
Saat rombongan orang yang ke istana itu sampai di depan gerbang pemisah, ternyata Kanzo sudah menunggu, secara cepat dia pun menghadang mereka.
“Kalian semua tidak perlu pergi ke sana, kemarin aku sudah membicarakan ini dengan menteri mereka, dia bilang mereka akan segera kembali, hanya saja ...” ucap kanzo.
“Sudah berapa kali mereka mengatakan itu, hingga sampai sekarang mereka belum ada yang kembali!” potong salah satu dari mereka.
“Ya!”
“Ya, benar!” teriak yang lain.
“Biarkan kami saja yang membicarakan ini dengan mereka, kami semua sudah lelah menunggu janji yang tak pernah terwujud,” ucap yang lain lagi.
“Benar!”
“Benar!” Akhirnya mereka semua pun segera pergi meninggalkan tetua yang tak bisa berucap apa-apa lagi.
Kanzo pun segera mengahmpiri Gozali dan Hozy di belakang rombongan itu. “Kalian! Jangan biarkan mereka berbuat kerusuhan, tetap kendalikan situasi!” ucap Kanzo sangat khwatir.
“Tenang saja, kami akan menjaga mereka,” jawab Gozali.
“Paman tidak perlu khawatir kami juga akan ikut membantu,” sahut Chio.
Kanzo mengangguk. “Maaf merepotkan kalian,” balasnya.
Setelah itu mereka pun sampai didepan istana raja. Sedikit mengejutkan ternyata raja dan para menteri lainnya sudah berada di depan menyambut mereka.
“Cih ... lihatlah, mereka seperti sudah siap menghadapi orang-orang ini, bukankah ini sangat mencurigakan,” ucap Shiro.
“Ya ampun kau ini, tentu saja mereka sudah tahu dari para pengawal dan utusan yang bertugas,” jawab Chio.
Bukannya mendengarkan Chio, Shiro malah menatap tajam pada Daichi dan Akiyama. “Kepada semua penduduk kota megumi yang ada di sini! Kalian semua tidak perlu mengkhawatirkan lagi kepada keluarga kalian yang belum kembali!” Belum sempat mereka bicara, Akiyama sudah berdiri menghadap mereka.
“Kami selaku menteri telah mendapat kabar bahwa keluarga kalian akan segera dipulangkan dalam waktu dekat ini, hanya saja sangat di sayangkan, beberapa dari keluarga kalian mereka memilih untuk tetap tinggal lebih lama,” sambung Akiyama.
Para rombongan yang mendengar itu seketika riuh kerna saling bertanya apa maksud dari perkataan Akiyama. “Kami sudah berusaha membujuk, namun mereka bersikeras untuk tetap tinggal, alasan mereka bermacam-macam ada yang merasa sudah nyaman dengan pekerjaannya ada juga yang sudah membina rumah tangga. Kami tidak bisa berbuat banyak mengenai itu, kerna ini keinginan mereka.”
“Lalu bagaimana dengan yang lainnya!” teriak salah satu dari mereka.
“Kami tidak bisa memberitahukan orang-orang yang akan kembali itu kerna mungkin saja akan menyakiti hati yang lain, maka dari itu sebaiknya kalian semua berdoa dan berharap bahwa yang akan kembali itu adalah keluaga kalian,” jawab Akiyama lantang.
__ADS_1
Tiba-tiba semuanya pun terdiam hening saling berdoa masing-masing, berharap yang pulang nanti adalah keluarga mereka. Melihat itu Akiyama pun memberi kode kepada para pengawal untuk membubarkan mereka, lalu Akiyama, Daichi, dan lainnya pun kembali ke istana.
Salah satu pengawal raja berlari mengahampiri Gozali dan membisikinya, lalu Gozali pun meminta mereka semua untuk pulang.
“Cih ... benar-benar hebat si Akiyama itu, raja itu bahkan tak perlu mengeluarkan suaranya, benar-benar sangat mencurigakan,” ucap Shiro terus menatap tajam pada mereka.
Di saat seperti itu tiba-tiba seorang kakek memukul kepala Shiro dengan tongkat membuatnya terjongkok kesakitan.
“Woo ... apa yang baru saja terjadi!” ucap Chio kaget.
*Plak! Plak!
Masing-masing dari Akira dan Chio mendapat pukulan di kedua pahanya, membuat mereka melompat-lompat kesakitan. “Dari pada kalian cuma melihat-lihat saja lebih baik antarkan aku pulang,” ucap kakek itu dengan suara lantang.
Shiro seketika berbalik untuk menghadap orang yang memukulnya. “Cih ... siapa yang berani memu ...” ucapnya seketika terhenti ketika melihat ternyata seorang kakek.
