The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib Sang Musafir Bagian Akhir


__ADS_3

“Menyambah matahari?” teriak mereka serentak.


“Yah ... tapi itu cuma kabar para warga tidak ada yang tahu kebenarannya seperti apa,” jawab Osama kemudian melanjutkan bercerita.


“Percakapan mereka bertembah tegang dan pada Akhirnya Thalib pun meminta untuk pergi mencari tempat bermalam, hanya itu yang diketahui oleh orang-orang saat itu. Sudah dua hari lamanya Thalib berada didesa, saat itu hujan deras dan dia tengah berkeliling desa seraya menulis sesuatu, kerna takut bukunya basah dia pun meminta berteduh dirumah seorang janda yang sudah cukup lama ditinggal suaminya. Janda itu tau kalau orang ini adalah Thalib yang banyak dibicarakan warga, dengan rasa hormatnya dia pun meminta Thalib bernaung didalam saja, kerna tidak tau kalau orang itu cuma tinggal sendiri dia pun mengiyakannya. Tidak disangka hal itu malah dilihat oleh utusan tetua yang ternyata sudah mendapat tugas untuk mengikuti kemanapun Thalib pergi, dari sini kita semua tahu bahwa tetua sudah tidak mempercayai Thalib, kelihatannya saja dia suka, namun sebenarnya sama sekali tidak.”


“Kenapa tetua dahulu sampai segitunya padahal Thalib datang kedesa baik-baik,” sahut Ayumi.


“Mungkin ini yang dikatakan Nenek, dia tidak menyukai orang-orang yang datang dari luar kerna akan membawa agama baru selain menyambah patung yang sudah jadi teradisi leluhur di sini,” sahut Chio.


“Benar kata Chio, itulah yang ditakutkan tetua terdahulu,” jawab Osama.


“Lalu setelah itu bagaimana  selanjutnya?” tanya Akira sangat penasaran.


“Mendepati hal itu tentu saja tetua memiliki rencana agar Thalib dibenci penduduk, dia menyuruh utusan untuk menyebar fitnah dengan mengatakan bahwa Thalib melakukan hubungan terlarang dengan janda itu. Mendengar kabar buruk itu tentu saja orang-orang yang tadinya suka mulai benci dan tidak menyangka, padahal selama dua hari itu dia sudah sangat dekat dengan warga desa, hanya ada beberapa orang yang tidak percaya dengan kabar itu, yaitu Kakekku, dia adalah orang yang diberi nama Muhammad oleh Thalib."


"Melihat warga yang mulai marah dengan Thalib, tetua pun menyuruh utusan untuk membawa Thalib ketengah desa supaya disidang, padahal dia tidak melakukan apa-apa, berapa kali pun dia membantah tidak ada yang percaya, parahnya saat itu Thalib tidak bisa melakukan apa-apa kerna tidak ada saksi, namun yang paling tidak masuk akal hukuman yang diberikan tetua adalah hukuman mati. Tentu saja mendengar itu semua orang terdiam bingung kenapa hukuman mati, padahal biasanya tidak sampai begitu. Ditengah kebingungan tetua malah langsung memerintahkan untuk segera melaksanakannya.”


“Kok bisa begitu, padahal semuanya harus mendapat kesepakatan warga dulu,” sahut Ayumi.


“Tetua sengaja memanfaatkan itu, sebagai kelengahan para warga, dengan begitu dia bisa leluasa melaksanakan kehendaknya,” sahut Akira.


“Yah seperti itulah, beruntung Kakekku berani mengeluarkan pendapat dan meminta untuk dinikahkan saja, lagi pula itu belum tentu benar dan mungkin hanya salah paham, dia juga bilang kepada para warga bahwa mereka juga tahu betul bahwa Thalib adalah orang baik dan tidak mungkin berbuat begitu. Nah mendangar pendapat Kakekku para warga semua menyetujuinya kerna kebenarannya masih diragukan, hukuman itu lebih baik dari pada dihukum mati dangan kebenaran yang samar. Setelah itu mereka pun dinikahkan dengan dibantu oleh warga untuk mempersiapkan semuanya, bagi Thalib ini memang sesuatu yang tidak di inginkan, tetapi wanita yang dinikahi ini menerimanya.”


“Syukurlah ... hukumannya cuma dinikahkan, walaupun itu paksaan tapi mereka pasti juga akan bahagiakan?” ucap Ayumi merasa senang, begitu juga Chio dan Akira, sedangkan Shiro dia tersenyum.

__ADS_1


“Sudah berlalu satu kali upacara pernikahan mereka, istri Thalib terlihat berubah dari penampilannya, dia menggunakan penutup kepala seperti yang dipakai oleh Ayumi. Kakekku juga semakin dekat dengan Thalib hingga akhirnya Kakekku memeluk agama yang dibawa oleh Thalib dan itu sama seperti Akira dan Ayumi yaitu Islam.”


“Kalau begitu apakah banyak orang didesa saat itu memeluk Islam?” tanya Akira penasaran.


