
Malam itu hujan turun sangat deras, tidak ada yang terdengar selain suara gemuruh angin dan hujan. Cahaya petir menyambar begitu terang menjadikan malam yang gelap seolah siang.
Suara nyaring menggelegar membuat tanah terasa bergetar, orang-orang yang mendengar pun merasa gentar. Mereka yang tengah tidur pun ikut terbangun, kerna diselimuti rasa dingin dan ketakutan yang mulai membangun.
Akira membuka mata dan melihat seseorang tengah mengajar di depan sambil memegang sebilah kayu menunjuk papan tulis, saat itu dia berada dibangku barisan depan.
Kemudian mengalihkan pandangan kesekitar dan melihat teman-temannya sedang memperhatikan pengajar tersebut, pakain yang mereka pakai adalah seragam sekolah berwarna putih dan keabu-abuan, namun anehnya wajah-wajah mereka tidak bisa dilihat oleh Akira semuanya nampak buram dan itu hanya di bagian wajah mereka.
"Ada apa ini, apa yang terjadi dengan mataku."
Akira mencoba untuk mengocek matanya, akan tatapi tidak ada perubahan, lalu mengalihkan pandangan ke papan tulis dan anehnya dia bisa melihat dengan jelas, dia pun memastikannya lagi dengan memandang temannya dan papan tulis secara berulang-ulang.
Akira merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dia alami, tiba-tiba suara lonceng berbunyi, guru dan temannya segera berkemas dan pergi keluar ruangan, Akira masih terdiam heran dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Hey! kenapa diam saja ayo kita pulang (ngingg...)" panggil Taufiq yang adalah teman dekatnya.
Dia mengajak untuk segera pulang, namun di akhir ucapannya malah terdengar sunging berdengung membuat Akira menutup telinga.
Lagi-lagi Akira dibuat heran dan terdiam tidak mengerti, dia terus memandang temannya yang tidak dia tahu bahwa itu adalah Kazuo Taufiqurrahman.
"(Ngingg...) kenapa diam saja cepatlah," ucapnya lagi berbalik mengingatkan.
"Ahh ... iya-iya aku belum selesai memberiskannya," jawab Akira kerna tidak ada pilihan selain mengiyakannya dan memahami situasi.
"Ada apa ini sebenarnya, aku secara tiba-tiba kembali ke dunia ini, lalu kenapa aku malah tidak bisa melihat dan mengingat mereka, bahkan suara berdenging ketika mereka mengucapkan suatu kata, seolah tidak mengijinkanku untuk mendengarnya," ucapnya terus bergumam dalam hati mencoba memahami semuanya.
Dia tahu betul bahwa dia sedang berada di tempat asalnya sebelum dikirim oleh seseorang ke dunia yang dimana dia menjadi sosok Ken.
Diperjalanan pulang Akira hanya diam tidak berbicara, dia terus memikirkan semuanya sambil terus mengayuh sepeda.
"Oh ya (nging...) besok jangan lupa bawakan buku bela diri yang kau baca itu," pinta Taufiq.
Akira tersentak. "Ohh iya, nanti aku bawakan," jawabnya singkat dan terdengar canggung kerna dia sedang berusaha memahami apa yang terjadi, apa lagi dia tidak bisa melihat wajah temannya dengan jelas.
"Aha ha ha ... kacau sekali kau ini." Taufiq malah tertawa dan menepuk pundaknya hingga membuat Akira sedikit oleng dan bingung.
"Biasanya apa yang kau kerjakan setelah pulang dari sekolah (ngingg ...)"
"Nama! apa mungkin ucapan yang tidak bisa kudengar ini adalah namaku yang tidak bisa kuingat, jika itu benar maka aku akan tahu siapa diriku," ucap batin Akira.
"Ano ...! bisakah kau panggil namaku?" ucapnya sambil turun dari sepeda.
"Loh kenapa berhenti disitu, bukankah rumah kita ..." ucapnya juga berhenti lalu melihat persimpangan jalan.
"Astaga kita tidak searah ha ha ... aku lupa kalau kau belok ke arah sana, baiklah kalau gitu aku duluan ya (nging ...)."
Lagi-lagi Akira terdiam heran, dia merasa ucapannya seolah tak didengar. "Ahh ya baiklah hati-hati." jawabnya sambil melambai kemudian berbelok kepersimpangan jalan menuju rumahnya.
"Ya ampun ... apa sebenarnya yang terjadi, aku tidak bisa menemukan jawaban apa-apa, aku ingat semua tentang Ayumi, Shiro, Chio, Zen, Haruka, Naoto, dan setiap orang yang kutemui di dunia di mana aku menjadi Ken, bahkan setiap detil kejadian yang kualami, tapi kenapa aku tidak bisa mengingat semua hal tentang diriku sendiri," ucapnya terus mengayuh sepeda dengan cepat.
