The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Buat Mereka Ikut Bergabung


__ADS_3

“Kami semua sudah sangat siap untuk melaksanakan perintah apa saja yang di berikan!” ucap salah satu dari mereka yang berjumlah lima orang itu.


“Seperti halnya kalian kami juga punya pikiran yang sama, yaitu tidak menyukai perbudakan ini,” sahut yang lain.


“Yah benar,” ucap yang lain.


“Kami juga sudah mendengar soal Pengeran Daichi dari Arata, dari dulu memang yang lebih pantas memimipin negeri ini adalah tuan Daichi, maka dari itu setelah semua ini berhasil bantu kami untuk membuatnya menjadi raja yang baru,” sambung yang tadi.


Chio mengangguk. “Bagus sekarang kalian anggota dari kami!” balas Chio menyambut bahagia bersama mereka.


“Pangeran Daichi sudah membaca surat kita, dia sangat bersedia dan mendukung semuanya, ini surat balasan darinya,” ucap Arata seraya menyerahkan sepucuk surat.


Chio pun membuka surat itu hingga saat mendekati ujung wajahnya berubah kaget. “Jadi Akira berhasil kabur dari penjara?!”


“Daichi bilang dia juga kabur bersama dua orang lainnya, dan itu terjadi pada malam kemarin, apa dua orang itu termasuk temanmu?” balas Arata.


“Sepertinya bukan, Akiyama bilang kami semua dipisah,  jadi tidak mungkin ada Shiro di antara mereka, sedangkan Ayumi sudah jelas bersama Pangeran,” jawab Chio terlihat cemas.


“Apa ada lagi tentang Akira?” sambungnya.


Arata menggeleng. “Hanya itu, keberadaannya masih tidak diketahui,  namun kuharap berita ini bisa membuatmu lebih tenang tentang dia.”


Chio tersenyum. “Terima kasih, aku juga berharap dia baik-baik saja diluar sana bersama yang lain.”


Arata ikut tersenyum. “Seperti yang kau lihat, sebenarnya aku telah mengajak semua penjaga yang ada di sini, akan tetapi mereka semua menolak untuk ikut kerna takut ketahuan.”


Chio seketika kaget. “Jadi kau mengajak mereka semua! Itukan berbahaya bagaimana kalau mereka ...”


“Tenang saja, mereka semua menyetujui hal ini, hanya saja mereka tidak ingin ikut campur takut ketahuan oleh Akiyama, lagi pula mareka sudah berjanji merahasiakannya,” potong Arata membuat Chio mengelus dada.


“Syukurlah! Kau mengagetkanku saja.”


“Mereka juga minta kalau kita melakukannya harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai mereka tahu apa saja yang kita lakukan, alasan mereka jika ada kebocoran informasi dan itu sampai ketelinga Akiyama, mereka tidak akan tahu apa-apa jika ditanya,” balas Arata menjalaskan.


“Aku sangat menyukai itu, mereka semua sangat pintar,” balas Chio.


“Oh ya bagaimana dengan orang yang bertugas jaga malam ini?” sambungnya bertanya.


“Tidak perlu cemas kami yang menggantikan mereka malam ini, jadi kita bisa leluasa membuat rencana,” jawab salah satu mereka.


“Baik! Mari kita atur rencananya!” jawab Chio bersemangat membuat yang lain ikut menyemangati.


Mereka semua pun duduk melingkar bersama di dalam penjara itu, sedangkan para budak pekerja lain sudah tertidur semuanya.


“Aku akan mengutus dua diantara kalian untuk bertemu Pangeran Daichi memintanya agar memberikan berbagai bahan pokok sebagai persedian budak pekerja di sini, aku yakin dia sudah mengerti semuanya dan tidak akan menanyakan lagi untuk apa, namun bila dia masih bertanya, katakan saja untuk memulihkan tenaga pekerja di sini,” ucap Chio.


Dua penjaga yang di tunjuk itu mengangguk.  “Baik!”


“Satu hal lagi, berpakainlah seperti para pedagang di pasar ketika mengangkut barang-barang itu dengan gerobak, kesampingkan para penduduk, namun tetap waspada pada para penjaga dan pengawal jangan sampai mereka curiga,” ucap Chio.

__ADS_1


Chio terlihat berusaha mengingat-ingat. “Oh ya satu hal lagi, kalian butuh satu orang yang mengawasi sekitar selama kalian membawa bahan pokok itu ke tempat ini,” sambungnya.


“Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya, aku cukup hafal menganai jalan tercapat dari istana ke sini,” sahut salah satu diantara mereka seraya mengangkat tangan.


“Bagus! Aku sarahkan itu padamu,” balas Chio.


“Dan kau akan bertugas membantu memasak makanan untuk para budak pekerja di sini, ajak saja beberapa perempuan di sini untuk memasak bersama, pekerjaanmu hanya mengawasi sekitar agar tidak ada orang lain yang melihat dan juga membantu mengangkut bahan yang diperlukan,” ucap Chio seraya menunjuk dan dia pun mengangguk setuju.


“Sedangkan sisanya tetap seperti biasa mengawasi para pekerja, dan jangan sampai para penjaga di sini mengatahui rencana kita,” sambung Chio.


“Baik kami mengerti!” ucap mereka serentak.


“Arata kau akan ...”


Arata berdiri. “Tidak usah kau jelaskan, aku yang akan mengawasi Akiyama sebagai pendamping pengawalnya, dengan begitu kita bisa tahu apa yang dia rencanakan selanjutnyakan?” potongnya.


Chio tersenyum dan mengangguk. “Lalu buat dia melihat aku mengatur mereka jauh lebih baik darinya, dan buat dia melihat itu sebagai keuntungan!”


