
“Arghh ... Shiro ... pelan-pelan kau bisa menghancurkan pintu rumahku,” ucap Chio langsung berlari meraba-raba pintu rumahnya, sedangkan Shiro dia tak peduli dan menatap marah kepada Akira dan Ayumi.
“Bukankan sudah kubilang pada kalian bahwa dia itu orang jahat, dan mungkin hanya memanfaatkan kita semua!” teriaknya seraya menunjuk Akira.
“Kau salah! Dia bukanlah orang yang seperti kau sebutkan, kau tidak tau apa-apa Shiro,” sahut Ayumi tegas.
“Ayumi benar Shiro, aku sudah menganal Akira beberapa hari ini, dan itu tidak seperti yang kau katakan, bahkan aku banyak mendapat pengetahuan darinya,” sahut Chio dari balakangnya.
“Cih ... beberapa hari kau bilang, apa hanya dengan beberapa hari kau sudah bisa mengatahui dan memahami orang lain, apa kau pikir dengan hanya beberapa hari kau bisa menilai seseorang!” teriak Shiro berpaling menghadapnya.
“Aku tahu bahwa itu tidak mungkin, tapi setidaknya kita bisa saling mengerti dan berteman, sudah saatnya masalah ini kita selasaikan baik-baik, lagi pula tidak ada salahnya jika berteman dengannya,” jawab Chio berusaha meyakinkan.
“Jadi ... kau juga sama ya seperti Ayumi yang memanfaatkannya sebagai pengganti Ken yang sudah tidak ada lagi bersama kita,” balas Shiro mengalihkan pandangan kepada Ayumi.
“Aku tau apa yang telah kulakukan itu salah, saat itu aku belum bisa menerima kenyataan bahwa Ken sudah meninggal, hanya saja saat aku menemukan Akira di atas tebing itu aku melihat harapan,” jawab Ayumi merasa sedih ketika mengingat itu semua.
“Harapan yah, jadi maksudmu harapan untuk memanfaatkan kekosongan di hatimu dan membohongi kami semua, itukan yang kau mau?” jawab Shiro membuat Ayumi tersentak dan mengeluarkan air mata.
“Sudahlah Shiro kau tidak perlu membahas itu lagi, lagi pula aku tidak mempermasalahkan itu semua, bagiku ...” sahut Akira yang tidak tega melihat Ayumi.
“Diam kau Aira!” teriaknya salah menyebut nama, membuat Akira kaget dan bingung.
“Dia benar Shiro, lagi pula itu sudah berlalu, tidak seharusnya lagi kita membahas itu semua, aku juga sudah tidak mempermasalahkannya lagi,” sahut Chio berjalan mendekatinya.
“Jika Ken melihat ini, mungkin dia sangat kecewa dengan kalian, kerna kalian sudah ....”
“Kau bilang saat itu sudah mengetahui tentang Ken bahkan ingin memberitahukan kepada kami semua saat kau dan Akira berkelahi,” potong Ayumi tengah menunduk.
"Jadi bagaimana bisa kau sudah mengatahui semuanya padahal aku belum pernah memberitahukan pada siapa pun?” tanya Ayumi membuat Shiro tersentak seketika menunduk tak bersuara.
“Ayumi benar aku juga ingat hal itu, jadi bagaimana bisa kau mengetahui itu?” sahut Chio ikut bertanya dan heran melihatnya yang tertunduk diam.
“Jawab aku Shiro!” teriak Ayumi.
“Aku ada disana,” ucapnya pelan hampir tak terdengar, bahkan Chio dan Akira sama sekali tak mendengar dengan jelas, namun justru lain bagi Ayumi dia melangkah maju menuju Shiro.
*Plakk!
Temparan keras mendarat dipipi kiri Shiro disertai leraian air mata Ayumi, membuat yang lain tersentak tak percaya dengan apa yang dilakukan Ayumi, mereka bahkan tak mengerti kenapa.
__ADS_1
“Jika kau memang berada di sana, lalu kenapa kau tak datang menolong, aku tau ini kesalahanku hanya saja jika kau datang membantu ini tidak akan terjadi begitu saja.”
“Apa maksudnya Shiro?” sahut Chio heran.
