The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Chapter 9 : Menuju Negeri Sabbat Bagian 1


__ADS_3

Hari salasa adalah hari yang mereka putuskan untuk berangkat menuju negeri Sabbat, kini mereka telah melakukan perjalanan seharian dengan berkuda. Saat itu Chio turun dari kudanya untuk singgah di suatu tanah lapang di depan sebuah hutan lebat, sedangkan Akira dan lainnya masih berada di atas kuda.


Chio memasukkan tangannya kedalam tas yang dia sandang dan mengambil sebuah jam matahari buatannya, dia membuka penutupnya lalu muncullah sebuah bilah besi kecil ditengah. “Sepertinya waktu sudah menunjukkan sekitar jam lima petang, tidak lama lagi Shalat Magrib akan tiba,” ucapnya setelah menghadapkan tubuhnya keselatan untuk menyesuaikan bayangan dari bilah besi kecil itu.


Akira dan lainnya pun turun dari kuda untuk menghampiri Chio. “Sebaiknya kita beristirahat di sini untuk malam ini, dari pada kita harus bermalam dihutan,” Jawab Akira.


“Emm … sepertinya begitu, ini jauh lebih baik dari pada harus berhadapan dengan bintang buas dikegelapan malamnya hutan,” sahut Ayumi sedikit takut.


“Cih … kalian ini penakut sekali, mumpung belum gelap mending kalian berdua cari kayu bakar sana,” sahut Shiro.


“Ehh … kok kami bukannya kau bilang tadi kami ini penakut, jadi sebaiknya kau saja yang mencarinya,” jawab Chio.


“Disaat seperti ini kita harus membagi tugas masing-masing,” balas Shiro.


“Lalu kau mau ngapain?” sahut Akira.


“Cih … apa kau tidak lihat kuda kita sudah kelelahan apa lagi kuda milikku, lihatlah dengan jelas! Dia harus menahan beban dua orang,” jawab Shiro seraya memperlihatkan kudanya yang sedang makan rumput.


“Ha ha … apa kau ini memang tidak pernah berkuda Akira?” tanya Ayumi.


“A’ahh … aku sama sekali belum pernah mencoba, ini baru pertama kalinya dan tubuhku terasa remuk.” Jawab Akira membuat Ayumi tertawa.


“Baiklah kalau begitu, aku dan Akira akan mencari kayu bakar, Shiro mengurus kuda, dan Ayumi kau bisa membersihkan bahan makanan kita di danau kecil itu,” pinta Chio.


“Syukurlah ada air didekat sini, jadi tak perlu susah lagi mengisi perbekalan air kita,”jawab Ayumi.


“Cih … dasar kalian ini cepat pergi sana, sebelum terlalu gelap,” sahut Shiro.


“Baiklah-baiklah terserah kau saja!” jawab Chio berjalan pergi kearah hutan bersama Akira, sedangkan Shiro nampak tersenyum kerna merasa dapat tugas lebih mudah.


Saat memasuki hutan terdengar suara binatang malam mulai berbunyi nyaring, Akira dan Chio segera mengutip kayu-kayu yang berserakan ditanah. “Hey Chio, apa kau pernah melakukan seperti ini?” tanya Akira.


“Maksudmu?”


“Ya seperti bermalam dihutan, seperti yang kita lakukan sekarang, apakah kau pernah melakukan ini sebelumnya?”


“Tidak pernah sama sekali, walaupun untuk pertama kalinya aku merasa bisa melakukannya,” jawab Chio nampak yakin.


“A’ahh … kau benar kita pasti bisa melakukannya!”


“Emm … apa kau juga pernah melakukan ini diduniamu?”


“Aku cuma pernah sekali bermalam dihutan saat acara di sekolah, itu pun kerna temanku yang memaksaku untuk ikut,” jawab Akira.


“Ehh … lalu siapa temanmu itu?”


“Kazao, dia Kazao Taufiqurrahman,” balas Akira menatap sinar matahari sore yang menembus lebatnya hutan seraya tersenyum.


Chio tersenyum. “Orang seperti apa dia?”

__ADS_1


“A’ahh … dia itu orang yang sangat bersemangat, periang dan suka memaksa. Contohnya saja saat aku memilih untuk tidak ikut acara sekolah, dia malah datang kerumahku dan meminta izin pada ibuku, yah aku sangat terganggu saat itu, tapi ibuku malah menyuruhku untuk ikut kerna itu akan jadi pengalaman yang bagus,” ucap Akira bercerita.


“Emangnya kenapa kau tidak ingin ikut?”


