
Daichi tiba-tiba tersenyum menyeringai setelah selesai membaca seluruh isi surat itu, Arata yang melihatnya pun dibuat bingung.
“Aku akan ikut bergabung dengan kalian, saat ini aku sudah cukup mengerti rencananya,” ucap Daichi menatap Arata.
Arata menatap heran. “Apa tuan benar-benar ingin menggulingkan kerajaan ini, jujur, saya hanya mengirimkan surat itu dan tidak membacanya, dan sekarang saya tak percaya dengan rencana Chio sebenarnya,” jawab Arata.
“Apa kau ini masih belum mengerti, apa yang dikatakan Chio padamu itu hanya permulaan, dan menjatuhkan kerajaan sekarang adalah puncaknya,” jawab Daichi berjalan ke depan menuju jendela.
“Chio sudah menjelaskan rencana kalian berdua padaku tentang menjadi bos di tempat Akiyama, jadi kau juga harus ikut andil besar dalam hal ini.” sambungnya.
Arata masih terlihat bingung. “Maaf kalau saya lancang, jadi apakah tuan serius untuk menjadi raja selanjutnya?”
Daichi berdiri di depan jendela dan melihat seluruh negerinya. “Negeri ini akan terus bertambah luas seiring waktu berjalan, namun beberapa orang akan terus hidup terjepit dalam sempitnya kehidupan, kebebasan mereka akan terus direnggut. Kenyataanya memang banyak orang yang bahagia dengan negerinya, tapi ada juga yang terus menangis di tanah ini, air mata dan keringat mereka terus diperas, jiwa dan raga mereka selalu terbelenggu dan hanya kematian yang akan membebaskan mereka,” ucap Daichi kemudian menoleh pada Arata.
“Jadi apa kau ingin terus melihat itu Arata?” sambungnya bertanya.
Arata tertunduk dan menggeleng. "Menjadi penjaga di penjara itu saja sudah membuat saya tersiksa."
Daichi tersenyum. “Seorang anak di pinggiran kota bercita-cita akan menjadi orang kaya yang memiliki banyak budak, dengan semua budak itu dia akan membangun istananya sendiri. Sedangkan seorang anak di penjara bercita-cita akan menghancurkan negeri ini dan membalas semua perbuatan kita terhadapnya, dia akan menjadikan kita sebagai budak sepertinya,” ucap Daichi menghadap Arata sambil bersandar di jendela.
“Apa maksud tuan mereka sama-sama menginginkan perbudakan?” tanya Arata.
Daichi mangangguk tersenyum seraya menghadapkan wajahnya ke samping sambil merasakan angin berhembus menyapu rambutnya.
“Bagaimana jika seorang anak pinggiran kota bercita-cita akan menjadi orang kaya dan membebaskan para budak, lalu memberikan mereka pekerjaan yang layak dan di beri gaji yang sepadan, usaha dia terus berkambang dan membuatnya semakin kaya, lalu dia bisa perlahan-lahan membebaskan semua budak hingga tidak ada lagi perbudakan di negeri ini.”
__ADS_1
“Sedangkan seorang budak di penjara bercita-cita jika dia di bebaskan dari perbudakan ini, dia akan bekerja dengan giat agar punya banyak uang dengan begitu dia akan bisa membebaskan orang-orang dari perbudakan secara perlahan hingga tidak ada lagi perbudakan di mana-mana,” sambungnya.
Arata tersentak sadar. “Dengan begitu maka tidak akan lagi budak di negeri ini!”
“Benar! Itulah yang diinginkan Chio dariku, akulah yang harus merubah negeri ini sebagai seorang raja yang baru, akan kubuat negeri ini menjadi negeri yang memandang sesamanya dalam pandangan yang sama, tidak ada kasta terendah dan juga teratas, semuanya memiliki tingkatan yang sama.”
“Maka dari itu Arata, bantu aku membuatnya bersama kalian!” sambungnya menatap serius Arata.
Arata dibuat kagum hingga seketika bertekuk lutut memberi hormat. “Wahai pangeran Daichi tuanlah yang pantas saya jadikan pemimpin, seorang yang harusnya menjadi Raja di negeri ini! saya Arata siap melayani tuan dengan seganap raga dan jiwa!” teriak Arata menunduk hormat.
