The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Ingatan yang telah Kembali bagian 2


__ADS_3

Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken, namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.


Suasana hari yang begitu panas membuat orang-orang enggan keluar dan lebih memilih tinggal di dalam rumah mereka, apa lagi sekarang adalah waktu makan siang.


Tetapi berbeda dengan tiga orang laki-laki yang sedang tertawa bersama sambil memakan cemilan mereka di gang sepi dan sempit. Pakaian mereka yang acak-acakan dari jauh pun kita tau bahwa meraka adalah sekumpulan preman yang suka buat onar.


"Hey bos lihat ada mangsa lagi, sepertinya dia bawa makanan di keranjangnya," ucap  gendut sambil memegang wadah berisi makanan, dia memakan dengan sangat lahap dan menunujuk ke arah bapak tua yang berjalan masuk ke gang sempit itu.


"Wah cuma bapak tua nih, gampang lah bos," sahut sikurus di sebelah.


"Ayo kita rampas semuanya he he he ..." jawab sibos itu.


"Syukurlah aku bisa makan enak dengan cucuku hari ini," ucap bapak tua itu sambil terus berjalan, hingga tanpa sadar ketiga periman itu sudah berada di depan.


"Hai Bapak tua he he ... minta uang atau makanannya dong, kasian teman kami ini dia terlihat kurus kerna sudah lama tidak makan, atau harus aku panggil Kakek ya biar terlihat lebih sopan ha ha ha ...!" sibos itu bermain-main dan tertawa keras.


"Maafkan aku nak, aku tidak punya uang, aku cuma bawa makanan untuk cucuku di rumah jadi komohon biarkanlah aku lewat," jawab bapak itu.


"Aha ha ha ... maaf saja Kakek tapi kami sangat lapar jadi biarkan kami mengambilnya secara paksa," balasnya sambil merampas keranjang bapak itu, namun dia sigap memeluk erat.


"Capat lapaskan ini sebelum kami melukaimu!" teriak sibos itu.


"Tidak, komohon jangan, ini semua untuk cucuku," jawabnya sambil terus memeluk erat.


"Akhhh dasar kau Kakek tua!" sibos itu menarik dan mendorongnya ke samping lalu ditangkap oleh sigendut, kerenanya membuat bapak itu tidak bisa bergarak.


"Bagus gendut, terus tahan dia," pinta sibos itu.


"Kau sudah membuatku kesal Kakek tua, jadi rasakan akibatnya," ucapnya sambil mengangkat genggaman tangan ingin memukul.


"Cukup sampai di situ!" teriak Akira tiba-tiba berada di balakang mereka hingga membuatnya terhenti.


"Lepaskan Bapak itu dan biarkan dia pergi, atau kalian harus berurusan denganku!" teriak Akira dengan lantang dan membuat mereka terdiam.


"Siapa dia, kalian kenal," tanya sibos.


"Dia Ken bos, orang yang pernah dihajar oleh teman kita yang lain sampai hampir babak belur, dia mengamuk ketika di ejek tentang Kakeknya," jawab si kurus itu sedikit berbisik.


"Artinya dia lemahkan, jadi kita bisa menghajarnya di sini," jawabnya menyeringai memandang Akira, namun Akira nampak tidak takut bahkan memandang tajam mereka.

__ADS_1


"Oy oy oyy berani juga dia melihat kita dengan tatapan seperti itu, ayo kita hajar dia sama-sama." Ketiga preman tu langsung berjalan mengelilinginya hingga Akira nampak terpojok, sedangkan laki-laki tua itu hanya bisa pergi meninggalkan, kerna Akira menyuruhnya untuk pergi dengan isyarat mata.


...●●●●...


*Kruruukk ...!


"Astaga perutku sudah lapar sekali kalau sudah begini lebih baik aku beli sesuatu buat dimakan, eh tapi aku tidak membawa uang, apa aku pulang saja ya," gumam Chio kemudian terhenti memikirkan sesuatu.


"Hemm ... bagaimana kalau aku numpang makan di rumah Ken saja, lagi pula ini sudah dekat, tapi jika begitu maka aku harus menyudahi penyelidikanku hari ini, padahal sudah sejauh ini, apa lagi dengan sikapnya yang sangat jelas berbeda."


*kruruukk ... !


Chio memegang perutnya yang terasa perih kerna lapar. "Akhh ... baiklah aku sudah tidak tahan lagi, lebih baik aku numpang makan di rumahnya saja, lagi pula aku bisa bertanya beberapa hal untuk mengujinya."


"Dia juga sering pura-pura datang kerumahku untuk membantuku bekerja, tapi dia selalu datang di saat waktunya makan siang, sudah sangat jelas dia datang hanya untuk ikut makan," sambungnya merasa kesal.


"Ya ampun aku ini, sama teman sendiri aja perhitungan. Walaupun dia selalu begitu, tapi setelahnya dia justru membawakanku ramen untuk dimakan bersama, aku senang bisa makan bersama dengannya."


Ken dan Chio adalah seorang yang memiliki nasib yang sama, yaitu sama-sama tinggal sendiri di rumah, hal ini karena kedua orang tuanya telah meninggalkan mereka, wajar jika Ken numpang makan di tempat temannya kerna dia malas untuk memasak di rumah, apa lagi hanya untuk dirinya sendiri.


*Brukkk Brakkk tang tang teng!(bunyi orang jatuh dan beberapa sampah terlempar)


Suara itu terdengar sangat dekat dari Chio yang sedang berjalan hingga membuatnya penasaran dan mengahampiri asal suara.


