
Setelah selesai makan mereka pun tengah bersiap-siap untuk segera berangkat mencari keberadaan Chio.
“Gunakan ini agar saat berkeliling nanti kita tidak dikenali.” Harley memberikan pakain baru pada mereka.
“Apa kau yakin ini berhasil?” tanya Akira.
“Tenang saja, ini baju yang baru saja kubeli, sedangkan yang dipakai Rin itu baju yang mereka berikan untuk budak,” jawab Harley.
“Yah itu memang pemberian mereka, hampir semua budak pekerja juga menggunakan itu,” sahut Rin.
“Sepertinya itu cara mereka membedakan kasta,” jawab Akira sambil mengganti bajunya.
“Di dunia modern sekalipun hal itu masih saja berlaku, jadi kita tidak perlu heran,” sahut Harley.
“Oh ya, ngomong-ngomong, dari mana kau dapat duit?” tanya Akira menatap curiga.
“Yah siapa lagi kalau bukan punyamu he he ...” jawab Harley membuat Akira tertunduk lesu.
Mereka pun telah siap dan segera melakukan pencarian terhadap Chio yang keberadaannya entah di mana, di negeri yang sangat luas ini dan akan terus bertambah luas dengan bangunan di mana-mana, mereka melakukannya sembunyi-sembunyi dengan melihat ke setiap bangunan yang sedang dikerjakan, berharap Chio berada di salah satu tempat itu.
Setiap harinya mereka mencari menyusuri jalan-jalan kota, bahkan pasar-pasar yang menjual para budak, tidak ada satupun petunjuk mengenai Chio, bahkan yang lainnya.
Saat menjelang malam mereka akan kembali ke rumah terbengkalai itu untuk beristirahat dan saling berbagi informasi.
Permasalahan makanan pun menjadi acuan mereka untuk berhemat dan bekerja menjadi pesulap jalanan, tentunya itu dilakukan oleh Harley dan dibantu Rin. Memang tidak setiap hari mereka lakukan dan hanya saat ada pasar saja, yaitu tiga hari sekali.
Saat Harley dan Rin berkerja seperti itu, Akira tetap melakukan pencarian terhadap Chio. Lalu tanpa terasa satu minggu telah berlalu, sedangkan mereka masih belum menemukan petunjuk.
Saat itu Akira sedang memeperhatikan para budak pekerja yang sedang membangun rumah.
“Apa yang kau lihat anak muda,” ucap seorang laki-laki menepuk pundaknya.
Akira kaget segera berpaling dan bertambah kaget ketika melihat wajah orang itu berjenggut tebal dan juga bertubuh besar.
“A’ahh ... aku hanya sedang melihat-lihat saja!” Akira berteriak tanpa sadar.
“Aku sarankan kau jangan terlalu dekat dengan para budak pekerja itu, bukannya aku merendahkan mereka, hanya saja jika kita terlalu dekat sebagai seorang yang bebas itu akan membuat mereka sakit hati,” ucapnya.
“Aku bilang seperti ini kerna aku tidak punya banyak uang untuk bisa membeli dan membebaskan mereka, padahal mereka adalah orang dari negeri soma katanya,” sambungnya.
Akira hanya diam dan mengangguki saja. “Atau jangan-jangan kau ini ...”
Laki-laki itu terus memandangi sekujur tubuh Akira hingga membuat Akira sedikit takut dan cemas. “Mau cari pekerjaan ya?!”
Akira menghela nafas merasa tenang. “Apa paman tahu di mana tempatnya?”
“Aku dengar di kota sebelah membuka lowongan pekerjaan sebagai pekerja bangunan, mereka tidak seperti budak pekerja yang kerja paksa tanpa upah, di sana kau bisa bekerja dengan aman dan di gajih perhari, bahkan di beri makan setiap harinya,” jawabnya.
__ADS_1
“Aku dengar juga bosnya suka membeli budak negeri Sabbat dan menyuruh mereka untuk bekerja di tempatnya, itu pun kalau mereka tidak mau mereka akan di bebaskan, namun kebanyakan dari mereka memilih bekerja di sana, dan sekarang aku dengar para pekerja itu memiliki tubuh yang besar-besar,” sambungnya nampak terlihat senang.
“Apa paman tahu siapa nama Bosnya?” tanya Akira.
“Emm ... aku lupa soal itu, namun sepertinya dia juga berasal dari negeri Sabbat.”
Akira terdiam memikirkan. “Jika demikian maka aku bisa minta bantuan kepadanya untuk mencari Chio dan membebaskan kami sebegai seorang yang sama-sama berasal dari Sabbat,” batinnya.
“Apa paman tahu persis tempatnya di mana?” sambungnya bertanya.
“Datang saja ke kota Akashingo, orang-orang di sana pasti tahu kerna bos itu orang yang terkenal.”
“Terima kasih banyak Paman,” balas Akira membungkuk hormat.
