
"Akhh ... siapa pun tolong aku! Kumohon aku sudah tidak bisa lagi bertahan! Kumohon siapa pun tolong!" Akira terus berteriak meminta pertolongan, namun tak ada yang datang.
Dia terus berusaha untuk bertahan hingga tangannya mampu menjangkau ujung kasur, tiba-tiba terdengar suara orang yang tidak bisa menahan tawa, hal tersebut membuat Akira melihat sekeliling kamar dan menemukan laki-laki yang memakai jaket hitam dengan tudung kepala menutup wajah.
"Hey kau! kau yang ada disana cepat tolong aku, kumohon aku sudah tidak bisa lagi bertahan!" ucap Akira sedikit tersenyum merasa lega.
Kerna merasa akan selamat, dia pun menguatkan pegangan agar bisa bertahan lebih lama, namun lagi-lagi betapa terkejut dia, ketika melihat orang yang bersembunyi di pojok kegalapan itu berjalan keluar dengan mengangkat sebelah tangan mengarah ke portal, ternyata orang tersebutlah yang mengendalikannya, seketika itu wajah Akira berubah pucat.
"Mungkinkah?" Akira terbelalak.
"Apa-apaan kau ini! apa yang kau mau lakukan kepadaku, hentikan! Kumohon hentikan ini sekarang juga!" Dia benar-benar berteriak histeris sampai-sampai membuat air mata kembali bercucuran.
"Wah wah wahh ... aku ketahuan ya, aku benar-benar geli melihatmu, sampai-sampai membuatku tak bisa menahan tawa." Dia tersenyum menyeringai.
"Oh ya, katanya kau orang yang banyak diam, tapi kok dari tadi teriak-teriak, astaga kau memang gak bisa ditebak ha ha ha ..." sambungnya lagi mentertawakan.
"Kau pikir ada seseorang yang bisa diam ketika dihadapkan dengan bahaya, yang benar saja! hentikan ini sekarang juga kalau tidak kau akan ...." jawab Akira mengancam.
"Kau lupa yah, bukankah aku sudah mengingatkanmu tentang hal ini," Potong laki-laki itu.
Mendengar ucapannya membuat Akira terdiam sejenak dan mengingat sesuatu, dalam ingatannya, dia telah pulang dari sekolah dan menemukan seorang laki-laki duduk dikursi teras rumahnya dengan jaket hitam dan tudung kepala menutup.
"Maaf saja, tidak ada waktu untuk mengingatnya, ini sudah saatnya kau pergi!" sambungnya membuat Akira tersentak dalam lamunan ingatan.
"Apa! apa maksudmu pergi? harus pergi kemana aku!?"
"Aha ha ha ... tenang saja, kau akan mengingatnya nanti, itupun saat ingatanmu benar-benar kembali, dan yah ... mungkin saja kita akan bertemu lagi nanti!" Dia lagi-lagi tersenyum menakutkan.
"Kau ... apa yang kau inginkan dariku, sudah jangan bercanda, cepat hentikan semua ini sekarang juga!" ucap Akira marah.
"Inilah saatnya Akira sampai jumpa lagi di lain waktu."
"Apa?" Akira hanya terkejut dan bingung.
Laki-laki itu langsung membuat portal menarik lebih keras dengan mengangkat kedua tangan mengandalikannya, hingga Akira terlepas dari pegangan dan masuk sepenuhnya ke dalam, di saat-saat terakhir di mana portal akan tertutup sepenuhnya, dia melihat laki-laki itu mengucapkan sesuatu dengan pelan, Akira sama sekali tidak mendengar, namun dia bisa membaca gerak bibirnya.
"Berjuanglah Akira," ucapnya dengan senyum dan wajah sedih, hal itu membuat Akira tidak mengerti apakah yang diinginkan laki-laki itu darinya. Portal pun tertutup, seluruh pandangannya mulai gelap dan dia pun tak sadarkan diri.
__ADS_1
...●●●●...
"Argh ...!" Akira berteriak keras saat terbangun dari tidur, kemudian melihat kesekitarnya dan menyadari ada hal yang aneh.
"Apa yang terjadi, ada dimana aku, ini bukan tempat tidurku, ada apa ini sebenarnya?!" Dia terus bicara bertanya-tanya merasa bingung, sambil bangun berduduk dari tempat tidur yang tidak dia kenali.
Akira mencoba untuk memahami situasi dengan melihat berbagai hal yang ada di kamar itu. Udara panas menyengat, lantai dari tanah, dan cahaya terang di luar.
"Ini sudah siang dan jam berapa sekarang," ucapnya sambil melihat keseluruh dinding, namun tidak ada satu pun jam.
"Apa itu hanya mimpi, tidak, itu bukan mimpi, itu benar-benar terjadi padaku, jika tidak, mana mungkin aku berada di sini, portal itu mengir ... argh ...!" ucapnya terhenti kerna merasakan sakit dikepala.
"Argh ... kenapa? Akh ... kenapa kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit." Akira terus memegang kepala.
Tiba-tiba ada seorang perampuan berlari menghampiri. "Ken kau sudah sadar, syukurlah aku sangat mengkhawatirkanmu," ucap perempuan itu memegang dan memandangi Akira dengan perasaan lega.
Akira sangat terkejut melihat seorang perempuan itu, dia sama sekali belum pernah mengenalnya, ditambah lagi perempuan tersebut memanggil dengan nama Ken.
"Siapa kau ini, aku tidak mengenalmu dan kenapa kau memanggilku Ken?" tanya Akira merasa heran.
