The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Thalib Sang Musafir Bagian 4


__ADS_3

“Kenapa Kaka memanggil Ken dengan nama Akira?” ucap Zen menatap mereka heran.


“Haha ... dasar kau Shiro, sembarangan saja dalam memanggil nama orang,” sahut Chio.


“Ha ha ... iyanih Kak Shiro kan selalu begitu kalau memanggil orang, suka sembarangan, kemarin kalian dengar jugakan dia manggil Ken gadungan,” ucap Ayumi mencoba menjalaskan.


Saat itu Chio dan Ayumi berusaha mengalihkan dan juga menjalaskan, namun tiba-tiba Kakek malah mengarahkan telapak tangannya kepada mereka untuk berhenti bicara. Disaat mereka terdiam sang kakek memiringkan duduknya malah menatap Akira lalu Berucap.


“Aku tanya padamu, katakan yang sejujurnya siapa dirimu dihadapanku kerna kuyakin kau tak akan berani berbohong pada orang tua sepertiku,” ucap Kakek itu menatap Akira yang berada dihadapannya.


Saat seperti itu mereka benar-benar tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menyerahkan semuanya pada keputusan Akira.


“Seperti yang dikatakan Shiro, namaku adalah Muhammad Akira,” jawab Akira tegas dan menatap mata kakek itu.


Zen,Haruka dan juga Naoto tantu saja syok dan tidak mengerti kenapa bisa begitu padahal dilihat dari mana pun Akira sangat mirip dengan Ken, jadi mereka antara percaya dan juga tidak, berbeda dengan Chio, Ayumi dan Shiro mereka terlihat pasrah dan sudah tahu bahwa Akira pasti akan mengatakan jati dirinya.


Tiba-tiba Kakek itu malah tertawa. “Aha ha ha ... sudah kuduga kau memang bukan Ken, apa kau ini sepupunya atau justru malah kembarannya?” tanya kakek, sedangkan Ayumi dan Chio mereka berusaha ikut tertawa.


Akira nampak bingung dengan apa yang terjadi. “Loh aku tanya kau ini kembarannya atau ...” tanya kakek lagi menatapnya.


“Cih ... dia itu memang kembarannya, kami juga saat itu tertipu,” sahut Shiro berbohong.


“Sungguh!” sahut Zen dan Haruka.


“Sepertinya benar apa yang dikatakan Kak Shiro dia memang kembaran Kakak Ken, jika kita lihat lebih jelas pasti akan ada yang berbeda,” ucap Naoto seraya memperhatikan dari dekat wajah Akira, hal itu malah membuat Akira malu.


“Sudah-sudah, lihatlah wajahnya memerah gara-gara kalian,” ucap Ayumi menegur mereka yang mengerumbungi Akira untuk melihat-melihat wajah dan bentuk tubuh lainnya.


“Apa benar begitu emm ... siapa namamu tadi?” tanya kakek lagi.


“A’ahh ... Akira,” jawabnya masih bengung.


“Oh ya Kek, kata Kakek tadi sudah tahu bahwa dia bukan Ken, bagaimana caranya?” sahut Chio mengalihkan pembicaraan.


Sang Kakek malah tertawa lagi dan kali ini dia malah terlihat menyombongkan diri. “Aha ha ... jelas aku tahu kerna Ken dulu juga pernah bertanya tentang cerita Thalib ini, maka dari itu rasanya tidak mungkin jika Ken menanyakannya lagi. Apa lagi Akira ini seperti orang yang balum pernah tahu. Yahh ... walaupun aku sempat terkecuh dengan jawabannya yang sama seperti jawaban Ken, ketika aku bertanya kenapa mereka menjadi pandai besi saat musim dingin. Padahal kenyataannya dinegeri sana saat musim panas maka akan terasa sangat panas jadi tidak mungkin mereka tahan bekerja seperti itu.”


Mereka semua pun menyadari bahwa kali ini mereka telah kecolongan dan harus lebih berhati-hati lagi agar kejadian ini tidak terulang kembali.


“Apa kau sudah tahu semua ini,” tanya Chio pada Shiro yang terlihat santai dan tenang.


“Cih ... yah aku baru ingat kalau aku dan Ken pernah kesini dan diceritakan oleh Kakek ini tentang cerita itu, lalu kami ceritakan juga pada kalian,” jawabnya.


