
Setelah berpisah dengan Gozali dan lainnya di gerbang pembatas kota, Akira dan lainnya pun telah sampai di rombongan orang-orang yang akan segera berangkat, yang mana saat itu mereka semua sudah berkumpul di depan istana.
“Kenapa kalian jalannya lama sekali cepat ke sini dan segera masuk kekereta,kita akan segera berangkat!” teriak Daichi memerahi mereka yang berbincang dan berjalan santai.
“Eh apa, bukannya kita berangkatnya saat bayangan arah jam Sembilan,” jawab Chio berlari menghampiri Daichi.
“Dasar bodoh, waktu yang kalian punya itu tidak seakurat milik kami, lagi pula di mana kalian menemukan cara itu,” jawab Daichi.
“Cih ... paling juga beda sedikit,” sahut Shiro.
“Maafkan kami sudah merepotkan,” ucap Ayumi.
“Astaga Adinda tidak apa-apa, ayo cepat segara naik kekereta,” jawab Daichi tak menghiraukan membuat Shiro menatap kesal.
“A’ahh ... apa yang dia katakan mungkin ada benarnya, nyatanya mereka punya pengetahuan tentang matahari lebih luas,” ucap Akira pada Chio.
“Yah, setelah ini kita pasti akan di kejutkan dengan banyak hal lagi tentang negeri mereka,” jawab Chio.
“Kalian ini dari tadi bicara apa sih, cepat naik sekarang juga!” bentak Daichi pada Akira dan Chio hingga mereka segera naik kekereta.
Setelah mereka semua naik, kereta kuda itu pun berjalan lebih dulu memimpin yang lainnya. Berjalan dengan pelan dari istana menuju gerbang.
Banyak orang di kota itu berdiri di sepanjang pinggir jalan utama kota hanya untuk melihat rombongan itu,
bahkan banyak juga di antara mereka memberikan berbagai kue untuk bekal di perjalanan.
Saat Akira dan Chio melihat mereka dari jendela yang ada di kereta, seorang peria berjalan menghampiri dengan membawa nampan berisi banyak kue di atas kepala.
“Ambilah, mereka akan sangat senang jika kalian menerima pemberian mereka,” ucap Daichi.
Chio dan Akira pun mengambil masing-masing satu. “Terimakasih banyak!”
Daichi tersenyum menatap rakyatnya. “Negeri ini telah di bangun dengan sifat kedermawanan hingga kemakmuran sudah menjadi hal biasa, tidak ada satupun dari mereka yang kelaparan, mereka selalu kenyang setiap harinya. Negeri yang awalnya miskin kini telah menjadi negeri yang sangat kaya, dan itu semua kerna peran seorang musafir yang mulia.”
__ADS_1
Mendengar itu Akira dan lainnya ikut tersenyum dan bangga melihat para penduduk di negeri ini, meskipun mereka akan segera meninggalkan negeri yang dikenal dengan nama Sabbat yang berarti tempat singgah.
Perjalanan pun terus berlanjut hingga sekarang mereka sudah berjalan cukup jauh dan memutuskan untuk beristirahat, yang mana saat itu sudah menjelang petang. Akira, Chio dan Ayumi pun melaksanakan Shalat Ashar berjamaah yang juga di ikuti oleh beberapa muslim lainnya dari rombongan itu.
Daichi dan Shiro saat itu mereka duduk istirahat bersama di tenda memandangi mereka. “Kau tidak ikut?” tanya Daichi.
“Tidak," jawab Shiro kemudian berbaring, Daichi pun hanya terus melihat Akira yang sedang mengimami mereka.
Malam pun telah tiba dan mereka saat itu tengah makan bersama. “Oh ya, aku dengar tuan punya adik?” tanya Chio.
“Cukup panggil Daichi saja,” jawabnya.
“Seperti yang kau tahu aku memang punya adik namun dia beda ibu, namanya Rezvan Kenichi, tidak sepertiku dia tidak tertarik dengan kepemimpinan, tapi ... dari pada membicarakanku, bagaimana jika kalian menceritakan kisah kalian,” sambungnya.
“Cih ... aneh sekali kenapa sifatmu tiba-tiba berubah,” sahut Shiro menatap heran.
“Adinda kau mau makan ini,” ucap Daichi dan Ayumi menggeleng.
