The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Aku Hanyalah Orang yang Ingin Bersama Tuhan Thalib Sang Musafir Bagian 2


__ADS_3

Malam itu mereka benar-benar tak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar perkataan Gozali tentang tidak ada seorang pun di negeri Sabbat yang bernama Kanzo, saat itu mereka merasa sedih dan cemas, bahkan sempat mengira kalau Kanzo sudah tiada.


Ayumi datang bersama Hana membawakan makanan untuk santapan malam, namun ketika melihat wajah Akira, Chio dan Shiro yang nampak muram membuat mereka heran. “Ada apa Gozali, kenapa mereka semua terlihat sedih?” tanya Hana.


“Mereka bertanya padaku soal Kanzo yang katanya juga berangkat dari negeri mereka menuju negeri kita, tapi yang kutahu tidak ada orang yang bernama Kanzo,” jawabnya membuat Ayumi kaget tak percaya.


“Hozy, ambilkan minuman untuk mereka,” pinta Hana dan Hozy segera menuju dapur.


“Cih … kalau begini adanya kita hanya perlu melakukan pencarian petunjuk dengan cerita itu,” ucap Shiro sedangkan Akira syok tardiam ditempatnya.


“Kalian tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak, mungkin hanya kami yang tidak tahu soal itu," sahut Hana, "Gozali besok kau bawa mereka menemui tetua untuk bertanya apa ada orang yang bernama Kanzo di daerah kita,” punta Hana.


“Akira bagaimana menurutmu?” tanya Chio, namun Akira tak menjawab.


“Akira,” panggilnya lagi dan Akira tersentak.


“A’ahh … benar lebih baik kita istirahat dulu dan kembali memikirkannya besok,” ucapnya namun dilihat cemas oleh Chio.


*Pok …!


Ayumi tiba-tiba menepuk tangannya sekali dan itu sangat keras hingga membuat mereka semua terkejut, bahkan Hozy yang sedang berhati-hati membawa air minum hampir saja menumpahkannya di atas kepala Hana, beruntung Shiro yang tidak jauh berduduk dari Hana segera berdiri menahan nampan minuman itu.


Semuanya hening dan tatapan mereka semua tertuju pada nampan minuman yang hampir jatuh di atas kepala Hana, lalu pandangan mereka seketika beralih pada Ayumi yang sedang berpejam dan tersenyum. “Dari pada kita mencemaskan hal yang belum pasti itu, bagaimana jika kita makan bersama saja.”


Ayumi memandang mereka semua seraya tersenyum. “Yakan semuanya, Akira, Chio, kami sudah lelah memasak loh,” ucapnya tersenyum, namun dari senyumannya justru menyimpan kemarahan pada Akira dan Chio.


Menyadari hal itu Akira dan Chio segera menyantap makanan yang ada di depan mereka dengan cepat hingga mulut mereka penuh. “Emmm … enaknya! yakan Akira!” ucap Chio dengan mulut penuh.


“A’ahh … yah yah …” jawab Akira juga dengan mulut penuh. Disisi Akira, Gozali nampaknya yang paling kaget hingga dia kesulitan bernafas sambil memegang dadanya.


Melihat Gozali yang seperti itu membuat mereka semua tertawa, sedangkan Shiro dia menggeleng dan tersenyum.


Malam itu mereka makan bersama dengan lahap, hingga waktu Isya tiba. Saat itu Ayumi dan Hana shalat Isya bersama, yang mana sekaligus mengajarkan pada Hana yang belum tahu cara melakukannya, mereka Shalat di ruang tamu tempat mereka makan bersama tadi.


Ditempat itu juga Shiro tengah tidur sangat nyenyak meski Hozy berusaha menganggunya, sedangkan Akira, Chio dan Gozali berbincang bersama diteras rumah hingga sesekali mereka tertawa bersama. Disebrang rumah mereka pun terlihat terang kerna seorang pandai besi tengah bekerja dengan memukul-mukul besi dan memanaskannya.


Keseokan harinya Akira dan lainya tengah bersiap untuk pergi menemui tetua dengan diantarkan oleh Gozali, saat itu Gozali masih berbincang dengan Hana.


“Antarkan mereka pada tetua dan ceritakan juga soal mereka yang juga sama seperti kita,” ucap Hana dan Gozali mengiyakan.


“Hozy kau duluan pergi kegerbang desa, aku mengentarkan mereka terlebih dulu, nanti aku akan nyusul,” ucap Gozali pada Hozy.

__ADS_1


“Ya ampun kenapa harus aku yang berjaga, aku saja yang mengantarkan mereka kesana,” ucapnya mengeluh.


“Perintah adalah perintah,” ucap Gozali tegas dan mereka semua tertawa.


“Jika tidak ada juga maka kau bisa membawa mereka pada raja di daerah sebelah,” pinta Hana pada gozali yang sudah turun dari tangga rumah mereka.


“Raja?” ucap Akira heran.


“Bukankah kalian bilang tadi tetua, lalu kenapa jadi raja lagi,” sahut Chio.


“Dinegeri kami ada dua pemimpin! Yaitu tetua dan raja, mereka memimpin pada wilayah yang berbeda,” sahut Hozy.


“Dua!” teriak Akira dan lainnya, sedangkan Shiro nampak mengkerutkan wajahnya kerna sunging.


“Untuk masalah itu nanti aku akan ceritakan pada kalian semua, namun sebaiknya kalian selesaikan dulu masalah itu,” jawab Hana.


“Baiklah Ayo kita segera pergi,” pinta Gozali.


