
Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken, namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.
Waktu sore telah lama datang, suara anak-anak bermain terdengar senang. Sinar mentari dari barat berpepasan dengan jendela kamar, hingga menyinari Akira yang sedang tertidur.
Perlahan-lahan Akira mulai membuka mata, saat dia telah sadar, dia melihat seorang perempuan yang duduk bertelungkup tengah tertidur di kasur, tempat di mana dia berbaring.
Tangan lembut perempuan itu terus mengenggam tangan Akira, rambutnya yang penjang terurai membuat Akira terdiam sejenak terus memandang.
Akira yang ingatannya telah berubah membuatnya tahu betul bahwa perempuan itu adalah Ayumi. "Ayumi ... Ayumi ...." penggil Akira dengan lembut sambil menggoyang pundaknya pelan.
Ayumi membuka mata dan terbangun dari tidur, dia tampak begitu kelelahan, dan sedikit terkejut melihat Akira yang sudah sadar.
"Ken kau sudah sadar, apa ada yang masih terasa sakit," ucap Ayumi merasa khawatir, "eh apa kau tadi memanggilku Ayumi?" sambungnya heran.
"Loh kalau bukan Ayumi lalu siapa," balas Akira juga heran.
"Tidak, eh masudku bukan apa-apa," jawabnya meragukan.
"O'oh ... baiklah kalau begitu," balas Akira terdiam sejenak sambil memegang kepala yang masih terasa pusing.
"Oh ya Ayumi, apa yang terjadi padaku, kenapa kepalaku sangat pusing dan mengapa aku bisa berada dirumahmu?" sambungnya bertanya dan merasa bingung, namun Ayumi terdiam seolah memikirkan sesuatu.
"Ayumi ada apa?" tanya Akira kembali.
"Ehh emm anu ... sebenarnya tadi aku menemukanmu pingsan, aku juga tidak tau apa yang terjadi padamu, saat kutemukan kau sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, makanya aku langsung membawamu ke rumahku."
"Aha ha ha ... ternyata begitu ya, tidak kusangka kau ..." balas Akira tertawa, dia terlihat seperti mengatahui apa yang terjadi sambil memegang dagu.
"Apa yang kau maksud dengan begitu Kenn ...!" Ayumi berteriak menyodorkan wajah ke depan wajah Akira hingga sangat dekat, dia terlihat takut.
Akira kaget melihat Ayumi yang serius tepat di depan wajahnya. "Ehh anu emm ittoo ...." Akira tak bisa bicara dan Wajahnya memerah, kedua matanya ke kiri dan kanan berulang-ulang kerna tidak berani menatap Ayumi.
Dia mencondongkan perlahan tubuhnya kebelakang agar berjauhan, sahingga Ayumi pun menyadari bahwa mereka terlalu dekat, kedua pipinya memerah malu, dan tiba-tiba.
*Bruukkkk ...!!
Akira yang terus mencondongkan tubuh kebelakang akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh, Ayumi mencoba untuk menengkapnya, namun terlambat.
Dia langsung bangkit berdiri seolah-olah tidak merasakan sakit sedikit pun, sedangkan Ayumi segera memalingkan tubuh kesamping agar wajahnya tidak dilihat Akira.
"Ehem! anu ... maksudku ... mungkin aku pagi tadi tidak makan lalu kelaparan, dan akhirnya pingsan, dan tidak kusangka kau telah menyelamatkanku," jawab Akira bernada canggung sambil menggaruk pipi dengan telunjuknya.
"Yah emm ... sepertinya begitu." Matanya melirik Akira dan langsung mengalihkan pandangan ketika Akira melihatnya. Dia merasa malu dengan apa yang dilakukannya terhadap Akira.
"Yah seperti itulah he he he ...." balas Akira tertawa, namun Ayumi diam tak menjawab.