“Ini kerna sifatku yang kaku dan pendiam di sekolah, jadinya aku lebih suka menyendiri ketimbang berkumpul bersama seperti itu. Kau tau, kupikir itu hanyalah acara yang melelahkan.”


“Lalu apa kau jadi ikut?”


“Apa boleh buat dia terus memaksaku untuk ikut, dia bilang, ini akan jadi hari yang menyenangkan, kita bisa menepuk nyamuk bersama, tidur bersama dalam satu tenda, dan merasakan gatal bersama!”


“Ha ha … bukankah itu sesuatu yang tidak menyenangkannya.”


“Ha ha … begitulah, tapi saat aku memutuskan untuk ikut ternyata itu memang sangat menyenangkan, kita bisa makan bersama dan melakukan hal lainnya. Seperti yang kita lakukan sekarang mencari kayu bakar, menyiyapkan makanan, tempat tidur, dan bercerita banyak hal bersama. Bahkan aku juga memancing bersama Taufiq, yah … pada akhirnya aku tidak mendapat ikan satupun sedangkan dia banyak memperoleh ikan,” ucap Akira senang.


“Kau sama saja seperti Ken?”


“Benarkah, lalu yang mananya?”


“Saat mancing itu. Saat itu kami pergi bersama memancing di sungai, tidak butuh waktu lama aku selalu dapat banyak ikan, entah apa yang terjadi padanya, saat itu dia tiba-tiba marah dan bilang, Hah … kau ini berisik sekali ikannya jadi kabur nih, mending aku kesana saja. Mendengar itu aku jadi bingung, rasanya aku tidak berisik sama sekali,” ucap Chio seraya memperagakannya dengan kayu bakar yang sudah memenuhi ditangan.


“Ha ha … kacau sekali dia, lalu dia pergi atau gimana?” jawab Akira tertawa dengan kayu bakar yang juga sudah banyak.


“Yah … dia menjauh dariku hingga aku memutuskan untuk pulang dan mengahmpirinya, dari wajahnya nampak kesal. Saat itu aku tanya ada apa, dia malah jawab, Hah … dasar kalau tau begini aku lebih baik dirumah saja! lalu kuliat wadah ikannya ternyata hanya ada beberapa saja, kerna hal itu aku malah jadi tertawa keras, dia semakin kesal dan Akhirnya pulang lebih dulu ha ha …” Jawab Chio tertawa.


“Ha ha … itu mah namanya merajuk, dasar kau Chio bukannya membagi milikmu malah mentertawakan,” balas Akira ikut tertawa.


Melihat Shiro yang nampak bekerja keras menyusun daun itu membuat Akira dan lainnya memujinya, akan tetapi Shiro nampak tak peduli, beberapa sayur dan buahan pun sudah tersaji rapi untuk dimasak.


Api unggun pun telah menyala terang membuat cahayanya nampak terang kerna gelap senja telah menyapa, Chio yang merasa telah sampai waktu Shalat Magrib dia berjalan kedepan seolah mencari tempat untuk melakukan sesuatu, dan itu dilihat jelas oleh Shiro.


“Kau itu sedang Apa?” tanya Shiro heran pada Chio yang meletakkan kedua tangannya ditanah.


“Seperti yang kami lakukan siang tadi, bertayamum sebagai ganti wudu Shiro,” jawab Chio nampak senang dengan apa yang dia lakukan.


Shiro menggeleng. “Cih … dasar! Kau ini lupa atau apa, bukannya Akira tadi sudah bilang jika tidak ada  air baru melakukan itu!”


“Ehh … apa benar begitu Akira?” tanya Chio nampak kaget.


“A’ahh … sekarangkan ada air untuk kita berwudu jadi kita tidak perlu melakukan tayamum. Tayamum bisa dilakukan jika kita tidak menemukan air, sakit yang menjadikan mudharat atau bertambah parah jika terkena air,   lalu hanya ada air yang sedikit dan itu sangat dibutuhkan untuk minum manusia dan binatang. Penggunaannya pun hanya bisa kita lakukan sekali dalam Shalat wajib.” Jawab Akira menjelaskan.


“Ha ha … dasar kau ini Chio, Shiro saja ingat,” sahut ayumi.


“Ha ha … maaf-maaf,” ucap Chio seraya menggaru kepalanya.


Setelah itu Akira, Chio dan Ayumi menuju danau kecil yang mana air itu sangat jernih dan bersih, mereka berwudu bersama dan kemudian melaksanakan Shalat berjamah yang di imami oleh Akira, sedangkan Shiro dia berdiam dibelakang sambil membakar Ubi yang dia bawa dan menjaga api agar tetap menyala.


