
Jam telah menunjukkan pukul 07.30, pagi itu awan terlihat sangat gelap dan angin bertiup kencang memberikan hawa dingin yang menusuk seluruh tubuh.
Pohon-pohon bergoyang keras menghamburkan dedaunan yang menyebar keseluruh jalan. Semua orang masih berada dalam rumah mereka masing-masing, ada yang sedang bersiap pergi bekerja, ada juga yang pergi berangkat sekolah, dan banyak juga orang yang masih tidur pulas dikarenakan suasana pagi yang tidak seperti biasa.
Saat itu Akira dan ibunya sedang sarapan berdua dimeja makan dengan tiga kursi, satu kursi kosong kerna ayahnya sedang tidak ada dirumah.
"Oh ya Akira, tidak lama lagi kita akan memasuki bulan ramadhan kan? Tahun kemarin kamu tidak bisa puasa penuh kerana sakit." Ucap ibunya.
"A'ahh ... aku harap bulan ramadhan tahun ini bisa puasa penuh sebulan." Jawab Akira merasa khawatir kalau-kalau kejadian itu terulang lagi.
"Nah maka dari itu, untuk bisa puasa penuh kamu jangan sampai sakit, perbanyaklah makan dan berolah raga." Pinta ibunya memberi nasihat.
"Emm ... biasanya aku juga berolah raga pagi barang teman."
"Oh baguslah. Bulan puasa nanti kalian di Masjid mau rencanain apa?"
"Seperti biasa aja mah, tadarusan, bangunin sahur, dan bersihin Masjid, itu saja sih." Jawab Akira kemudian menyuap nasi.
"Oh iya, katanya juga mau adain buka bersama." Sambungnya dengan mulut penuh nasi.
"Bagus dong kalau gitu, Insya Allah nanti ibu juga ikut membantu masakin. Oh ya, hari ini emangnya sudah memasuki musim penghujan yah?"
"Kurang tahu juga mah, dari kemarin udah sering hujan, gara-gara itu bajuku jadi basah." Serunya mengeluh.
"Hush! gak boleh gitu, hujan kan rahmat masa kita mengeluh, harusnya bersyukur." Jawab ibunya menegur.
"Liat harinya udah sangat mendung, ayo capat makannya nanti keburu hujan, kalau hujan, nanti kamu gak bisa berangkat sekolah."
"Astagfirullah, iya mah." Secara sepontan Akira langsung mempercepat makan sampai mulutnya penuh dengan makanan, ibunya pun tersenyum kecil melihat kelakuan Akira yang seperti itu.
Setelah selesai Akira pun segera berangkat sekolah. "Mah aku berangkat ya." Ucapnya di depan pintu keluar membuat suaranya terdengar jauh.
"Iyah ... hati-hati jangan lupa bawa payungnya." Jawab ibunya sambil membereskan makanan di meja.
"Aku bawa jaket aja mah, kalau bawa payung agak susah." Balasnya yang sudah ingin menutup pintu.
__ADS_1
"Terserah kamu aja yang penting kamu buat jaga-jaga agar tidak kehujanan"
"Iya mah, Assalamu 'alaikum."
"Wa'alaikum Salam." Jawab sang Ibu
Akira pun mengambil sepedanya dan langsung pergi ke Sekolah.
Muhammad Akira atau yang sering dipanggil Akira adalah seorang anak laki-laki dari keluarga muslim yang bertempat tinggal di Shizuoka Jepang, tempat di mana kebanyakan muslim tinggal. Ayahnya adalah seorang pegawai dan ibunya seorang ibu rumah tangga, Akira tidak begitu dekat dengan ayahnya, dikarenakan pekerjaan ayahnya yang banyak membuatnya jarang pulang ke rumah, sehingga Akira jarang bertemu dengannya.
Muhammad Akira adalah siswa kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan lulus, usianya pun sudah mencapai 18 tahun. Nama Muhammad Akira berarti adalah anak yang berakhlak terpuji dan juga cerdas, walaupun begitu dia tidak begitu cerdas dan biasa-biasa saja dalam nilai akademisnya, namun dalam hal ilmu agama dia cukup menguasai diberbagai bidang pelajaran yang ruang lingkupnya keagamaan.
Di tengah perjalanan Akira tidak begitu fokus mengayuh sepedanya, suasana mendung dan berangin membuatnya sedikit khawatir.
"Entah kenapa perasaanku marasa tidak enak dan aku malah tidak tau apa sebabnya, apa aku ketinggalan sesuatu ya, rasanya sudah lengkap," gumamnya dalam hati.
