
“Bagi Akiyama negeri Sabbat adalah negeri yang harus dia kuasai, sedangkan orang-orangnya akan dia jadikan budak pekerja untuk memperluas negeri ini,” ucap Arata.
“Semua itu di mulai saat Rezvan Daichi selaku pangeran ditugaskan oleh ayahnya untuk menjadi raja di kota Shukufuku, sedangkan sang adik pengeran Rezvan Kanechi justru memimpin negeri ini, padahal dia bukan orang yang bisa memimpin kekuasaan, seharusnya pengeran Daichi lebih pantas!” sambung Arata.
“Saat di perjalanan Daichi pernah bilang soal itu pada kami, namun dia tidak begitu ingin bercerita,” jawab Chio.
“Jadi kalian sudah saling kenal?!” Arata kaget.
“Yah, kami cukup sering datang ke istana.”
Arata memegang dagunya. “Cukup mengejutkan.” Dia nampak memikirkan sesuatu.
“Aku lanjutkan yang tadi,” sambungnya.
“Semua itu adalah usulan dua menteri yang sangat dipercaya raja terdahulu, dan mereka pun ditugaskan berbeda, Akiyama menjadi pendamping pangeran Daichi dan menteri satunya pangeran Kanechi, semuanya berawal dari situ, sayangnya aku tidak begitu tahu rincinya, namun yang bisa kupastikan semua ini berasal dari pemikiran menteri yang mendampingi pangeran Kanechi, dialah otak di balik perbudakan ini.”
“Jadi menteri ini yang ikut memimpin negeri, lalu apa yang sedang dilakukan raja terdahulu dan pangeran!” Chio sedikit kaget.
Arata menggeleng sedih. “Raja sudah lama meninggal dunia, sedangkan pangeran dia menyetujui hal ini dan mendukung semuanya.”
“Tidak mungkin, bisa-bisanya dia menyatujui perbudakan, apa Daichi juga dalang dari ini!” Chio nampak marah.
“Aku dengar dia baru mengetahui ini saat dia datang bersama kalian dan mencoba membicarakannya dengan pangeran, bahkan memarahi semua orang di istana, akan tetapi, menteri dan pengeran bilang dia tidak punya wewenang dalam hal ini, lalu mengusirnya keluar,” jawab Arata.
Mendengar itu Chio terduduk diam tak menyangka semuanya. “Setidaknya untuk sekarang kita bisa bersyukur, jika wilayah negeri Sabbat tidak terbagi menjadi dua pemimpin, Akiyama pasti sudah dengan mudah menguasainya, dan itulah yang menjadi sebab cuma delapan puluh orang yang pergi ke negeri ini,” sambungnya memberi tahu.
“Maksudmu tetua Kanzo membuatnya kesulitan?” tanya Chio.
Arata tersenyum. “Aku dengar dari pengawal lainnya, Akiyama terus mengoceh marah-marah menyabut namanya, orang itu memang tidak tahu apa yang diperbuat Akiyama pada warganya, tapi sepertinya dia memiliki firasat buruk tentang Akiyama.”
“Namun delapan puluh orang itu tidaklah sedikit,” balas Chio.
“Benar, saat mereka datang dan dibawa ke penjara, keadaan mereka sama seperti kalian, yaitu tidak sadarkan diri,” balas Arata.
__ADS_1
“Tetapi, dari situlah kenapa empat puluh orang dipulangkan, tetua kalian terus mendesak bersama warga lain agar mereka segera dipulangkan, padahal Akiyama sudah mengatakan kalau mereka sendiri yang tidak mau pulang, berbagai cara telah dilakukan untuk membuat mereka percaya, tetapi tetua dan lainnya tidak percaya hal itu dan tetap mendesaknya,” jawab Arata.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Balik lagi menteri pendamping pengeranlah yang mengatur itu semua, melihat para perempuan yang bekerja tidak begitu baik, mereka pun berancana memulangkannya. Agar tidak terlalu dicurigai sepuluh orang laki-laki pun di ikut sertakan, mereka berpikiran dengan memulangkan setengahnya, tetua dan lainnya akan percaya kalau yang lain memang tidak ingin pulang ke negeri asal.”
“Dan itu berhasil, mereka semua mengikhlaskannya,” jawab Chio kembali dibuat tak percaya.
“Sekarang mereka yang tersisa sudah di perjual balikan ke tampat lain, yang di sini sekarang adalah orang-orang yang pergi bersamamu,” balas Arata merasa sedih.
Chio tampak masih Syok. “Sekarang inilah yang menjadi penghujungnya, alasan kenapa empat puluh orang yang pulang itu melupakan semua yang terjadi, dan malah menginginkan kembali ke negeri ini,” sambungnya membuat Chio menatap Arata penasaran.
“Kekuatan itu berasal dari para penyihir kerajaan, dialah yang mampu menghilangkan ingatan mereka,” ucap Arata.
