
Flashback on
Saat itu adalah pagi hari Ahad yang mana Akira dan lainnya hendak berangkat melanjutkan perjalanan, terlihat Shiro sedang menggering kuda mereka menuju Akira, Chio dan Ayumi yang sedang berkemas.
“Jika seandainya kita berhasil sampai di negeri itu, lalu mereka menanyakan banyak hal, apa kita harus menjawab semua dengan jujur?” tanya Ayumi.
“Dalam hal itu, menurutku sebaiknya kita katakan yang sebanarnya,” jawab Chio.
“A’ahh … hal seperti itu memang tidak akan lepas dari kita sebagai pendatang, namun sebaiknya kita mengatakan hal yang berhubungan dengan asal kita saja, untuk masalah agama kita, sebaiknya kita rahasiakan dulu, agar tidak terjadi seperti yang kita alami kemarin di persidangan,” ucap Akira dan mereka mengangguk.
Flashback of
Chio yang ternyata lebih dulu sampai di depan mereka segera turun dan mengangkat tangan kanannya menyapa. “Assalamualikum!” teriak Chio bersemangat.
Akira dan Ayumi seketika kaget mendengarnya. “Chio!” teriak mereka serempak, sedangkan Shiro menggeleng dan menghela nafas.
Gozali dan Hozy justru lebih parah kedua mulut mereka menganga mendengar ucapan Chio. “Waalaikum salam,” ucapnya pelan sekaligus heran tak percaya apa yang mereka barusan dengar.
Kini giliran Akira, Ayumi, Chio dan Shiro yang dibuat kaget sekaligus tak percaya. “Eehhh …” teriak mereka sedangkan Shiro tersenyum.
“Kenapa kalian bisa tahu tentang ucapan itu?” tanyak Akira dan Gozali serempak, sedang Chio dan lainnya masih heran.
“Ano … lebih baik kita pulang dulu dan ajak mereka menginap dirumah kita, ini sudah mau malam,” ucap Hozy pada Gozali.
“Baiklah kita lanjutkan nanti dirumah saja, sekarang kalian semua ikut kami kerumah untuk beristirahat,” pinta Gozali dan mereka semua mengangguk.
sesampainya dirumah Gozali dan Hozy membantu mengangkat barang-barang milik Akira dan lainnya, sedangkan Shiro sedang mengikat kuda mereka. Setelah selesai Akira dan lainnya dipersilahkan untuk masuk kerumah dan membersihkan diri.
Saat itu Akira, Chio, dan Ayumi sedang melaksanakan Shalat magrib berjamaah di ruang tamu yang cukup luas, sedangkan Shiro tengah duduk bersandar seraya memperhatikan rumah kedua penjaga itu yang sangat bersih dan rapi, Shiro nampak heran kerna dari tadi tidak melihat siapa-siapa dirumah itu selain kedua penjaga tersebut.
Disisi lain Hozy sedang berjalan kearah mereka dan malah dibuat kaget saat melihat akira dan lain sedang Shalat. “Gozali! Kak Hana! Liha-lihat” ucapnya seketika berlari.
“Kak Hana? Pastas saja rumah ini sangat rapi,” ucap Shiro tersenyum.
Diluar nampak seorang wanita tengah heran melihat ada kuda yang terikat, sedangkan Gozali mundar mandir diluar seolah tengah menunggu seseorang.
“Gozali, ini kuda milik siapa?”
“Kak Hana! pas sekali, aku sudah lama menunggumu?”
“Ada apa, kenapa kau terlihat tegang?”
“Ini soal pemilik kuda itu, mereka adalah seorang musafir yang baru saja datang.”
“Musafir! kenapa tidak kau bawa mereka pada raja atau tetua?” tanya Hana.
“Aku yakin mereka bukan dari negeri tetangga kita, kerna mereka mengucapkan salam seperti Ayah dan kakek buyut kita.”
Hana tersentak. “Kak Hana, Gozali! Lihatlah apa yang mereka lakukan,” teriak Hozy mengagetkan mereka.
__ADS_1
Mendengar itu membuat mereka penasaran dan mengikuti Hozy yang berlari lebih dulu.
Alangkah terkejutnya Gozali dan Hana ketika melihat Akira dan lainnya sedang Shalat seolah tahu apa yang tengah mereka lakukan, hingga seketika itu juga Gozali berjalan cepat menghampiri. Melihat itu tentu saja dengan sigap Shiro menghadangnya.
