
Rangkuman eps sebelumnya
Setelah Pengeran Daichi mendapat pengawasan ketat dari pengawal kelas atas istana milik menteri pendamping pangeran Kanechi, berbagai kesulitan pun dihadapi, salah satunya berimbas pada keuangannya hingga tidak bisa lagi membantu para pekerja yang dipimpin Chio.
Melalui sebuah surat Daichi pun meminta Chio dan lainnya untuk datang ke istana membahas permasalahan ini, hingga beberapa keputusan pun didapat. Ayumi yang tinggal di istana, mengajukan diri untuk menyelidiki tentang para penyihir dan juga menteri pendamping serta keterlibatan apa saja di antara mereka sesuai saran dari Harley Zinan serta bantuan dari pengeran yang menjamin keselamatannya.
Di malam setelah pertemuan itu. Akira, Chio, Shiro dan Harley pun mendapatkan petunjuk tentang keberadaan harta peninggalan seorang kakek yang pernah dirawat oleh Thalib sang musafir, melalui catatan harian di buku peninggalan Thalib, mereka pun mencapai suatu kesimpulan kalau harta itu masih ada, satu-satunya orang yang mengetahui letaknya adalah keturunan dari penjaga yang membantu Thalib merawat kakek.
...●●●●...
Keesokan harinya mereka pun kembali bekerja seperti biasa, yaitu mengerjakan pembangunan agar cepat selesai. Suara palu yang dipukul dan riuh para pekerja yang bersemangat selalu terdengar setiap harinya, hingga sekarang pembangunan itu mulai terlihat bentukannya.
Saat itu Shiro sedang mengerjakan bagian atas bangunan membawakan ember berisi semen kepada pekerja lainnya, dia selalu nampak melihat kesekitaran bawah seolah mencari seseorang di antara para pekerja itu.
“Cih!” dia terlihat kesal.
Akira yang saat itu berada di bawah juga terlihat melihat-lihat kesekitar sambil mendorong gerobak kecil berisi pasir, dia berhenti menyapu keringat di kepala, lalu kembali mendorong gerobak itu menuju tumpukan pasir di mana Kafa terlihat sedang berbaring santai.
Di tempat lain Chio tengah berjalan menuju pos tempat paman penjaga berada. “Paman, apa ada yang tidak datang bekerja hari ini?”
“Dari tadi yang belum datang hanya dua pekerja baru kemarin.”
“Maksudnya Faruq dan Samih?” tanya Chio lagi.
“Iya, mereka!”
Chio terlihat sedang berfikir. “Apa ada masalah Bos?’
“Oh tidak!”
“Emm … maksudku apa kau tahu di mana mereka tinggal?”
“Setau saya mereka berasal dari Kota Asyura, namun di mana tepatnya saya tidak tahu.”
“Oh ya, pamankan sudah lebih lama tinggal di sini, sebenarnya ada berapa kota di negeri ini?”
“Negeri ini memang sangat luas, tapi sebenarnya hanya ada tiga kota utama, yaitu Kota Akasingo, Satu Pohon dan Asyura, di tempat kita sekarang adalah kota Akasingo kawasan istana kerajaan, dari penulusuran saya kemarin, sesuai tugas yang diberikan bos untuk melihat para budak pekerja yang tersebar di tempat lain, di setiap kota juga terdapat kawasan pedesaan bahkan ada yang jauh dari perkotaan,” ucapnya membuat Chio terdiam memikirkan.
Saat itu mendekati siang hari di salah satu tenda terbuka Akira dan Shiro sedang beristirahat makan bersama para pekerja lainnya, di ujung tenda itupun terlihat Kafa dan Niky sedang tidur pulas bersama.
Chio pun datang mengahampiri Akira dan Shiro sambil membawa nampan berisi makanan yang sama seperti yang lain berupa semangkok bubur dan segelas air putih. “Mana yang lainnya?”
“Cih …” tunjuk Shiro dengan ibu jari ke arah Kafa dan Niky.
Chio tertunduk lesu. “Huh … ya ampun mereka selalu saja seperti itu.”
“Lalu di mana Harley?”
