The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Aku Hanyalah Orang yang Ingin Bersama Tuhan Thalib Sang Musafir Bagian 3


__ADS_3

Flashback on


Saat itu Kanzo berada bersama dengan para tetua negeri Seribu Patung dan beberapa utusan lainnya tengah berkumpul dalam satu ruangan.


“Apa yang sebenarnya kalian pikirkan! Apa sebesar itu ketakutan kalian pada pengaruh Thalib sang musafir di negeri kita!” teriak Kanzo tengah marah pada para tetua dan utusan.


Beberapa mereka hanya menatap kesal dan malas mendengarkan. “Mereka cuma memperjuangkan kebenaran tentang cerita itu, dan kalian para tetua masih saja berpegang pada aturan tetua  terdahulu, apakah kalian tidak melihat betapa besarnya kebohongan yang dibuat hanya untuk menyingkirkan pendatang yang mulia,” sambung kanzo mengagungkan.


Seorang utusan berdiri di antara mereka yang duduk. “Hey … kau itu tidak tahu apa-apa soal Thalib, dia itu tidak pantas kau sebut mulia, dia datang ke negeri kita hanya untuk mengambil semua kekayaan alam yang kita miliki,” jawab sang utusan dan diteriakan benar oleh yang lainnya.


Kanzo menatapnya tajam. “Lihatlah kebodohan dan kebohongan yang tetua terdahulu buat, begitu jelas terlihat jika kita mau memikirkannya, aku tahu betul bagaimana Thalib datang ke negeri kita membawa banyak pengatahuan yang telah merubah negeri kita secara perlahan, aku tanya pada kalian,dari mana kalian tahu cara membangun rumah dengan memanfaatkan hutan, bagaimana cara kalian berladang dan memanfaatkan alam sebaik mungkin, aku tanya padamu siapa yang telah mengajarkan itu padamu?”  tanya Kanzo membuat orang yang berbicara tadi seketika diam dan kembali duduk perlahan.


“Orang tua terdahulu lah yang mengajarkan kita! dan mereka di ajarkan oleh Thalib, tapi apa yang tetua katakan dalam cerita palsu yang dia buat, Thalib ingin mengambil punya kita, Thalib mengincar kekayaan alam kita, jika telah dia dapatkan semua, maka kita akan dibuang. Padahal selama ini kitalah yang menikmatinya,” sambung Kanzo.


“Jadi apa maumu hah … ingin para penduduk ini meninggalkan agama leluhur mereka, itu kah yang kau inginkan!?” jawab tetua pertama.


Kanzo malah tersenyum dan membuat mereka bengung. “Itu tidak akan terjadi jika kita juga mengikuti jejak Thalib, kita ikuti caranya, datang ke negeri yang telah dia singgahi untuk menyiarkan agama leluhur kita, peninggalan Thalib itu seharusnya kita manfaatkan dengan baik. Aku yakin dengan cara saling menghargai perbedaan dan tetap hidup rukun walau kita saling berdampingan akan membawa kenyamanan dan kebahagiaan di negeri kita,” ucap Kanzo bersemangat.


Tetua dan orang-orang malah mentertawakannya. “Hey tetua ketiga, ada apa dengan adikmu, apa kau memberi makan dia dengan baik. Heh … barang peninggalan Thalib sudah kami hancurkan semua, barang-barang seperti itu hanya akan membawa kesesatan,” jawab tetua kedua dan ditertawakan oleh utusan yang lain sedangkan tetua ketiga nampak marah kerna adiknya dipermalukan seperti itu.


Kanzo tersentak dan sangat marah. “Dasar Bodoh! apa yang kalian lakukan sama bodohnya dengan tetua terdahulu, kalian semua benar-benar …”


“Apa!” teriak tetua pertama seraya berdiri dan mengahampirinya.


“Bodoh! itukah yang kau ingin katakan, kami bodoh dan kau itu gila! Ha ha … dasar cepatlah bangun dari tidurmu, mimpimu itu sama gilanya dengan dirimu ha ha … mengikuti jejak thalib katanya,” ucap tetua pertama dan yang lain mentertawakan lagi.


Kanzo bertambah kesal. “Kalian semua tidak akan …”


“Izin tetua!” teriak utusan yang baru datang.

__ADS_1


“Iya ada apa,” jawab tetua pertama.


“Persiapan persidangan sudah hampir siap, mungkin besok kita sudah bisa melaksanakannya,” jawab utusan.


“Baiklah, sehubungan dengan hal itu rapat ini kita tutup,” ucap tetua kedua.


“Tapi aku belum selesai bicara, masalah hukuman terhadap ayah Osama dan lainnya harus diubah, hukuman itu hanyalah keinginan kalian semua, sedangkan para warga malah tidak disertakan!” teriak Kanzo.


“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, seharusnya waktu kau bicara tadi kau gunakan dengan baik, jangan cuma ngehayal sendiri,” jawab tetua kedua.


“Hey tetua ketiga, beritahu adikmu, jangan terlalu banyak ikut campur kalau tak mau jadi bagian dari mereka yang akan dihukum mati,” ucap tetua pertama menyeringai.


Mendengar ucapan itu tentu saja tetua ketiga dan Kanzo adiknya tak bisa melawan dan hanya bisa merasakan kemarahan serta kekesalan. “Tidak apa-apa Kanzo kita akan mencari cara lain lagi untuk ini,” ucap tetua ketiga seraya menghampiri Kanzo yang terdiam melihat mereka semua pergi.


“Entahlah Kak, aku sudah tidak tahu harus pakai cara apa lagi,” ucap kanzo merasa putus asa.