“Yah yah yah ... aku sudah mengerti, terus apa yang akan kau lakukan lebih dulu terhadap budak pekerja di sini?” tanya Arata.


“Ya ampun kau tau saja, semua rencana tadi akan kita jalankan setelah aku berhasil membuat mereka bergabung dengan kita, tentu saja mereka juga harus menjalankan rencana yang lainnya untuk membuat mereka bebas,” jawab Chio tersenyum menyeringai sambil merasuk jari kedua tangannya di depan wajah.


“Astaga kau rakus sekali sampai mengambil simpati mereka semua,” balas Arata seraya berjalan ke pintu penjara.


Arata berhenti sambil memegang gagangnya lalu menyampingkan wajah menatap Chio. “Tapi, aku menyukainya,” sambungnya sedikit tersenyum.


Mereka sempat bingung kerna para penjaga itu berbaris menghalangi jalan mereka, hingga membuat mereka saling bertanya-tanya.


Di saat seperti itu Chio berjalan menghadap mereka semua. “Kalian semua harap tenang!” teriak salah satu penjaga membuat mereka sektika diam dan menatap ke depan.


“Terima kasih serahkan ini padaku,” ucap Chio seraya menepuk pundak penjaga itu.


Chio memandangi mereka. “Yoshh ... semuanya! maukah kalian ikut membangun kerajaan baru bersamaku?!” teriak Chio membuat mereka semua terkejut hening lalu saling bertanya-tanya.


“Apa! Mana mungkin bisa seperti itu, sudah jelas raja yang memimpin sekarang itu pengeran Kanechi!” teriak salah satu peria diantara mereka.


“Yah betul-betul!” jawab yang lain.


"Apa lagi kau ini hanyalah budak pekerja seperti kami!" teriaknya lagi.


“Ayolah apa kalian terus mau menjadi budak, kita hanya harus menggulingkan kerajaan sekarang dan menggantinya dengan pemimpin yang baru, lagi pula kami sudah menemukan pemimpin yang pantas,” balas Chio.


“Kau pikir bisa dengan mudah melakukan itu semua, kami semua tidak akan ikut, bisa-bisa kami semua dihukum mati kerna ini! lebih baik menjadi budak dari pada mati!” jawab yang tadi lantang.


“Yah benar!” sahut yang lain.


“Cepat katakan yang lain biar mereka paham,” bisik Arata.


“Kau bantu ngomong juga dong,” balas Chio.

__ADS_1


“Eh apa, jadi kau belum menyiapkan kalimatmu untuk meyakinkan mereka.” Arata kaget.


“Sudah biarkan kami semua lewat! kami tidak butuh itu!” teriak yang tadi lagi seraya hendak maju mendorong para penjaga bersama yang lain.


*Tong ...!


Tiba-tiba seseorang yang masih berada dalam penjara memukul jeruji besi dengan nampan besi yang biasa penjaga bawa sebagai wadah untuk memberi mereka makan.


Mendengar suara itu membuat mereka semua seketika menoleh ke asal suara. “Huaaahhh ...” seorang pemuda sepantaran Chio bermata panda sedang menguap.


Melihat orang itu entah kenapa membuat mereka semua ikut menguap. “Huaaahhh ...” bahkan gerakannya pun sama.


“Penjaga cepat keluarkan aku,” ucapnya berusah bersuara nyaring.


Salah satu penjaga tersentak sadar. “Eh baiklah,” jawabnya segara menghampiri dan membukakan pintu.


Penjaga itu tiba-tiba terkejut. “Loh kenapa semua nampan itu berada di sini!”


“Salah kalian sendiri kenapa tidak mengambilnya Huaaahhh ...” jawabnya seraya menguap sedangkan penjaga tadi heran.


Pemuda itu berjalan mendekati Chio. “Sejak kapan kau berada di penjara itu, saat aku di penjara di sini belum perna melihatmu ikut bekerja?” tanya Chio.


“Huaaahhh ....” Dia hanya menguap.


Chio menatap heran sedangkan dia terus menatap Chio. “Tentu aku tidak pernah ikut bekerja, kerna para penjaga tidak pernah mengeluarkanku dari penjara,” jawabnya seraya berpaling kemudian duduk bersila dihadapan Chio.


“Ehhh ... bagaimana bisa ...”


“Huaaahhh ... jelaskan saja yang tadi aku akan mendengarkan,” potongnya seraya merebahkan diri.


“Tunggu sebentar!” teriak seorang laki-laki mengangkat satu tangan ke atas dari ujung kerumunan.


“Permisi, kami mau lewat,” ucapnya terus jalan ke depan masuk kekerumunan.


“Ya ya ya, begitu menyingkirlah perlahan, bagus, mantap haha ... aku suka kalian,” ucapnya terus berjalan ke depan bahkan terlihat menari-nari sendiri.


“Owh ... kau yang suka teriak tadi, jangan ulangi lagi, bau mulutmu sampai ke belakang ha ha ...” ejeknya sambil menunjuk seorang yang terus menjawab Chio dari tadi.


Orang yang diejek hanya menatap aneh. “Sip! kita sudah di depan paman!” ucapnya pemuda yang ternyata juga sepantaran dengan Chio.


“Diamlah aku sudah tahu itu!” jawab seorang laki-laki sepantaran Akiyama yang ternyata dari tadi berada di belakang mengikuti.


“Huaaahhh ... menyingkirlah kau hampir menginjakku,” ucap pemuda bermata panda.


“Ups! Maaf he he ...” balas pemuda tadi menyingkir.


Chio pun saat itu terdiam melihat kelakuan mereka bertiga. “Tunggu apa lagi, bukankah kau ingin menjelaskannya pada kami,” ucap paman itu menatap heran.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2