“Saat itu aku melihat mereka berdua berjalan bersama menuju tebing, lalu aku pun sengaja mengikuti mereka, setelah sampai ditebing aku segera bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempat mereka, aku sedikit mendengar mereka berencana untuk meninggalkan desa, dan di saat aku berpaling untuk memikirkan apakah yang kudengar itu benar, tiba-tiba aku dibuat terkejut ketika mendengar Ken berteriak mamanggil Ayumi yang sudah tergantung ditebing."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, kakiku tidak bisa bergerak, aku tidak tahu harus bagaimana, jika aku ke sana mereka akan tahu jika aku menguping penbicaraan mereka, dan kupikir Ken bisa menolong walaupun aku yang seharusnya berada di posisi Ken. Disaat seperti itu kali ini Ayumi yang beteriak dan saat kulihat Ken sudah tidak ada di sana.” Jawab Shiro bercerita menunduk tak berani menatap, kerna dia takut akan disalahkan.
Mendengar akan hal itu lagi-lagi membuat Ayumi naik pitam dan melangkah maju ingin menampar Shiro lagi, akan tetapi segera dihadang oleh Akira.
“Kenapa?! kenapa kau tidak berbuat apa-apa, padahal kau berada di sana sejak awal, jika kau membantu sudah pasti Ken baik-baik saja!” teriak Ayumi dari balik badan Akira, “menyingkirlah Akira!”
“Tenangkan dirimu dulu, Shiro pasti punya alasan mengenai ini,” jawab Akira terus menghalanginya.
“Kenapa, kenapa ... kenapa! Ken, Ken ... Ken! selalu saja Ken yang kau perhatikan! apa kau pernah sedikit saja melihat ke arahku dan memehami apa yang kurasakan, kenapa selalu dan selalu saja Ken yang kau benarkan, apakah tidak pernah kau sedikit saja membenarkanku! kau terus dan terus saja mengikutinya bahkan pembicaraan kalian mengenai ingin meninggalkan desa dengan yakinnya kau mengatakan aku ingin ikut! tapi, ketika aku mengajakmu kesuatu tempat kau terus menolakku."
"Apa kau tidak pernah melihat sedikit saja bagaimana perasaanku padamu Ayumi!” teriak Shiro menatapnya berkaca-kaca, itu adalah kali pertama Ayumi dan Chio melihat Shiro menumpahkan semua emosinya, mereka berdua terperangah menatap Shiro.
“Shiro, pergilah sekarang kau dari sini, sekarang aku paham kenapa kau tidak bisa bergerak membantu, kau sengajakan, kau sengaja kerna ingin Ken tidak lagi bersama Ayumi,” ucap Chio bersuara pelan menuduh tanpa bukti.
Walaupun Chio adalah orang yang cerdas, namun kali ini dia merasa sangat kecewa akan apa yang Shiro lakukan hingga tak bisa memikirkannya lagi.
“Pergi kau dari sini!” teriak Chio seraya menunjuk pintu yang terbuka lebar.
“Cih ....” Seketika itu Shiro pergi berjalan cepat keluar kerna merasa tidak ada lagi yang bisa dia jelaskan, mereka semua sudah menyelahkannya dan ini sesuai dengan apa yang tidak ingin dia harapkan.
Akira yang menyaksikan ini semua hanya bisa diam tidak berani ikut campur, dia merasa ada hal yang harus dia lakukan untuk segera menyelasaikan ini semua, dia juga tahu betul bahwa mereka pastinya ingin segera menyudahi masalah Ken.
Seperti halnya Chio yang sudah bisa berusaha untuk melupakan semua dan melihat ke depan, akan tetapi sesuatu yang tidak disangka selalu menggoyahkan perasaan dan keyakinan mereka.
Saat itu Chio masih terdiam menunduk dengan pipinya yang sedikit basah. Ayumi pun sedang terduduk menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan terdengar tersedu-sedu.
Akira dia justru memasang wajah serius dan merasa sangat yakin, seolah ada suatu rencana yang akan dia lakukan selanjutnya untuk segera menyatukan mereka kembali, lalu menerima semua kenyataan dengan lapang dada dan kembali melihat ke depan.
...●●●●...
