
Setelah melakukan perdebatan panjang menganai apa yang ditulis Thalib mereka semua tertunduk lesu. “Sepertinya Thalib berhasil menjabak kita dengan kata-kata itu, hingga kita malah memperdebatkan hal yang tidak begitu penting,” ucap Chio.
“Padahal yang perlu kita lihat adalah bait selanjutnya,” balas Akira.
“Ketika keikhlasan telah mendaging dihati, cobaan pun datang silih berganti menguji.” Harley nampak memikirkan itu.
“Cih ... apa lagi yang perlu kau pikirkan, bukannya maksudnya sudah jelas,” seru Shiro.
“Tidak aku hanya ingin memahami lagi saja, aduh kau ini selalu tegang begitu, pantas saja Ayumi lebih menyukai Akira,” ejek Harley.
“Cih ... berisik!” balasnya marah.
Chio menggeleng. “Kalian ini masih saja bisa bercanda.”
“Oh ya Chio apa ini yang kau maksud penggambaran diri Thalib, kalau dia tidak akan mengambil harta itu?” tanya Akira.
“Menurutku seperti itulah, kalian masih ingat dengan cerita-cerita Thalib saat di negeri ini, negeri Sabbat dan juga negeri Seribu Patung, begitu banyak sumbangsihnya dalam membantu orang-orang, namun dia justru mendapat hinaan dan celotihan dari orang-orang lainya.” Chio menjelaskan.
“Keikhlasan itu sudah jadi bagian dari hatinya, namun ujian yang selalu datang berusaha mengikisnya,” sambungnya.
Harley tersenyum. “Ujian dan cobaan adalah dua kata dengan makna yang berbeda, ujian adalah sesuatu yang berhubungan dengan fisik kita, sedangkan cobaan adalah batin kita, Allah memberikan ujian dengan memberi rasa sakit pada tubuhmu, sedangkan cobaan akan menyerang tepat pada hatimu,” tunjuk Harley pada dada Chio.
Chio terperangah mendengar dan melihatnya. “Selalu ada obat dari rasa sakit itu, itu adalah cara pandang pikirmu terhadap pemberian darinya,” sambung Harley menunjuk kepala Chio.
Akira dan Shiro tampak terdiam memikirkannya. “Aku tidak tahu mau mengatakan apa, apa yang ditulis Thalib hanya terdiri dari beberapa kata, akan tetapi punya pengertian yang sangat luas,” ucap Chio terkagum-kagum.
“Oh ya Akira coba kau balik halaman berikutnya, dibagian itu aku tidak begitu mengerti cara membacanya,” sambungnya.
“A’ahh ... tentu.”
“Ketika kusampai ke negeri ini, lelaki tua mengizinkanku tinggal menempati. Ketika rumahnya hendak kuperbaiki, dia marah mengusirku tuk pergi. Ketika dua penjaga terus datang menanti, dia meminta mereka tuk tak datang lagi. Ketika matahari pagi terbit kembali, sakitnya semakin parah menggerogoti. Ketika kuyakin untuk tidak membiarkan dia pergi, namun ajalnya menjemput setalah lama dia nanti.” Baca Akira.
Mereka semua terdiam kembali memikirkan. “Hey, apa kalian punya pikiran sama sepertiku” sambung Akira menyeringai.
Chio seketika ikut tersenyum menyeringai begitu juga dengan Shiro, malang bagi Harley dia malah keheranan memandangi mereka.”Tunggu-tunggu, aku justru tidak mengerti apa yang sedang kalian pikirkan,” ucapnya.
__ADS_1
“Cih ... dasar! Tentu saja kau tidak akan mengerti, makanya kalau mau membantu kami langsung saja muncul dari awal,” jawab Shiro kesal.
“Sudah langsung jelaskan saja padaku,” balas Harley terlihat sangat penasaran.
“Apa yang barusan aku baca adalah cerita Thalib dan kakek secara singkat, ini adalah pertemuannya dan juga perpisahannya dengan kakek yang memiliki harta itu,” jawab Akira.
“Tidak diragukan lagi, ‘negeri ini’ yang dimaksud adalah negeri Matahari Ekhad, ‘Lelaki tua’ jelas sekali adalah kakek yang mengijinkan Thalib untuk tinggal di rumahnya, lalu ... saat Thalib ingin memberbaiki rumahnya yang rusak dan berlobang, dia selalu marah hingga ingin mengusur Thalib saja,” sahut Chio antusias.
Shiro tersenyum. “Cih ... ingatanku tidak akan salah, ‘dua penjaga terus datang menanti,’ bisa dipastikan, mereka adalah dua orang pertama yang ditemui Thalib di depan gerbang, hingga mereka saling kanal dan mengatahui sikap Thalib sebenarnya, aku masih ingat bagaimana salah satu penjaga selalu ditolak mentah-mentah oleh kakek ketika dia ingin membantu.”
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Harley.
“Kian hari penyakit kakek semakin parah, meskipun Thalib terus berusaha merawatnya dengan mencari obat kemana-mana, tetap saja penyakit sudah sulit untuk disembuhkan, dari awal pun dia sudah berkeinginan untuk mati saja, dan itu sesuai dengan ‘ajalnya menjemput setalah lama dia nanti’,” jawab Akira.
