
“Baiklah kerna kita sudah sepakat aku tunggu hasilnya, tenang saja aku pikir ini akan sangat mudah untukmu, jika dia melihat lawannya adalah kau, mungkin dia mau mengalah agar bisa berkumpul lagi denganmu,” sambung Akiyama segera pergi dan melambaikan tangan.
“Huhh ... syukurlah kita berhasil Arata,” ucap Chio mengelus dada.
“Yah ... dari tadi aku sangat gugup mendengar percakapan kalian,” balas Arata ikut merasa tenang.
“Memang sangat mengajutkan kalau Akiyama mengajukan syarat seperti ini, meski begitu dia mau bekerja sama,” sambungnya.
“Yah begitulah,” ucap Chio terlihat cemas.
“Jadi bagaimana selanjutnya?”
“Entahlah, aku sedikit bingung bagaimana cara melakukannya,” jawab Chio berusaha memikirkan.
Arata tersenyum. “Kau tak perlu cemas, dia itukan temanmu, kalau dia tahu kau akan menjadi lawannya dia pasti mau mengalah agar bisa berkumpul lagi, seperti yang Akiyama bilang.”
Chio seketika menatap Arata dan memegang pundaknya. “Yang kita lawan ini Shiro loh, Shiro!” teriak Chio sangat cemas sambil mengguncangnya.
“Ya ampun tenanglah! Apa sesulit itu hingga kau menyebut namanya dua kali!” balas Arata menenangkan.
“Masalahnya Shiro tak mungkin mau mengalah, dia itu keras kepala, kepercayaan dirinya sangat tinggi, mana mungkin dia mau menyerah di depan orang-orang!”
Arata tertunduk menepuk jidatnya. “Hah ... teman-temanmu memang beda, dari yang berhasil kabur, sekarang malah jadi budak petarung,” ucapnya menggeleng.
Arata menghela nafas. “Baiklah kerna ini masih pagi, jadi serahkan yang ini lagi padaku, aku akan mencari tahu di mana keberadaanya sekaligus kapan akan ada saimbara pertarungan diadakan, aku rasa dia sudah mulai terkenal, jadi mencarinya tidak akan susah,” sambungnya terlihat bersemangat.
“Syukurlah! Terima kasih banyak Arata, aku akan berusaha mencari caranya,” balas Chio merasa tenang, Arata pun mengangguk dan segera berjalan pergi.
Saat malam tiba Arata pun kembali, dia pun meminta Niky, Kafa dan paman Yogi berkumpul di penjara Chio.
“Huaaahhh ... kenapa aku juga dipanggil ke sini?” tanya Kafa berbaring seperti biasa.
“Kami sudah paham, jadi kami akan mendengarkan, yakan Paman?” sahut Niky.
“Diamlah dasar!” balas Yogi.
“Alasan aku memanggil kalian, kerna kalian adalah perwakilan dari mereka, apa lagi dengan adanya Paman Yogi sebagai kepercayaan mereka semua,” jawab Chio.
“Jadi bagaimana pembicaraan kalian pagi tadi dengan Akiyama?” tanya Yogi menatap serius.
“Dia setuju dan siap bekerja sama,” jawab Chio.
“Chio pun sudah ditunjuk sebagai pemimpin semantara,” sahut Arata.
Niky tersenyum. “Sementara ya, jadi ... ada masalah apa lagi yang muncul.”
__ADS_1
“Akiyama tidak akan memberi kita upah kecuali aku berhasil membawa temanku kembali bekerja bersamanya,” jawab Chio nampak sedikit cemas.
“Huaaahhh ... cepat selesaikan saja aku sudah sangat mengantuk,” sahut Kafa terus menguap.
“Namanya Shiro, dia orang yang datang bersama kami ke negeri ini, namun kami malah dijebak dan berakhir terpisah, dia dijual Akiyama pada saudagar kaya dan menjadi budak petarung, sekarang Akiyama menginginkan Shiro kembali bersamanya, itulah yang menjadi masalah, jika ingin membuatnya kembali, maka kita harus mengalahkannya dalam pertarungan,” ucap Chio menjelaskan.
“Aku sudah sedikit mengerti, jadi di mana dia berada sekarang? tanya Yogi.
“Saat ini dia berada di kota sebalah, yaitu kota Satu Pohon, siang tadi mereka mengadakan pertarungan dengan uang sebagai pertaruhan, dan Shiro selalu jadi pemenangnya, dia bahkan berhasil mengalah tiga lawannya berturut-turut dengan mudah,” jawab Arata.
“Apa dia memang sehebat itu,” balas Yogi tak percaya.
“Seperti itulah yang kulihat, parahnya lagi apa yang dikatakan Chio benar, dia tidak akan mau mengalah begitu saja meski yang menjadi lawannya adalah Chio, aku lihat yang tersirat dari matanya, dia sangat menikmati dirinya sekarang,” jawab Arata.
Chio seketika meremas rambutnya. “Dasar kau Shiro! Apa sih yang kau pikirkan!” teriak Chio sangat kesal membuat mereka tersentak kaget menatapnya.
“Eh maaf,” sambungnya merasa malu.
“Huaaahhh ... aku tidak tau mau bagaimana, jadi aku ikut kalian saja,” ucap Kafa.