Setelah itu mereka hanya diam dengan wajah yang masih memerah, Suasana yang begitu canggung benar-benar membuat mereka sulit untuk berkata-kata, Akira terus berusaha untuk memikirkan topik apa lagi yang harus dibicarakan, hingga akhirnya menyarah dan memilih pergi berpamitan.
"Oh iya, kalau begitu aku mau pulang dulu, habisnya ketika kau bicara danganku malah tidak mau menghadap ke arahku, tapi kearah dinding aha ha ha ..." ucapnya niat bercanda, namun terdengar menyinggung.
Ayumi tidak peduli dan hanya terus diam, sesekali meliriknya dan ketika Akira melihatnya, dia lagi-lagi memalingkan penglihatan.
"Astaga Ken ... apa yang telah kau katakan," gumamnya di hati, "he he he ... emm aku pulang dulu ya, nanti kita ketamu lagi," sambungnya mulai berjalan keluar dari rumah, sesekali melihat kearah Ayumi, namun masih memalingkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku pulang du ..." ucapnya sekali lagi.
"Hati-hati Ken!" potong Ayumi sambil tersenyum ke arahnya.
Pandangan Akira langsung tertuju ke arahnya yang sedang tersenyum. "Yah tentu saja, aku akan hati-hati, aku pergi dulu dah!" Akira pun berjalan menuju pintu keluar dan terlihat senang.
Setelah Akira benar-benar keluar dari rumahnya, Ayumi langsung terlihat muram dan sedih seperti ada yang sadang dipikirkan.
"Ayumi!" teriak Akira mengagetkan.
"Iya kenapa Ken apa kau melupakan sesuatu?"
"Anu emm ... rumahku dimana yah?" jawabnya tersenyum dan kebingungan.
"Ehikss aha ha ha ...!" Ayumi tertawa melihat tingkahnya.
Akira yang melihat Ayumi terus tertawa, membuatnya terpesona dengan kecantikannya, hingga merika tidak menyadari bahwa ada seseorang laki-laki di balik pohon di halaman rumah Ayumi yang sedang memperhatikan mereka berdua sejak awal.
...●●●●...
Malam pun telah tiba, suasana sunyi membuat orang-orang tertidur nyenyak, begitu juga Akira, dia sangat nyenyak seolah tidak ada beban, tetapi, berbeda dengan Ayumi yang bahkan tidak bisa tidur.
Dia terlihat seperti orang yang banyak memikirkan sesuatu, entah apa yang dia pikirkan. "Ken ..." ucapnya lirih terlihat sedih dan air mata yang mengalir basah dipipi, lalu membalikkan tubuh ke samping menutup dirinya dengan selimut.
...●●●●...
Dipagi hari yang cerah Akira pergi jalan-jalan berkeliling desa, orang-orang cukup ramai disepanjang jalan, sebagian dari mereka ada yang pergi bekerja dan ada juga yang ke pasar dengan membawa keranjang yang terbuat dari anyaman tanaman.
"Sepertinya mereka mau pergi ke pasar, apa aku ke pasar saja ya, dari pada aku cuma jalan-jalan gak jelas."
"Oh ternyata kamu, iya pas bangat ada teman dari pada sendiri-sendiri lebih baik kita barengan aja."
"Hey katanya ada barang baru dan murah lo di pasar."
"Wahh pas bangat tuh ... ehh kamu nampak kurusan ya."
"Ah kamu, masa sih!" Kemudian keduanya tertawa bersama.
Akira mendengar percakapan keduanya, membuatnya penasaran tentang barang seperti apa yang dimaksud, hingga dia pun memutuskan untuk pergi kepasar.
"Hey, anak yang dibelakang kita ini mau ngapain ya, kok dia dari tadi ngikutin kita terus."
"Iya jangan-jangan dia mau mencuri," ucap kedua ibu-ibu itu saling berbisik
"Eehh ...! bukan-bukan, aku hanya ingin ke pasar aku ..." ucap Akira ingin menjelaskan.