“A’ahh ... tanpa kita sadari, kita sudah banyak melalui berbagai macam hal, dari awal pertemuan sampai sekarang itu benar-benar menjadi kisah yang berharga,” jawab Akira.
Mereka semua tersenyum. “Kalau begitu, aku akan meminta kalian untuk menceritakannya pada Kenichi, dia sangat suka dengan kisah para musafir seperti kalian,” jawab Daichi dan mereka mengangguk.
Seorang pengawal datang membawakan minuman untuk mereka, saat melihat minuman itu mereka nampak ragu. “Tenang saja ini bukan anggur, aku tahu kalian para muslim tidak minum yang seperti itu, jadi kami sudah menyiapkan minuman manis dari berbegai rempah yang akan menghangatkan tubuh kalian,” ucap Daichi seraya menyerahkan pada mereka.
“Loh punyamu mana?” tanya Ayumi.
“Tenang Adinda, mereka akan segera membuatkan untukku,” jawab Daichi merasa senang kerna Ayumi memperhatikannya. Melihat itu Shiro kesal dan segera meminum habis.
Tanpa disadari kini mereka semua telah terjatuh pingsan kecuali Daichi yang saat itu tidak ikut minum.
“Apa yang terjadi, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, mataku pun terasa sangat ngantuk,” ucap Akira dalam hati sedang terbaring berusaha membuka mata yang mana saat itu dia hanya melihat banyak bintang.
“Kalian semua bangunlah!” teriak Daichi sedang panik terdengar samar oleh Akira.
__ADS_1
“Daichi, apa dia memanggil kami semua,” ucap Akira berusaha menyamping hingga melihat Chio, Shiro dan Ayumi sudah terbaring dan tidak bergerak.
“Akira! kau masih sadar!” teriak Daichi sambil mengguncang pundak Akira.
“Syukurlah para pengawal sudah datang, tolong bertahanlah sebentar lagi Akira!” sambungnya menatap para pengawal yang berlari ke arah mereka.
“Tunggu! Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian malah memegangku begini, seharusnya kalian segera membantu mereka!” teriak Daichi berusaha melepaskan diri.
“Ha ha ... bagus tuan, rencana telah berhasil,” ucap seseorang datang menghampiri mereka.
Daichi tersentak memandangnya. “Akiyama! Kenapa kau bisa ada disini, bukankan aku sudah menyuruhmu menggantikanku! Dan rencana apa yang kau maksud?!”
“Kau tidak perlu tau tuan, namun yang pasti semua telah berjalan sesuai rencana. Pengawal cepat bawa dia, biar aku yang akan mengurus mereka,” perintah Akiyama.
“Hey lepaskan! Beraninya kalian berbuat seperti ini padaku!” teriak Daichi terus dibawa menjauh oleh mereka
“Awas kau, jika sampai terjadi sesuatu pada mereka Akiyama!”
Akiyama memandangi Akira dan lainnya. “Cepat bantu aku mengangkut mereka dan lainnya,” pinta Akiyama pada para pengawal yang baru saja berdatangan entah dari mana.
Saat itu Akira hanya bisa sedikit melihat mereka. “Siapa yang dia maksud lainnya, atau mungkinkah kami semua dijebak ....” Pada akhirnya Akira tak bisa menahan matanya lagi hingga dia tertidur seperti Chio dan lainnya.
...●●●●...
Akira terbangun dari tidurnya dengan wajah sedikit pucat mencoba untuk duduk sambil memegang kepala. “Akh ... apa yang sudah terjadi, dan kenapa kakiku terasa dingin,” ucap Akira kemudian melihat kakinya.
“Rantai,” sambungnya tersentak sadar dan mengingat kejadian malam itu.
“Hoo kau sudah bangun, bagaimana perjalananmu ke sini, apa tidurmu sangat nyenyak hingga saat kau bangun, kau malah berada di sebuah penjara.”
Akira terbelalak memandang orang itu tengah bersandar di dinding dekat pintu berjeruji besi. “Kau ... peria berjaket hitam yang mengirimku ke dunia ini!”
“Yo Akira, sudah kubilangkan kalau kita akan bertemu lagi,” ucap seorang peria dangan tudung kepala menutup sedang menyeringai.
__ADS_1