Dia pun mencoba untuk menenangkan diri dengan menghadapkan wajah ke atas serta menghembuskan nafas, kemudian menoleh ke kanan untuk melihat gunung Fuji yang begitu indah, namun terlihat jauh sembari terus bersepeda.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membawa debu dan menghamburkan dedaunan kearahnya, keadaan itu membuat dia mengangkat sebelah tangan ke depan wajah untuk melindungi mata dari debu, alangkah terkejut dia ketika melihat seorang pria tua yang berusia sekitar 50 tahunan tepat di depannya.
*Bugh Brakkk ....
Setelah itu Akira langsung melihat kesekitar berharap agar ada orang yang membantu, namun suasana lagi sepi sehingga tidak ada yang menolong mereka, secara sepontan dia langsung bangkit dan menyodorkan tangan membantu pria itu berdiri, pria itu pun menyambut tangannya.
"Maaf Paman aku sudah menabrakmu aku sama sekali tidak melihat tadi," ucap Akira sambil menarik tangan pria itu berdiri.
"Siapa namamu?" tanya pria itu sambil memegang tangan Akira.
"Eh anuu ... Muhammad Akira," jawabnya sedikit gugup.
"Ingatlah Akira, mungkin hari ini adalah awal dari seseorang tidak dapat merasakan bulan Ramadhan tahun ini, kecuali dia dapat menemukannya!" Pria itu terlihat cemas dan khawatir hingga menggenggam tangan Akira dengan keras.
"Kenapa dia bicara seperti itu, apa maksudnya, apa dia tengah membicarakan dirinya atau orang lain," gumam Akira dalam hati merasa bingung.
"A'ahh ... yah anu ... aku harus berangkat sekolah, nanti telat, emm ... sekali lagi aku minta maaf Paman, kuharap Paman baik-baik saja," balas Akira mengalihkan pembicaraan kemudian mencium tangan pria itu, dia melihat kesekitar untuk mencari letak sepedanya berada.
__ADS_1
Ucapan pria itu terngiang-ngiang dikepalanya, hingga tanpa sadar menggaruk kepala seolah merasa bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksud pria tersebut.
"Ahha ha ha ... Itu dia sepedaku, aku berangkat dulu ya Paman," sambungnya membungkuk tanda memberi hormat, namun pria itu hanya tersenyum cemas melihat ke arah Akira.
Setelah itu Akira melanjutkan perjalanan ke sekolah, sesekali dia memalingkan pandangan ke belakang untuk melihat pria tersebut serta terus mengayuh sepeda, namun hal itu justru membuatnya semakin bingung kerna pria itu terus menatapnya dari kejauhan ditempat mereka bertabrakan tadi.
"Kenapa paman itu terus menatapku, apa aku salah bicara ya ...." Akira menghela nafas seketika itu juga terbungkuk lesu, "hem ... hah ... aku benci jadi pembicara yang buruk." Sekali lagi dia melihat kebelakang dan pria itu sudah tidak ada.
"Hey! Akira, apa yang kau lihat?" tanya teman laki-lakinya yang tiba-tiba muncul.
"Astagfirullah kau mangagetkanku saja Taufiq! huh ..." dia menghela nafas, "aku tidak sengaja menabrak seseorang tadi, aku benar-benar gugup, syukurlah dia tidak apa-apa," sambungnya bercerita dengan singkat tanpa sadar.
"Benarkah, ada-ada saja kau ini, oh iya, aku dengar udah memasuki musim hujan ya?" tanya temannya seolah tidak tertarik dengan cerita Akira.
"Yah ... kayaknya gitu, musim begini rawan sakit, jadi harus hati-hati," jawabnya menoleh ke Taufiq.
"Biasanya apa yang kau lakukan kalau lagi sendiri di rumah?"
"Anu ... paling cuma baca buku, kalau kamu?" balas Akira bertanya
"Benarkah, aku juga suka baca buku, terlebih genre horor dan fantasi."
"Aku juga suka itu, apa lagi genre fiksi ilmiah, aku juga suka baca buku tentang bela diri."
"Sepertinya menarik, boleh aku pinjam bukumu nanti."
"Yah tentu, kenapa tidak, nanti aku bawakan."
"Astagfirullah aku lupa, ada PR hari ini," ucap Taufiq tiba-tiba terkejut.
"Ah iya, aku juga lupa itu, ayo kita bergegas ke sekolah biar bisa ngerjain di kelas, ha ha ha ...." Akira tertawa seolah jadi kebiasaan mereka.
"Aku nyontek yang lain aja biar cepat selesai, baiklah aku duluan dah ...!" balas Taufiq seketika melajukan sepeda dengan cepat.
Akira melindungi mata dari debu,"Cepatnya ...!" ucap akira melihat Taufiq yang sudah jauh, "astaga dia punya banyak sekali topik untuk dibicarakan, ingin sekali rasanya pandai bicara seperti dia."
__ADS_1
"Hem ... aku benar-benar jadi pembicara yang buruk, ya ampun ..." sambungnya sedikit tersenyum kemudian mempercepat laju sepedanya.
-Bersambung-