
Saat menjelang sore Akira dan lainnya pun melanjutkan pergi ke istana raja di kota sebelah dan bertemu Akiyama. Saat itu Akiyama terlihat sibuk mengatur dan mempersiapkan semua keperluan untuk memberangkatkan orang-orang yang ingin pergi ke negeri Matahari Ekhad.
“Wah sudah cukup lama kalian tidak ke istana, apa ada yang bisa aku bantu,” ucap Akiyama ketika melihat Akira dan lainnya berjalan menghampiri.
“A’ahh ... biasanya kami cuma sampai di luar istana,” jawab Akira.
“Anu, sebenarnya kami ingin ikut pergi bersama rombongan nanti, apa masih bisa?” tanya Chio.
“Oh jadi kalian sudah memutuskan untuk melanjutkan perjalanan?”
“Kami sudah cukup lama berada di sini, dan semua petunjuk pun sudah kami dapatkan,” jawab Ayumi.
“Baguslah kalau begitu, sebenarnya masih ada kursi kosong untuk kalian, tapi sayangnya ini tidak terlalu bagus seperti yang lainnya, entahlah aku yakin kalian mungkin tak merasa terlalu nyaman, namun masalah yang lain tidak perlu kalian cemaskan,” ucap Akiyama.
“Cih ... jadi kau menyuruh kami menggunakan kereta yang tidak bagus, yang benar saja, apa kau tidak bisa menyiapkan yang lain,” sahut Shiro.
“Shiro!” teriak Chio dan Ayumi.
“Emangnya kau punya uang yang banyak hah!” teriak Chio kesal.
“Cih ... uangku habis kerna kalian terlalu boros,” balas Shiro.
“Hah ... kau ini, banyak uang pemberian warga, namun kau malah membelikan barang-barang tidak berguna.” Ayumi menggeleng.
“A’ahh ... kami pilih yang itu saja,” ucap Akira pada Akiyama.
“Untuk kalian aku kasih harga murah yaitu lima koin emas dan delapan perak,” jawab Akiyama.
“Aku punya dua koin emas dua perak,” ucap Akira.
“Aku punya dua koin emas empat perak,” ucap Chio.
“Aku cuma punya lima perak he he ...” ucap Ayumi sedikit malu-malu.
“Ehh ...!” teriak Akira dan Chio tak percaya.
“A’ahh ... wanita,” sambung Akira merasa wajar.
“Hemhh ... wanita,” ucap Chio mengangguk dangan tangan didagu.
“Jadi kau punya berapa Shiro,” sambung Chio.
“Cih ... tidak punya,” ucapnya sereya memalingkan wajah.
“Kalau begini bagaimana kita bisa berangkat! Kenapa kau habiskan semua uangmu!” teriak Chio marah pada Shiro sedangkan Shiro malah tenang-tenang saja.
“Kalau begini kita cuma punya empat koin emas sebelas perak, paling tidak kita butuh tujuh perak lagi,” ucap Akira tertunduk lesu.
“Aku turut menyesal,” ucap Akiyama menaikkan pundaknya.
__ADS_1
“Tidak, kalian berampat akan bersamaku,” ucap Daichi datang mengahampiri.
“Apa! Tapi, jika tuan pergi ke sana siapa yang akan memimpin disini,” ucap Akiyama.
“Aku tidak peduli siapa yang akan menggantikannya, yang pasti aku akan pergi ke sana bersama mereka, jika kau mencemaskan Kota ini kenapa tidak kau saja yang menggantikanku,” jawab Daichi tersenyum meliriknya.
Akiyama terlihat bengung memikirkan. “Tapi ayahanda tuan sudah menyuruh tuan untuk memimpin di sini.”
“Apa salahnya jika aku kembali sebentar ke sana, lagi pula aku akan kembali ke sini, apa kau berani melarangku!” jawab Daichi sedikit marah.
