The Lost Of Ramadhan

The Lost Of Ramadhan
Saatnya Membuat Keputusan


__ADS_3

Mereka semua memandangi Chio heran kerna cengingisan sendiri. “Ehh ... bukannya sebelumnya mereka sudah mengajak kalian lewat sebuah surat, bahkan meminta kalian untuk datang ke istana untuk membecarakannya,” ucap Hozy membuat Chio tersentak malu.


“Yah ... itu maksudku he he ...” Chio berusaha menahan malu.


Ayumi datang ikut duduk bersama. “Oh ya, bagaimana keadaan orang yang terluka siang tadi?”


“Dia sudah di jemput oleh paman Akiyama, mereka bilang dia adalah tahanan yang kabur,” jawab Chio.


“A’ahh ... entah bagaimana caranya dia berhasil menyusup ke rombongan orang-orang yang kembali itu,” sahut Akira.


“Cukup mengejutkan juga ya, bisa-bisanya dia kabur sampai ke negeri kita,” ucap Gozali.


“Akan tetapi Kanzo terlihat tidak menyukai perlakuan mereka pada orang itu,” jawab Akira.


“Cih ... tidak ada yang bisa dilakukan, itu urusan mereka!” sahut Shiro masih asik berbaring.


Mereka terdiam. “Oh ya, bicara soal paman Kanzo, dia kemarin meminta kami untuk menemaninya pergi ke negeri kalian,” ucap Gozali.


“Benarkah!” Ayumi merasa senang.


“Sebenarnya aku merasa malas, akan tetapi paman Kanzo terlihat takut kalau dia sendirian, jadi apa boleh buat aku harus menemaninya,” sahut Hozy menyombongkan diri.


“Kau ini asal bicara saja,” sahut Hana memukul pelan kepala Hozy dengan gelas ditangannya.


“Sepertinya dia sudah sangat rindu dengan kampung halamannya,” sambung Hana.


“Syukurlah kalau begitu, kami ikut senang mendengarnya,” jawab Chio diangguki Akira dan Ayumi.


“Kalau kalian kapan akan melanjutkan perjalanan?” tanya Hozy.


Mereka terdiam sebentar dan saling menatap. “Entahlah, kami masih ragu dengan negeri itu,” jawab Akira.


“Maksudnya?” tanya Gozali.


“Seperti yang kita bicarakan sebelumnya banyak yang mencurigakan dari orang-orang yang kembali itu, kami merasa seperti ada yang di sambunyikan, aku juga sempat melihat daftar nama orang yang kembali itu dari pemimpin rombongan, jumlahnya ada tiga puluh wanita dan sepuluh laki-laki, sedangkan yang belum kembali ada sekitar empat puluhan lagi,” jawab Chio.


“Bukannya itu memang keinginan mereka untuk memilih menetap?” sahut Hana.

__ADS_1


“A’ahh ... hanya saja dengan jumlah sebanyak itu, apa mereka benar-benar tidak ingin menemui keluarganya lagi,” jawab Akira.


Hana nampak tak setuju. “Bukannya aku mau menggurui kalian, hanya saja kecurigaan kalian terlalu berlebihan,” balasnya.


“Ah ... ha ha ... benar sekali, sungguh tidak baik bagi kami mencurigai mereka tanpa bukti, sepertinya kami harus menanyakannya secara langsung,” jawab Chio.


“Cih ... dasar! Dari pada kita menanyakan pada setiap orang, lebih baik kita tanyakan saja pada ibu Naya, aku ingin menegih janjinya,” sahut Shiro.


“A’ahh ... aku juga tak sabar ngin makan kue gegatas buatannya,” balas Akira.


“Cih ... aku lah yang meminta padanya, kalian tidak boleh dapat bagian,” balas Shiro.


“Ha ha ... maaf saja kami juga ikut berperan soal itu,” sahut Chio lebih bersemangat.


“Hah ... dasar kalian ini kalau soal makanan malah sangat antusias.” Ayumi menepuk jidatnya.


“Oh jadi kalian tidak suka dengan kue buatanku ya!” sahut Hana terlihat marah membuat Akira, Chio dan Shiro ketakutan, sedangkan yang lainnya di buat tertawa.


...●●●●...