“Apa yang kau lakukan menyingkirlah dari hadapanku?”
“Cih … akulah yang seharusnya bertanya padamu, apa yang ingin kau lakukan pada mereka.”
“Ini bukan urusanmu, aku hanya ingin bertanya pada mereka yang sedang melakukan itu,” ucap Gozali tegas.
“Cih … dasar! ternyata begitu, baiklah kau bisa menanyakan setelah mereka selesai, saat ini mereka tidak boleh diganggu,” ucap Shiro seraya kembali duduk.
“Dia benar Gozali, mereka sedang beribadah, tidak sepantasnya kita mengganggu mereka,” ucap Hana sedangkan Hozy nampak kebingungan.
Cukup lama bagi Gozali menahan rasa penasarannya kerna setiap kali dia tanyakan pada Shiro, Shiro selalu menjawab belum. “Apa mereka sudah selesai?”
“Cih … diamlah dan lihat sendiri saja, ketika mereka selesai berdoa maka kau bisa menemui mereka,” ucap Shiro sedikit kesal.
Kerna tak sabaran lagi Gozali pun segera berjalan menghampiri, Shiro ingin segera menahan, namun beruntung saat itu Akira dan lainnya nampak telah selesai hingga Shiro mengurungkan niatnya.
Gozali berdiri dihadapan Akira dan lainnya. “Siapa kalian sebenarnya?” ucapnya menatap serius.
Akira tersenyum memandangnya. “Kami adalah seorang muslim dari negeri Seribu Patung,” jawabnya tenang.
Gozali , Hozy dan Hana kaget tak percaya. “Awalnya kami ingin menyembunyikan soal ini untuk sementara, tapi kerna kalian tahu tentang salam itu, maka kami mempercayai kalian adalah orang yang beragama seperti Thalib,” ucap Chio.
“Itu artinya kalian adalah keturunan dari orang-orang dimasa Thalib,” sahut Hana.
Mereka semakin heran. “A’ahh … tidak baik bagi kita saling berbicara satu sama lain tanpa mengetahui nama masing-masing, guruku pernah bilang, orang yang berbincang satu sama lain namun tak mengatahui siapa nama masing-masing maka percakapan mereka seperti percakapan orang gila,” ucap Akira tersenyum.
“Perkenalkan namaku Muhammad Akira,” sambungnya bersalaman dengan Gozali.
“Chio Alfahrezi” sahut Chio tersenyum lebar.
“Namaku Ayumi Fauziah,” ucapnya tersenyum.
“Cih … Shiro,” ucapnya seraya mengangkat tangan.
“Sini-sini, namaku Hozy ha ha …” ucapnya seraya mengangkat tangan, melompat dan tertawa.
“Hozy,” ucap Hana menggeleng dan tersenyum, “aku Hana, panggil saja Kak Hana, kerna sepertinya aku paling tua dari kalian.”
Gozali heran melihat mereka semua hingga terdiam, melihat itu Akira segera mengeratkan salaman mereka, sehingga membuat Gozali mengerti apa yang di inginkan Akira. “Gozali!” ucapnya sedikit tersenyum.
“Emm … Jika kalian baru tahu dari Akira, maka kenapa kalian bisa tahu tentang Thalib sang musafir,” ucap Hana.
“Itu adalah cerita legenda yang terkenal dinegeri kami,” jawab Ayumi.
“Legenda kalian bilang, Thalib itu adalah orang yang benar adanya,” sahut Gozali sedikit emosi.
__ADS_1
“Awalnya kami berfikiran seperti itu kerna orang-orang menganggap itu adalah cerita palsu, hanya legenda untuk anak-anak, hingga kami berhasil menemukan kebenarannya bersama Akira,” ucap Chio.
“Bahkan tetua negeri kami, sampai melarang dan menyembunyikan cerita itu supaya tidak tersebar, ditambah lagi tetua dimasa Thalib membuat ulang cerita tersebut dengan direkayasa hingga cerita asli pun di anggap palsu,” sambung Chio.
“Palsu!” sahut Hozy sedikit kaget.
“A’ahh … beruntung seorang kakek keturunan dari murid Thalib terus menjaga dan berusaha untuk membuat cerita itu dipercayai orang-orang,” sahut Akira.
