The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Mengungkap Rahasia Bagian 2


__ADS_3

Flashback on


Saat itu sebelum terjadi penangkapan Akira dan lainnya. Penangkapan terjadi kerna berbagai tuduhan yang dilakukan Rafu seorang utusan kedua.


Siang itu terjadi keributan di rumah tetua pertama yang tidak lain ayah Rafu sendiri. “Ayah! sudah berapa kali kubilang untuk menjadikanku utusan pertama agar kelak nantinya aku bisa jadi tetua!,” teriak Rafu.


“Aku tidak bisa begitu saja mengangkatmu jadi utusan pertama, pangkat itu sudah dimiliki Osama,” jawab tetua pertama.


“Tapi Ayahkan bisa memberhentikannya begitu saja,” balas Rafu.


“Itu tidak bisa kulakukan, mau jadi apa nantinya diliat para penduduk.”


“Ayahkan seorang tetua pertama, masa begitu saja jadi masalah, padahal Ayah sudah punya kekuasaan, kalau gitu saja tidak bisa artinya derajat yang Ayah miliki ini sama sekali tidak berguna!” teriak Rafu.


“Bukankah sudah kubilang bahwa menjadi utusan pertama harus didasari oleh kesepakatan penduduk, tidak bisa asal tunjuk saja, apa lagi tingkah lakumu diluar sana yang jelas terlihat tidak baik didepan mereka pastinya akan membuatmu jauh dari pangkat itu!” balasnya marah.


Rafu semakin kesal. “Kenapa Ayah harus menyetujui Osama sebagai utusan pertama?”


Ayahnya menggeleng seolah tak paham dengan anaknya sendiri yang tidak tahu apa-apa. “Osama bisa diangkat jadi utusan pertama kerna dia sudah mempunyai peran besar terhadap hukuman berbakti pada orang tua, apa kau tidak bisa melihatnya sendiri para warga sangat bangga atas pencapainnya.”


“Tapi, itu kan kerna Ayahnya yang telah mendapat hukuman hampir dibunuh kerna sesuatu hal apalah itu, dia cuma ingin menyelamatkan ayahnya sendiri dengan mengusulkan membuat tempat itu.”


“Tidak hanya ayahnya, hampir puluhan orang tua yang dia selamatkan dari hukuman, jika tidak ada utusan kedua yang mendukung sudah pasti usulannya tidak akan disetujui, apa lagi para penduduk sekarang sangat mendukungnya,” jawab ayahnya sedikit kesal.


“Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikir Ayah.”


“Apa lagi aku dengan dirimu ini, masalah terjadi hukuman itu saja kau tidak tahu ceritanya, hemmh ... bagaimana bisa jadi utusan pertama, kalau masalah pengatahuan saja tidak kau punya.”


“Kalau terus begini aku tidak akan bisa menjadi utusan pertama!” ucap Rafu sangat marah.


Tiba-tiba tetua terdiam dan mengingat sesuatu. “Ada satu hal jika kau ingin jadi utusan pertama, dan ini mungkin saja akan cocok dengan sifatmu,” ucapnya membuat Rafu heran.


“Apa maksud Ayah?”


“Apa kau tahu tentang cerita Thalib sang musafir yang pernah terkenal didesa kita ini?”


“Hah ... aku tidak peduli dengan cerita palsu yang tak berguna,” jawabnya meremehkan.


“Dasar bodoh! kau tahu kenapa ayah Osama dan puluhan orang lainnya bisa ditangkap dan mau dihukum mati oleh tetua pertama dahulu, itu kerna dia takut cerita nyata itu tersebar lagi!” teriaknya kesal pada anaknya sendiri.


“Nyata! apa yang Ayah bicarakan?” jawabnya heran.


“Dahulu saat ayah masih menjadi tetua kedua, tetua pertama memberi tahu ayah menganai cerita itu, dia bilang cerita itu adalah nyata dan benar adanya, dan ayah Osama adalah keturunan dari seorang murid Thalib, maka dari itu ayah Osama terus berusaha menyebarkan cerita itu lagi agar bisa dipercaya oleh penduduk, nah dari situlah hukuman larangan diterapkan hingga menjadi persidangan pertama pada ayah Osama dan puluhan orang lainnya yang percaya dan ikut menyebarkan cerita itu. Hukuman ini tidak lain hasil dari pemikiran tetua terdahulu saat ayah osama masih muda dan hukuman ini sampai sekarang masih diterapkan dengan cara dirahasiakan supaya cerita itu tetap tertutupi."