“Penyihir!”
“Bebarapa orang juga menyebutnya pesulap, namun menurutku itu hanya berlaku pada pertunjukan jalanan atau pun di pasar, sedangkan yang di istana itu, mereka punya tingkatan berbeda.”
“Bagaimana bisa orang seperti itu ada di dunia ini, kalau mereka terus ada, bukan tidak mungkin membuat semua orang yang berada di negeri Sabbat akan menjadi budak!” Chio terlihat sangat cemas.
Chio ikut menatapnya. “Menteri pendamping dan pengeran Kanechi.”
Arata tersenyum. “Jadi apa rencanamu sekarang?”
Chio berusaha memikirkannya dan tiba-tiba tersenyum. “Kita akan membutuhkan Daichi sebagai sumber keuangan.”
“Ap-apa yang kau rencanakan?!” Arata heran sekaligus kaget.
“Hal pertama yang harus dilakukan adalah menguasai tempat ini, kita butuh kepercayaan Akiyama untuk menyarahkan kepemimpinan tempat ini padaku, dan itu membutuhkan Daichi sebagai penyumbang dana,” ucap Chio menjelaskan.
“Lalu uang itu digunakan untuk apa?”
“Membeli kebutuhan pokok untuk para pekerja, kita buat mereka sebagai pekerja biasa yang mendapat upah bukan sebagai budak, dengan begitu akan memunculkan semangat dan keikhlasan bekerja mereka,” balas Chio.
__ADS_1
Arata menggeruk belakang kepalanya. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”
“Sederhananya, keikhlasan akan membuatmu bekerja sepenuh hati,” balas Chio.
“Bukannya Ikhlas itu melakukan sesuatu tanpa berharap imbalan, sedangkan kau ingin membuat mereka bekerja dengan pemberian upah, jadi di mana letak keikhlasan mereka?”
“Saat kau diberi upah dalam bekerja, pasti kau akan melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik, berbeda jika kau di posisi mereka yang menjadi budak pekerja, kau bisa melihatnya sendirikan, mereka bekerja sangat terpaksa bahkan bermalas-malasan, belum lagi kelelahan yang membuat pekerjaan mereka bertambah buruk.”
“Maka dari itu kita harus membuat mereka bekerja sepenuh hati dan melakukan yang terbaik, ikhlas bukan sekedar melakukan sesuatu tanpa balasan, tapi bagaimana kau melakukan itu dengan sepenuh hati dan melakukan semuanya dengan sangat baik, maka dari itu kita beri mereka makanan yang cukup, bangun semangat mereka kembali, dan kuatkan tekad mereka untuk bebas, dengan semua itu pekerjaan sulit pun akan menjadi mudah ha ha ha ...” sambung Chio tertawa seraya berdiri memagang kedua pinggangnya.
“lalu bagaimana Akiyama akan mempercayakan itu semua padamu?”
“Itu mudah aku akan berlagak seperti bos yang mengarahkan mereka semua, seperti seorang yang memberikan mereka semangat.”
“Ya ampun kau terlalu bersemangat, sekarang bagaimana rencanamu itu sampai pada pangeran Daichi?”
Chio tersenyum menyeringai. “He he ... itu mudah aku akan menuliskan surat dan kau yang mengantarnya,” ucap Chio seraya menunjuk.
“Eh aku! Baiklah ... terserah kau saja,” jawab Arata tertunduk lesu.
Keesokan harinya Chio pun memberikan sepucuk surat pada Arata, Chio melakukan apa yang dia kerjakan seperti kemarin sedangkan Arata pergi ke istana dan memberikan surat itu pada Daichi secara langsung.
“Tuan ada surat untukmu, tolong bacalah,” pinta Arata.
“Dari siapa ini?” tanya Daichi merasa heran.
“Chio Alfahrezi teman barumu,” jawab Arata membuat Daichi segera membuka surat itu.
“Yo Daichi, bagaimana kabarmu dan Ayumi, aku sangat yakin Ayumi pasti tinggal di istana bersamamu, dan aku juga yakin kau pasti menjaganya dengan baik, tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan. Yang ingin kubicarakan adalah, maukah kau ikut serta dalam rencana kami untuk menjatuhkan kerajaan yang sekarang dan tantunya membuatmu menjadi raja selanjutnya wahai pengeran Daichi,” ucap Daichi membaca surat itu.
Arata yang mendengarnya di buat terkejut kerna itu sangat berbeda dengan yang mereka rencanakan, melihat raut wajah Daichi yang terlihat marah membuatnya takut.
“Chio ... berani kau mengajakku melakukan ini!” ucap Daichi meremas surat itu.
__ADS_1
Arata terus menunduk tak berani melihat. “Habislah kau Chio, apa yang sedang kau pikirkan,” batin Arata.
-Bersambung-