Dia melihat kesetiap sisi jalan yang dia lalui dan memperhatikan setiap hal yang ada dijalan itu.
Orang-orang sedang berbincang didepan toko, anak-anak bermain lompat tali, beberapa mobil mendahului dan berpepasan dengannya, ada juga yang bersepeda bersama didepan dengan seragam sekolah yang sama.
__ADS_1
Gunung fuji yang memutih atasnya kerna tertutup oleh salju dan terlihat sangat jauh membuatnya tahu betul bahwa tempatnya sekarang adalah Shizuoka Jepang.
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku bisa kembali ke dunia ini, bahkan aku bisa mengingat jalan menuju rumahku, namun justru tidak mengingat diriku sendiri dan orang-orang yang dekat denganku, penglihatan yang kabur lalu suara yang sunging ketika aku melihat dan mendengar ucapan mereka seolah tengah menghalangi untuk mengetahui identitasku sebenarnya."
Akira terus mengoceh sendirian, hingga akhirnya dia tersentak sadar dan mengerem sepedanya secara tiba-tiba ketika melihat seorang berjaket hitam dan tudung kepala menutup sedang duduk dikursi teras rumahnya, dia sangat ingat bahwa orang itulah yang mengirimnya ke dunia lain.
Dengan cepat Akira menghampirinya. "Apa yang kau inginkan dengan mengirimku ke dunia itu, dan malah membuatku lupa semua hal tentang siapa diriku yang sebenarnya," ucapnya berteriak marah didepan orang itu.
"Yo (nging..)" Suara sunging itu terdengar lebih nyaring membuat Akira segera menutup telinga.
"Aku tanya kenapa kau mengirimku ke sana dan sekarang kenapa aku malah berada di sini!" Akira berteriak terus bertanya.
"Itu tidak penting, yang terpenting adalah apakah kau sudah bertemu dengan seorang pria tua berusia sekitar 50 tahun, jika sudah maka setelah ini kau harus meminta maaf pada ayah dan ibumu kerna kau akan meninggalkan mereka untuk waktu yang lama," jawabnya membuat Akira terdiam heran sekaligus mulai merasa takut.
"Ap-apa maksudmu bicara begitu?"
"Hah ... apa boleh buat, seharusnya aku mengatakan ini ketika kau sudah mengingat semuanya di dunia sana hemmh ..." jawabnya menaikan pundak dan menggelengkan kepala.
"Ingat ini baik-baik, kau sengaja dipilih untuk sebuah misi menemukan bulan Ramadhan di dunia lain dan itu tidak akan mudah, tapi tanang saja mungkin akan ada teman-teman yang siap membantu, jadi sebaiknya kau mulai merubah sikapmu yang pendiam itu agar bisa mudah berkomunikasi dengan mereka nantinya."
Akira hanya diam dan mulai memahami kenapa dia bisa berada di dunia itu, namun dia masih merasa semua informasi itu belum cukup.
"Baiklah hanya itu yang bisa aku katakan, jadi persiapkan dirimu malam ini ..." ucapnya berlalu pergi dan menepuk pundak Akira.
"Tunggu!"
Akira berbalik dan ingin menahan orang itu dengan menggapai pundaknya, tetapi dia malah dibuat terkejut ketika tangannya menembus tubuh orang itu, Akira terdiam heran memandang tangannya dan melihat orang itu berjalan menjauh.
*Nginggg ....!!
"Satu hal lagi, jika kau telah ingat siapa dirimu di dunia sana jangan lupa untuk segera mengqhoda sholat yang tertinggal ya Akira he he ..." ucapnya mengingatkan sambil tersenyum memandangnya.
Saat itu Akira hanya terdiam dengan air mata yang telah membasahi kedua pipi, sebelum orang itu berucap dia sudah menangis ketika suara Azan berkumandang, dan ketika orang itu mengingatkannya tentang sholat suara tangisannya pun bertambah nyaring.
Dia telah ingat semua tentang siapa dia sebenarnya, dia pun telah sadar kenapa dia bisa kembali berada di dunia ini.
Semua tidak lain adalah ingatannya sebelum dikirim ke dunia itu, mereka tidak melihat dirinya yang sekarang tetapi melihat dirinya yang dulu. Itu semua seolah dikemas dengan dirinya yang mencari kebenaran.
"Oh ya Akira, besok jangan lupa bawakan buku bela diri yang kau baca itu."
"Iya tenang saja, tapi jangan asal pukul ya, nanti malah orang gila yang kau pukul ha ha ...."
"Aha ha ha ... kacau sekali kau ini."
"Loh kenapa berhenti disitu, bukankah rumah kita ...."
"Aku kan belok arah sini."
"Astaga kita tidak searah ha ha ha ... aku lupa kalau kau belok ke arah sana, baiklah kalau gitu aku duluan ya Akira."
"Yo Akira."
"Siapa kau dan kenapa kau tahu namaku."
