The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Menuju Negeri Sabbat Bagian 2


__ADS_3

Malam itu mereka tidur bergantian untuk bisa memberi tahu situasi jika mereka berada dalam bahaya, Chio lebih dulu berjaga dan kemudian Shiro, setelah itu baru Akira disepertiga malam. Saat itu Akira memilih untuk tidur lebih dulu dan berniat untuk melaksanakan Shalat Isya ketika dia mendapat giliran berjaga sekaligus melaksanakan Shalat tahajud. Setelah melaksanakan Shalat dia berjaga cukup lama hingga tak sengaja membangunkan Ayumi ketika dia berjalan mengambil kayu bakar didekatnya.


Ayumi yang tidur menjauh dari mereka bangun berduduk dan mengucek matanya berusaha memperjelas penglihatan, yang pertama kali dia lihat adalah Chio dan Shiro yang tidur berselimut berdekatan, lalu melihat kearah Akira yang sedang memperbanyak kayu bakar agar nyala api lebih besar supaya menambah kehangatan di sejuknya pagi sepertiga malam.


“Akira, jika kau ingin tidur kembali silahkan saja, biar aku lagi yang berjaga,” ucapnya mengagetkan Akira.


“Huh … ya ampun, apa aku membangunkanmu?”


Ayumi menggeleng. “Aku sudah terbiasa bangun saat seperti ini, makanya ketika mendengar suara sedikit saja aku pasti akan langsung terbangun,” jawabnya.


“Baiklah jika kau ingin begitu, aku rasa tidak lama lagi Shalat Subuh akan tiba,” ucap Akira dan Ayumi mengangguk.


Akira segera kembali ketempatnya yaitu disebelah Chio yang mana agak jauh dari api unggun, sedangkan Ayumi pergi kearah danau untuk berwudu. Tidak berselang lama Akira segera tertidur kembali sedangkan Ayumi telah selesai Shalat dan kini sedang berdoa.


“Ya Allah kami bertwakkal kepadamu dan lindungilah kami dari segala kejahatan makhluk di dunia ini, berikanlah kami kesehatan selalu dan berkahi perjalanan kami ini,mudahkan rezeki kami dalam perbekalan makanan dan kelimpahan alam, serta mudahkan kami dalam beribadah kepadamu,” ucap Ayumi berdoa.


“Ya Allah aku bingung harus berbuat seperti apa, akhir-akhir ini entah kenapa aku tiba-tiba selalu mengingatnya, jika seandainya umurnya panjang aku ingin dia ikut bersama kami memeluk agama yang engkau ridhai, Ya Allah ampuni aku jika keinginanku ini adalah keinginan yang salah,” sambung Ayumi seraya menangis.


Hal itu terdengar jelas oleh Shiro yang sengaja tak tidur lagi saat dia berganti berjaga dengan Akira. Dari raut wajah Shiro dia nampak cemas dengan apa yang di alami Ayumi.


...●●●●...


Sang fajar telah menampakkan cahaya kemerah-merahan di langit tanda waktu pagi akan segera tiba, Akira dan Ayumi segera mengemasi barang-barang, didanau juga nampak Chio sedang membersihkan diri dan bersiap-siap berangkat, sedangkan di rerumputan terlihat Shiro sedang memberi makan kuda mereka.


Saat itu hari mulai terang dan mereka sudah berada di atas kuda siap untuk kembali melakukan perjalanan, sedangkan Akira justru masih sibuk mencari suatu tempat seolah ingin menanam sesuatu. “Apa yang sedang kau lakukan Akira, kita harus segera berangkat,” pinta Chio.


“Tunggu sebentar aku ingin menanam biji labu yang kita makan tadi malam,” jawabnya.


“Cih … tinggal kau lempar saja, apa susahnya!” sahut Shiro.


“Tunggulah sebentar ini tidak akan lama,” jawabnya seraya menutupi biji itu dengan tanah dilobang kecil yang dia buat.


“Aku harap ini bisa tumbuh dan berbuah, dan semoga buahnya bisa bermanfaat untuk semua makhluk,” ucap Akira tersenyum menatap mereka.


“Jika ada seorang musafir seperti kita maka itu bisa jadi bahan makanan untuknya,” jawab Ayumi.


Chio mengangguk. “Cepatlah naik dan kenderai kuda ini,” pintanya seraya mundur kebelakang.


“Ehh … tapi aku tidak bisa me …”

__ADS_1


“Sudah tenang saja aku akan mengajarimu secara perlahan,” potong Chio. Ada sedikit keraguan dari Akira, namun kerna paksaan mereka dia pun memberanikan diri menaikinya di depan.


Perjalanan mereka pun dilanjutkan dan kali ini mereka harus memasuki hutan lebat yang mungkin saja banyak binatang buas, akan tetapi rasa tawakkal dan memohon perlindungan membuat mereka merasa yakin dan percaya tidak akan terjadi apa-apa hingga kini beberapa hari telah berlalu.


Sama seperti kemarin mereka selalu membagi tugas ketika bermalam di suatu tempat, tidak hanya itu setiap kali bermalam mereka selalu memilih tempat yang ada air disekitar mereka untuk keperluan minum dan lain sebagainya.


Hari ke empat diperjalanan atau lebih tepatnya hari Sabtu mereka terpaksa harus bermalam di tengah hutan kerna tak mungkin lagi untuk melanjutkan perjalanan, suasana hari yang semakin gelap menyulitkan mereka untuk melihat jarak pandang.


Saat itu mereka pun memutuskan untuk berhenti sebelum gelap malam tiba. Seperti biasa mumpung belum gelap Akira dan Chio mencari kayu bakar dan Shiro mengurus kuda-kuda. Sedangkan Ayumi menyiapkan alas untuk mereka tidur sekaligus untuk makan malam.