“Bagus! Semoga tubuhmu yang kerempeng ini juga ikut tumbuh besar ha ha ...” balasnya seraya menepuk belakang Akira cukup keras.
Wajah Akira malah pucat menahan sakit pukulan dan hinaan. “Bocah kerempeng! padahal tubuhku sudah sedang,” balas Akira.
“Selain tangan dan tubuhnya yang lebar, orang ini punya nafas yang panjang hingga bisa berbicara panjang lebar seperti itu tanpa henti,” sambung batinnya dengan wajah heran.
“Aku pergi dulu paman, aku ingin segera ke sana malamar pekerjaan,” ucap Akira segera berlari pergi sedangkan orang itu melambaikan tangannya.
Saat menjelang petang Akira sampai di kota itu dan menanyakannya kesetiap orang, orang-orang itu menjawab dengan senang ketika Akira bertanya soal bos itu, dia pun terus di arahkan hingga hampir sampai ditujuan.
Saat itu Akira bertanya pada dua orang pemuda yang tengah santai mereka terlihat seperti orang yang kasar, mereka juga asik menghisap rokok.
“Hah ... kau juga ingin melamar di situ!” teriak satunya.
“A’ahh ...”
Salah satunya meniupkan asap rokok itu ke wajah Akira. “Hah ... bicara yang benar!” teriaknya lagi.
“Yah aku ingin melamar di situ!” teriak Akira tanpa sadar.
“Kau mau Rokok?” yang satunya menawarkan, dia bermata panda.
“Hah ... jangan berikan padanya, rokok ini mahal!”
“Maaf-maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi,” ucapnya pada temannya seraya membungkuk-bungkuk.
Dia beralih menatap Akira. “Kami sudah datang ke sini pagi tadi, ternyata mereka sudah selesai, kata mereka kami bisa datang besok lagi, katanya mereka akan mengerjakan yang di sebelah sana,” sambungnya dengan suara pelan, tubuhnya pun terlihat lemah.
“A’ahh ... Syukurlah, terima kasih banyak sudah memberi tahu,” jawab Akira seraya tersenyum.
“Hah ... terserah kau saja cepatlah pergi!” teriaknya lagi sedang yang satunya manggut-manggut.
Akira berpaling dan berjalan pergi pulang. “Ya ampun ... sudah dua kali aku bertemu dengan orang yang aneh huh ...” Dia tertunduk lesu.
__ADS_1
Keesokan harinya Akira pergi bersama Harley dan Rin, saat sampai di tempat itu mereka harus menemui seorang penjaga yang berada di sebuah pos terlebih dulu untuk melamar pekerjaan.
“Paman kami bertiga ingin ikut bekerja di sini,” ucap Akira pada seorang laki-laki yang sedang berpaling.
“Ohh ternyata kau, baguslah kau sudah berhasil menemukan tempatnya,” jawab laki-laki yang tidak lain adalah paman berjenggut tebal yang Akira temui kemarin.
“Eh ... kenapa paman bisa di sini?” tanya Akira terkejut.
“Ha ha ... aku di tugaskan sebagai penjaga oleh bos.”
“Apa?! Jadi ini orang yang kau ceritakan Akira, kenapa tidak langsung memberitahukan saja!” sahut Harley ikut kesal.
“Ha ha ... kalian harus berusaha dulu baru bisa mendapatkan ha ha ...” dia terus tertawa kerna berhasil mengerjai.
Akira dan lainnya hanya bisa memandang kesal. “Baiklah kalian bertiga langsung kuterima, siapa nama kalian?”
“Muhammad Akira.”
“Retania panggil saja Rin!”
“Harley Zinan hemmh” dia masih terlihat kesal.
“Baiklah Akira kau tukang aduk semen, Rin sebagai wanita akan menjadi tukang masak, lalu Zinan apa kebisaanmu?”
“Dia sangat hebat dalam sulap!” sahut Rin.
“Hoo benarkah, kalau begitu kau tukang angkat bahan material sekaligus jadi penghibur kami saat lelah.”
“Eh ap-apa hubungan dengan tukang angkat?!” jawab Harley.
“Yah gunakan sihirmu untuk memindahkan semuanya ha ha ha ...”
Mendengar itu membuat Harley mengoceh tak terima, Akira dan Rin pun mendorongnya untuk segera masuk sedangkan Paman itu terus mentertawakan lelocunnya.
“Shiro cepat kerjakan itu dengan baik, kau mau aku potong gajimu hah!” teriak Chio pada Shiro yang sedang menyusun bata.
“Cih ... baiklah!” jawab Shiro nampak sangat menahan rasa kesalnya.
“Yang lainnya juga jangan malas-malasan!”
“Baik!” jawab semua pekerja serentak.
“Bos Chio ini pekerja baru kita!” teriak paman penjaga di sebalah Akira dan lainnya.
“Bos ...!” teriak mereka serentak tak percaya.
“Ehh ...!” teriak Chio ikut tak percaya melihat Akira di hadapannya.
__ADS_1
-Bersambung-