Shalat Magrib pun selesai, mereka segera memasak bekal bersama dan menyantap masakan yang Ayumi buat, bahkan punya Shiro pun juga di ambil oleh mereka.


Saat membereskan makanan Ayumi terlihat murung tengah terdiam memikirkan sesuatu. Melihat hal itu membuat Akira menatapnya heran. “Ada apa Ayumi, kenapa terlihat murung dan cemas.”

__ADS_1


Ayumi tersentak kaget. “Ahh … tidak bukan apa-apa,” jawabnya dan dipandang cemas Shiro seolah tau apa yang dipikirkan Ayumi, “emm aku sedikit kangen dengan negeri kita, apa paman Osama akan baik-baik saja ya?” ucap Ayumi mengalihkan.


Mereka terdiam kerna mengingat Osama yang mana sekarang Osama lah yang akan melakukan perjuangan untuk agama Islam di negeri seribu patung. “Aku juga merasa cemas soal itu, tapi negeri kita sudah berubah dan para penduduk pun sudah bisa menerima kita saat itu, jadi kupikir paman akan baik-baik saja,” Jawab Chio.


“A’ahh … sudah banyak yang ingin belajar Islam pada paman, kalian ingat apa yang dikatakan Arnius, katanya banyak yang ingin belajar pada paman sehingga Arnius diutus jadi pembawa pesan paman.”


“Cih … dari pada kita membahas yang sudah pasti baik-baik saja, lebih baik kita membahas soal adik tetua kedua yang bernama Kanzo itu,” sahut Shiro.


“Masalah itu aku sedikit ragu apakah Kanzo berhasil sampai ke negeri Sabbat sendirian, kita yang berempat saja harus bisa saling menjaga satu sama lain,” jawab Chio.


“Apa lagi ini bukanlah perjalanan sebentar, kita tidak tahu membuntuhkan berapa hari baru sampai ke negeri itu, ini baru hari pertama kita, beberapa masalah sudah bermunculan,” jawab Ayumi.


“Cih … palingan dia mati ditengah jalan, yah sapa tau kita bisa menemukan tengkoraknya nanti,” sahut Shiro mengejek.


“Shiro!” teriak Ayumi dan Chio kesal.


“Apa, ada yang salah, kalian sendiri kan yang terlihat tak percaya diri,” jawabnya.


“Aku setuju dengan Shiro, tidak sepantasnya kita bersikap seperti ini, sebagai seorang musafir bersikap percaya diri adalah kekuatan, aku juga yakin Kanzo pasti berhasil sampai!” ucap Akira memberi semangat baru.


“Yah kita harus berbaik sangka soal ini, kerna kita akan mendapatkan banyak petunjuk berguna nantinya dari Paman Kanzo,” balas Chio.


“Itu artinya untuk sekarang tujuan kita adalah menemukan Paman Kanzo di negeri Sabbat,” sahut Ayumi dan di angguki serius oleh Akira dan Chio.


“Cih … terserah kalian saja aku pasti akan ikut, kalau begitu aku mau tidur lebih dulu,” ucap Shiro kemudian berbaring, padahal beberapa wadah makan belum dibersihkan.


“Hah … kau ini! paling tidak bereskan semuanya dulu!” teriak Chio kesal, namun tak dihiraukannya.


“Ha ha … biar saja nanti aku yang akan mencucinya,” sahut Akira.


Chio menghela nafas. “Hah … kalau begitu aku akan berjaga lebih dulu lalu Shiro kemudian kau, untuk Ayumi kau tidur saja.”


“Tidak! aku juga akan berjaga seperti kalian,” tolaknya.


“Tapi …”


“Tidak apa-apa nanti dia setelah aku,” potong Akira seraya berjalan membawa wadah makan mereka menuju danau.


“Emm … kalau begitu aku mau Shalat Isya dulu,” ucap Ayumi berdiri ingin pergi kedanau.


“Kau yakin tidak ingin tidur dulu waktu shalat Isya sangat panjang sampai waktu Subuh tiba,” jawab Chio.


Ayumi menggeleng. “Aku ingin melaksanakannya tepat waktu agar nantinya aku merasa tenang,” jawabnya nampak lesu.


Ayumi berwudu didekat Akira. “Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Akira cemas.


Ayumi mengeleng lagi dan kali ini dia segera membasuh mukanya agar tidak ditanya lagi. Melihat sikap Ayumi membuatnya berpaling menatap Chio, dan Chio pun menjawab dengan ikut menggeleng tanda tak tahu.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2