The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Aku Hanyalah Orang yang Ingin Bersama Tuhan Thalib Sang Musafir Bagian 4


__ADS_3

“Tolong, ada sapi terlepas!” teriak beberapa anak kecil disekitaran rumah yang disiapkan untuk acara tersebut.


Kanzo dan Osama justru bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari sapi yang mengamuk itu, hingga tak berselang lama para warga berdatangan untuk berusaha menangkap sapi yang terlapas tadi. Dari jauh para anak-anak itu mengacungkan jempol mereka pada Osama dan Kanzo yang tertawa bersama.


Setelah itu para penduduk dan perkerja disana pun akhirnya berhasil mengamankan sapi yang kotor itu, dan para pekerja dan utusan itu juga dibuat kaget ketika melihat persiapan yang mereka kerjakan telah hancur berserakan, dari kursi yang rusak dan juga hal-hal lainnya.


Tidak perlu waktu lama bagi utusan untuk menyampaikan kabar ini pada tetua, saat itu para tetua tengah duduk berbincang biasa di dalam ruangan mereka. “izin tetua! Kami ingin memberi kabar buruk tentang persiapan persidangan itu, semua persiapannya telah hancur kerna terjadinya hewan lepas disekitar tempat itu!” ucap saorang utusan.


“Apa!” teriak tetua pertama.


“bagaimana bisa hewan tersebut mengahancurkan semua isi tempat itu?” tanya tetua kedua.


“Warga dan para pekerja disana mengatakan bahwa itu akibat sapi yang mengamuk, didalam ruangan itu juga terdapat tanah-tanah yang mengotori tubuh sapi yang mengamuk itu, dan Janis tanahnya pun kami lihat memang sama,” jawab utusan meyakinkan.


“Hiss … apa boleh buat tunda persidangan iu sampai besok dan kerjakan ulang semua persiapan.


Meskipun besok tidak selesai, maka tetap akan kita laksanakan seadanya!” perintah tetua pertama dan sang utusan segera pergi menyampaikan.


Saat itu mendekati sore di tempat pemariksaan kesehatan oleh para tabib terhadap para orang tua, dan acara tersebut pun sudah selesai, sedangkan Kanzo nampak duduk santai seraya menyentap makanan yang disediakan oleh Sayu.


“Mana Osama, aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian berdua, jadi yang satu itu untuk Osama jangan di makan,” ucap Sayu seraya menunjuk.


“Iya-iya!” jawab Kanzo.


Dari jauh Osama tengah berlari menuju mereka dan ketika sampai dia tersengal-sengal. “Huh … Berhasil!” ucapnya.


“Apanya yang berhasil?” tanya Sayu penasaran.


“Ah … bukan apa-apa, ini bubur rasanya hambar!” sahut Kanzo.


“Dasar! tentu saja hambar kerna ini untuk para orang tua, kalau mau berasa tembah saja garam!” jawab Sayu kesal.


“Nah kalau gitu cepat tembahkan milik kami ini garam,” pinta Kanzo dengan mudahnya.

__ADS_1


Meskipun kesal Sayu tetap menurutinya. “Bagaimana?” tanya Kanzo saat Sayu sudah pergi.


“Para orang-orang dan tetua sudah percaya bahwa itu gara-gara sapi, padahal sebenarnya kita yang menghancurkannya ha ha … huh …” ucap Osama masih tersengal.


“Baguslah! Kita akan punya waktu untuk itu.”


“Tapi hanya bertahan sampai tengah hari besok, para tetua memerintahkan untuk melaksanakanya besok meskipun belum siap!” jawab Osama cemas.


“Tidak apa-apa kita bisa memikirkan cara lain,” jawab kanzo menenangkan.


“Nih!” ucap Sayu seraya menyodorkan dua bubur untuk mereka dengan sedikit kasar hingga membuat keduanya kaget.


“Kau ini Sayu, pelan-pelanlah sedikit,” ucap kanzo.


Osama memakan bubur itu dengan lahap. “Asinnn …!” teriaknya dan ditertawakan mereka.


...●●●●...


Malam itu Kanzo tak bisa tidur kerna terus memikirkan prihal hukuman yang akan diselanggarakan besoknya terhadap ayah Osama dan warga lainnya yang telah berusaha untuk menceritakan dan meyakinkan para warga lain bahwa cerita tentang Thalib itu nyata.


*tok tok tok …


“Kanzo kau belum tidur?” tanya tetua seraya mengetuk pintu kamar Kanzo.


Kanzo berjalan menuju pintu dan membukanya. “Maaf Kak kalau terlalu berisik,” ucap Kanzo seraya mempersilahkan masuk.