*Plak!
Kakek itu kembali memukul Shiro, namun kali ini di kakinya, lagi-lagi shiro kesakitan. Dan ikut melompat-lompat bersama Akira dan Chio. “Baik Kek kami akan mengantarkan kakek sampai kerumah, tapi jangan pukul kami lagi,” ucap Akira.
“Kau gendong aku.” Tunjuk si kakek dengan tongkat tepat di depan wajah Shiro yang sedang memegang kakinya. Melihat itu Shiro hanya bisa terdiam tak berkutik.
Shiro pun akhirnya menggendong kakek itu sepanjang jalan. “Cih ... kenapa harus aku yang menggendongnya.”
“A’ahh ....”
“Lagian kenapa sih kakek ikut-ikutan,” sambung Chio.
“Putriku satu-satunya belum kembali dari sana, tentu saja aku harus menceri tahu kebanarannya dari mereka. Aku sudah berusaha melarangnya jangan pergi, namun dia bersikeras ingin melihat dunia luar,” jawab kakek itu penuh kekhawatiran.
“Lagi pula kalau bukan aku siapa lagi,” sambung kakek itu, Akira dan lainya hanya bisa diam.
“Hiss ... lagi dulu aku sudah menduga kalau negeri mereka itu tidak beres, bahkan di masa Thalib pun raja mereka itu hanya menginginkan kekayaan, hah dasar! mungkin negeri mereka kembali lagi kemasa lalu,” ucapnya sangat kesal.
“Hemm ... raja yang menginginkan kekayaan.” Chio memegang dagunya.
“Hemm ... kembali ke masa lalu.” Akira juga memegang dagunya.
“Cih ... apa Kakek tahu tentang Thalib saat di negeri mereka?” sahut Shiro.
__ADS_1
“Woy gentian!” sambungnya menatap Akira.
“A’ahh ...” Akira pun menggantikan Shiro menggendongnya.
“Cerita itu sudah mendarah daging dalam diriku,” jawab kakek menyombongkan.
“Kalau gitu ceritakan semuanya pada kami!” ucap Chio.
“Kalian ingin mendengarnya, hah ... tentu ada syarat yang harus kalian penuhi!” lagi-lagi dia menyombongkan diri.
“Apa! Padahal kami hanya perlu memasang telinga dengan baik!” teriak Chio sedangkan Akira tertawa mendengarnya.
“Cih ... bukankah kami sudah tampak berusaha mengentarkanmu sampai rumah,” sahut Shiro kesal.
“Apa kau ini bisa bicara dengan baik! Cepat belikan itu, perutku mulai lapar!” tunjuk si kakek pada paman penjual buah yang tengah menjajakan lewat tak jauh dari mereka.
“Ci ...” Shiro menahan diri, “mana uangnya,” sambungnya menengadahkan tangan.
“Pakai uangmu dulu!” mendengar itu Shiro hanya bisa menurut dengan kesal.
Setelah memakan buah dengan lahap dia malah terlihat tidak puas. “Hey berhenti anak muda,” ucapnya pada Akira.
“Kita singgah dulu dikedai makan ini,” sambungnya.
“Jika kau menyuruhku lagi untuk bayar, maka aku sudah tidak punya uang,” Jawab Shiro.
“Tenang saja kali ini, aku yang yang akan bayar!” ucap kakek kembali menyombongkan diri.
“Dari pada buang-buang duit-duit mending kita segera pulang, Lagi pula kita sudah hampir sampai gerbang, mungkin saat ini para penduduk sudah membagikan makanan,” ucap Chio ingin membujuknya.
“Cih ... Kau ini bicara apa cepatlah,” sahut Shiro yang sudah berada didepan kedai.
“A’ahh ... kapan lagi kita dapat tawaran makan gratis,” ucap Akira yang sudah berada di depan pintunya sambil terus menggendong kakek.
Melihat mereka yang bersemangat Chio pun tak tahan dan segera menyusul, hingga Akhirnya mereka makan sup dengan sangat lahap. Sepulangnya dari tempat itu kini Chio yang menggendong sang kakek hingga telah samapi ke rumah.
“Kau sudah pulang, kok cepat sekali,” ucap wanita tua tengah membukakan pintu.
“Bagaimana Kek, apa ada kabar tentang ibuku,” ucap seorang perampuan ikut keluar yang ternyata adalah Akiko, sedangkan wanita tua itu adalah orang yang mereka temui ketika memberikan kue gegatas.
__ADS_1
“Ehh ... nenek dan Naya,” ucap Chio sedangkan Akira tertawa, lain bagi Shiro dia terlihat biasa-biasa saja.
-Bersambung-