__ADS_1
"Itu tidak penting, yang terpenting adalah apakah kau sudah bertemu dengan seorang pria tua berusia sekitar 50 tahun, jika sudah maka setelah ini sebaiknya kau segera meminta maaf pada ayah dan ibumu kerna kau akan meninggalkan mereka untuk waktu yang lama."
"A'ahh ... apa sebenarnya yang terjadi, aku memang bertemu dengannya pagi tadi, dan dia bilang akan ada orang tidak dapat menjalankan bulan ramadhan kecuali dia menemukannya, jika ini ada hubungan dengan perkataannya seperti itu, maka kumohon beri tahu aku semuanya."
"Hah ... apa boleh buat, seharusnya aku mengatakan ini ketika kau sudah mengingat semuanya di dunia sana hemmh ... ingat ini baik-baik, kau sengaja dipilih untuk sebuah misi menemukan bulan Ramadhan di dunia lain dan itu tidak akan mudah, tapi tanang saja mungkin akan ada teman-teman yang siap membantu, jadi sebaiknya kau mulai merubah sikapmu yang pendiam itu agar bisa mudah berkomunikasi dengan mereka nantinya."
"Baiklah hanya itu yang bisa aku katakan jadi persiapkan dirimu malam ini."
"Baiklah sekarang aku sudah mulai paham, terima kasih kernah sudah memberi tahuku, sekarang aku sudah sangat siap."
*Ngingg ...!!
"Satu hal lagi, jika kau telah ingat siapa dirimu di dunia sana jangan lupa untuk segera mengqhoda sholat yang tertinggal ya Akira he he ...."
"Tenang saja, Aku janji! aku akan selalu mengingat Allah dan tidak akan meninggal sholat."
Mengingat ucapnya yang telah berjanji seperti itu membuatnya menangis histeris dan merasa sangat malu dengan kenyataan apa yang dia lakukan.
"Ya Allah apa yang telah kulakukan, aku telah berjanji, namun telah kuingkari, ampuni aku ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk memerbaiki semuanya, aku mohon ya Allah ..." ucap Akira tak henti-hentinya air mata terus keluar.
"Akira ada apa?" ucap ibunya yang telah berada di depan pintu, tetapi Akira tak mendengar, dia terus menangis dan menutup matanya dengan tangan.
"Muhammad Akira!" panggil ibunya lagi membuat Akira tersentak dan menoleh.
Dia memandang ibunya yang sedang memperhatikannya dengan tatapan kasih sayang, lagi-lagi membuat air mata mengalir dipipinya yang telah basah.
"Maafkan aku Mah ..." ucapnya lirih sambil terus memandang ibunya dengan senyuman.
Seketika itu Akira pun terbangun dari tidurnya, dia tengah berada di rumah Ken dan sedang berbaring di ranjang dengan pipi yang basah.
Akira pun bangun berduduk diranjangnya dan sadar bahwa itu semua adalah mimpi yang terasa sangat nyata, dan itu seolah memberi tahu kebenaran apa yang telah dia lupakan.
Akira pun merasa yakin bahwa di sinilah tempat untuk memperbaiki dirinya yang telah bersalah terhadap Allah, sekali lagi dia telah kembali siap untuk menjalani kehidupan di dunia ini.
...●●●●...
Saat itu Chio dan juga Shiro datang ke rumah Akira, mereka muncul tiba-tiba dan membuka pintu dengan keras, namun seketika hening terdiam ketika mereka menyaksikan Akira memukul patung yang ada di rumahnya dengan sebuah balok kayu membuat patung itu hancur berserakan.
Suara Ayam terdengar berkokok bersahutan, burung bernyanyi riang beradu keindahan. suara hewan itu berpadu dengan suara hancurnya patung seolah bersorak gembira tanda mendukung.
Saat itu Ayumi sedang berjalan menuju rumah Akira dan melihat Chio dan Shiro terdiam di depan pintu membuatnya segera mendatangi mereka.
"Kalian kemarin kemana saja, aku menemukannya pingsan di jalanan dan bersusah payah membawanya ke sini, tapi kalian malah tidak ada yang memban ...."
*Prruukk ...! Prraakk ...!
Ayumi yang sedang marah pun seketika berhenti ketika mendangar suara dan melihat Akira mengahancurkan semua patung yang ada dirumahnya, semua patung yang kecil dan yang besar pecahannya berserakan dimana-mana.
Akira berhenti memukul dan menyapu keringat di dahinya, tiba-tiba dia terkejut ketika melihat mereka terdiam hening memandangnya.
"Huh ... ya ampun ... kalian mengagetkanku saja," ucapnya sambil mengelus dada.
"Oh iya, kenalkan namaku Akira, Muhammad Akira," sambungnya menyodorkan tangan dari kejauhan mengajak bersalaman dengan balok kayu digenggaman. Melihat hal itu membuat Chio, Ayumi, dan Shiro tambah kebingungan.
__ADS_1
-Bersambung-