawab oleh Sayyid.
“Kalian berdua ikut saya, kita harus menenangkan pangeran,” pinta Thalib.
Saat mereka hendak menyusul nampak Sayyid telah sangat jauh dari pandangan mereka, hingga mereka menyusulnya dengan berlari.
Saat sampai di istana Sayyid malah mendapati dua pengawal Nashif tengah mengusir seorang laki-laki tua dengan kasar tepat di hadapannya. “Haha … dasar sudah tua juga masih berani menantang raja.”
Melihat itu Sayyid seketika berlari menuju kedua pengawal itu. “Ehh pangeran Sayyi …”
*Bugh! Braakk! Sayyid memukul keduanya di perut dengan sangat keras hingga terpelanting jauh sampai keduanya pingsan di tempat.
Mendapati hal itu para pengawal lainnya sangat kaget dan hendak menyerang, namun seketika ketakutan ketika melihat bahwa yang di hadapan mereka adalah pangeran Sayyid dengan wajah sangat murka. Dia pun berjalan cepat masuk ke istana tanpa ada yang berani menghalangi.
Dia pun mendapati Nashif tengah santai di singgasananya bersama sang istri yang saat itu nampak di kedua pipinya masih basah bekas air mata, Sayyid sempat terdiam memandangnya.
“Nashif!” teriaknya penuh amarah membuat Nashif kalangkabut ketika melihat Sayyid sangat murka memandangnya.
Sayyid berjalan menuju Nashif sambil mengepalkan tangannya menatap tajam. “Pengawal-pengawal hentikan orang ini!” Namun tidak ada yang berani menghentikannya
“Apa yang mau kau lakukan padaku Kakak!” ucapnya berkaca-kaca ketakutan.
“Sayyid! Apa lagi yang mau kau lakukan pada anakku!” teriak Syairah datang bersama pamannya menghalangi.
“Minggirlah, aku harus menyedarkannya kembali, dia telah membuat kaum muslim menderita, ketidak adilannya harus di pukul keras!” teriak Sayyid.
“Ada apa Sayyid! Kenapa kau sangat marah seperti itu,” ucap ibunya yang juga datang menemui mereka.
“Emangnya apa yang dia lakukan terhadap kaum muslim, dia justru sering membagikan hasil panen pada para penduduk,” ucap Syairah membela.
“Sayyid jangan buat keributan lagi,” sahut pamannya.
“Apa kalian tidak tahu, aku mendapat kabar kalau Nashif telah berbuat semena-mena terhadap muslim, dia sama sekali tidak pernah memberikan bantuan, bahkan mengusir mereka dari tempat tinggalnya dan melarang membeli dari para pedagang muslim,” jawab Sayyid.
“Apa itu benar Nashif?” tanya ibu Sayyid.
Syairah dan pamannya pun nampak terkejut dan memandang ke arah Nashif yang saat itu tengah tertunduk. “Iya benar, aku memang melakukannya, lalu kau ingin apa!” jawabnya membuat mereka tak percaya.
Syairah nampak memikirkan sesuatu. “Benar kau mau apa, dia adalah rajanya, dan kau bukan siapa-siapa, dia punya hak atas apa yang mau dia lakukan,” bela Syairah tiba-tiba.
“Bukankah kau ini sudah membangun kerajaanmu sendiri di desa itu, lalu kau mau apa lagi terserah raja mau melakukan apa,” sahut pamannya ikut membela.
Sayyid tercengang. “Apa kalian suka dengan tindakannya?” dia menatap tajam membuat keduannya tersentak takut.
“Apa kau mau malawan raja, bukankah kita sudah memiliki peraturannya, jika seorang raja memiliki dua putra maka salah satu dari mereka akan memimpin kerajaan hingga mereka memiliki anak, maka anak dari pangeran yang tidak menjadi raja, akan menjadi raja selanjutnya, salama dia tidak menjadi raja dia tidak punya hak untuk melawan raja,” ucap Syairah.
“Itu peraturan yang sudah lama, mana mungkin kita harus mengikutinya, kenyataannya peraturan itu bisa sangat merugikan rakyat seperti yang terjadi sekarang,” sahut ibu Sayyid.
“Meskipun begitu, apa kalian berani melanggarnya!” jawab Syairah membuat Sayyid dan ibunya terdiam, Sayyid bahkan sangat kesal soal itu.
“Bagaimana kalau kita mengajukan perjanjian!” ucap Thalib mengejutkan mereka, dia datang mengahampiri bersama dua penjaga itu.
“Perjanjian, yang benar saja, apa yang bisa kalian pertaruhkan,” ucap pamannya.
Sayyid terdiam. “Bagaimana kalau aku tidak punya hak memimpin kerjaan ini lagi.”
“Sayyid apa yang kau katakan!” Ibunya nampak sangat kaget.
“Ceh memang itu kumau dari dulu, aku tidak mau kau ikut campur dengan kepemimpinanku,” sahut Nashif.
“Apa pangeran yakin soal itu?” tanya Thalib.
"Benar Sayyid pikirkan lagi, keturunanmu nanti tidak akab bisa menjadi pemimpin selanjutnya," sahut ibunya.
“Tidak apa-apa Bu, Tuan, saya sudah memikirkannya, tidak ada yang bisa kita pertaruhkan, aku rela mengorbankan itu demi keluarga kita para muslim,” jawab Sayyid terlihat sangat tenang.
“Baiklah apa yang kau pinta Sayyid kakakku,” ucap Nashif terlihat gembira.
“Satu, kesapakatan berdamai, antara aku dan kau Nashif. Dua, kita tidak akan menganggu satu sama lain, aku akan memimpin desa para muslim yang kunamai desa Tasu’a, dan desa itu bagian dari negeri dan semua seperti orang biasa memiliki derajat yang sama, tidak ada larangan antara keduanya, mereka hidup dalam rukun baik dalam jual beli dan kerjama sama. Tiga, semua orang berhak memilih, apa pun masalah agama mereka, kerukunan tetap di jaga, tidak ada yang di paksa maupun memaksa.”
“Aku namai perjanjian ini, Perjanjian Tasu’a,” sambungnya panuh yakin.
Flashback Of
-Bersambung-
__ADS_1