
Saat itu Kanzo telah menceritakan semua kebenarannya, Akira dan lainnya pun kini mulai mengerti dengan apa yang telah terjadi pada Kanzo, mulai dari masalah di negeri mereka sampai diperjalanan menuju negeri orang.
Saat mereka sudah paham, Chio pun saat itu langsung memberitahukan soal Ken yang telah hilang jatuh ditebing ujung desa, mereka yang mendengar itu tertunduk dalam diam, lalu Akira pun menceritakan perihal dirinya dengan dibantu oleh Ayumi, Shiro, dan juga Chio agar Kanzo bisa mengerti dan mempercayainya.
Kanzo yang pertama kali mendengar hal itu sungguh membuatnya tak percaya, akan tetapi melihat keseriusan mereka membuatnya sedikit membuka hati dan pikiran, ditambah lagi perihal Akira yang memiliki banyak pengatahuan tentang Islam.
Akira menyerahkan sebuah surat. “Paman, ini dari tetua kedua, kakak paman sendiri yang menyerahkan ini pada kami.”
Kanzo menyambut lalu membukanya secara perlahan. “Pulanglah dasar bodoh, negeri kita telah berubah kerna mereka yang sekarang ada dihadapanmu itu!” baca Kanzo seketika kaget.
“Ehh …!” teriak Chio dan Ayumi.
“Jadi selama ini kita cuma bawa surat jauh-jauh dan isinya hanya begitu!” teriak Chio.
“Cih … tidak perlu kaget begitu, emang kalian balum membacanya,” sahut Shiro.
“Dasar kau ini Shiro tak tahu malu,” Ayumi meledeknya.
“Ehh apa!” Shiro kaget.
“Ya ampun … apa pun isinya yang penting kita sudah menyelesaikan amanah,” Jawab Akira membuat Kanzo tersenyum bangga.
Setelah hari mulai siang mereka pun mengikuti Kanzo untuk berkeliling kota. Disepanjang perjalanan lagi-lagi beberapa penduduk tak hentinya memberikan makanan dan minuman kepada mereka. “Aku sengaja mengajak kalian berkeliling saat seperti ini, kerna para warga akan membagikan makanan untuk orang-orang yang istirahat bekerja,” ucap Kanzo pada mereka yang tengah duduk telah selesai makan bersama diteras rumah warga.
“Apakah setiap hari mereka akan melakukan ini?” tanya Chio.
“Yah … hal seperti ini mereka lakukan saat pagi, siang dan juga petang. Mereka selalu melakukan itu setiap hari, kalian pasti akan betah berada disini.”
“Jadi … apakah itu alasan paman tidak pulang?” tanya Ayumi.
__ADS_1
Kanzo tersenyum. “Alasannya hanya satu, jika tidak ada orang dari negeri kita yang datang ketempat ini maka negeri kita pasti belum berubah, maka dari itu aku tidak akan pulang, tapi sekarang beda kalian bisa datang kesini itu artinya negeri kita sudah mulai berubah.”
Akira dan lainnya saling menatap. “Cih ... Paman harus pulang untuk melihatnya sendiri, kami di sini juga tidak akan lama kerna kami harus melanjutkan perjalanan nantinya,” sahut Shiro.
“Tenang saja nanti aku akan kembali setelah membantu kalian menemukan petunjuk lainnya di negeri ini, nah kalau begitu mari kita lanjutkan berkeliling kota aku ingin memperlihatkan sesuatu pada kalian.” Kanzo berdiri dan mempersilahkan mereka lebih dulu, lalu dia juga berterima kasih pada pemilik rumah.
Saat itu mereka telah sampai ketempat yang ingin diperlihatkan. “Disinilah kami melaksanakan peribadatan yang dilaksanakan tujuh hari sekali, aku sengaja membawa kalian kesini untuk menanyakan apakah tempat ini sudah sesuai dengan tampat ibadah agama Thalib,” ucap Kanzo menunjuk sebuah rumah yang megah dan indah dengan hiasan kayu berukir.