“Cukup beruntung bagi kita, besok malam mereka mengadakan saimbara pertarungan, siapa yang berhasil mengalahkan dua budak petarungnya termasuk Shiro maka dia tak akan segan memberikannya pada pemanang,” ucap Arata memberitahu dan mereka nampak sangat memikirkan itu.
“Maksudku kita masih punya banyak waktu, apa lagi dia bukanlah seorang yang dipaksa dan ditahan, dia bebas begitu saja tanpa ada yang mengawasinya, mungkin kita bisa memberitahu Shiro tentang masalah ini,” sambungnya.
“Memberitahu, untuk apa kita malakukan itu, jika dia tidak ada yang mengawasi, tinggal kita culik saja, yakan Paman,” jawab Niky.
“Tidak mungkin, itu hanya akan menambah masalah nantinya, kita hanya bisa mengalahkan atau membuatnya menyerah hanya itu,” jawab Chio.
“Huaaahhh ... kalau begitu apa yang paling dia inginkan saat ini, siapa tau dia mau bekerja sama dengan iming-iming suatu hal Huahhh ...” ucap Kafa membuat Chio tersentak sadar.
“Yah sekarang aku ingat dan tau apa yang harus kulakukan,” ucap Chio.
“Arata, aku akan menulis surat untuknya, apa kau bisa memberikan secara langsung pada Shiro,” sambungnya meminta.
“Tidak usah khawatir, biasanyakan aku memang melakukan ini,” jawab Arata tersenyum sombong.
“Aku pikir masalah ini sudah teratasi, sekarang kita butuh seorang petarungkan, maka serahkan itu padaku,” sahut Niky sangat percaya diri.
“Apa kau yakin ingin melawan Shiro?” tanya Chio.
“Shiro hanya perlu berkata menyerahkan, itu artinya tidak akan ada pertarungan,” jawabnya dengan santai.
“Masalah pengerjaan di sini biar aku yang urus, kau temui saja dia agar dia tahu kalau kau peduli dengannya,” sahut Yogi.
Chio mengangguk. “Yoshh! Besok malam, aku akan jadi orang kaya yang memilki Niky dan Kafa!” ucap Chio bersemangat.
__ADS_1
Kafa tersentak kaget. “Kenapa namaku juga disebut Huaaahhh ….”
“Tenang, setelah kita menang, aku akan mentraktir makan kalian!” jawab Chio membuat Kafa tak bisa menolak.
“Baik-baik Huaaahhh ...." Mereka semua pun tertawa.
Keesokan harinya, saat itu Shiro tengah duduk di tepi danau nampak sedang termenung. “Untukmu,” ucap Arata seraya menyodorkan surat.
Shiro mendongak memandangnya heran. “Cih ... apa yang membuatmu menemuiku?” dia menatap tajam.
“Kau tahu aku?” Arata heran.
“Tidak, maksudku ambilah dulu dan bacalah, kau pasti akan mengerti,” balas Arata terus menyodorkannya.
Shiro sedikit heran, namun dia menurut dan kemudian membaca isi surat itu hingga selesai. “Chio,” ucap Shiro merasa tak percaya.
Arata pun duduk di sampingnya. “Apa kau rindu dengan mereka?”
“Cih ... ini pasti bohongkan, mengakulah! Kau pasti suruhan kakek Yama!” Shiro tiba-tiba marah dan berdiri.
“Kakek Yama, siapa itu?!” Arata heran.
“Cih ... jawab saja!”
“Tunggu dulu, apa sebanarnya isi surat itu?”
“Cih ... Chio ini bilang Ayumi sedang baik-baik saja, dia sekarang berada di istana bersama Daichi, jika aku tidak mengalah dalam pertarungan nanti malam melawan petarungnya, aku tidak akan lagi bersama dengan Ayumi kerna dia akan segera di nikahkan!” teriak Shiro terlihat panik.
Arata seketika kaget dan menepuk jidatnya. “Hahh ... Chio! Kau ini ada-ada saja.”
“Cih ... jelaskan yang benar!” Shiro nampak sangat panik.
“Tenanglah dan duduklah dulu," ucap Arata berusaha menenangkan.
"Cih ... cepatlah!"
“Jadi begini, Chio sudah berhasil membentuk kelompok bersama kami dan dia sudah ditunjuk sebagai bos di tempatnya sekarang, kedatanganku ke sini ingin mengajakmu bekerja sama dalam pertarungan nanti malam, kau harus menyerah agar kalian bisa berkumpul lagi, hanya itu caranya agar membawamu kembali tanpa ada pertarungan sia-sia,” sambungnya menjalaskan dan Shiro nampak memikirkan itu semua, dia terdiam mengkerutkan dahi.
“Tidak,” ucap Shiro pelan hampir tak terdengar.
“Hah,” ucap Arata.
Shiro tersenyum. “Cih ... terserah kalian saja, mau Chio ini atau itu aku tidak peduli, jika dia ingin aku kembali, dia harus berjuang mendapatkanku.”
Arata tersentak heran. “Apa yang kau bicarakan?”
__ADS_1
“Cih ... sampaikan saja pada Chio ini! Kalahkan saja aku dipertarungan nanti malam, jika dia menang aku akan mengikuti apa pun yang dia inginkan, tapi jika dia kalah, serahkan Ayumi padaku,” jawabnya menatap tajam dan segera pergi berlari, sedangkan Arata duduk terdiam memandangnya semakin dibuat heran.
-Bersambung-