
Suara lonceng yang menandakan jam istirahat terdengar samar karena gemuruh hujan yang deras, namun suara riuh pelajar di kelas mengalahkan gemuruhnya.
Tulisan di papan tulis nampak belum dihapus, padahal guru sedang tidak mengajar pada jam sebelum istirahat tersebut.
Para siswa mulai berkurang keluar dari kelas untuk menuju kantin, itu terdengar dari langkah mereka yang berjalan di lorong, tetapi, berbeda dengan Akira yang masih duduk bertelungkup dibaris depan sambil terus memikirkan sesuatu.
"Kenapa pria itu tiba-tiba muncul dihadapanku, padahal sebelumnya sama sekali tidak ada orang, dia muncul begitu saja setalah angin berhembus ke arahku, ditambah lagi perkataannya yang seperti itu, untuk apa coba dia mengatakannya kepadaku," ucapnya terdiam sejenak.
"Hem ... akan ada seseorang ditahun ini tidak bisa merasakan bulan Ramadan, kecuali dia dapat menamukannya," sambungnya terdiam sambil memikirkan.
"Apa maksudnya meninggal dunia, tapi kenapa dia bilang dapat menemukan kalau mencarinya, mana mungkinkan orang yang sudah maninggal mencari bulan ramadhan, padahal ketika orang yang sudah meninggal maka putuslah semua perkara tentang dunia, ditambah lagi bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang ada ditahun Hijriah, terus ngapain dicari, kan sudah ditentukan kapan terjadinya, ya ampun ini benar-benar aneh," ucapnya bertambah heran.
Akira tersentak. "Atau jangan-jangan di kirim ke dunia lain, tapi, ayolah yang benar saja emangnya ini anime hah dasar ...." Akira nampak tidak tenang kerna terus memikirkan ucapan pria itu.
Entah kenapa dia sangat kesal gara-gara perkataan pria tersebut hingga membuatnya terus bertanya-tanya dan mengoceh, anehnya lagi dia malah merasa takut.
Akira adalah orang yang tidak pandai dalam menyampaikan sesuatu, sifat yang sedikit pendiam membuatnya sulit menentukan topik pembicaraan, dikarenakan hal itu setiap kali berbicara dia selalu menyaring apa yang harus dikatakan, dia juga lebih suka mendengarkan dan mengamati teman-teman yang sedang berbicara kepadanya, namun ketika sendirian dia adalah orang yang selalu berpikir tentang banyak hal dan banyak bicara dalam otaknya.
Akira juga adalah seorang yang sangat mencintai akan bulan ramadhan dikarenakan dia bisa meningkatkan ibadah kepada Allah, terlebih lagi itu adalah bulan yang sangat istemewa bagi seluruh umat Islam di dunia, dimana setiap ibadah yang dilakukan akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Hal inilah yang mambuatnya sangat khawatir kalau yang dimaksud pria itu adalah dia.
Akira yang terus bertelungkup di meja hingga tanpa sadar bahwa yang lain tengah mendangarkannya berbicara seperti itu. Akira pun bangun dari telungkup dan melihat pandangan teman-teman ke arahnya, bahkan sebagian tengah membicarakan dirinya.
"Apa yang kau bicarakan Akira sampai berbicara sendiri seperti itu," ucap salah satu temannya menegur.
"Apa aku ceritakan saja ya kepada mereka, sapa tau mereka punya masukan akan kejadian yang aku alami ini," ucapnya dalam hati sambil terdiam.
"Akira ...." Temannya kembali memanggil
"Ehh iya aa ...."
__ADS_1
"Hey! kau nonton film gak malam tadi, mereka menayangkannya di TV loh!" ucap salah satu temannya memotong pembicaraan.
"Ohh yang itukan, yang pemaran utamanya mati." Teman Akira yang mengajaknya bicara pun teralihkan.
Di saat Akira tengah memperhatikan, Taufiq datang menyapa. "Hey Akira, mau bareng ke kantin," ajaknya.
Akira tersentak dalam lamunan. "A'ahh ... kau saja aku tidak lapar, aku mau diam di kelas saja," jawabnya sambil memandang
"Paling ujung-ujungnya kau tidur yakan ha ha ha ...."
"ahha ha ha ... dasar ya, kau tau saja," ucap Akira sambil tertawa bersama.
"Oh ya ngomong-ngomong emang gimana kejadiannya saat kau menabrak pria itu," dia bertanya tiba-tiba.