“Masuklah kedalam aku akan menceritakan tentang negeri ini,” ucap Kanzo pada mereka yang sedang terperangah kagum.
Saat sampai di dalam mereka semua pun duduk melingkar saling berhadapan. “Oh ya Paman aku dengar dari Kak Hana negeri ini punya dua pemimpin?” tanya Ayumi lebh dulu.
“Sesuai yang dikatakan Hana, memang negeri ini terbagi menjadi dua wilayah, yaitu kota Megumi dan kota Shukufuyu, aku menjadi tetua di kota Megumi dan seorang raja yang memimpin di kota Shukufuyu, kalian bisa melihat sendirikan bagaimana ada sebuah dinding pemisah dekat rumahku. Alasan itu dibuat atas dasar pembagian wilayah agama Thalib dan penyambah matahari.”
Mereka semua tersentak kaget. “Berarti rumor yang tersebar lewat cerita Thalib sang musafir itu benar, bahwa di negeri Sabbat ada penyembah matahari?” tanya Chio penasaran.
“Benar, negeri ini lebih dulu didatangi oleh orang-orang dari negeri Matahari Ekhad, dan negeri itu adalah tujuan kalian selanjutnya.” Mereka semua terdiam memikirkan.
“Iya paman kami juga tau hal itu, kami harus mengumpulkan petunjuk tentang Thalib terlebih dulu dinegeri ini,” jawab Chio.
“Syukurlah kalau begitu, tinggalah sedikit lebih lama di negeri ini,” ucap Kanzo dan mereka mengangguk.
“Baiklah Paman, kami mau kembali ketempat Gozali dan Hozy, kami ingin membicarakan hal lainnya pada mereka,” ucap Chio.
Kanzo mengangguk dan mereka pun pulang berpamitan hingga saat sampai dirumah, senja pun telah tiba. Seperti biasanya Akira dan lainya menunaikan Shalat magrib berjamaah, lalu dilanjutkan makan malam bersama.
Setelah selesai makan mereka pun duduk berkumpul bersama di tengah ruang tamu. “Aku sangat terkejut ketika tau kalau tetua ternyata adalah orang yang kalian cari,” ucap Hana ikut duduk bersama mereka sedangkan Shiro lebih memilih tidur tak jauh dari mareka.
“Yang kami tau tetua adalah orang asli dari desa kami, namun ternyata dia berasal dari tempat kalian,” sahut Gozali.
__ADS_1
“Kami juga tidak mengira akan hal itu, namun yang pasti kami bersyukur telah berhasil menyampaikan amanah dari kakaknya,” jawab Akira menatap Chio.
“Terlapas dari itu semua, adahal penting lagi yang ingin kami tanyakan,” ucap Chio membuat tiga bersaudara itu penasaran.
“Kami ingin mendengar cerita Thalib yang kalian tahu,” sahut Ayumi.
“Oh tentu saja, Hozy ceritakan pada mereka! Aku ingin keluar dulu!” panggil Gozali pada Hozy yang sedang mengganggu Shiro.
Hozy tiba-tiba bersemangat dan seketika berdiri mengahadap mereka semua. “Kalian semua dengarkan baik-baik ini adalah cerita Thalib yang memutuskan pergi menuju negeri selanjutnya tanpa peta!”
Mereka semua mulai mendengarkan dengan seksama. “Saat itu Thalib dan warga lainnya sedang memanen sayur-sayuran di kebun, beberapa dari mareka ada yang baru datang ada juga yang sedang beristirahat. Saat itu Thalib bersama dengan kakek buyut kami, mereka sedang memanen kentang.”