Akiyama terkejut dan segera menundukkan kepala. “Maaf tuan, kalau begitu saya akan segera menyiapkan keperluannya,” jawab Akiyama segera pergi.
“Yosshaa ...! Kita jadi berangkat tanpa keluar uang sedikit pun,” teriak Chio sambil melompat.
“Ahh ... kita tidak perlu memikirkan perbekalan,” sahut Akira.
“Cih ... kalian ini bikin malu saja,” sahut Shiro.
“Terimakasih tuan Raja sudah membantu kami,” ucap Ayumi.
Daichi tersenyum. “Kau tak perlu berterima kasih, ini kupersembahkan untukmu Adinda,” ucapnya membuat Ayumi perlahan mundur.
“Apa!” teriak Shiro tak terima.
“Cih ... diamlah kalian makhluk miskin, aku tidak peduli soal kalian kerna setelah ini kalian akan bekerja di bawah perintahku,” jawab Daichi.
Akira dan Chio seketika tertunduk lesu. “Hmmh ... apa boleh buat kita ikuti saja, tapi ketika ini selesai, kita akan kasih pelajaran pada Shiro yang telah membuat kita seperti ini,” ucap Chio menatap tajam pada Shiro yang marah-marah sendiri kerna Daichi tak memerdulikannya.
Keesokan harinya Akira dan lainnya pun telah berada di gerbang pembatas telah siap untuk berangkat ke negeri Matahari Ekhad, mereka di antarkan oleh Gozali, Hozy dan Kanzo yang ternyata juga akan berangkat hari ini ke negeri seribu patung.
“Tidak terasa sudah hampir sepuluh hari kalian berada di negeri ini, di hari-hari itu kalian sudah sangat banyak mengajarkan kami tentang Islam, aku sebegai perwakilan penduduk di kota ini sangat berterima kasih atas segala pemberian kalian,” ucap Kanzo.
“Itu sudah kewajiban kita sesama muslim untuk saling membantu, semoga semua yang kita lakukan itu selalu berada dalam pandangan ridhonya,” Jawab Chio.
“Yah ... masih banyak hal yang belum bisa kami ajarkan, namun saat kami sudah berhasil menemukan peradaban Islam di negeri selanjutnya, kami akan kembali mengajarkan banyak hal nantinya,” sahut Akira.
“Aminn ...” ucap Ayumi, Gozali, Hozy dan Kanzo.
“Saat kami sampai nanti di negeri asal kalian kami akan memberi tahu semua penduduk kalau kalian telah berhasil sampai ke negeri kami dan sudah melanjutkan ke negeri selanjutnya, kami akan buat mereka semua terkejut,” ucap Hozy bersemangat.
“Tentu saja, mereka semua akan membuka mulut lebar-lebar setelah mendengarnya,” sahut Gozali merangkul Hozy membuat Akira dan lainnya tertawa.
“Yah kami serahkan itu pada kalian,” jawab Chio.
“Cih ... kalau begitu tolong sampaikan itu juga pada kedua orang tuaku oke,” sahut Shiro tersenyum membuat yang lain mentapnya heran kemudian tertawa bersama.
“Cih ... apa yang kalian semua tertawakan!” sambungnya memandangi mereka tak mengerti.
Saat seperti itu tiba-tiba Naya dan Hana datang sambil berlari. “Huh ... hah ... kenapa kalian tak bilang-bilang, kalau bukan kerna kak Hana aku tidak akan tahu kalau kalian akan pergi hari ini,” ucap Naya tersengal.
__ADS_1
“A’ahh ... maafkan kami, kami pikir kau sudah tahu dari ibumu,” jawab Akira.
“Hah ... kalian ini!” jawabnya cemberut.
“Huh ... tapi syukurlah masih sempat, ini aku ada hadiah untuk kalian,” sambungnya seraya menyodorkan wadah tertutup terbuat dari anyaman bambu berbentuk kotak.