"Tapi hukuman mati digagalkan oleh usulan Osama yang masih remaja dan bantuan Tetua ketiga yang saat ini menjadi tetua kedua,” ucapnya bercerita.


“Lalu apa hubungannya denganku untuk menjadi utusan pertama,” jawab Rafu lagi heran.


“Saat itu barang peninggalan Thalib di wariskan pada orang tua ayah Osama, namun berhasil dicuri oleh utusan tetua yang menjabat dimasa itu hingga tak sengaja membunuh kedua orang tuanya,” ucapnya menjadikan Rafu kaget tak percaya.

__ADS_1


“Tapi nyatanya barang itu masih tersisa satu, maka dari itu cari tahu dan temukan satu barang peninggalan Thalib yang tersisa, ambil itu dan bawa padaku agar kita hancurkan, jika kau berhasil mendapatkannya tidak hanya jadi utusan pertama, paling tidak kau bisa jadi tetua ketiga.” jawabnya.


Rafu nampak berfikir. “Tapi kemana aku harus mencarinya?” tanyanya lagi.


“Tetua pertama dulu bilang, kalau satu barang itu kemungkinan besar disimpan oleh ayah Osama, namun itu belum pasti. Maka dari itu cari tahu kebenarannya.”


“Jika aku menemukannya apa boleh aku menggunakan segala cara untuk mendapatkannya?” ucapnya tersenyum.


Ayahnya berpaling dan berjalan menjauh. “Lakukan saja semaumu,” jawabnya terus menjauh, sedangkan Rafu tersenyum menyeringai.


Disaat sore hari tiba Rafu yang sedang asik berhura-hura disuatu kedai makan tak sengaja mendengar percakapan Zen, Haruka dan juga Naoto yang menyebutkan cerita Thalib saat mereka berjalan melalui kedai itu.


“Legenda Thalib sang musafir memang cerita yang sangat bagus ya, aku banyak mendapat pelajaran berharga dari ceritanya,” ucap Zen nyaring terdengar Rafu membuatnya berhenti makan berusaha memperjelas pendengaran.


“Yah aku juga, apa lagi berbecara soal negeri Sabbat yang indah itu,” jawab Haruka.


“Aku salut sama sifat dermawan mereka yang seolah tak mengenal batas,” seru Naoto bersemangat.


Mendengar itu Rafu penasaran dan memanggil mereka. “Hey anak-anak mau makan bersama paman, nanti paman bayar,” panggilnya.


Mendengarnya membuat Zen, Haruka dan juga Naoto saling bertatapan dan sumringah, lalu berlari mengahampiri Rafu. “Benaran Paman?!” ucap Zen.


“Tentu saja, tapi sebelum itu kasih tahu aku siapa yang menceritakan kisah Thalib pada kalian?”


“Oh gampang Paman, tapi sebelum itu juga kasih kami makan dulu he he ...” ucap Zen tersenyum sombong membuat Rafu tak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya.


Setelah diberi makan mereka pun mau bercerita. “Kami mendengar cerita ini dari Kakek di penampungan orang tua daerah sebelah, Kakek itu sangat tahu semuanya,” ucap Zen dengan mulut penuh makanan.


“Apa kalian tau siapa nama Kakek itu,” jawab Rafu.


“Kami tidak tahu, tapi jika paman bertanya tentang kakek yang suka bercerita pada penjaga, pasti akan di beritahu siapa orangnya, orang-orang disana sudah tahu semuanya,” jawab Naoto.


Dia memikirkan. “Oh baiklah aku akan langsung pergi kesana, terimakasih sudah memberi tahuku,” ucapnya segera beranjak pergi.


