
“Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada Akira, dia sudah sangat kesulitan berada di tempat ini dan baru sekarang kau muncul di hadapan Akira dan kami!” teriak Ayumi memarahi Harley.
“Saharusnya sejak awal kau datang bersamanya dan membantunya menjalankan misi itu, tapi kau malah tidak ada, Akira terus berusaha melakukan yang dia bisa, bahkan bebarapa masalah sering menjumpai dia dan juga kami,” sambung Ayumi terus memarahi membuat mereka terdiam.
Harley hanya bisa diam menatap Ayumi seraya memegang pipinya. “Tidakkah kau bisa mengerti bagaimana perasaan Akira yang harus berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi, kau datang dan tiba-tiba mengirimnya ke dunia ini, bahkan sempat merubah ingatannya menjadi Ken teman kami!”
“Cih ... selalu saja Akira,” ucap Shiro pelan terlihat sangat kesal.
Ayumi terus berbicara, bahkan kali ini matanya berkaca-kaca. “Tidak, bukan begitu Ayumi, aku sudah pernah menceritakannya padamu, bahwa saat kami bertemu dia sudah sedikit memberitahuku dan aku menyetujui hal itu, aku juga sudah siap dengan apa yang akan terjadi,” sahut Akira.
“Menurutku kedatangan Harley saat ini sudah tepat, masalah yang dulu tidak ada apa-apanya dengan masalah yang akan kita hadapi sekarang,” ucap Chio.
Ayumi terus menatap Harley marah, seolah menunggu penjelasan dari Harley. “Hah ... kuakui apa yang telah kami lakukan pada Akira keterlaluan, namun itu adalah cara agar Akira cepat beradaptasi di dunia ini, dari dulu aku juga selalu mengawasi kalian meski dari jauh untuk memastikan agar tidak ada masalah yang bisa mengancam keselamatan kalian,” ucap Harley.
“Namun kerna ada masalah lain, aku tidak bisa terus mengawasi kalian, hingga masalah itu pun terjadi, kalian dijebak dan berakhir terpisah, tapi sekarang aku akan terus bersama kalian, percayalah padaku, kita akan melewati ini bersama-sama,” sambungnya.
“Baiklah aku pegang janjimu, jangan sampai kejadian seperti di persidangan itu terulang lagi,” balas Ayumi membuat Akira dan lainnya mengingat sesuatu.
Mereka bertiga teringat saat masih berada di negeri Seribu Patung, di mana saat itu mereka disidang kerna menyembah selain berhala, dan juga pemberontakan, hingga berakhir dengan terbongkarnya rahasia yang terus di tutup-tutupi tetua mereka mengenai Thalib sang musafir.
“Oh yang itu, ha ha ... maaf ada masalah lain juga yang harus diurus he he ...” Harley seketika memalingkan wajah sambil bersiul.
Daichi menggeleng melihat mereka. “Apa yang sudah berlalu biarlah berlalu, jangan ada perselisihan lagi di antara kalian, lebih baik nanti kalian selesaikan lagi, ada masalah yang lebih penting yang ingin aku bicarakan,” sahut Daichi.
“Cih ... langsung katakan saja, apa yang baru terjadi bukan masalah besar,” jawab Shiro bersandar di dinding dekat pintu masih terlihat kesal.
“Seperti yang aku tulis dalam surat, sekarang aku tidak bisa lagi leluasa membantu kalian, namun tidak hanya itu, aku juga tidak bisa lagi keluar istana dengan bebas, bahkan untuk berinteraksi dengan orang-orang sekitar, hingga sekarang aku tidak begitu tau apa-apa yang telah terjadi di kawasan istana ini, mereka telah membatasi pergerakanku,” ucap Daichi menjelaskan sedangkan mereka mulai duduk kembali.
“Apa ini juga ulah menteri pendamping adikmu, yang ingin terus mengawasimu?” tanya Akira.
Daichi mengangguk. “Aku tidak tau apa yang sedang mereka rencanakan, hingga bertindak sedemikian terhadapku.”
Harley tersenyum. “Manurutku itu cukup bagus bagi kita, dengan cara mereka sekarang memperlakukanmu, itu artinya ada hal yang ingin mereka lakukan dan disembunyikan.”
__ADS_1
“Cih ... nambah lagi,” sahut Shiro.
“Masalah lainnya adalah para penyihir yang sepertinya terus bertambah, mereka terus mencari murid penerus, seperti yang terjadi di depan barusan, mereka suka memperaktikkan ilmu sembarangan kepada orang biasa,” ucap Daichi terlihat kesal.
“Sebenarnya apa tugas dari mereka?” tanya Ayumi.
“Aku yakin Chio dan lainnya sudah tahu apa yang terjadi dengan orang-orang negeri Sabbat yang baru dipulangkan itu,” jawab Daichi.