“Sayangnya yang kutahu hanya Istrinya dan Kakekku, maka dari itu nama mereka pun diganti dengan nama yang baik, istrinya dinamai Fauziah dan Kakekku Muhammad. Ternyata kabar ini pun terdengar lagi oleh tetua kerna ternyata utusannya masih mengawasi Thalib. Lagi-lagi Thalib dan istrinya dipanggil untuk disidang begitu juga Kakekku. Tetua bilang mereka melanggar peraturan pertama desa kita yaitu tidak boleh menyembah selain patung dan ingin dihukum mati lagi. Tapi apa yang terjadi, semua warga saat itu menolak mentah-mentah dan mengatakan tetua hanya mengada-ngada semua itu, tidak ada aturan begitu dan mereka baru saja dengar, mereka semua tidak peduli dengan apapun agama Thalib, bagi mereka itu semua tidak ada hubungannya dengan sifat kebersamaan dan mengasihi satu sama lain. Lagi-lagi Thalib selamat berkat para warga yang baik padanya. Ini terjadi kerna Thalib selau membantu mereka jika mendapat masalah dan juga menjadi guru bagi mereka.”


Tiba-tiba Osama berubah sedih. “Lalu ...  saat itu sudah sangat lama Thalib berada didesa dan dia selalu mendapat pengawasan dari tetua, banyak hal yang di sebarkan oleh tetua mengenai keburukan dirinya, tapi Thalib selalu sabar jika ada yang mencacinya, yang selalu jadi penguat sadalah istrinya dan jadi bentengnya adalah Kakekku."


"Hingga saat itu dia mengalami jatuh sakit, tetua yang jahat itu memanfatnya lagi dengan menyebar berita bahwa Thalib datang kedesa ini cuma mengincar kekayaan, tetua bilang itu terlihat dari pengetahuannya yang luas menganai desa yang kita tidak ketahui akan sumber dayanya, orang-orang yang tidak tahu menahu dan merasa Thalib tidak pernah membantunya dalam berladang maupun beternak dan lain sebagainya. Mereka ini cuma merasa iri dengan yang lain dan kerna itu mereka mempercayai kabar itu atas dasar kesal dan dengki. Kerna tidak ada yang menjelaskan dan membantah maka cerita ini terus tersebar bahkan kepada orang-orang yang sudah dibantu Thalib, mereka semua itu mudah terpengaruh dan begitu saja melupakan kebaikan Thalib. Saat itu kakekku tidak tahu menganai ini kerna dia sedang berada jauh dari desa untuk menjaga kebun mereka, sehingga tidak ada orang yang membela lagi.”


Ayumi terlihat sedih sekaligus kesal begitu juga Akira dan Chio. “Betapa mudahnya mereka melupakan kebaikan seseorang hanya kerna satu fitnah keburukan yang tak berdasar,” ucap Akira sangat marah.


“Begitulah orang-orang, hanya kerna satu keburukan beribu-ribu kebaikan bisa saja tak terlihat lagi,” sahut Chio dan di angguki oleh Ayumi, sedangkan Shiro dari tadi hanya diam mendengarkan.


“Tidak hanya itu, istri Thalib saat berbelanja selalu tidak dilayani, mereka bahkan dengan tega mengatakan tidak ingin menjual apa pun pada keluarga Thalib, dikarenakan ini istrinya tidak bisa membeli bahan makanan untuk Thalib yang sedang sakit, sudah berapa kali dia meminta untuk memberitahu Kakekku agar membela mereka dihadapan warga, namun Thalib selalu melarang kerna tidak ingin merepotkan Kakekku dia juga selalu sabar ketika menghadapi para penduduk kerna tidak menjual bahan-bahan pokok pada mereka."


“Mulai saat itu mereka semua menyesal dengan apa yang mereka lakukan terhadap Thalib yang selama ini membantu mereka, Thalib pun dikuburkan di rumah istrinya dibantu para warga desa. Mendengar kabar Thalib meninggal tentu saja tetua desa merasa senang akan hal itu dia tidak perlu takut lagi dengan apa yang akan dilakukan Thalib untuk membuat penduduk beralih dari agama leluhur keagama baru yang di bawa Thalib. Kejahatannya tentu saja tidak berhanti, dia pun membuat cerita palsu menganai Thalib, yaitu cerita yang telah kalian dengar."


"Tidak berselang lama istirinya pun jatuh sakit dan juga meninggal dunia lalu dikuburkan bersebalahan dengan Thalib. Beberapa lamanya berlalu sampai para warga mulai tak lagi memikirkan Thalib, cerita yang dia buat pun disebarkan secara perlahan hingga lagi-pagi para warga mempercayainya dan melupakan kebenarannya. Kakekku kembali murka, namun kali ini tidak ada yang percaya lagi, sudah jelas terlihat para warga berubah baik hanya kerna berharap dapat bantuan lagi dari Thalib, namun jauh didalam hati mereka sama sekali tidak ada terima kasih.”