Mendengar itu Chio mengepalkan tangan dan mengkerutkan keningnya kerna merasa kesal dengan Shiro. “Dasar kau  ini! hal sepenting itu kenapa sampai lupa!” teriaknya seraya meremas kepala Shiro.

__ADS_1


“Cih ... mana kutahu akan terjadi begini! lagi pula kau juga melupakannyakan, kalau tidak, kita tidak perlu kesana kemari untuk meminta orang menceritakannya,” balas Shiro mereka pun terus bertengkar.


“Aku dan Ayumi sengaja lupa kerna ada kau yang ahli dalam mengengat! Zen, Naoto mari kita hajar dia, dan kita ambil semua uangnya.” Perintah Chio pada mereka, dan mereka pun terus bertengkar.


“Oh ya Kek aku minta Kekek untuk merahasiakan tentang Akira, kalian juga haruka kasih tau pada mereka berdua, supaya nantinya tidak ada keributan.” pinta Ayumi dan mendapat anggukan dari sang Kakek dan juga Haruka.


“Lalu sekarang Kakak Ken dimana?” tanya haruka membuat Ayumi dan Akira tersentak bingung harus menjawab apa, beruntung Zen dan Naoto asik mengerjai Shiro, namun tetap saja, Ayumi tidak bisa mengatakan sebenarnya.


Disisi lain Osama sedang berjalan menuju seorang pekerja yang sedang berjaga diluar dan medengar teriakan Zen dan Naoto yang sedang mengerjai Shiro bersama Chio. “Kedengarannya banyak anak-anak lagi ya yang datang kesini?” tanyanya pada penjaga itu.


“Yah, sudah dua hari ini para anak-anak banyak datang begitu juga dengan orang dewasanya.”


“Hemm ... tidak seperti biasanya, apa mereka sedang datang untuk menyumbang?”


“Hanya ada beberapa, sisanya cuma ingin mendengar cerita legenda dari Kakek disini,” jawabnya membuat Osama penasaran dan segera masuk serta menyuruh penjaga untuk kembali bekerja.


Sesampainya didalam dia tidak sengaja melihat mereka sedang berkumpul lalu segera menghampirinya. “Loh kenapa kalian bisa berada disini, kalian juga?” ucapnya heran melihat Akira dan yang lainnya, begitu juga dengan Zen Haruka dan Naoto.


Saat itu lagi-lagi beruntung kerna kedatangan Osama pertanyaan haruka teralihkan begitu juga dengan kakek itu yang cukup penasaran.


“Wah ... Paman ngapain disini?” tanya Zen seketika berlari menghadapnya.


“Paman sedang bekerja sedangkan kalian ngapain bersama Kakak dan Kakek disini?”


“Kami sedang mendengarkan cerita Thalib sang musafir yang luar biasa itu Paman,” sahut Naoto, membuat Osama terperangah dan tiba-tiba malah marah-marah.


“Loh bagaimana bisa begitu, inikan cuma cerita legenda kenapa harus pakai dilarang segala, aneh!” jawab Chio heran membuat Osama kembali tersentak.


“Dan kenapa Paman harus marah-marah seperti itu,” sahut Ayumi.


Mereka semua menatap Osama aneh dan tatapan itu malah menyudutkannya. “Siapa, siapa yang berani menceritakannya pada kalian?!” teriaknya.


“Aku,” ucap kakek pelan seraya berdiri dari kursi dan berpaling menghadap Osama, “akulah yang menceritakannya pada mereka, kenapa? apa kau juga ingin menangkapku!”


Lagi-lagi mereka semua dibuat heran ketika melihat Osama yang tak bisa berkutik ketika berhadapan dengan kakek. “Kalian semua pergilah dari tempat ini,” ucap Osama pelan.


“Kami tidak bisa pergi kerna hukuman kami belum selesai,” Jawab Chio menatapnya dari belakang.


“Kalau begitu kelian dipindahkan ketempat satunya lagi yang di daerah kita.”


“Kami akan pergi jika paman tidak melakukan apa-apa terhadap Kakek,” sahut Zen ketakutan.


“Aku bilang pergi dari sini!” teriaknya marah.

__ADS_1


Kejadian itu membuat mereka tidak berani untuk membantah Osama dan memutuskan untuk pergi bersama. “Cih ... ayo kita pergi dari sini,” pinta Shiro dan mereka semua setuju.


Saat ingin keluar dari tempat itu Akira berada dibelakang mereka, saat itu Akira berpaling kebelakang dan melihat Osama sedang berbicara serius dengan kakek itu bahkan air mata Osama terlihat mengalir di pipi.