Zen menarik bajunya membuat Rafu terhenti dan berpaling menengok. “Bayar dulu paman,” ucap Zen tersenyum menatapnya begitu juga Haruka dan Naoto, lagi-lagi rencana liciknya untuk meninggalkan mereka gagal.


Sesampainya di panti jompo tempat kakek berada Rafu pun menanyakan hal yang sama dengan dikatakan oleh Naoto kepada penjaga, lalu penjaga pun mengarahkan kepada kakek yang sekaligus Ayah Osama.


Melihat itu membuat Rafu sedikit kesal kerna orang yang dipanggil kakek itu tidak lain adalah ayah Osama yang dibicarakannya siang tadi. “Hiss ... dasar anak-anak itu membuang uangku saja untuk mereka, aku kira akan dapatkan petunjuk berbeda dari orang lain, ternyata petunjuk yang sama seperti diberi tahu ayahku, kalau begitu aku memulainya dari sini saja.”


Rafu terpikirkan sesuatu. “Tapi sebelum itu, aku punya rencana untuk membuatnya membeberkan semua padaku, liat saja besok dia tidak akan bisa berkutik dihadapanku,” sambungnya menyeringai.


Keesokan harinya Rafu justru membawa dua pengawalnya menuju rumah nenek yang tidak lain adalah adik dari kakek. “Halo Nek, kedatangan kami disini ingin menangkap Nenek atas pelanggaran yang Nenek lakukan," ucap Rafu menyeringai, "ayo tangkap dia dan kita bawa menuju ayah Osama,” sambungnya membuat nenek kaget tak mengerti.


Setelah menangkap sang nenek dia segera membawanya kepanti jompo tampat ayah Osama dan mendorong nenek dihadapannya hingga terjatuh kesakitan.


“Apa yang kau lakukan dengan membawa adikku kehadapanku?” tanya kakek heran sekaligus marah.


“Tenang dulu Kakek ... jangan teriak begitu, aku hanya ingin mendengar tentang Thalib dari Kakek,” jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Kakek terlihat marah dan kesal, namun berusaha menyembunyikan. “Dasar! kau pikir aku akan memberi tahumu, yang benar saja minta sana pada Ayahmu sendiri untuk menceritakannya, dia justru lebih banyak tahu, maka dari itu jangan kau apakan adikku,” jawabnya.


“Yah ... sebenarnya bukan cerita itu melainkan barang yang tersisa dari peninggalan Thalib yang masih kau simpan,” ucapnya membuat Kakek dan Nenek tersentak diam.


“Bagaimana dia bisa tahu hal itu, padahal aku sudah sangat menyembunykannya,” ucapnya heran dalam hati.


“Hoo ... Kau sekarang pasti berpikir kenapa aku bisa tahu kan, seperti yang kau bilang ayahku lebih banyak tahu,” jawabnya lagi-lagi membuak kakek terdiam.


“Bagaimana tetua bisa tahu hal itu, padahal selama ini tidak ada apapun yang dia lakukan untuk mendapatkannya, kalau dia memang tahu bahwa masih ada satu peninggalan Thalib, seharusnya dia akan melakukan apa saja. Baiklah apa pun itu aku harus mengalihkannya.” ucapnya dalam hati heran.


“Bukannnya para tetua sudah mengambil semuanya, bahkan kerena kejadian itu kedua orang tuaku meninggal, apa kalian masih tidak puas setelah kejadian itu,” jawabnya marah.


Rafu justru malah tersenyum menyeringai seolah dia tahu bahwa kakek sedang berbohong. “Tangkap mereka berdua!” teriak Rafu menyuruh pengawalnya.


Seketika itu sang pengawal menahan mereka. “Astaga Kakek, itu kan bukan salahku dan juga tetua sekarang, kalau masalah yang dulu salahnya tetua terdahulu, jadi jangan marah-marah padaku,” jawabnya mendekati nenek sambil mengeluarkan pisau.


“Apa yang ingin kau lakukan pada adikku?” ucap kakek cemas.


“Nah jika adikmu ini yang meninggal gara-gara kutusuk pakai ini he he ... baru kau bisa menyalahkanku,” ucapnya membuat kakek dan nenek sangat ketakutan.


