The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Dalam Pengaruh Sihir


__ADS_3

“Saat itu aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, saat aku terbangun tiba-tiba aku sudah berada di istana dengan tubuh penuh abu dan arang, aku merasa bingung lalu keluar dari kamar dan bertemu Akiyama di depan pintu sedang berbincang. saat dia melihatku dia langsung memelukku erat,” ucap Daichi bercerita.


“Dia mengatakan kalau desaku dilanda kebakaran, dan semua orang telah meninggal dunia termasuk ibuku, dia juga meminta maaf kerna tak bisa menyalamatkan ibuku dan lainnya, aku sempat tak percaya dengan apa yang dia katakan, meskipun dia termasuk orang yang sangat dekat dengan keluarga kami, namun saat aku berlari keluar untuk kembali ke desa, aku malah melihat cahaya kuning kemerahan memancar terang dilangit malam yang gelap searah desa kami berada, dari situ aku pun mulai percaya bahwa apa yang dikatakan Akiyama benar, aku pun hanya bisa menangis,” sambungnya.


“Lalu bagiamana kau bisa menjadi raja, padahal kau keturunan Pangeran Sayyid yang telah kehilangan haknya?” tanya Chio.


“Masalah itu aku tidak begitu tahu, aku juga hanya menggantikan ayahku, itu pun semua bisa terjadi kerna Akiyama yang mengaturnya, namun menurutku, kami hanya dimanfaatkan untuk menguasai negeri lain, seperti yang terjadi pada kalian semua,” jawabnya.


“A’ahh … sepertinya begitu,” balas Akira.


Chio mengangguk. “Untuk sementara kau dan ibumu hanya bisa saling berbalas surat, seperti yang sudah dijelaskan, keadaanya sangat tidak memungkinkan untuk kalian bisa betermu.”


Daichi tersenyum. “Terimakasih untuk kalian semua, berkat kalian aku sudah tahu dimana keberadaan ibuku, aku sangat bersyukur bisa bersama kalian semua.” Mereka semua pun ikut tersenyum termasuk Shiro meski dengan senyum sombongnya.


...●●●●...


Saat itu mereka hendak pulang dari istana kembali ke pembangunan, mereka sempat berkeliling dan singgah di taman istana dengan banyak bunga dan pohon rindang membuat tempat itu sangat sejuk.


“Cih … mau sampai kapan kalian bersenang-senang di sini,” ucap Shiro.


“A’ahh … benar, sebaiknya kita segera pulang sebelum Akiyama melihat kita di sini,” jawab Akira.


“Tidak usah buru-buru, dia sedang sibuk pada pertemuan di istana,” sahut seorang laki-laki tiba-tiba menghampiri mereka.


“Kau … orang yang berpepasan dengan kami tadi kan, seorang pengawal kelas atas,” balas Chio.


Dia tersenyum. “Ternyata kalian sudah tahu, perkenalkan aku Arshia Goro seorang pengawal kelas atas kerajaan,” ucapnya sambil menyentuh dada.


“Ya … aku Chio dan mereka …” balas Chio.


“Tidak perlu aku sudah tahu tentang kalian,” potongnya membuat mereka menatap heran.


“Cih … apa yang kau inginkan?” tanya Shiro.


“Ha ha ha … Santai saja kalian tidak perlu tegang seperti itu, aku menemui kalian hanya ingin menawarkan untuk menjadi kandidat baru sebagai prajurit, kami sedang mencari para prajurit muda yang bisa saja akan menjadi pengawal kelas atas,” jawabnya.


“Apa akan terjadi peperangan sehingga kalian mencari prajurit baru?” tanya Chio.


Dia tersenyum. “Tidak ada, namun pemberontakan bisa saja terjadi.” Mereka semua tercengang mendengarnya.


“Ha ha ha … kenapa wajah kalian sangat kaget begitu, mana mungkin itu terjadi mengingat keadaan yang baik-baik saja,” ucapnya mentertawakan mereka.


“Aha ha ha … iya mana mungkin itu bisa terjadi,” balas Chio ikut tertawa.


“A’ahh …”


“Cih … terserah saja,” sahut Shiro.

__ADS_1


“Ha ha ha … Kau ini sangat suka bercanda ya,” ucap Harley sambil menepuk-nepuk pundaknya.


“Oh ya Arata, kau juga sebaiknya ikut ini, walaupun kau sudah seorang pengawal, namun sebaiknya kau memperdalam ilmu bela dirimu di sini, ditempat itu aku sendiri yang akan mengajarinya” pintanya.


“Baik Tuan saya akan memikirkan itu,” jawab Arata.


“Aku harap kalian juga memikirkan ini,” pintanya pada mereka.


“Yah … sebenarnya kami tidak terlalu tertarik soal itu,” jawab Harley.


“A’ahh …”.


“Maaf paman, sepertinya kami tidak bisa ikut, ada hal yang lebih penting yang harus kami lakukan,” ucap Chio.


“Cih … terserah saja, apa pun yang ingin kalian lakukan aku ikut saja,” sahut Shiro berjalan pergi lebih dulu lalu disusul Harley dan Akira, kemudian Chio dan Arata setelah menunduk hormat.


Dia berdecak lidah. “Sombong sekali kalian para peberontak,” ucapnya membuat mereka terbelalak.


"Apa maksudmu?" jawab Chio heran.


“Aku dengar Shiro menjadi budak petarung yang sangat hebat, tapi sepertinya kabar itu salah besar, kenyataannya dia hanya orang yang beruntung bisa menang,” sambungnya mengejek.


“Cih … beraninya kau!” Shiro terlihat sangat marah.


“Ha ha ha … Akira, Harley dan Chio, asal kalian tahu, semuanya tentang kalian bahkan kelompok pemberontakan itu, aku tahu semuanya,” ucapnya menyeringai.