“A’ahh … katanya dia mau mengambil makanan juga,” jawab Akira.
“Cih … dari pada membahas mereka yang jelas ada, labih baik membahas mereka yang jalas tidak ada sekarang,” sahut Shiro.
__ADS_1
Chio heran. “Dari tadi kami tidak melihat Faruq dan Samih, apa kau tahu di mana mereka?” tanya Akira.
“Jadi kalian juga memperhatikan mereka,” jawab Chio dan mereka mengangguk.
“Yah … aku sudah menanyakan tentang mereka kepada peman di depan, hanya mereka berdua yang tidak datang bekerja hari ini, paman bilang mereka berasal dari kota Asyura,” sambungnya.
“Jadi kenapa mereka tidak datang?” tanya Akira dan Chio pun menggeleng.
“Cih …” Shiro sangat kesal soal itu.
“Apa kecurigaan kita berlibihan pada mereka? Yah siapa tau mereka hanya terkejut saja saat mendengar Chio menyebut soal Thalib,” ucap Akira.
“Cih … apa yang kulihat tidak akan salah, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan.”
“Hah … kau ini selalu mencurigai orang-orang,” balas Chio.
“Cih … apa kau tidak ingat soal Akiyama, kecurigaanku benarkan, kalian saja yang tidak tahu menahu.”
“A’ahh …”
“Yo!” Harley datang menuju mereka bersama Faruq dan Samih.
Chio berdiri menyambut mereka. “Hah! Kami minta maaf,” teriak Faruq membuat mereka sedikit terkejut, namun mereka memakluminya kerna itu sudah jadi kebiasaan Faruq.
Samih membungkuk. “Kami minta maaf kerna baru bisa datang di waktu ini, kami akan segera mulai bekerja,” ucap nya lemah lembut.
“Tidak apa-apa, sakarang kalian makanlah dulu, setelah itu baru kalian bekerja seperti biasa, aku tahu kalian tinggal sangat jauh dari sini,” balas Chio membuat mereka terlihat terkejut.
“Eh maksudku kalian sudah berjalan cukup jauh dari sana ke sini,” sambungnya.
Sedangkan saat itu Shiro terus memandangi punggung telapak tangan Faruq yang tergores seperti cakaran seekor kucing, hingga saat mereka mulai berjalan pergi. “Bagaimana, apa kalian melihat tangan Faruq?” tanya Harley.
Mereka mengangguk. “Saat pulang nanti, kita ikuti mereka,” ucap Chio menatap tajam.
...●●●●...
Malam itu di sepanjang jalan kota Asyura yang gelap, Faruq dan Samih berjalan bersama sambil membawa satu obor sebagai penerangan dan tiba-tiba mereka berhenti. “Hah! Kelian keluarlah!” teriak Faruq.
Akira dan Chio yang bersembunyi di balik rumah bersebrangan saling mengangguk dan keluar, sedangkan Harley dan Shiro juga ikut keluar dari balik rumah di depan Faruq dan Samih.
“Cih …”
“Yah ketahuan,” ucap Harley tersenyum santai.
“Hah! Langsung intinya saja!” teriak Faruq.
“Apa benar kalian berdua yang menguping pembicaraan kami malam itu, jujur kami hanya menduga dari cakaran kucing di punggung telapak tanganmu,” ucap Chio.
Faruq melihat tanganya yang tergores itu. “Hah! Jika ingin tahu ikuti saja kami!” jawabnya berjalan lebih dulu.
“Kami harap kalian bersedia mengikuti kami, ada hal yang lebih penting ingin kami beri tahu,” ucap Samih.
__ADS_1
Akira dan lainnya sempat bingung melihat sikap mereka, namun kerna penasaran mereka pun mengikuti kemauan keduanya, hingga sampailah di penghujung kota Asyura dan menemui tanah lapang yang luas.
“Mau ke mana kita, dan di mana tempat tinggal kalian?” tanya Akira heran.
Samih menunjuk jauh dan terlihat sebuah cahaya kelap kelip yang tidak begitu jelas kerna terlalu jauh dan terhalang jalan yang membukit-bukit kecil, melihat itu membuat mereka semua terkejut.