"Ahh sepertinya dia menguping pembicaraan kita."
"Iya, dasar anak-anak sekarang tidak tau sopan santun, ayo lebih baik kita percepat jalannya."
"Ehh apa, tungg..." Akira ingin menjelaskan namun ibu-ibu itu sudah jauh.
"Hem ... sudahlah, lagi pula pasarnya sudah terlihat." Rupanya Akira tidak tau ke arah mana letak pasar tersebut, sehingga dia mengikuti ibu-ibu itu, kerna gerak gerik mencurigakan, akibatnya mereka salah paham.
__ADS_1
Setelah itu dia melihat sekelilingnya dan menemukan seorang pria yang sedang kesulitan menarik gerobaknya, tanpa pikir panjang dia langsung menghampiri membantu mendorong di belakang, hingga akhirnya sampai ditampat tujuan pria itu.
"Terima kasih anak muda, nih ambilah sebagai ucapan terima kasihku," ucapnya melempar sebuah koin.
Akira menangkapnya. "Tidak usah paman aku ikhlas."
Pria itu tersenyum. "Tidak apa-apa, aku juga ikhlas."
"Baiklah terimakasih," balas Akira tersenyum.
Sesampainya dipasar Akira nampak terkejut ketika melihat ramainya orang-orang, dia merasa kagum serta heran dan terus berjalan melihat-lihat kekiri dan ke kanan sambil memperhatikan apa-apa yang mereka jual.
Para pedagang terus menjajakan barang-barang yang mereka jual dengan gaya masing-masing agar menarik minat para pembeli. Barang yang mereka jual pun beragam dari bahan pokok, buah-buahan, sayur-sayuran, patung-patung yang mereka buat, hingga peralatan-peralatan rumah tangga dan lainnya.
"Dibeli dibeli sayurnya baru dipetik masih segar masih segar!"
"Ayoo! merapat-merapat harganya murah buah-buahan segar, rasa manis bikin yang makan tambah manis!"
Akira tertarik dengan buah yang di jual pedagang itu. "Paman boleh aku cicipi dulu gimana rasanya."
"Yah silahkan-silahkan."
Akira pun mencicipi buah tersebut, ternyata rasanya asem hingga ingin memuntahkan, namun kerna merasa tidak enak dengan pedagang itu yang membolehkannya mencicipi secara gratis, dia pun tetap memakannya.
"Anoo ... paman ini rasanya asem," ucapnya memberi tahu.
"Wah mana-mana?" Pedagang itu bukannya melihat buah-buahan yang dimakan Akira, dia justru malah melihat-lihat wajah Akira.
"Wah pantesan tampangmu seperti ini makanya asem."
"haahhh ...!" teriaknya kesal
"Dah jauh-jauh sana," pedagang itu mengusirnya.
"Apa-apaan paman itu bukannya menanggapiku malah mengusir, hem ... apa benar aku sejelek itu." Dia terus berjalan menjauh.
"Hey! anak muda." Pedagang itu melemparkan satu buah apel ke arah Akira.
"Weiitsss!" Akira refleks manangkap buah tersebut dan hampir terlepas.
"Ambillah itu untukmu, tenang yang itu pasti manis," ucap pedagang itu sambil tersenyum.
"Iya paman terima kasih banyak, nih ambilah juga," ucapnya sambil melempar koin dan ditangkap pedagang itu, kemudian dia menunduk tanda hormat.
"Tidak kusangka ternyata paman itu baik sekali, kupikir dia akan marah-marah."
Setelah itu dia terus berjalan-jalan di pasar sambil makan apel yang diberikan pedagang itu.
"Kennn ...!" teriak seorang laki-laki memanggilnya.
Akira membalikkan badan dan melihat seorang laki-laki melambaikan tangan ke atas diantara orang-orang yang berlalu lalang.
"Oh Chio kau kah itu?!" jawabnya juga melambaikan tangan.
__ADS_1
-Bersambung-