"Ehh anu ... saat itu kan aku tengah jalan nih, tiba-tiba angin itu deras dan berdebu, mau gak mau aku harus lindungi matakan, ehh ... malah pria itu langsung berada di depan, aku gak bisa menghindar lagi, mau belok kepinggir pun gak sempat," jawab Akira bercerita di iringi gerakan tangannya.
"Waduh ... kok bisa, apa dari jauh kau tidak melihatnya?"
"Ha ha ... aku juga pernah nabrak orang pakai sepeda."
"Emang gimana kejadiannya?" Akira balik bertanya.
"Saat itu aku sedang berangkat sekolah juga, kerna keasikan bersepeda aku malah lengah dan menabrak orang gila."
"Waduh ... parah kau ini, orang gila ditabrak ada-ada saja aha ha ha...!"
"Makanya aku sangat kaget, bahkan dia sampai terjatuh, sedangkan aku tidak, ternyata dia marah dan mengambil sebilah ranting, melihat itu aku segera bergegas pergi agar selamat."
"Aha ha ha ...!" Akira tertawa keras
__ADS_1
"Makanya kita harus berhati-hati bila bersepeda, jangan sampai lengah, nanti nabrak orang lagi," ucap temanya menasihati.
"Yah ... benar banget!"
"Yasudah, aku mau kekantin dulu nanti kita lanjutkan lagi," ucapnya berlalu pergi.
"Sip, nanti kita lanjutkan, aku masih penasaran bagaimana nasib orang gila itu he he ...."
"Sip, gampang," jawabnya singkat dan pergi keluar kelas.
Melihat temannya telah pergi dia pun kembali bertelungkup di meja. "Astaga lagi-lagi aku ingat prihal pria itu, lebih baik aku tidur saja, mumpung harinya masih hujan jadi terasa nyaman," ucapnya berusaha melupakan kejadian itu.
Setelah beberapa saat kelasnya pun mulai sepi dan hanya ada beberapa orang saja di kelas, entah kenapa tiba-tiba dia merasa ngantuk hingga akhirnya tertidur.
...●●●●...
Saat itu Akira sedang tidur di kamar, terdengar suara gemuruh angin mengusik telinganya, sebuah cahaya terang mengganggu mata yang terpejam, kasur yang dingin terasa jelas ditelapak tangannya, perasaan tak nyaman itu membuatnya terbangun dari tidur.
Mata yang masih terasa sepet berusaha untuk melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, betapa terkejut dia hingga membuat pupil matanya mengecil dan bola mata membesar, deguman keras jantung terus berdetak, rasa syok yang berat membuat sulit bernafas, tekanan yang dia terima benar-benar membuatnya tidak bisa bergerak ketika melihat sebuah portal menganga lebar dihadapan. Portal tersebut mulai menariknya secara perlahan, hingga dia pun mulai sadar, bahwa dia sedang berada dalam bahaya.
"Oy oy oy apa-apaan ini?!" Akira berteriak hiteris dangan tubuh yang terus tertarik, dia sangat terkejut hingga bangkit dari kasur untuk kabur keluar kamar, dia terus berteriak-teriak ketakutan dengan air mata yang terus bercucuran.
"Ap-apa, apa yang sebenarnya terjadi disini? apa yang harus kulakukan?!"
Dia terus berusaha lari dan melompat dari kasur untuk pergi dari tempat itu, namun tarikan yang begitu kuat membuatnya kehilangan keseimbangan, hingga dia pun terus terhempas ketika berusaha untuk lari. hal itu dikarenakan portal yang menganga lebar tepat di ujung kasurnya.
Tangannya terus mencoba untuk memegang sesuatu agar bisa bertahan dari terikan itu, namun usahanya untuk bertahan benar-benar sangat sulit, dia terus mencengkram kasurnya dan melemparkan bantal-bantal kearah portal, namun hal tersebut justru membuatnya semakin takut, kerna semua yang dia lempar menghilang terisap ke dalam.
"Siapa pun tolong aku! Kumohon aku sudah tidak bisa lagi bertahan! Kumohon siapa pun tolong aku!" Akira terus berteriak meminta pertolongan, namun tak ada yang datang.
__ADS_1
Setengah tubuh pun terangkat, cengkramannya pun tak lagi kuat. Portal terus menghisap, tenaganya pun terus terserap. Rasa takut kian menyelimuti, hatinya pun kian merasapi. Seiring waktu terus berjalan, pikirannya pun makin tertekan.
-Bersambung-