“Jadi kalian tinggal di sana?!” Chio kaget tak percaya.
Samih mengangguk. “Hah! Cepatlah!” pinta Faruq bersegra.
Saat mulai dekat dan terlihat jelas, ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan, tempat itu nampak ramai dengan orang-orang berlalu lalang membawa obor saling menyapa.
“Di sinilah kami tinggal, desa yang di kenal dengan nama Tugu batu, sebuah desa yang di bangun oleh pangerai Sayyid di masa lalu,” ucap Samih membuat mereka semua tercengang.
Chio seketika merebut obor ditangan Faruq dan berjalan cepat menuju sebuah batu persegi empat berdiri tegak di depan jalan masuk desa, Chio mengerahkan cahanya dan menemukan sebuah tulisan terukir jelas di tugu batu itu.
“Perjanjian Tasu'a,” ucapnya.
Akira pun ikut melihat dan membacanya. “Satu. Kesepakatan berdamai. Dua. Desa ini adalah bagian dari negeri. Tiga. Seluruh orang berhak memilih.”
Akira dan Chio nampak heran lalu menatap Samih dan Faruq berharap dapat penjelasan lebih, mendengar apa yang di baca Akira dan Chio Harley pun penasaran dan ikut membaca hingga selesai. “Apa maksud tiga perjanjian ini?’ tanya Harley.
“Apa ini adalah perjanjian antara pangeran Sayyid dan pangeran Nashif?” sahut Akira.
“Hah! Ternyata kalian sudah tahu soal dua pengeran itu!”
“Sebanaranya yang tertulis itu hanya inti dari perjanjian, aku ingin kalian mendengar langsung dari keturunan asli pengeran Sayyid yang sudah lama tinggal di desa ini,” ucap Samih.
“Cih … apa ini ada hubungannya dengan dua pangeran sekarang?”
“Hah! Jangan banyak tanya pada kami!” balas Faruq berjalan pergi.
Samih pun mempersilahkan mereka untuk segera memasuki desa dan mengikutinya saja. Sepanjang jalan desa itu banyak orang-orang selalu menyapa Faruq dan Samih, bahkan ikut menyapa Akira dan lainnya, hingga Faruq dan Samih pun berbelok menuju salah satu rumah yang mana halamannya sangat banyak tanaman berupa bunga dan juga sayuran.
Saat itu juga ada pohon jambu biji dan tiba-tiba langsung dipetik Shiro hingga rantingnya mengenai kepala Akira dan Chio. “Shiro!” ucap keduanya kesal.
“Cih … Apa?! nanti juga aku akan bilang minta pada yang punya.”
*Tok tok tok
“Nyonya …” panggil Samih.
Tidak lama kemudian seorang wanita muda begitu cantik membukakan pintu, dia pun sedikit terkejut ketika melihat Akira dan lainnya. “Apa mereka orang yang kalian ceritakan pagi tadi?”
Samih mengangguk. “Benar Faruqlah orang yang menguping pembicaraan kalian, alasannya kerna kalian saat itu menyebut soal Thalib di depan kami, dari situ kami penasaran apa hubungan kalian dengannya, dan ternyata kami tak menyangka kalau kalian bahkan berhasil memecahkan teka-teki yang di tulis Thalib dalam buku hariannya, kami juga tidak menyangka kalian memiliki buku itu.”
“Nyonya kami sudah menanyakan kepada rekan kami yang bekerja di bawah pimpinannya, mereka mengatakan kalau Akira dan lainnya benar ada hubungan erat dengan pengeran Daichi, kami yakin mereka adalah orang-orang yang akan merubah negeri ini bersama pangeran,” sambungnya.
Wanita itu kembali dibuat terkejut hingga seketika memeluk erat Akira dan Chio yang kebetulan berada di depannya. “Syukurlah! Terima kasih banyak, dia adalah anak kandungku satu-satunya,” ucapnya seraya menangis haru.
Akira dan Chio seketika di buat kaget. “Eh! Ehh! Ehhh …!” teriak ketiganya serempak
__ADS_1
“Cih … ya ampun,” ucap Shiro tersenyum haru begitu juga dengan Harley.
-Bersambung-