Akira dan lainnya yang mendengar itu dibuat tak habis pikir dengan kelakuan para warga saat itu, diraut wajah mereka terlihat kemarahan dan kekesalan.


Osama melanjutkan ceritanya. “Sebelum meninggal Thalib sudah mewasiatkan barang yang dia bawa dari negeri Sabbat untuk diberikan kepada Muhammad Kakekku, hingga sebelum istri Thalib meninggal dia sudah memberikannya dan disimpan baik oleh Kakekku. Selama bersama Thalib Kakekku sudah menikah dan mempunyai dua anak yaitu ayahku dan nenek yang kalian datangi itu.”


“Lalu sekarang dimana barang peninggalan Thalib itu?” tanya Akira.

__ADS_1


Osama menggeleng. “Hari itu ayahku tak sengaja berucap tentang barang peninggalan itu, saat dia menceritakan kisah sang Thalib pada temannya yang tidak percaya, dan itu didengar oleh warga desa. Lalu malamnya dua orang pencuri datang kerumah Ayahku dan berhasil mencuri barang itu. tidak hanya itu kedua orang tua Ayahku tak sengaja terbunuh dimalam itu didepan mata Ayahku sendiri, tapi bagi Ayahku kejadian itu tidak lain ulah tetua desa yang mengatahuinya. Menurutnya tentu saja dia tidak tinggal diam dan menyuruh utusannya untuk pergi menggeledah rumah Ayahku dan berhasil mendapatkannya,” jawab Osama.


“Kenapa para warga tidak membantunya, bahkan sampai terjadi pencurian yang menewaskan dua orang?” seru Ayumi seraya sedih.


“Para warga cuma mengira bahwa itu hanya sekedar pencurian, jadi tidak ada yang tahu, Ayahku pun tak berani bilang bahwa yang hilang adalah barang berharga milik Thalib,” jawab Osama.


Akira dan Chio tertunduk lesu dan Shiro terlihat kesal. “Cih ... jadi semua barang itu sudah hilang, atau mungkin masih disimpan oleh tetua,” sahut Chio.


“Tidak ada lagi, ayahku pernah tak sengaja mendengar percakapan mereka di depan sebuah barang yang dibakar, dugaannya benar mereka lah yang mengambil lalu mengahancurkannya.”


Mereka semua tak bisa menjawab apa-apa lagi dan hanya bisa tertunduk lesu tak ada harapan, namun tiba-tiba osama tersenyum melihat mereka.


“Tetapi, saat kejadian dimalam itu, para pencuri itu panik kerna tak sengaja membunuh kedua orang tua Ayahku yang melawan mereka, Ayahku yang terbangun dari tidur melihat kedua orang tuanya terbunuh segara berlari dan mendorong orang yang memegang tas Thalib itu hingga salah satu barangnya terjatuh, setelah itu dia berteriak minta tolong hingga membuat kedua pencuri itu lari meninggalkan satu buah buku, yah itu adalah buku harian milik Thalib, dengan sigap Ayahku segera menyembunyikannya agar tidak dilihat oleh warga desa yang mulai berdatangan."


"Setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya Ayahku hidup bersama dengan adiknya seraya terus berjuang membuat cerita Thalib bisa dikenal oleh orang-orang desa, cerita itu adalah cerita asli yang diceritakan Kakek pada Ayahku.”


“Lalu pada Akhirnya cerita itu dilarang oleh tetua selanjutnya dan juga tetua sekarang?” sahut Chio.


“Yah begitulah kelanjutannya bahkan hukumannya dibunuh, tapi aku berhasil membuat hukuman hanya ditampung ditempat itu yang sekarang jadi tempat penampungan orang tua dan anak-anak yang dititipkan sementara oleh ibu dan ayahnya bekerja. Seperti itulah kejadian sebenarnya dari cerita palsu itu.”


“Maafkan kami paman, kami tidak bermaksud untuk menyuruh paman menceritakan kisah yang menyakitkan itu,” ucap Akira.


Osama tersenyum. “Tidak akulah yang berterima kasih kerna kalian sudah mau mendengarnya, sudah lama aku ingin menceritakan pada orang lain, tapi aku tidak bisa mempercayai siapapun, tapi kali ini kalian semua berhasil membuatku percaya begitu juga Ayahku, sesuai keinginan Ayahku maka kalian lah yang akan menyimpan dan memanfaatkan buku harian peninggalan Thalib ini,” jawab Osama penuh keyakinan seraya melatakkan didepan mereka semua sebuah kotak ukuran sedang membuat Akira dan yang lainnya terkejut dan tercengang melihatnya.


Disisi lain ternyata ada seorang laki-laki yang juga ikut mendengarkan percakapan mereka dia tidak lain adalah utusan tetua. "Sungguh keberuntungan itu sangat menakutkan, dengan dua kenyataan ini, bukan hanya jadi tetua ketiga aku pasti juga bisa menjadi tetua kedua atau mungkin yang pertama he he ... saatnya pergi dan mencari cara lain untuk menangkap mereka semua," ucapnya kemudian pergi.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2