Ayumi menyambut dan membuka penutupnya. “Wah ... kue gegatas kesukaan kami!” teriak Akira dan Chio.
“Terima kasih banyak Naya,” ucap Ayumi.
“Tidak-tidak akulah yang berterima kasih pada kalian kerna sudah membantu mencari ibuku, makanlah itu saat kalian di jalan nanti,” jawabnya seraya tersenyum.
“Hey Shiro hentikan, dia menyuruh kita memakan saat di jalan nanti bukan sekarang!” tegur Chio pada shiro yang sudah memakan lebih dulu.
“Kalau seperti ini aku akan tinggal sendirian di rumah,” ucap Hana tertunduk lesu.
“Kan ada Akiko yang akan menemani,” jawab Hozy.
“Hah ... kau ini kenapa ikut juga, seharusnya kau tinggal saja di rumah bersamaku! Masih kecil juga emang kau berani?” jawab Hana memerahi Hozy.
“Aku ini seumuran dengan Akira dan lainnya!” teriak Hozy tak terima.
“Tenang saja, aku akan menjaganya,” sahut Gozali.
“Kau ini sama saja, aku ini mencemaskan kalian tau,” jawab Hana.
“Tidak usah cemaskan mereka, aku pergi tidak hanya bersama mereka saja, aku juga bersama utusan lainnya,” sahut Kanzo menengkan.
Akhirnya Hana hanya bisa pasrah. “Yosh! Sudah saatnya kami berangkat, kami semua sangat berterima kasih kerna sudah di izinkan tinggal di rumah kalian, Paman juga sudah sangat banyak membantu, dan Naya yang selalu membuatkan kue manis untuk kami, tidak ada yang bisa kami berikan selain ucapan terima kasih,” ucap Chio berkaca-kaca.
“Paman yang seperti ayah bagi kami, Kak Hana yang seperti kakak buat kami kerna sudah memberi tempat dan makanan enak,” ucap Akira juga berkaca-kaca.
Kanzo dan Hana tersenyum mendengarnya. “Gozali yang menjadi sahabat sekaligus saudara, dan Hozy serta Akiko Annaya yang sudah seperti adik bagi kami,” sambungnya.
“Adik,” ucap Hozy heran sedangkan Naya memerah malu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sangat berterima kasih, kerna sudah seperti dianggap keluarga bagi kalian, aku senang bisa menjadi anggota keluarga kalian,” ucap Akira membungkuk hormat hingga air matanya terus menetes ke tanah.
Saat Akira hendak berdiri tegak, tiba-tiba Kanzo langsung memluknya. “Aku tahu ini sangat sulit bagimu, saat kau tidak tahu apa-apa tiba-tiba orang tak di kenal datang dan mengirimmu ke dunia ini, aku tahu ini tidaklah mudah, namun kau sudah membuat keputusan dan berani melangkah maju. Buat orang yang mengirimmu ke sini tidak salah memilih orang, buat dia bangga atas pencapainmu, ingatlah kau punya teman di sampingmu yang siap menempuh bersama,” ucapnya seketika itu juga Akira memeluknya erat.
Chio dan lainnya tersenyum haru berjalan mendekat ikut memeluk bersama. Setelah itu mereka pun pergi berpisah saling melambaikan tangan, akan tetapi mereka semua yakin bahwa akan ada perjumpaan kembali.
...○○○○○...
Saat itu Akira terbangun dari tidurnya dengan wajah sedikit pucat mencoba untuk duduk sambil memegang kepala yang terasa sakit dan kaki terasa dingin kerna rantai membelenggu.
“Yo Akira, sudah kubilangkan, kalau kita akan bertemu lagi,” ucap seorang peria dangan tudung kepala menutup sedang menyeringai.
“Kau ... peria berjaket hitam yang mengirimku ke dunia ini!” jawab Akira terbelalak memandangnya yang tengah bersandar di dinding dekat pintu berjeruji besi.
__ADS_1
-Bersambung-