Tiba-tiba Rafu malah melayangkan pisaunya untuk menusuk perut nenek. “Hentikan!” teriak Kakek dan Rafu pun berhenti.


“Kenapa? Kau mau memberi tahu kebenarannya?” jawabnya seraya tersenyum licik.


“Kurang ajar kau Rafu,” jawab kakek menatap marah, “lepaskan dulu adikku maka aku akan memberitahukannya,” sambungnya.


“Jangan lakukan itu, apa kau ingin rencanamu gagal begitu saja, kau bilang hanya dia harapan satu-satunya. aku sudah tua, jika pun aku mati maka pasti orang-orang akan menangkap dia,” sahut nenek.


“Tapi, kau satu-satunya adik yang kumiliki, tidak mungkin aku membiarkanmu dibunuh oleh orang seperti dia, lagi pula aku sangat percaya pada mereka, orang bodoh seperti dia ini tak bisa berkutik dihadapan mereka, liat saja nanti kau juga pasti akan hancur dihadapan Akira dan yang lainnya, kerna mereka semualah yang akan menjadi penerus Thalib sang musafir,” jawab kakek seraya menatap serius pada Rafu, akan tetapi Rafu justru seolah tak peduli dengan apa yang dibicarakan kakek.


“Ha ha ha ... aduh Kakek-kakek, bicara apa coba dari tadi, eh wajar ya dia kan sudah tua jadi bicaranya ngelantur gak jelas,” ucapnya seraya tertawa bersama dua pengawalnya.


Tiba-tiba Rafu malah mendakat dan memasang wajah marah. “Kau tau, kenapa aku diberi nama Rafu. Jawabannya hanya ada satu, kerna semua yang berani melawan akan terjebak dalam jaringku, begitu juga yang kau maksud dengan Akira, siapa pun orangnya pasti akan kalah jika berhadapan denganku,” ucapnya berbisik ditelinga kakek membuatnya tersentak sadar telah mengatakan hal yang tidak perlu. Itu semua tidak lain kerna emosi samata.


“Maka dari itu cepat katakan saja dimana barang tersisa itu!” bentaknya menatap tajam.


Kakek menghela nafas pasrah kerna tak bisa berbuat apa-apa. “Osama, dia lah yang menyimpannya,” jawabnya singkat.


Rafu tersenyum dan menepuk pundak kakek kemudian berpaling dan pergi bersama pengawalnya hingga telah jauh dari kakek dan nenek. “kenapa kau juga memberi tahunya soal Akira dan yang lainnya, kalau begini semuanya akan gagal,” ucap nenek cemas.


“Tidak apa-apa, aku yakin mereka pasti bisa melalui ini, terutama Akira, kerna dia itu orang yang berbeda. Kuharap para anak-anak itu lebih dulu mendapatkan barang itu dan bisa menyimpannya lebih baik,” jawab Kakek penuh harapan.


Setelah mendapatkan informasi dari sang Kakek malamnya Rafu segera menemui Osama sendirian dan itu justru berpapasan dengan Akira dan yang lainnya.


“Hoo ... ada apa ini, kenapa para bocah itu juga datang kesini apa mereka yang disebut kakek siang tadi, jika itu benar maka aku sangat penasaran dan menantikannya,” ucapnya menyeringai kemudian bersembunyi dan memperhatikan.


Saat itu Akira dan yang lainnya masuk kedalam rumah Osama sedangkan Rafu justru mendakat kerumah Osama dan mendengarkan pembicaraan dari luar. Dari sinilah Rafu mendengar semua percakapan mereka dan menemukan fakta tentang Akira sekaligus barang peninggalan Thalib yang berbentuk buku.


Rafu tersenyum menyeringai. “Sungguh keberuntungan itu sangat menakutkan, dengan dua kenyataan ini, bukan hanya jadi tetua ketiga, aku pasti juga bisa menjadi tetua kedua, atau mungkin yang pertama he he ... saatnya pergi dan mencari cara lain untuk menangkap mereka semua,” ucapnya kemudian pergi dari tempat itu meninggal Akira dan lainya yang masih didalam.

__ADS_1


Flashback of


-Bersambung-


__ADS_2