Ayumi penasaran dan mengalihkan pandangan pada Chio. “Benar kami sudah tahu itu, penyihir itulah yang sudah merubah ingatan mereka."
"Seperti yang kita tahu, orang-orang luar seperti kita hanya akan berakhir menjadi budak di negeri ini, namun orang-orang negeri Sabbat yang dipulangkan itu malah ingin kembali ke negeri ini kerna ingatan palsu,” sambung Chio.
Ayumi terkejut. “Kalau begitu apa mereka lakukan itu harus dihentikan!”
“Kupikir tidak hanya sebatas itu, mereka bisa saja memiliki kemampuan lain ketimbang hanya merubah ingatan saja. Daichi apa kau tahu sesuatu tentang mereka?” tanya Harley.
Daichi menggeleng. “Begitu banyak hal yang tidak aku tahu tentang mereka, menteri itu dia sangat berhati-hati,” jawabnya menatap serius sekaligus marah.
“Lalu bagaimana dengan adikmu, pangeran Kanechi?” tanya Akira membuatnya sedikit tersentak.
Akira dan lainya saling menatap. “Tapi aku juga sangat marah dengan dirinya yang sekarang, wajah Kanechi sekarang bukanlah adik lugu yang kukenal, tapi wajah sombong yang sangat menikmati kekuasaannya,” sambungnya sangat kesal.
“Apa yang sebenarnya terjadi Daichi?’ tanya Akira lagi.
“Ah maaf bukan ini yang ingin kubahas,” jawabnya mengalihkan pembicaran.
Melihat itu Chio ingin mengatakan sesuatu, namun Akira menahannya seraya menggelengkan kepala memberi isyarat.
“Ini menganai bantuan berupa uang dariku yang akan sulit dilakukan, saat ini keuanganku sedang menurun,” sambungnya.
“Oh ya belum lagi soal Akira dan Harlrey yang telah melarikan diri, di negeri ini punya aturan sendiri, jika para budak melarikan diri, dia akan terus menjadi budak sampai ada yang menebusnya, atau budak itu sendiri yang menebus dirinya, kalian akan terus dicari sampai tertangkap, belum lagi akan ada hukuman berat menunggu kalian,” ucap Daichi memberi tahu.
Akira dan lainnya pun terkejut. “Kalau begitu kita tidak bisa terus menyembunyikan mereka,” jawab Chio nampak sangat memikirkan itu.
__ADS_1
“Hah ... aku pikir kami bisa terus seperti ini?” sahut Harley.
“Cih ... jadi sekarang harus bagaimana?” ucap Shiro.
“Kalian harus segara mengambil tindakan untuk membebaskan mereka dari tuan yang memilikinya, aku sangat ingin membantu, namun seperti yang kubilang keuanganku menurun akhir-akhir ini,” jawab Daichi.
“Bagaiamana kalau kita minta bantuan Akiyama?” tanya Akira
Chio nampak terus berfikir. “Aku tidak yakin dia akan membantu kita, dia pasti memilih mengurus para pekerjanya sekarang.”
“Cih ... dasar! Apa kalian ini lupa dengan cerita Thalib dengan kakek waktu itu, kekek itu punya banyak harta yang terkubur di bawah rumahnya, kita gunakan saja itu!” sahut shiro.
Chio seketika menatap heran Shiro. “Kau ini kalau mau memberi jalan keluar yang jelas dikit, mana mungkin itu masih ada sampai sekarang,” jawabnya kesal.
“Apa itu benaran masih ada?” tanya Akira.
Chio tersentak mendengar itu dari Akira “Hah ... Kau ini sama saja,” ucapnya seraya menggeleng.
“A’ahh ... maaf-maaf,” balas Akira seraya tertawa.
“Lagi pula itu sudah sangat lama, dan juga sudah pasti digunakan oleh Thalib. Tapi jika Thalib punya pikiran lain, bisa saja itu masih tersimpan rapat,” sahut Ayumi terlihat ragu-ragu.
“Jika itu benaran masih ada, itu akan sangat berguna bagi kita,” balas Akira nampak sangat memikirkan itu.
“Cih ... lagi pula tidak ada yang tahu apa itu sudah diambil atau tidak,” jawab Shiro.
“Ha ha ... apa ini akan jadi tujuan kita, sebuah harta karun dari masa lalu?” ucap Harley.
"Yah aku juga sering mendengar cerita itu, tidak ada salahnya jika kalian menyelidikinya lebih dalam lagi," dukung Daichi.
“Ya ampun ... apa kalian ini masih yakin kalau harta peninggalan kakek itu tidak digunakan Thalib untuk dirinya?” tanya Chio.
“Ya!” teriak ketiganya serempak dengan sangat yakin.
__ADS_1
“Hmm baiklah, semoga ada petunjuk dari buku peninggalan Tahlib yang kita miliki itu.” Chio setuju meski dia tak bersemangat.
-Bersambung-