“Akira cepat kesini!” teriak Chio tiba-tiba saat mereka mengumpulkan kayu bakar.


Alangkah terkejutnya Akira ketika melihat sesuatu yang ditunjukkan Chio. “Labu!” teriak Akira.


“Tidak hanya itu disini aku juga menemukan ubi-ubian,” balas Chio.


Dengan cepat mereka menggali dan memetik semuanya, lalu segera kembali menemui Ayumi dan Shiro.


“Apa yang kalian bawa!” tanya Ayumi sedikit kaget.


“Lihatlah kami menemukan labu dan ubi didekat sini, beberapa sudah dimakan hewan, namun beruntung masih ada yang bagus dan utuh,” jawab Akira.


“Benar! Sepertinya Kanzo juga melakukan hal yang sama seperti Akira lakukan,”jawab Chio bersemangat.


“Dan lagi apa kalian tidak pernah berfikir, semakin kita kesini semakin banyak bahan makanan di alam, bahkan kita selalu menemukan air dihutan ini,” sahut Ayumi.


“A’ahh … apa kalian ingat bahwa rakyat negeri Sabbat adalah orang yang sangat dermawan, dan kerna kedermawanan mereka negeri mereka jadi semakin makmur,” balas Akira.


“Jadi maksudmu kita semakin dekat dengan negeri Sabbat!” balas Shiro.


Akira mengangguk. “Tapi bukankah Thalib saja membutuhkan Satu kali upacara untuk sampai ke negeri kita, sedangkan kita baru sekitar empat hari,” sahut Ayumi sedikit heran.


“Itu kerna Thalib tanpa peta, sedangkan kita justru menggunakan peta yang telah dia buat, tentunya dia sudah memperhitungkan jalan tercepat menuju negeri Sabbat!” jawab Chio.


“Yah … aku yakin sepertinya kita tak lama lagi akan sampai menuju negeri Sabbat, sesuai dengan peta yang kita punya ini, kita sudah memasuki hutan ketiga sekaligus hutan terakhir yang ada dipeta ini,” ucap Akira memperlihatkan peta itu.


“Cih … dasar tidak kusangka aku berhasil melakukannya,” ucap Shiro tersenyum Sombong.


“Kita! bukan Aku ha ha ha …!” ucap mereka serempak dan tertawa bersama.

__ADS_1


...●●●●...


Malam itu mereka semua tertidur kecuali Akira yang mendapat giliran berjaga, dia duduk didekat api unggun yang mana juga dekat dengan kuda mereka yang diikat satu pohon bersama. Disaat asik memperbaiki kayu bakar tiba-tiba suara seperti burung terdengar nyaring tak jauh dari Akira, sontak saja hal itu membuatnya kaget.


Merasa takut jika itu burung pemangsa Akira mengambil kayu bakar yang berapi itu untuk mencari asal suara berniat mengusirnya, suara itu semakin kencang ketika dia terus berjalan menjauh dari mereka yang tertidur. Tiba-tiba suara berisik dari arah dedaunan kering mengagetkan Akira kembali hingga membuatnya mengarahkan cahaya api itu, ternyata suara itu berasal dari burung berukuran seperti ayam tengah terluka disayap dan kakinya.


Meliat hal itu tentu saja membuatnya merasa senang dan berfikir untuk menyembelihnya, namun sebelum itu Akira memastikan terlebih dulu dengan melihat keadaan siburung apakah dia masih bisa bertahan hidup dari luka yang ia alami, setelah merasa yakin bahwa burung itu bisa bertahan dia pun segera menyembelihnya hingga burung itu mati kerna disembelih secara halal dan bukan mati kerena terluka, dengan begitu burung tersebut bukanlah bangkai yang haram sebab mati terluka.


Saat itu Akira pun memanggang burung itu di api unggun, suara berisik yang Akira lakukan kerna merasa senang malah membuat Ayumi terbangun.


“Apa yang sedang kau panggang Akira?” tanya Ayumi seraya berusaha memperjelas penglihatannya.


“A’ahh …  lagi-lagi aku membangunkanmu," ucap Akira menoleh dan Ayumi menggeleng, "aku sedang memanggang burung.” sambungnya tersenyum.


“Burung?”


“Aku tak sengaja menemukan burung yang terluka, jadi aku menyembelih dan membersihkannya.”


“Apa kau butuh bantuan?”


“Tidak perlu, jika kau ingin tidur kembali, tidur saja, jika sudah matang nanti aku akan membangunkan kalian, tidak lama lagi juga sudah mau waktu Subuh,” jawab Akira sambil meniup api yang mengecil.


Ayumi mengeleng. “Aku mau Shalat dulu,” ucap Ayumi berdiri menuju sumber air yang tak jauh dari mereka.


Setelah itu Ayumi pun telah selesai melaksanakan Shalat dan kemudian duduk mengahmpiri Akira yang sedang memanggang. “Emm … aku boleh tanya sesuatu?” tanya Ayumi.


“Yah tentu."


“Apa aku boleh menceritakan kisahku padamu?” tanya Ayumi.


Akira sedikit tak percaya. “Jika menurutmu itu bukan aib maka aku sangat bersedia mendangarnya,” jawab Akira penuh percaya.


“Namun sebelumnya aku ingin bertanya apa kau kangen dengan orang tuamu?”


Akira tersentak kemudian menunduk. “Yah … selalu dan selalu, hampir setiap hari aku selalu mengingat mereka.”


Ayumi tersenyum. “Dulu saat kecil aku adalah seorang anak dari orang tua yang cukup terkenal kaya di desa, ibuku sudah lama meninggal saat dia melahirkanku, aku bahkan tidak pernah tau seperti apa sifat ibuku,” ucap Ayumi hendak bercerita.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2