“Cih … jika kami harus menceritakan semuanya maka tidak akan cukup semalaman, tidak bisakah kalian melihat dengan jelas kami berhasil sampai ke negeri ini kerna peninggalan Thalib yang tersisa. Setidaknya biarkan kami beristirahat malam ini,” sahut Shiro kesal.
“Shiro! Kita ini tamu, jaga sopan santunmu!” Ayumi marah, sedangkan Shiro merasa lelah dan menggeleng.
“Ya ampun ... aku sampai lupa, Ayumi maukah kau membantuku menyiapkan makan malam untuk kita bersama,” pinta Hana. Ayumi mengangguk dan mengiyakannya, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju dapur.
“Muehehe … apa aku boleh ikut membantu kalian?” ucap Hozy pada Hana dan Ayumi saat melewatinya.
“Kau diam disini saja, dan jangan berfikir macam-macam!” pukul Hana pada atas kepala Hozy hingga membuatnya merengek kesakitan, sedangkan Ayumi dibuat tertawa melihat kelakukan kakak beradik itu.
Ayumi dan Hana berjalan menuju dapur. “Kak Hana mau masak apa untuk malam ini,” tanya Ayumi.
“Entahlah aku juga masih bingung, kalau kau mau masak apa?” tanya Hana seraya membuka pintu dapur membuat Ayumi tersntak kagum melihat berbagai macam bahan makanan, dari sayuran, ubi-ubian, buah-buahan dan bahan pokok seperti beras dan gandum tersusun rapi dalam sebuah wadah yang terbuat dari kayu berbentuk peti. Sungguh sebuah kelimpahan dan kemakmuran menyertai negeri mereka.
Saat itu Akira dan Chio menceritakan banyak hal tentang negeri Seribu patung dan juga kisah Thalib sang musafir di negeri mereka kepada Hozy dan Gozali, mereka nampak mendengarkan dengan seksama dan mulai sedikit mengerti, sedangkan Shiro tengah berbaring memejamkan mata kerna merasa lelah.
“Oh … penjaga yang ada dalam cerita itu adalah Kakek buyut kami!” ucap Hozy.
“Itu artinya, kalian adalah keturunan dari penjaga yang membantu Thalib,” jawab Akira.
Gozali mengangguk. “Benar, dia adalah murid dari Thalib dan Bergama Islam, berkat itu kami sekeluarga juga menjadi muslim sepertinya, hanya saja, pengetahuan kami tentang Islam sangatlah sedikit,” ucap Gozali.
“Kalau begitu kalian sangat tahu betul begaimana kisah Thalib di negeri kalian ini?” ucap Chio.
“Seperti yang kalian ceritakan, itu adalah salah satunya, namun masih ada beberapa lagi,” jawab Hozy.
“Baguslah sepertinya kami berada pada orang yang tepat, bisakah kalian menceritakannya pada kami, kerna cerita itu akan sangat berharga sebagai petunjuk,” balas Chio, Gozali dan Hozy mengangguk setuju.
“Cih … kalian ini berisik sekali dari tadi, kalau menceritakan hal itu akan membutuhkan waktu berapa lama lagi, aku ngantuk dan mau tidur,” sahut Shiro mengagetkan Hozy.
“Apa dia memang seperti itu?” tanya Gozali seraya menunjuk Shiro yang berbaring.
“A’ahh … Maaf ya, dia memang begitu,” ucap Akira seraya tersenyum.
“Yah … kalian tidak perlu khawatir biar aku yang memberi pelajaran nanti padanya,” sahut Chio.
Hozy mendekati Shiro dan menengoknya untuk melihat apakah Shiro Kembali tertidur. “Cih … lebih baik kalian tanyakan saja soal Kanzo!” ucapnya seketika berduduk membuat Hozy kaget menghindar.
“Ya ampun aku sampai lupa hal itu, kita sudah mendapatkan amanah dari tetua kedua, jadi leih baik kita selesaikan ini terlebih dahulu,” jawab Akira dan di angguki Chio sedangkan Gozali dan Hozy nampak bingung.
“Emm … apa dinegeri kalian ini ada seorang musafir yang pernah datang dari negeri yang sama seperti kami, dia adalah Kanzo,” ucap Akira bertanya.
__ADS_1
Gozali berusaha mengingat. “Aku rasa tidak ada seorang pun selain kalian yang datang dari negeri Seribu Patung, bahkan di tempat kami tidak ada yang namanya Kanzo,” jawab Gozali membuat Akira dan lainnya seketika dibuat kaget dan tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
-Bersambung-