Ditengah kebingungan Akira dan lainnya pun tetap mengikuti Gozali yang berjalan lebih dulu sedangkan Hozy melambai pada mereka dan dibalas oleh Akira dan Chio.


Disepanjang perjalanan Akira dan lainnya dibuat kagum oleh pemandangan daerah itu dan akhlak para penduduk yang ramah, disetiap kali berpepasan dengan para penduduk mereka selalu menyapa dan bahkan berucap salam, tidak hanya itu Akira dan lainnya selalu diberikan kue, minuman dan makanan lainnya. Sampai-sampai mulut serta tangan mereka selalu penuh dengan makanan.


Disaat seperti ini Shiro justru paling banyak memegang berbagai macam kue ditangannya, kerna saat Ayumi dan Gozali menyerahkan kebelakang Shiro justru selalu lebih dulu mengambilnya, sedangkan Akira dan Chio bisa mendapatkannya saat para penduduk memberikannya secara langsung.


Chio berhenti dan melihat Akira yang terdiam ditempat seraya terus memandang heran wanita tua yang memberikan kue manis itu. “Akira cepatlah, nanti kau tertinggal,” ucapnya dengan mulut penuh, mendengar itu Shiro juga berhenti dan memandang Akira heran dengan mulutnya yang lebih penuh.


"A'ahh ... yah!" jawab Akira masih heran.


Setelah itu mereka pun sampai di rumah tetua, rumah ini persis bersebelahan dengan dinding pembatas daerah sebelah, walaupun begitu gerbang itu terbuka lebar dan hanya dijaga oleh satu orang saja.


Chio memandang dinding itu sedangkan Akira melihat daerah sebelah lewat gerbang yang luas dan terbuka lebar. “Mungkin ini yang dimaksud Thalib dengan tak ada tembok yang mengikat terlalu kencang,” ucap Chio.


Akira teseyum. “Entahlah … aku rasa juga begitu.”


“Kalian tunggu dulu sebentar di luar, aku ingin meminta izin terlebih dulu pada tetua,” ucap Gozali seraya masuk lebih dulu sedangkan Akira dan lainnya menunggu diluar.


Gozali masuk kedalam dan bertemu tetua itu. “Izin tetua, saya datang kesini ingin memberi tahu bahwa ada empat orang Musafir yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perampuan,” ucap Gozali.


“Duduklah dulu,” pinta tetua itu dan Gozali duduk dikursi tamu.


Tetua menghampiri dan menyodorkan segelas air. “Apa mereka baru datang?”

__ADS_1


tanya tetua.


“Mereka datang saat hari sudah mau malam, jadi aku memutuskan untuk menyuruh mereka menginap terlebih dahulu,” ucap Gozali.


“Baguslah kalau begitu, kau sudah melayani tamu dengan baik,” jawab tetua.


“Ada hal yang penting juga tetua, ternyata mereka adalah seorang muslim seperti kita dan hebatnya lagi pengetahuan mereka tentang islam lebih dari kita, bahkan saya, adik saya dan kakak saya, sudah belajar tentang Shalat yang menjadi kewajiban kita sebagai muslim,” ucap Gozali membuat tetua tersentak kaget.


“Apa benar begitu, emangnya mereka berasal dari mana!” jawab tetua sangat penasaran.


“Mereka berasal dari negeri Seribu Patung, katanya mereka juga mencari seseorang yang bernama Kanzo,” ucap Gozali dan sang tetua seketika terdiam.


Gozali mentapnya sedikit heran. “Apa tetua pernah dengar soal Kanzo yang juga berasal dari negeri mereka?” tanya Gozali.


“Cepat suruh mereka masuk,biar aku yang menemui mereka,” ucap tetua tegas.


“Baik tetua, kalau begitu aku akan memanggil mereka dan kembali ke gerbang desa untuk berjaga,” jawab Gozali.


“Baiklah Gozali, berhati-hatilah,” ucapnya dan Gozali mengangguk kemudian pergi.


“Kalian semua disuruh tetua untuk menemuinya, silahkan masuk saja kedalam beliau sudah menunggu, aku izin untuk pergi dulu, jika kalian telah selesai kalian bisa kembali kerumah,” ucap Gozali dan mendapat anggukan dari Ayumi dan Shiro.


Sedangkan saat itu Akira dan Chio justru berada di depan gerbang tengah melihat orang-orang yang berada di daerah sebelah. “Hey Chio, coba lihat perampuan yang membawa nampan berisi kue itu.”


“Mana-mana!” ucap Chio bersemangat.


“Itu, yang memakai baju kehijau-hijaun seperti milikmu,” jawab Akira.


“Oh cantinya … eh bukannya itu kebiru-biruan.”


“A’ahh … Entahlah, bagi …”


Perempuan yang mereka lihat tiba-tiba mengalihkan pandangan dan tak sengaja melihat Akira dan Chio.


“Kita ketahuan!” teriak Chio seketika berpaling bersama Akira sedangkan perempuan yang mereka lihat terlihat marah dan cemberut memandang mereka, lalu dia pun pergi menjauh.


“Cih … dari tadi kalian ini sedang apa, cepatlah masuk tetua menyuruh kita untuk langsung bertemu dengannya,” pinta Shiro memandang heran mereka yang sedang cemas.


Setelah itu mereka pun masuk secara bersama-sama. “Assalamua'laikum!” ucap Akira dan Chio.


Tetua yang sedang membuat minuman itu berpaling melihat mereka dan malah seketika kaget tak percaya. “Waa'laikumsalam Ken! ternyata kalian semua sudah besar ya!” ucap tetua yang sepantaran dengan Osama itu seraya meneteskan Air mata memandang haru Akira dan lainnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2