Perempuan tersebut pun merasa kaget saat mendengar ucapan Akira. "Apa maksudmu Ken, aku ini Ayumi temanmu."
"Ken ada apa, kenapa kau memegangi kepalamu seperti itu, apa kepalamu sakit? biar aku ambilkan obat dulu, tunggulah sebentar," jawabnya kemudian berjalan keluar mengambil segelas air dan obat.
Akira tak menjawab dan hanya terus memegangi kepala, rasa sakit yang terus bertambah membuatnya mulai tidak tahan.
"Ini ken minumlah dulu." Perampuan itu menyodorkan segelas air kearahnya.
"Maaf Ayumi aku beneran bukan Ken yang kau maksud, kau salah orang," jawab Akira meyakinkan.
"Tidak Ken, sudah diam dulu dan minumlah ini," jawabnya terus menyodorkan gelas.
Rasa sakit yang terus bertambah dan tingkah Ayumi yang sedikit mendesak membuatnya terusik. "Sudah kubilang aku bukan Ken!" Akira berteriak sangat keras, matanya pun berkaca-kaca sambil mengibaskan tangannya hingga mengenai Ayumi, gelas itu pun terhempas ke bawah.
"Dan kenapa kau ini pura-pura khawatir seperti itu, atau jangan-jangan ini semua gara-garamu!, makanya kau perhatian seperti itu!" sambungnya menuduh tanpa dasar yang jelas.
Ayumi kaget mendangar Akira bicara begitu. "Apa yang kau katakan Ken aku tidak tahu apa maksudmu," ucapnya sambil memegang Akira kerna merasa khawatir.
__ADS_1
"Sudah kubilang aku bukan Ken dan lepaskan tanganmu dariku! apa kau ini tidak mengerti-ngerti hah ... menjauh dariku!" Akira berteriak marah sambil mendorong.
Dia terlihat emosi dan tidak tahan dengan tekanan-tekanan yang dia terima, mulai dari rasa sakit yang terus bertambah di kepala, hingga perempuan yang terus memanggil dengan nama Ken.
Ayumi tersentak membuat matanya berkaca-kaca, tingkah Akira yang marah dan mendorong, membuat batinnya terpukul.
"Tidakk! Kau itu Ken, kau itu Ken!" ucapnya berteriak menangis.
"Kenapa kau begini kepadaku, apa salahku sampai kau memperlakukanku seperti ini, jika kau bukan Ken lalu siapa, siapa?!" dia berteriak keras tersedu-sedu.
Tiba-tiba Akira menyadari, bahwa dia tidak lagi ingat siapa dirinya, dia sama sekali tidak mengingat apa pun yang terjadi sebelumnya.
"Aku ... siapa aku? Kenapa aku lupa dengan diriku sendiri, apa yang telah terjadi padaku, sejak kapan aku melupakannya," ucapnya pelan sembil merasa syok.
"Jawab aku Ken, lalu siapa kau?!" Ayumi menanyakan kembali sambil menangis.
Akira hanya terdiam dan bingung, dia melihat Ayumi menangis menutup wajah dengan kedua tangan, hingga tersedu-sedu.
Akira tidak tega melihat perempuan tersebut sehingga mengalihkan pandangan. "Kenapa? kenapa aku tidak ingat diriku sendiri?" ucapnya dalam hati.
Dia merasa terpukul kerna kenyataan ini sampai-sampai membuat air mata bercucuran dikedua pipi.
"Kenapa aku melupakan semuanya, apa yang harus kulakukan selanjutnya, ini bukan tempatku, aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku tidak ingin berada disini, aku sudah tidak tahan, aku argh!" Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, hingga rasa sakit dikepala yang terus dirasakan bertambah kuat.
Mendengar teriakan Akira membuat Ayumi berhanti menangis dan melihat ke arahnya "Ken kenapa, ada apa?" ucapnya kembali khawatir.
"Argh! Akhh!" Akira berteriak dan memegang kepala dengan keras hingga tubuhnya terjatuh ke tampat tidur Ayumi.
Dia pun mulai kehilangan kesadaran, telinganya sayup-sayup mendangar suara yang terus mamanggil-manggil nama Ken, mata pun perlahan menutup sambil melihat Ayumi yang terus mengkhawatirkannya.
"Apa aku mau mati? Yah ... sebaiknya aku mati saja, aku benar-benar tidak tahan dengan keadaan ini," sambungnya dalam hati dengan mata yang terus tertutup dan telinga yang sayup mendengar, dia benar-benar merasa putus asa, hingga disaat-saat terakhir.
"Astagfirullah aku melupakanmu ya Allah, betapa bodoh dan lemahnya diriku ini sampai berbuat seperti itu. Ampuni aku ya Allah kerna sudah melupakanmu, pantas saja dirimu memberikan ujian dan cobaan sebesar ini kepadaku."
"Tidak apa-apa ya Allah aku terima semuanya, mungkin ini adalah hukumanmu atas dosa-dosaku selama ini, aku bersyukur kerna kamu masih menyayangiku dengan membuatku ingat namamu, dan kumohon ya Allah, jangan lepaskan pengawasanmu satu detik pun terhadapku, kerna aku tak akan sanggup bila sendirian menjalani semuanya."
Akhirnya Akira pun tak sadarkan diri dengan hati yang tenang dan mantap, hingga dia sudah sangat siap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, kerna dia yakin meski pun ingatan tentang dirinya berubah, namun cinta dan kasih sayangnya kepada Allah takkan pernah berubah.
__ADS_1
-Bersambung-