“Hoo … itukah inti dari pembicaraan ini,” balas Harley.


Dia tersenyum. “Kalian pasti akan tahu nanti, namun, aku punya kesepakatan dengan kalian.”


“Cih … tidak perlu hal seperti itu, serahkan saja dia padaku,” sahut Shiro berjalan ke depan mereka.


“Sepertinya kau sangat ingin berkelahi, bagaimana kalian semua lawan aku dalam pertarungan, jika aku kalah aku akan tutup mulut, tapi jika kalian semua yang kalah maka kalian semua harus mau menjadi prajuritku, dengan catatan aku juga akan tutup mulut.”


Chio heran. “Menang atau kalah kami tetap di untungkan, apa yang membuatmu menginginkan kami?”


“Entahlah, aku hanya suka melakukan ini,” jawabnya sambil bersiap untuk bertarung.


“Oh ya satu hal lagi, aku akan menahan diri dan kalian boleh menyerangku bersama-sama, jadi keluarkan semua kemampuan kalian,” sambungnya.


“Ha ha ha … baik kami terima itu!” jawab Chio bersemangat.


“He he … siap-siap ya Paman,” ucap Harley menyeringai.


“Cih … dasar, ini terlalu lama, kalian diam dan lihat saja biar aku yang mengurusnya,” sahut Shiro.


“Ehh apa! kalian serius! Akira! kenapa kau juga diam saja! cepat kita hentikan mereka!” ucap Arata pada Akira.

__ADS_1


“A’ahh … tenang saja, mereka akan baik-baik saja,” jawabnya senyum-senyum.


“Kau tahu, dia pengawal kelas atas Akira, pengawal kelas atas!” teriak Arata tak percaya dengan kelakuan mereka.


...●●●●...


Saat itu di istana, Ayumi tengah berjalan membawa nampan kosong menuju dapur, namun tiba-tiba terdengar suara Akiyama dan menteri pendamping dari balik ruangan, Ayumi pun berusaha untuk mendengarkan percakapan mereka dengan menempelkan telinganya di pintu.


“Sampai kapan kau terus di sini Akiyama, sudah saatnya kau kembali ke negeri Sabbat, dan bawa pengeran itu juga bersamamu, aku sudah muak mengawasinya terus,” ucap menteri pendamping.


“Jika sudah begitu kenapa tidak kau biarkan saja dia bebas seperti biasa, lagi pula apa yang perlu kita cemaskan soal dia?” balas Akiyama.


“Dia itu keturunan asli yang berhak mewarisi kepemimpinan ini jadi kita harus … Akh … pokoknya kau segera kembali bersamanya ke negeri itu, aku tidak mau tahu saat kau kembali lagi ke sini jangan lupa bawa banyak budak untuk dipekerjakan!” pintanya.


“Kau pikir itu bisa dilakukan dengan mudah, jika kita terus berdalih dengan mereka sendiri yang tidak mau pulang sedangkan keluarganya terus menunggu kepulangan mereka, mereka bisa jera dan tidak ingin para keluarga mereka pergi ke negeri ini,” balas Akiyama.


“Jadi mau gimana?”


“Kita pulangkan lagi mereka, lagi pula kita masih bisa mengubah ingatan mereka.”


“Itu tidak mungkin, kita sangat membutuhkan mereka sebgai pekerja, cari cara lain!” pintanya lagi.


“Hah … kau saja yang cari aku sedang sibuk,” balas Akiyama.


Menteri pendamping itu tiba-tiba kesal dan menggebrak meja. “Jika kau ingin terus hidup mewah seperti ini, maka bekerjalah dengan becus!”


“Ya ampun … ada apa, kenapa kau tiba-tiba marah seperti itu, aku pasti akan mencari cara lain,” balas Akiyama.


“Bukan itu! tapi kanapa kau tadi malah menyuruh pelayan itu berbicara dengan Kanechi!” teriaknya.


“Bukannya kau sudah tahu, kalau hanya aku yang boleh berbicara dengannya,” sambungnya.


“Ha ha ha ….” Akiyama tak bisa menahan tawanya.


“Apa yang membuatmu tertawa, kau pikir aku bercanda.”


“Apa hanya kerna itu kau jadi marah-marah, ya ampun … apa yang perlu kita takutkan, siapa yang bisa mengambil kerajaan ini dari tangan kita, desa Tasu’a telah dilenyapkan, perjanjian itu pun sudah tidak ada yang tahunya lagi,” balasnya sambil tertawa-tawa.


“Tunggu, apa jangan-jangan kau masih mengkhawatirkan masalah keturunan Kanechi ya?” sambung Akiyama membuatnya tercengang.


Dia kembali menggebrak meja lalu menatap tajam. “Sudah berapa kali aku ingatkan jangan pernah mengungkit-ungkit hal itu, Akiyama,” ucapnya nada mengancam.


“Satu hal lagi jangan kau sia-siakan perjuangan Syairah sang ibunda Nashif dan pamannya, berkat mereka berdua, kita sebagai keturunannya bisa menikmati hidup bergelimang harta ini,” sambungnya.


“Hah … ya ampun, baiklah maafkan aku,” balas Akiyama sambil tersenyum.


“Setelah ini jangan pernah lagi mengizinkan orang mana pun berbicara dengan Kanechi kecuali aku sendiri yang memintanya, aku tidak mau ada yang curiga atau pun tahu kalau kita sedang mempengaruhinya dengan sihir.”

__ADS_1


Ayumi yang sedari tadi mendengar percekapan mereka dibuat sangat terkejut mengatahui hal itu, hingga, dia mundur perlahan sambil terus menutup mulutnya lalu lari menjauh dari depan ruangan itu.


-Bersambung-


__ADS_2