Daichi mengangguk dan berpaling kembali menghadap jendela. “Sampaikan pesan ini pada Chio kalau Ayumi memang benar bersamaku, dia sekarang menjadi tukang masak di istana dan keselamatannya berada dalam jaminanku, jangan khawatirkan dia lakukan saja rencanamu dengan sangat rapi dan buat ini berhasil, aku Pangeran Daichi yang menjadi rajamu sekarang memerintahkanmu melakukan semua yang kau anggap benar dan semua keuangan yang kau butuhkan aku yang akan menyiapkannya, kuasai tempatmu sekarang lalu buat aku mengusai negeri ini!” ucap Daichi lantang.
“Siap!” balas Arata lantang seraya beridiri memberi hormat.
Daichi tersentak kaget. “Kau tulislah sendiri! Aku sedang sibuk!”
“Eh baiklah siap!” balasnya kembali hormat.
Arata pun berpaling pergi. “Tunggu ada hal yang baru aku ingat, sampaikan lagi pada Chio kalau Akira dan dua orang lainnya berhasil kabur dari penjara, Akira itu teman Chio, aku harap dengan mengatahui hal ini dia lebih merasa tenang,” ucap Daichi.
Arata mengangguk dan Daichi menyuruhnya segera pergi. Saat sampai di pembangunan, Arata melihat Chio sangat sibuk dengan pekerjaanya, dia juga bahkan membantu yang lainnya bekerja, tidak terlihat dari Chio kalau dia terbebani dengan pekerjaan itu, dia sangat serius melakukannya.
Meskipun sebagai budak, sama sekali tidak terlihat ada raut terpaksa yang terukir di wajahnya, dia nampak sangat menikmati pekerjaan itu.
“Apa itu yang dinamakan ikhlas, melakukan dengan segenap hati dan selalu memberikan yang terbaik, meskipun kau tak mendapat imbalan, padahal saat ini yang lainnya nampak sangat membenci pekerjaannya, tentu siapa yang mau menjadi budak,” ucap Arata seraya terus memandang yang lain.
__ADS_1
Arata terdiam seperti ada yang dia pikirkan, kemudian melihat ke para penjaga lalu menghampirinya berbincang.
Saat itu sudah menjelang senja, Chio dan lainnya pun di giring kembali ke penjara masing-masing, namun kali ini bukan Arata yang mendampingi Chio.
“Emm ... apa kau tahu Arata di mana, sejak siang tadi dia tidak terlihat?” tanya Chio.
“Aku tidak tahu, dan bukan urusanku, cepatlah jalannya!” jawab penjaga itu.
Chio pun terus berjalan menuju penjaranya, setelah sampai dia pun segera melaksanakan Shalat Magrib, saat mendakati Isya para penjaga pun memberikan makanan seperti biasa berupa roti dan air putih, saat itu Arata masih belum terlihat, hingga saat merasa telah sampai waktu Isya Chio kembali melakukan shalat.
Ketika malam mulai larut Arata belum kembali dan Chio mulai cemas. “Kemana dia pergi, padahal seharusnya dia melaporkan pertemuannya dengan Daichi kepadaku, lalu membuat rencana untuk selanjutnya,” ucapnya seraya berbaring.
“Atau jangan-jangan dia berkhianat dan malah memberitahukan ini pada raja, dengan isi surat seperti itu aku bisa dieksekusi mati!” sambungnya semakin cemas.
“Hey! apa yang kau bicarakan dari tadi, aku sudah kembali,” ucap Arata datang tiba-tiba sambil membuka pintu penjara.
Dia bahkan tdak datang sendiri melainkan bersama beberapa penjaga lainnya. “Eh apa! Kenapa kau membawa banyak penjaga, atau malah benar kau berkhianat dan akan membawaku bersama mereka untuk dihukum mati!” teriak Chio ketakutan.
“Berkhianat, hukum mati, apa yang sedang kau bicarakan! Aku datang membawa sekutu untuk menjelankan rencana selanjutnya!” balas Arata.
“Ehh ...!”
Arata tersenyum lebar dan menyombongkan diri. “Perkenalkan, mereka semua adalah teman-temanku sesama pengawal dan penjaga yang telah bersumpah akan menjadi pengawal pangeran Daichi, dan mereka semua telah siap untuk bergabung bersama kita menjalankan rencana selanjutnya!”
-Bersambung-
__ADS_1