Keesokan harinya Akira sudah berada didepan rumah Shiro sedang menunggunya untuk keluar dari rumah, saat itu Akira tengah duduk dibangku halaman rumah Shiro yang cukup rindang dengan pohon-pohon berbunga indah.
“Yo, bro,” ucap Akira ketika melihat Shiro keluar dari rumahnya seraya menutup pintu.
__ADS_1
“Yo, Aira,” jawab Shiro kembali salah menyebut nama.
Akira kaget serta kesal langsung berdiri dari duduknya. “Akiralah bukan Aira!” teriak Akira menunjukknya.
“Kau duluan bodoh! yang memanggilku Bro, nama jelek macam apa itu! Namaku Shiro lah!” balasnya berteriak dan juga menunjuk.
“Apa kau tidak tau artinya, di duniaku panggilan Bro itu untuk orang yang di anggap sahabat yang sangat kuat dan hebat!”
“Mana kutahu akan hal itu lagi pula kau bukan sahabatku bodoh! jadi sebaiknya kau segera pergi dari tempatku sebelum kau kuhajar!”
“A’aah ... kau benar aku yang salah,” jawab Akira memegang dagunya.
“Baiklah lupakan saja apa yang terjadi, aku punya kesepakatan denganmu,” sambungnya menatap Shiro sambil tersenyum menyeringai.
Mendangar ucapan Akira akan hal itu membuatnya sama sekali tak tertarik. “Cih ... apa kau pikir dengan diriku yang sekarang dimusuhi mereka akan membuatku setuju dengan apapun yang kau rencanakan, yang benar saja! aku sama sekali tidak tertarik dengan dirimu, yang ada aku bertambah yakin bahwa kau punya rencana tersembunyi terhadap kami.” Shiro berjalan ke arahnya seraya terus menatap ke depan.
“Cepatlah pergi dari tempatku sebelum aku berubah pikiran dan menghajarmu di sini,” sambungnya mengancam ketika berhenti tepat didepan Akira dan menoleh menghadapkan wajahnya ke wajah Akira, kemudian berjalan pergi menjauh. Sedangkan Akira dia merasa takut.
Akira kembali memasang wajah serius. “Apa kau yakin tidak mau, kesepakatan ini membuat kita saling menguntungkan, dan yang pasti kau dan Chio serta Ayumi akan kembali bersama seperti dulu,” balas Akira membuatnya terhenti berjalan, “oh ya bukankah kau kemarin sempat terpesona dengan kecantikan Ayumi yang lebih dari biasanya, jika kau mau aku akan membuat kalian bisa selalu bersama, Shiro ...” sambungnya manatap mata Shiro yang sedikit meliriknya.
"Cih ...." jawabnya kemudian berpaling, dia terlihat tak percaya dengan Akira yang bisa mengatahui hal itu, tentu saja Akira tahu betul bagaimana saat itu Shiro menatap Ayumi, dia bisa melihat bagaimana Shiro menatapnya dengan tatapan terpesona kerna melihat Ayumi dengan tampilan berbeda dari biasanya.
“Lalu apa yang akan kau dapatkan?” balasnya menatap Akira.
Tiba-tiba Akira sedikit sedih menatapnya “Aku hanya ingin kau membantuku Shiro, hanya untuk mengumpulkan informasi dan kabar menganai banyak hal agar aku bisa menyelasaikan misi yang aku ceritakan saat itu, dan mungkin saja setelahnya aku akan pergi dari negeri ini, hanya itu yang aku inginkan, aku butuh teman yang membantuku, jadilah temanku itulah kesepakatannya, Shiro.”
“Cih ... hentikan tatapanmu yang menyedihkan itu, kerna itu tidak ada gunanya, tapi, aku akan setuju dengan kepekatan ini dan itu hanya untuk membantumu agar segera pergi dari desa dan meninggalkan kami semua, namun yang pasti aku tidak akan pernah mau jadi temanmu!”
“Yah ... terserah kau saja, setelahnya aku juga pasti akan pergi dari negeri ini.”
“Tapi, ada satu hal lagi yang kupinta darimu?”
“Apa itu?”
“Panggil aku Bro!”
Akira menyeringai. “Ahh ... tentu saja bro
Shiro ....”
__ADS_1
-Bersambung-