“Meskipun begitu, saat kita mengingat kembali dari apa yang ditulis Thalib, kebahagian dan kesedihan saat bersama kakek, terasa terukir dan terpancar disetiap hurupnya,” sambung Akira lalu diangguki Chio dan Shiro sambil tersenyum.
Akira kembali membalik halamannya dan hanya menemukan kertas kosong, “Sepertinya ini adalah halaman terakhirnya, aku akan membacakannya lagi untuk kalian,” ucapnya membuat mereka tegang.
“Ketika kalian dengar cerita ini, hendaklah berkenan ceritakan kembali. Ketika kalian dengar cerita ini, kalian tahu apa yang tersimpan di bumi, Ketika apa yang tersembunyi, biarlah hilang ditelan bumi. Ketika dua penjaga telah kalian temui, ketika anak penjaga datang menemui, ketika cucu penjaga memberi tahukan ini, ketika penerus mereka percayakan ini, maka telah diambil apa yang dicari. Ketika petunjuk telah diberi, semoga Allah datang menolongi.”
“Kalian tahu apa yang tersimpan di bumi?” ucap Akira lagi-lagi dibuat berfikir.
“Tepat sekali, semua bait ini merujuk pada harta itu, sekarang kita harus memahami, apa yang ingin disampaikan Thalib sebenarnya!” balas Chio antusias, membuat mereka semakin bersemangat.
“Ketika apa yang tersembunyi, biarlah hilang ditelan bumi. Bukankah maksudnya, Thalib membiarkan harta itu untuk tetap berada di tempatnya?” tanya Harley.
“A’ahh ... namun bisa juga Thalib menginginkan agar harta itu diambil oleh orang yang tepat, seseorang yang bisa menggunakannya dalam kebaikan,” jawab Akira.
“Kalimat itu sangat mencerminkan jika hanya ada orang tak bertanggung jawab yang memilikinya, dia sangat berharap, harta itu terus tersembunyi dan menghilang dalam perut bumi.” Sahut Chio.
“Cih ... intinya harta itu masih tersimpan di tempatnya,” seru Shiro.
“Lalu bagaimana dengan dua penjaga yang dimaksud dari bait selanjutnya?” tanya Harley.
Chio kembali memikirkan.“Anak penjaga, cucu penjaga dan penerus mereka, apa jangan-jangan mereka satu-satunya orang yang mengatahui di mana letak harta itu berada.”
__ADS_1
“A’ahh ... kita jauh berada sesudah mereka, cerita ini pasti telah mereka turunkan keanak cucu, dan sekarang kita berada dilingkaran generasi penerus mereka,” balas Akira.
“Jika keturunan dari mereka tahu di mana letak harta tersebut, artinya yang perlu kita cari dan selidiki lebih dulu adalah keturunan dua penjaga ini,” sahut Harley.
"Namun bagaimana dengan 'maka telah diambil apa yang dicari' apa maksudnya harta itu telah ada yang mengambilnya?" tanya Chio.
"Memang ada kemungkinan kalau harta itu telah diambil, mengingat jarak waktu kita dengan mereka sudah sangat jauh, dari kalimat itu Thalib menggunakan makna masa telah lalu, dia tidak ingin membuat orang yang mengetahui harta itu agar tidak terlalu berharap banyak, namun sebagai seorang yang berada dimasa sekarang kita bisa artikan dengan makna perintah 'maka ambilah apa yang dicari'," jawab Akira.
“Cih ... yang pasti temukan dua penjaga maka akan kita temukan harta itu,” seru Shiro menatap tajam.
Chio tersenyum. “Ketika petunjuk telah diberi, sekarang, usaha dan doalah yang akan mendatangkan pertolongan Allah.” Mendengar itu Akira dan Harley mengangguk dan tersenyum saling menatap senang.
*Krrakk!
Tiba-tiba terdengar suara dari luar tenda, lalu disertai raungan kucing.
“Siapa itu?” teriak Cho kaget.
Harley pun beranjak dari duduknya berjalan menuju depan, sedangkan Shiro berjalan melihat ke belakang tenda. Harley pun tidak menemukan apa-apa, sedangakan Shiro hanya melihat seekor kucing tengah menjilati tubuhnya, dia pun terlihat marah meraung serta hendak menyerang ketika melihat Shiro.
Shiro kaget dan segera menutup tenda, Akira, Chio, dan Harley pun menatap seperti berharap sesuatu pada Shiro yang sedang kaget mengelus dada. “Cih ... bukan apa-apa hanya seekor kucing,” ucapnya mengalihkan.
“Oh ya di mana yang lain?” tanya Akira.
“Oh, mereka masih sibuk dengan pertemuan keluarga, jadi kita biarkan saja mereka dulu,” jawab Chio.
“Bagaimana dengan Arata si pembawa pesan?” tanya Harley.
“Dia sedang bersama Akiyama di luar kota,” jawab Chio.
“Cih ... lalu bagaimana dua orang pekerja baru tadi?” sahut Shiro.
“Sebelum kita berkumpul tadi, mereka bilang baru mau pulang, tapi aku tidak tau di mana mereka tinggal,” jawab Chio lagi.
“Ada apa dengan mereka?” tanya Akira penasaran melihat Shiro sangat serius.
__ADS_1
“Cih ... saat Chio menyebut nama Thalib di hadapan mereka, aku tak sengaja melihat mereka sangat kaget seolah takut ketika kita mengetahui tentang Thalib sebenarnya,” jawab Shiro dan mereka pun saling menatap heran.
-Bersambung-