“Aku mau membicarakan masalah keinginanmu kemarin,” ucap kakaknya yaitu tetua ketiga.


Mereka berdua duduk di atas ranjang Kanzo. “Apa kau yakin dengan keinginanmu untuk mengikuti jejak Thalib, kau tau dia melakukan perjalanan cukup lama untuk sampai ke negeri kita,” ucap kakaknya.


Kanzo terlihat memikirkan hal itu. “Aku tau ini memang sulit, tapi bukanlah hal mustahil. Thalib bahkan bisa sanmpai kesini tanpa peta, Aku yakin aku juga pasti akan berhasil ke negeri Sabbat meskipun tanpa peta.” Jawabnya begiu yakin.


“Aku sudah lama membanggakan Thalib sang musafir, saat aku pertama kali dengar ceritanya, aku bisa langsung tahu kalau cerita itu bukanlah sebuah legenda, sampai Osama dan ayahnya memberitahuku kebenarannya, aku mulai berkeinginan untuk mengikuti jejak Thalib meskipun itu adalah jalan yang susah dan menyakitkan,” sambungnya.

__ADS_1


Wajahnya berubah marah dan kesal. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikir tetua dahulu dan juga sekarang, mereka masih saja mencoba untuk menutupi kebenaran semua itu, yang mereka takutkan hanyalah masalah tentang agama yang dibawa Thalib, dengan kejamnya mereka menghalalkan segala cara untuk menyingkirkannya. Dengan apa yang telah jelas mereka lakukan itu membuktikan bahwa agama leluhur kita adalah agama yang buruk, kerna orang-orangnya melakukan hal yang jahat,” ucap Kanzo menatap kakaknya sedih.


Melihat Kanzo yang sedih membuat kakaknya mengalihkan pandangan dengan menunduk. “Aku tau apa yang kau rasakan sekarang, semua yang kau katakan itu memang benar, tapi aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa.”


Kakaknya menghela nafas. “Hah … dari pada kita terus memikirkan hal itu, aku punya hadiah untukmu,” ucapnya seraya mengambil gulungan kertas di balik jubahnya.


“Apa ini?” ucap Kanzo seraya memegang kertas itu heran.


“Bukalah!”


Kanzo pun membukanya perlahan dan seketika dibuat tak percaya ketika melihat apa yang ada dikertas itu. “Kenapa, kenapa ini masih ada, apa ini palsu!?”


“Tidak, itu asli. Itu adalah peta menuju negeri Sabbat yang kusalin sendiri dari peta aslinya,” jawab kakaknya.


“Bukankah semua peninggalan Thalib telah dihancurkan dengan dibakar?”


“Nyatanya tidak semuanya, entah apa yang ada dipikiran tetua terdahulu, dia menyisakan satu peta itu dan tas hijau tua milik Thalib. Sampai sekarang mereka menyimpannya di tempat yang dirahasiakan dari siapa pun, kecuali para tetua.”


Kanzo masih terperangah tak percaya dengan apa yang dia lihat. “Ha ha … kenapa wajahmu masih suram begitu, jika kau tak percaya, maka buktikanlah sendiri dengan menjalajahinya,” ucap kakaknya tersenyum.


Kanzo tersenyum. “Yah … aku akan pergi menjalajahinya.”


Kakaknya berdiri dan beranjak pergi. “Aku akan meminta pada para penjaga untuk membukakan pintu gerbang untukmu dan meminta mereka untuk merahasiakannya.”


Dia tiba-tiba berhenti. “Kau tau, alasanku mengizinkan dan mendukungmu melakukan hal itu, kerna aku setuju dengan pandapatmu, ditembah lagi aku menaruh harapan itu pada dirimu Kanzo, jadi kumohon padamu, berhasilah dan kembali lagi kesini untuk memberi kabar gembira padaku.”


“Aku janji akan kembali pulang kenegeri ini!” jawab Kanzo menatap yakin.


Tetua tersenyum. “Tapi, sebelum kau pergi pikirkanlah lagi masalah hukuman itu, kalau kau gagal maka kau tak boleh pergi,” jawabnya kemudian pergi dari hadapan kanzo sambil tertawa.


Mendengar itu Kanzo tiba-tiba teringat soal pemeriksaan kesehatan para orang tua yang mana mereka semua berkumpul pada satu tempat, mengingat hal itu seketika membuatnya tertawa.


“Ha ha … Astaga! Kenapa aku tidak kepikiran hal ini!” teriaknya seraya menjatuhkan diri diranjang.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2