
Saat itu mereka telah duduk bersama mengahadap kakek yang akan menceritakan pada mereka tentang Thalib di negeri Matahari Ekhad.
Wanita tua yang Akira temui itu ternyata adalah isteri dari kakek itu, saat itu dia menghampriri mereka membawakan minuman. “Bagaimana tentang anak kita?” tanyanya.
“Tidak ada yang perlu kita Khawatirkan, mereka bilang akan segera memulangkan orang-orang yang belum kembali itu, namun sebaiknya kita semua berharap bahwa yang datang itu adalah anak kita nantinya,” jawab kakek dengan tenang.
“Yah ... aku sangat yakin ibu pasti akan kembali!” sahut Naya yang juga ikut duduk bersama.
“A’ahh ... ibu mana yang tidak rindu dengan anaknya, dia pasti ingin segera pulang menemuimu,” jawab Akira.
Naya tersenyum den mengangguk menatap Akira senang, melihat itu Chio pun ikut senang. “Bagaimana kalau Kakek segera menceritakan soal itu pada kami,” ucap Chio.
“Baiklah kalian semua dengarkan baik-baik jika ada yang mengantuk maka akan aku pukul dengan tongkat ini!” jawab kakek itu membuat mereka ketakutan.
“Kalau begitu aku ingin membuatkan sesuatu untuk kalian,” sahut nenek itu lalu kemudian pergi ke dapur.
“Saat mendekati siang hari di negeri Matahari Ekhad, Thalib baru saja sampai di depan gerbang dengan kuda miliknya, Thalib heran saat melihat gerbang itu tertutup rapat, dan diluarnya dijaga oleh dua orang yang terlihat takut. Melihat hal itu Thalib pun turun dari kendaraannya,” ucap kakek mulai bercerita.
Flashback on
Thalib berucap pada mereka. “Salam kenal para penjaga, aku adalah Thalib murid dari Alhudari Bik yang pernah datang kesini.”
“Pe-pergilah! Kau lebih baik tidak datang kesini.” Jawab salah satu penjaga ketakutan membuat Thalib heran.
"Wo-woy ... kenapa kau bicara begitu, dia itu tamu istimewa,” jawab yang lain menegur.
“Maaf atas kelancangan kami, tapi apa benar kau adalah muridnya?” sambungnya bertanya.
Thalib tersenyum dan hendak mengambil sesuatu dari tasnya. “Maaf! Bukan berarti kami tidak percaya, namun sebagai seorang yang berhati-hati, jadi kami harus sangat yakin apa kau punya hubungan dengan Alhudari,” sambungnya lagi merasa tak enak.
“Tidak apa-apa, memang saharusnya kalian begitu sebagai penjaga,” jawab Thalib lalu menyodorkan sepucuk surat.
Penjaga itu kaget dan tak percaya. “Sekali lagi! kami sangat minta maaf atas kelancangan kami!” ucap penjaga itu membungkuk hormat.
“Jangan lakukan itu ... beridirilah,” ucap Thalib memegang kedua pundaknya.
Penjaga satunya lagi nampak terus memandangi Thalib dengan ketakutan.
__ADS_1
“Wo-woy apa yang kau tunggu cepat bukakan gerbangnya!” suruh penjaga satunya tengah berusaha membuka sendiri.
Setelah pintu gerbang itu dibuka Thalib menggiring kudanya untuk masuk, dia melihat-lihat kesekitar dengan senyum terukir di wajah, namun orang-orang yang berada tak jauh dari gerbang nampak memandang Thalib dengan tatapan tak suka, bebarapa dari mereka bahkan tengah membicarakannya dengan wajah kesal.
Melihat hal itu Thalib hanya bisa memberikan senyum ramah pada mereka. “Apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini, aku merasa ada yang salah,” batin Thalib.
Thalib terus berjalan dan tiba-tiba dia melihat seorang pengemis laki-laki tua duduk di bawah pohon. Melihat itu dia segera berhenti dan menghampiri.
“Apa yang terjadi, kenapa tuan duduk disini menjadi seorang pengemis, padahal kabar yang kudengar negerimu sangat kaya.”
Pengemis itu mendongak lalu tersenyum. “Daun akan layu ketika tubuhnya di gerugoti oleh ulat, namun daun juga bisa layu kerna dia telah menua, jadi kau pilih yang mana?”
Thalib heran mendengarnya. “Kalau gitu aku memilih yang kedua.”
