The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Ingatan yang Telah Kembali bagian 4


__ADS_3

Angin berhembus sedikit kencang membawa udara yang begitu sejuk, rumput ilalang dan rumput kecil di tanah nampak bergoyang berirama dengan suara langkah Akira.


Angin yang berhembus itu membuat air di sungai membentuk gelombang-gelombang kecil dan memudarkan matahari yang sedang bercermin, cahayanya yang indah memantul di air membuat Akira sedikit silau, dia mengangkat sebelah tangan untuk melindungi mata, kemudian mengarahkan pandangan ke matahari yang telah merendah di barat sambil memikirkan kemalangan hari ini.


"Aha ha ... ya ampun malang sekali nasibku hari ini," ucapnya sedikit mentertawakan diri sendiri.


Akira nampak sedih, "Aku terluka kerna berkelahi dengan preman, lalu hampir kehilangan nyawa untuk menyalamatkan anak kecil yang tenggalam," ucapnya menunduk tak bersemangat.


"Huhh ... liat sisi baiknya Ken, ini belum seberapa, lagi pula aku sudah menyelamatkan dua orang, dan lihatlah ditanganmu ini, kau mendapatkan makanan dari mereka, sungguh luar biasa, jadi aku tidak perlu memasak hari ini, ya ampun ... beruntungnya aku ... ha ha ha ..." sambungnya kembali bersemangat.


Akira terus berjalan pulang ke arah rumahnya sambil melihat sekeliling dimana rumah-rumah penduduk tersusun sangat rapi menghadap jalan dan sungai.


Dia melihat orang-orang yang masih sibuk bekerja dan mendengar suara anak-anak bergembira bermain bersama, sesekali dia melihat matahari dan sungai yang bergelombang akibat hembusan angin yang sedikit kencang, suara angin yang sejuk itu terdengar mendengus di telinga.


"Terkadang yang dilihat adalah hal yang harus didengar, dan yang kita dengar mungkin adalah hal yang harus kita lihat. Aku rasa ... berbaik sangka tidak pernah mengenal batas." Akira telah merasa tenang dan menemukan jawaban dari kemalangan yang dia alami yaitu berbaik sangka.


Tanpa terasa dia sudah mulai dekat dengan rumahnya, namun dia sedikit heran kerna ada seorang kakek-kakek dengan pakaian lusuh duduk didepan rumahnya.


"Hem ... siapa orang itu, apa dia tersesat, sebaiknya aku menyapa dan langsung menanyakannya saja," ucapnya kemudian berlari menghampiri.


Dia sedikit tertegun ketika melihat pakain kakek itu ternyata sangat bersih, padahal dari jauh nampak lusuh dan kotor, melihat kakek itu sedang tertidur dia sedikit tidak tega untuk membangunkannya, tetapi dia merasa harus menanyakan sesuatu kepada kakek itu.


"Kakek bangun kakek ..." panggilnya pelan sambil menggoyangkan pundak kakek itu.


Perlahan-lahan kakek itu terbangun dan membuka mata. "Kakek sedang cari siapa, apa kakek tersesat?"


Kakek itu melihat kearah Akira. "Ohh tidak-tidak aku sama sekali tidak tersesat, aku datang ke sini untuk menemuimu."


Akira nampak heran dan bingung. "Maaf Kek, apa kita pernah bertemu sebelumnya."


Kakek itu menyodorkan tangannya untuk bersalaman, Akira pun menyambut tangan itu dengan sangat sopan sambil mancium.


"Iyah ... kita pernah bertemu sebelumnya, tapi tidak di sini." jawabnya.


mendengar perkataan itu membuat Akira bertambah bingung dan mencoba mengingat-ingat. "Aku rasa kita belum pernah berte ... mu ...."


Seketika sebuah kilas balik berputar di kepala, bagai sebuah film yang dipercepat membuat kepala terasa pusing, bayang-bayang kejadian masa lalu sangat jelas terlihat, tepat disaat dia pergi bersepeda ke sekolah ketika pagi hari yang dingin dan angin berhembus kencang.

__ADS_1


Hal itu membuat Akira hening dalam diam, keringat bercucuran di pelipis, dia nampak gemetar ketika melihat rangkaian kejadian saat dia menabarak seorang laki-laki dengan sepedanya.


Dia membantu laki-laki itu berdiri dan meminta maaf, penglihatannya sedikit buram dan pandangan mengarah dari hidung sampai dada laki-laki itu.


"Siapa namamu?" tanya kakek itu membuat Akira tersentak dari lamunan kilas baliknya.


Datak jantung berdegup kencang penglihatannya sedikit memudar, dia mencoba memandang kakek dihadapan sambil mengatur pernafasan mencoba untuk tenang agar penglihatannya kembali jelas.


Dia berteriak ketika menyadari bahwa orang yang dia tabrak dengan sepeda dimasa lalu adalah orang yang ada dihadapannya.


Seketika itu dia berusaha keras melepaskan tangan kakek itu padahal kekek itu tidak sedang memegangnya dengan erat, kepanikan yang dia alami telah membutakan penglihatannya.


Dia terus berteriak menangis sambil mencoba melapaskan tangan kakek itu di pergelangannya, namun kakek itu hanya tersenyum sedih hingga dia melepaskan genggaman tangannya, Akira berhenti berteriak dan memandang kakek itu dengan ketakutan.


"Kau ... apa yang kau lakukan padaku, siapa kau sebenarnya?" tanya Akira ketakutan hingga suaranya bergetar.


Kakek itu menyodorkan tangannya ingin memegang tangan Akira lagi, namun melihat hal itu, membuat Akira semakin ketakutan dan memilih pergi berlari menjauh.