“Entah apa yang terjadi tiba-tiba terdangar suara burung bersahutan di atas mereka, Thalib berdiri dan mencoba melihat ke atas, dari jauh ternyata banyak burung yang terbang berkelompok dari arah Thalib datang menuju arah sebaliknya, hal itu memantik rasa penasaran Thalib bahwa mungkinkah burung-burung itu akan terus terbang untuk menuju suatu negeri yang tidak diketahui letaknya oleh mereka semua.”
“Thalib berlari mengikuti burung itu meskipun dia tak mungkin bisa mengejarnya, burung itu pun terbang terus menjauh sedangkan Thalib terus mengikuti burung itu hingga menaiki bukit. Hampir terjatuh beberapa kali tak menyurutkan langkahnya untuk melihat burung itu pergi kearah mana, saat sampai dipuncak Thalib pun bisa melihat dengan jelas burung itu pergi menuju matahari terbit.” Hozy bercerita layak seorang pencerita handal. Dia memperagakan semuanya hingga membuat Akira dan lainnya di buat tertawa.
“Lalu apa yang dilakukan Thalib selanjutnya?” tanya Ayumi.
“Melihat hal itu tentu saja membuatnya bertambah yakin bahwa ada negeri lainnya yang belum pernah di datangi gurunya, yaitu orang yang menolong negeri sabbat hingga menjadi makmur seperti sekarang. Keesokan harinya Thalib pun mencoba bertanya pada semua penduduk apakah gurunya itu pernah memberi tahu atau pun menyinggung soal negeri yang mungkin berada tak jauh dari mereka selain negeri Matahari Ekhad, namun sayang tidak ada satupun yang pernah mendengar soal itu. Tidak menyerah dia pun ingin melanjutkannya besok.”
“Ayah Kakek kami saat tahu itu mereka melarang Thalib, kerna terlalu berbahaya baginya, akan tetapi Thalib berhasil meyakinkan mereka hingga akhirnya disetujui. Saat besoknya dia pergi kepasar untuk membeli keperluannya saat nanti memutuskan untuk pergi, dia juga sempat bertanya lagi pada penjual pisau dan alat untuk bertani.”
“Apakah dia tahu sesuatu?!” tanya Akira.
“Dia bilang bahwa dia pernah dengar soal guru Thalib itu berucap tentang burung, katanya burung adalah hewan yang paling berusaha dan bertawakkal, dia akan pergi mencari makan saat pagi dan akan kembali kesarang saat petang, besoknya dia melakukannya lagi, setiap hari dia terus melakukan itu. Padahal kenapa dia tidak menyimpan makanan saja untuk besok sehingga dia tidak perlu mencarinya setiap hari.”
“Mendengar ucapan itu membuat Thalib bingung dan tidak mengerti apa maksudnya dan bertanya pada penjual itu. Dia pun menjawab alasan burung melakukan itu kerna dia tidak pernah takut kalau dia tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah, burung selalu yakin bahwa Allah telah memberikan rezaki yang cukup padanya. Setelah mendengar ucapan laki-laki penjual itu Thalib pun paham apa yang ingin disampaikan, bahwa dia tidak perlu takut dan harus yakin berserah diri pada Allah. Kerena hal itu, akhirnya Thalib berangkat dari negeri Sabbat menuju negeri yang kini kita kenal dengan negeri Seribu Patung.” Hozy pun menunduk hormat pada mereka tanda selesai bercerita.
Akira dan lainya pun bertepuk tangan pada Hozy sambil memujinya. “Ternyata begitu, akhirnya kami semua tahu seluruh pengorbanan Thalib, tapi adahal yang masih aku ingin tahu, siapa sebenarnya guru Thalib dan orang yang menolong negeri kalian, aku sangat penasaran kerna dia selalu muncul dicerita tentang negeri Sabbat,” ucap Chio.
__ADS_1
“Kami juga tidak begitu tahu orang seperti apa dia, bahkan asal usulnya pun masih balum di ketahui, namun orang-orang kami selalu memanggilnya dengan Alhudari Bik dari negeri Ilmu,” jawab Hana dengan bangga.
-Bersambung-