“Tenang saja aku akan memikirkan sesuatu,” jawab tetua ketiga serius.


Malam pun telah tiba, beberapa penjaga di suatu rumah tengah tertidur nyenyak diluar, entah apa yang diinginkan tetua ketiga dari rumah yang tak terlalu dijaga itu, dia berjalan perlahan meliwati dua penjaga yang tertidur di dekat pintu rumah.


Sang tetua ketiga itu membuka pintu secara perlahan dan segera masuk. Saat di dalam rumah itu, ternyata terdapat banyak sekali barang-barang yang berdebu seolah tak begitu terawat, dari patung emas, perak dan besi tersusun rapi berukuran kecil hingga sedang, penerangannya pun tak begitu terang hanya ada beberapa lampu duduk saja.


Tetua ketiga itu mengambil satu buah lampu yang terbuat dari botol kaca dan berisi minyak tanah itu, lalu membawanya menuju pintu ruangan yang gelap. Dia segera masuk dan menyinari setiap sudut hingga menemukan satu buah peti yang tak terkunci. Dia pun membukanya dan menemukan satu buah gulungan kertas dan satu buah tas kulit berwarna hijau tua.


Dengan penarangan seadanya itu dia mengambil satu kertas gulungan kosong dan juga mengambil dari balik jubahnya satu gelas berisi tinta dan satu buah kuas sedang. Dengan cepat dia membuka gulungan kertas itu dan memperlihatkan sebuah peta yang ditulis tangan, nampak juga diatasnya bertulis nama Thalib.


Merasa yakin dengan yang dia temukan, maka segera dia menyalinnya dengan menulis ulang di kertas kosong yang dia bawa, walau sedikit kesulitan menirunya kerna gembar peta itu terlalu rinci dan sedikit rumit, namun pada akhirnya dia selesai.


Saat hendak menggulung kembali tak sengaja dia hampir melewati satu bagian tulisan, dia mencoba membacanya, akan tetapi kesulitan dan tak mengerti apa maksudnya, merasa hal itu penting, dia kembali meniru tulisan tersebut hingga semuanya telah tersalin sempurna. Dengan cepat dia meletakan kembali gulungan itu pada tempatnya dan menyimpan kembali satu gelas tinta dan kuas serta gulungan kertas hasil salinannya dibalik jubbah yang dia kenakan, lalu segera kembali pergi dari tempat itu dengan selamat tanpa ketahuan oleh siapa pun.

__ADS_1


Keesokan harinya para utusan yang bekerja menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk persidangan dilihat oleh Kanzo dari luar rumah yang mereka jauh dari rumah para penduduk agar tidak ketahuan. Kanzo nampak terkejut kerna persiapannya hampir selesai.


“Hiss … tak bisa dibiarkan, aku harus menemui Osama untuk membicarakannya,” ucap Kanzo seraya memukul dinding rumah itu, lalu segera pergi.


Saat itu Osama yang telah jadi utusan tengah membantu para orang tua sedang berkumpul untuk melakukan pemeriksaan penyakit yang dilakukan oleh bebarapa Tabib di desa. Kanzo berlari menghampiri seorang wanita perwakilan Tabib yang usianya sepantaran dengan Osama dan Kanzo, yaitu mereka adalaj seorang pemuda dan pemudi desa.


“Huh … Sayu mana Osama, aku dengar dia ingin kesini kemarin,” ucap Kanzo tersengal-sengal.


“Kanzo minumlah dulu dan duduklan sebentar, aku akan panggilkan Osama,” ucap Sayu menyodorkan segelas air dan segera diminum habis oleh Kanzo, sedangkan Sayu masuk kedalam.


Tidak berselang lama Osama pun keluar sendirian. “Ada apa Kanzo? Aku dengar dari Sayu kau terburu-buru kesini?” ucap Osama.


“Gawat Osama! Persiapan persidangan sudah hampir selesai, jika terus begitu maka siang ini mereka pasti akan melaksanakannya!” jawab Kanzo.


“Ap-apa, apa yang harus kita lakukan, kalau persidangan itu dilaksanakan maka ayahku dan lainnya akan dihukum mati!” jawab Osama cemas.


“Saat rapat kemarin aku membicarakan tentang Thalib, namun mereka tak peduli dan tetap saja berpegang teguh pada tetua terdahulu, aku bahkan belum sempat membahas soal hukuman itu untuk diringankan,” balas Kanzo.


“Maafkan aku Osama, aku tidak berhasil menyadarkan mereka,” ucap Kanzo sedih.


“Tidak Kanzo kau sudah melakukan terbaik, sebaiknya kau bantu aku memikirkan cara lain,” Jawab Osama dan Kanzo mengangguk.


Mereka berusaha memikirkan cara lain cukup lama, namun tak ada jalan keluar. “Akh … semuanya sangat mustahil, apa yang harus kita lakukan,” ucap Kanzo meremas rambutnya.


“Ada satu cara Kanzo, tapi aku yakin kau tak ingin melakukannya,” ucap Osama menatap Kanzo serius.


“Apa yang kau pikirkan Osama, jangan berpikir hal yang berbahaya dan bisa mencelakakanmu.”


“Kita hancurkan saja beberapa hal penting untuk jalannya persidangan itu,bagaimna menurutmu Kanzo? Aku yakin jika tidak ketahuan tak akan terjadi apa-apa pada kita.”

__ADS_1


Kanzo memikirkannya. “Baiklah, tapi, kita lakukan saat para pekerja istirahat makan siang dan dengan rencanaku,” jawab Kanzo dan Osama tersenyum.


-Bersambung-


__ADS_2