Pengemis itu kembali tersenyum. “Jika demikian maka beri aku sedikit uang atau pun makanan, dengan begitu kudo’akan semoga engkau bisa panjang umur serta hidup damai di negeri para pemimpin yang dermawan.”
“Ambilah ini tuan,” ucap thalib seraya menyerahkan roti dan koin emas, “semoga doamu untukku juga berlaku untukmu,” sambungnya.
Pengemis itu pun memakan roti tersebut dengan lahap, Thalib tersenyum dan kembali melanjutkan perjalanan menuju istana yang telah terlihat menjulang tinggi.
Saat sampai distana Thalib kembali dikejutkan dengan para pengawal yang mengusir seorang peria dari istana.
“Kau tidak apa-apa,” ucap Thalib seraya membangunkan.
“Yah terima kasih, aku tidak apa-apa,” jawabnya sambil memegang erat kantong kecil berisi koin.
“Hey siapa kau, apa kau ingin menjual hasil panenmu juga hah!?” tanya salah satu pengawal itu terlihat sombong.
“Liat baju yang dia kenakan bagus juga ya, mungkin kita bisa mendapatkannya kalau raja menginginkannya ha ha ..." jawab salah satunya.
Thalib hanya tersenyum. “Tidak, aku baru saja datang ke negeri ini dan ingin bertemu raja kalian,” mendengar itu kedua penjaga itu tiba-tiba terdiam dan berjalan menghampirinya.
“Woy cepat pergi!” suruh pengawal satunya pada petani itu.
Wajah petani itu berubah ketakutan dan segera pergi. “Kamu cepat ikut kami!” sambungnya
Setelah itu mereka pun sampai di hadapan raja. “Izin Tuan Raja, dia bilang dia adalah seorang musafir yang baru datang,” ucap pengawal tadi menghadap raja yang tengah asik bercanda dengan para wanitanya.
__ADS_1
“Hoo ... benarkah, cepat perkenalkan dirimu,” ucap raja muda itu.
“Perkenalkan Tuan nama saya Thalib murid dari Alhudari Bik, kedatangan saya disini untuk melanjutkan perjalanannya,” ucap Thalib.
“Hoo ... murid si orang itu ya, bagaimana kabarnya sekarang?” tanyanya.
“Dia sudah lama meninggal dunia,” jawab Thalib.
“Hemm ... syukurlah,” jawabnya pelan hampir tak terdengar.
Thalib tersentak, “Apa yang baru saja anda ucapkan?”
“Hah ... kau tak dengar, maksudku aku turut berduka atas itu,” jawabnya.
“Oh yah, bagaimana negeri Soma yang kau lalui?” sambungnya mengalihkan.
“Masih seperti dulu, mereka sangat tertutup.”
“Begitu ya, aku tidak tertarik dengan negeri miskin itu, oh ya ngomong-ngomong apa yang kau bawa dalam tasmu?”
“Hanya pakaian dan perbekalan, sekarang sudah sangat sedikit jadi aku mau tinggal di negeri ini untuk beberapa hari.”
“Hey kalian geledah tasnya!” perintah raja pada pengawal dan mereka pun melaksanakannya.
Thalib terkejut, namun dia memilih membirkannya. “Kami menemukan koin emas Tuan,” ucapnya sambil memegang kantong kecil.
“Cepat bawa sini!”
Thalib kembali terkejut. “Maaf Tuan itu milik saya untuk keperluan di sini.”
“Apa yang kau ucapkan, semuanya adalah milikku, apa kau tidak mengerti arti pemimpin, jika kau berada di negeri orang maka apa yang kau punya adalah milik raja yang punya negeri,” ucapnya.
“Sepertinya anda keliru tuan, apa yang dipunyai seorang raja adalah milik para rakyatnya, pemimpin bertugas untuk mensejahterakan rakyatnya dari semua yang dia kuasai,” jawab Thalib tanpa ragu.
“Hoo ternyata kau berani juga ya menasehati raja yang baru kau temui, pengawal pegang dia!” pengawal itu sedikit ragu, namun dengan terpaksa mereka menurutinya.
Thalib pun di tahan oleh dua pengawal. “Mungkin kau perlu dipukul oleh tengan seorang pemimpin agar kau bisa mengerti apa arti sesungguhnya seorang pemimpin,” ucap raja itu ingin melayangkan pukulannya.
__ADS_1
“Cukup sampai disitu Nashif, namamu tak mencerminkan jati dirimu,” ucap seorang laki-laki yang terlihat lebih tua darinya, mendengar itu dia pun berhenti dan menatap kesal pada laki-laki yang memanggilnya.
-Bersambung-