Kilas balik itu lagi-lagi memperlihatkan kejadian saat bersekolah kemudian pulang dari sekolah, lalu bertemu dengan laki-laki memakai jaket hitam yang tengah duduk diterasnya, kejadian demi kejadian itu terus silih berganti dengan penglihatan nyata di depannya.


Saat terus berlari menjauh entah ke mana dari kakek itu, dia bahkan terus menabrak orang yang berjalan, lalu tanpa sengaja menabrak Ayumi yang sedang membawa keranjang bajunya, tabrakan itu membuat keduanya terjatuh dan menghemburkan semua baju Ayumi.


Marahnya terhenti ketika melihat Akira yang terduduk memandangnya dengan air mata yang terus bercucuran dari wajah ketakutan, bagaimana tidak, Akira diperlihatkan melalui kilas baliknya di mana sebuah portal yang menganga dan ingin menarik ke dalam, serta seorang laki-laki yang mengendalikan portal tersebut dengan senyum menakutkan.


Ayumi yang melihat Akira ketakutan ketika memandang dirinya membuatnya heran. "Ken kena ..."


"Pergi! pergi kau dari hadapanku tolong pergilah!" teriak Akira sambil melindungi wajahnya dengan pergelangan tangan.


Ayumi mendekat menyodorkan tangan untuk memegang tangan Akira. "Ken ada apa? apa yang terjadi hingga kau begini?"


Bukannya Ayumi yang Akira lihat melainkan laki-laki berjaket hitam yang tengah mengangkat tangannya untuk memperkuat tarikan portal.


"Hentikan!" Akira berteriak dan melimparkan debu ke arah Ayumi, membuat Ayumi menunduk melindungi matanya, sedangkan Akira kembali berlari ketakutan sambil terus berteriak menangis.


"Ken!" Ayumi teriak memanggil, namun Akira sudah lari menjauh.


"Apa yang terjadi padanya, kenapa dia sangat ketakutan ketika melihatku," ucap Ayumi sedih dan heran.

__ADS_1


Akira terus berlari dan mulai mengingat semuanya. "Aku sekarang ingat, alasan kenapa aku bisa berada di dunia ini, ini bukan tempatku, seseorang telah mengirimku kedunia ini," gumamnya dalam hati mencoba untuk memehami dirinya sendiri, namun dia terus menangis histeris.


Dia melihat laki-laki itu mengatakan hal-hal aneh dan melihat bagaimana dia terus tersedot ke dalam portal.


"Yah ... laki-laki itu yang mengirimku ke sini menggunakan sebuah portal, dan aku juga yakin, kakek itu pasti ada hubungan dengan kejadian ini, tapi, kenapa mereka melakukannya kepadaku," ucapnya terus berbicara di dalam hati dan mencoba untuk tenang dan merangkai setiap penglihatan yang terus silih berganti.


"Tidak ... aku tidak bisa terus begini, aku harus berhenti berlari dan bersembunyi, hanya itu caranya agar aku bisa mencoba untuk tenang dan memikirkan semuanya."


Dia terus bergumam sendiri di pikirannya seolah bisa mencoba untuk tenang dan bersikap bijaksana, namun nyatanya dia terus berlari dengan wajah yang ketakutan, dan air mata terus berlinang membasahi pipi.


"Kenapa, apa yang terjadi, kenapa aku terus berlari tidak punya arah dan tujuan seperti ini, tubuhku bertindak sendiri, seperti orang yang gegabah dan tidak bisa berpikir jernih, apa ini ada hubungannya dengan diriku yang sekarang, aku mengalami lupa ingatan, lebih tepatnya ingatanku berubah. Apa mungkin ..." ucapnya didalam hati dan mengingat Ayumi, Chio, dan Shiro yang memanggilnya dengan nama Ken.


Akira terus berlari, seolah tak bisa mengandalikan tubuhnya sendiri, ini terjadi karena sifat Ken yang gegabah dan Akira yang lebih bisa mengandalikan dirinya untuk tenang dan belajar memahami situasi saling bertolak belakang.


"Aku dan Ken saling bertukar tub ...." Dia bisa berbicara dan berteriak, namun kakinya malah tersandung batu hingga terjatuh keras dan terguling jauh.


Matanya mulai terpejam sambil menatap cahaya senja yang redup oleh awan hitam pekat membawa air hujan.


"Jika itu benar, lalu ... siapa aku ...."


Akira mulai kehilangan kesadaran dan tidak mengingat siapa dia, hingga akhirnya matanya pun tertutup dan tidak sadarkan diri.


...●●●●...


Saat itu Chio telah menceritakan semuanya tentang apa yang dia saksikan mengenai  kejanggalan Ken.


"Seperti yang kuduga, dia memang bukanlah Ken yang kita kenal," ucap Shiro.


"Sebenarnya aku tidak mau menpercayai ini, tapi semuanya memang sangat jelas," jawab Chio merasa ragu.


"Yah aku juga begitu, tapi kita harus terima kenyataan ini agar ini bisa segera kita selasaikan," Shiro meyakinkan.


Chio mengangguk. "Lalu dimana Ken yang sebenarnya Shiro, aku yakin kau pasti sudah tahu it ..."


"Sebaiknya! besok kita pagi-pagi kerumah Ken untuk membuatnya mengakui semuanya, agar kita bisa segera menyelasainkan permasalahan ini," jawabnya mengalihkan pembicaraan.


"Yah ... baiklah kalau begitu."

__ADS_1


"Maafkan aku Chio, aku tidak bisa memberi tahumu yang sebenarnya, aku tidak ingin kalian menyalahkanku, sebaiknya kau mendangar sendiri dari mulut Ayumi," sambungnya dalam hati merasa bersalah.


-Bersambung-


__ADS_2