●●●●


Saat itu menuju arah jalan pulang menuju daerah mereka.  “Kakak kami duluan!” ucap Zen melambai bersama dengan Haruka dan juga Naoto lalu mereka berlari lebih dulu.


“Hahh ... apa sebenarnya yang dirahasiakan Paman coba, kenapa dia terlihat sangat marah ketika ada seseorang yang menceritakan tentang Thalib itu,” ucap Chio setelah melihat ketiga anak itu jauh dari mereka seraya merasa lelah dan tidak bersemangat.


“Kira-kira apa ini berhubungan dengan tempat panti jompo daerah kita, maksudku mereka semua seperti tidak ingin menceritakan itu, terlebih lagi ketika ada utusan tetua desa,” sahut Ayumi.


“Oh ya Ayumi, apa kau masih ingat dengan Nenek yang kemarin kau bilang ingin menceritakan itu padamu, tapi malah diam dan tidak jadi menceritakannya ketika ada utusan tetua?” tanya Akira.


“Emm ... iya, aku masih ingat, emangnya kenapa?”


“Aku rasa dia tahu semuanya yang terjadi, sesuatu yang disembunyikan para orang tua yang ada di panti itu,” jawab Akira terlihat serius.


“Cih ... jadi apa lagi rencanamu, bukannya sudah jelas bahwa bagian itu sudah kalian anggap palsu seperti Kakek,” sahut Chio terlihat kesal.


“Ini bukan lagi soal bagian cerita Thalib, tapi sepertinya ini tentang sesuatu yang dirahasiakan oleh para orang tua itu, dan kali ini aku yakin Paman Osama juga ada hubungannya,” jawab Akira.


“Tapi menurutku itu tidak ada hubungannyakan dengan apa yang ingin kita cari,” sahut Chio.


“Tidak, kali ini aku yakin sangat berhubungan, menurut kalian kenapa mereka harus merahasiakan cerita itu jika semua orang sudah menganggap itu cuma cerita bohongan, lalu bukannya sudah ada cerita yang dibuat tetua terdahulu untuk menjadikan para penduduk tidak lagi menyukai Thalib,” balas Akira.


“Cih ... bukankan sudah kubilang itu cerita asli cuma kalian dan Kekek itu yang menganggap bohongan, semua orang percaya dan tidak lagi menyukai Thalib,” sahut Shiro memotong.


“Bukan Shiro, ini bukan tentang cerita yang kita anggap palsu tapi tentang semua cerita ini yang mereka anggap cuma cerita tidak nyata, cuma cerita legenda biasa, tapi kenapa Paman Osama bilang dilarang menceritakan itu,” ucap Akira terlihat kesulitan untuk membuat mereka paham apa yang ingin dia katakan.


“Cih ... jadi maksudmu mereka sengaja menutupi cerita itu kerna cerita itu sebenarnya cerita nyata?”


“Iyah ... itu maksudku bro Shiro!” jawabnya sumringah, seraya menggoyang-goyang badan Shiro.


“Lalu larangan itu bertujuan untuk membungkam orang-orang yang masih mempercayai bahwa cerita tentang Thalib ini adalah cerita nyata,” sahut Ayumi.


“A’ahh ... jika kita hubungkan dengan cerita buatan tetua desa yang terdahulu dan larangan untuk menceritakannya lagi maka ...”


“Kita akan tahu bahwa semua itu bertujuan untuk membuat orang-orang tak lagi menyukai Thalib, dan membuat orang-orang yang masih percaya dan yakin bahwa itu cerita nyata akan bungkam dan tidak akan berani lagi untuk menceritakannya pada semua penduduk,” potong Chio membuat Akira bertambah sumringah.


“Cih ... jadi kalian percaya bahwa itu adalah cerita yang pernah terjadi di desa ini, lalu kenapa kalian menganggap cerita terakhir itu palsu?!” potong Shiro.


“Tidak, kami tidak menganggap palsu sepenuhnya, hanya saja itu adalah cerita nyata yang direkayasa,” jawab Akira seraya menatap Shiro tersenyum sombong begitu juga dengan Chio dan Ayumi.

__ADS_1


Melihat semua itu membuatnya kesal. “Cih ... kalian pikir itu terlihat keren!” teriaknya membuat mereka tertawa bersama.


-Bersambung-


__ADS_2