"Ken! apa yang terjadi!" Chio mengintip di depan gang sambil memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ha ha ha ... aku pikir dia sangat kuat dari tatapannya kepada kita, ternyata cuma gertakan saja, bagaimana kalau kita hajar lagi dia sampai bebak belur, kau tau, hari ini aku sedang semangat," ucap sibos.


Mendengar perkataan itu membuat Chio ingin segera menolong Akira, namun dia terhenti ketika mendengar jawaban anak buahnya yang menyinggung perihal kakek Ken.


"Tunggu dulu bos, aku dengar dia pernah mengamuk kerna diejek telah membuat kakeknya bunuh diri, gara-gara dia sering memarahinya, yah mungkin sajakan kakeknya sudah gak tahan hidup kerna terus dimarahi, iya kan Ken?" tanya sikurus mengejek.


"Benarkah? jahat sekali dong dia pada kakek sendiri aha ha ha ...!" sahut sibos disertai tawa mereka sangat keras.


"Apa yang sedang kalian bicarakan dari tadi, yang benar saja, sejak kapan itu terjadi, aku sama sekali tidak punya Kakek. Jadi tutup mulutmu dan hentikan ocehanmu yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku!" jawab Akira sambil berdiri.


Ucapan tersebut membuat Chio kaget dan tidak percaya dengan apa yang di katakan Akira tentang kakek Ken yang tidak dia ketahui, wajar jika dia tidak tahu hal itu kerna Akira dan Ken adalah orang yang berbeda.


"Masih bisa bangun dan bicara ternyata he he ... sinih biar aku pukul wajahmu beberapa kali biar kau bisa diam." Sikurus itu mengambil ancang-ancang untuk memukul dengan keras ke arah wajah.

__ADS_1


*Brukkhh! Plakk!


Seketika hening saat semua mata tertuju ke arah mereka berdua dengan tatapan tidak percaya, pukulan itu meleset di sisi wajah Akira, sedangkan telapak tangan Akira meremas wajah sikurus dengan keras.


*Brraakk ...!


Akira langsung menghempaskan tubuh sikurus ke tanah dengan sangat keras hingga terdengar suara nafas tersengal layaknya orang asma, kedua preman yang melihat temannya sudah tidak bergerak lagi tidak percaya dengan pemandangan itu, begitu juga dengan Chio yang dari tadi memperhatikan.


"Kakak!" teriak sigendut memandang sikurus yang terbaring tak sadarkan diri.


Kemudian memasang wajah marah menatap Akira, lalu dia mengambil balok kayu di dekatnya dan berlari mengayunkan memukul Akira, namun secepat kilat Akira sudah berada di depan sehingga membuatnya kaget dan kehilangan keseimbangan.


Satu tangkisan yang mengarah ketangan sigendut membuat balok kayu itu terlepas dan melambung tinggi ke atas, sedangkan sigendut terus berlari ke arah timbok kerna kehilangan keseimbangan.


*Krraakkk ...!


Sedikit dorongan saja dari Akira membuat wajah dan kepalanya membentur keras ke tembok hingga memantul dan membuat jarak dari tembok, tidak berhenti disitu, Akira langsung berputar dan menangkap balok kayu yang sedari tadi melambung hingga jatuh tepat di depan sigendut itu.


Sebuah ayunan keras dari balok kayu itu terhenti tepat diwajah, sehingga membuatnya tidak bisa bernafas dan bergarak kerna ketakutan, akhirnya dia jatuh pingsan.


Hanya Satu preman sekaligus bosnya lah yang tersisa, semuanya telah tumbang akibat serangan Akira, dia nampak ketakutan dan berjalan mundur.


"Dia menghempaskan tubuhku sekali, dia membenturkan kepalaku sekali, dan kau, memukulku dan menendangku masing-masing satu kali," ucap Akira membuatnya merengek ketakutan, dia merasa tidak ada yang bisa dilakukan, tanpa pikir panjang, dia menyerang Akira dengan mengayunkan pukulan secara asal-asalan.


*Bughh ...!


"Argh ...!" Suaranya hampir tidak terdengar akibat pukulan tepat di uluh hati hingga membuatnya hampir terjatuh.


*Krraakkk ...!


Sebuah tendangan berputar Akira tepat mengenai pelipis sibos itu hingga membuat tubuhnya terangkat dan berputar hampir 180 derajat sebelum terhempas ke tanah.


Semuanya telah tumbang dan pingsan tidak ada yang bergerak lagi sedikit pun, Akira melihat kesekitar sambil menyapu darah di kepala dan wajahnya, sesekali dia merengek kerna merasa sedikit sakit, lalu berjalan menjauh pergi dari tempat itu.


Jantung Chio berdetak kencang, dia berjalan pelan mengahampiri para preman yang telah terkapar tidak sadarkan diri serta Akira yang sudah berjalan menjauh.


Menyaksikan semua ini membuatnya menyadari dan mengakui bahwa Shiro benar, Ken yang sekarang bukanlah Ken yang salama ini dia kenal, dan yang membuatnya yakin adalah tentang kakeknya Ken yang sama sekali tidak diingatnya.


"Ken tidak akan pernah melupakan kakeknya sendiri yang telah merawatnya sedari kecil, siapa kau sebenarnya dan mengapa wajahmu sangat mirip dengannya," ucap Chio merasa syok.

__ADS_1


"Apa yang telah terjadi dengan Ken yang kukenal, aku ... aku harus segera menemui Shiro dan menceritakan semua ini, aku yakin dia sudah tahu semua yang telah terjadi," sambungnya terua memandang Akira yang semakin menjauh.


-Bersambung-


__ADS_2