Keesokan harinya Akira dan lainnya pun telah sampai ke rumah Naya. “Baguslah kalian akhirnya datang juga, aku sudah menunggu dari tadi,” ucap Naya menyambut mereka.


“Kami masuk ya,” ucap Chio.


“Assalamualaikum,” ucap Akira.


“Waalaikumsalam,” jawab ibu Naya, “masuklah kami sudah menunggu kalian lo,” sambungnya.


Akira, Chio dan Shiro pun duduk menghadap ibu Naya, saat itu tidak terlihat kakek dan neneknya. “Kekek dan neneknya sedang pergi ke ladang,” ucap Ibu Naya kerna melihat gerak gerik mereka seperti mencari sesuatu.


Menyadari itu mereka merasa malu. “Anu sebenarnya kami ingin mendengar bagaimana negeri itu sekarang,” ucap Chio memecah rasa canggung.


“A’ahh ... kami juga ingin melanjutkan perjalanan ke negeri sana, namun sebelum itu kami harus tahu bagaimana keadaan negerinya,” sahut Akira.


Ibu Naya tersenyum. “Jika kalian berhasil sampai ke negeri itu, kalian akan melihat ke indahan dan kemegahannya, negeri itu sangat luas dari pada negeri Sabbat ini, aku yakin jika kalian melihat sendiri kalian pasti merasa tidak ingin pulang.”


Akira dan Chio saling menatap ragu. “Oh ya, di kota shukufuku yang memimpin adalah raja Daichi, lalu siapa yang memimpin di sana?” tanya Chio.

__ADS_1


“Aku tidak begitu ingat namanya, namun yang pasti dia punya hubungan darah dengan raja Daichi, mungkin adiknya,” jawabnya membuat mereka sedikit kaget.


“Dan lagi raja itu sengat memperhatikan rakyatnya, tidak ada satu pun penduduknya yang mengalami kemiskinan, mereka bilang raja itu sangat baik dan suka berbagi pada rakyatnya, aku bahkan merasa ingin kembali kesana bersama Akiko,” sambungnya.


Akira dan Chio tersenyum sedangkan Shiro terlihat biasa-biasa saja. “Lalu apakah di sana banyak orang-orang muslim, dan bagaimana dengan cerita Thalib dan Alhudari?” tanya Akira.


“Maaf soal itu aku tidak terlalu memperhatikan,” jawabnya.


“Cih ... kau ini, bukannya sudah jelas kalau di sana cuma ada orang-orang yang menyembah Matahari, seperti halnya di kota sebelah,” sahut Shiro pada Akira.


“Kalian tidak perlu khawatirkan itu, mereka bilang tidak akan mempernasalahkan perbedaan agama, semuanya punya hak untuk memilih,” ucap Ibu Naya menghilangkan rasa khawatir mereka.


“Oh ya butuh berapa hari untuk bisa sampai kesana?” tanya Chio.


“Maaf aku juga tidak memperhatikan itu, kami saat itu berada di kereta kuda yang tertutup agar tidak kepanasan dan kehujanan, kerna lelah aku juga sering tidur, tetapi pemimpin rombongan bilang membutuhkan sekitar satu minggu lebih,” jawabnya.


“Syukurlah ... kami sangat merasa lega setelah mendengar ini, kami selalu mengira bahwa ada yang di sembunyikan oleh mereka, dan jujur saja itu sedikit membuat kami takut untuk mengambil keputusan,” ucap Chio.


“Cih ... itu cuma kau saja yang merasakannya, dari awal aku sudah selalu siap,” sahu Shiro sombong.


“Hah ... dasar kau itu cuma bisa santai!” ejek Chio.


“Cih ... lancang sekali kau bicara.” Shiro mulai kesal.


“A’ahh ... seperti yang kak Hana bilang kecurigaan kita terlalu berlebihan,” sahut Akira sedikit tertawa.


Ibu Naya tersenyum melihat mereka. “Aku dengar dari Akiko kalian seorang musafir ya, sebaiknya kalian segera memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, katanya menteri Akiyama mengajak orang lagi untuk pergi ke negeri mereka, dia juga mengajak secara langsung pada mereka yang anggota keluarganya tidak kembali, mereka juga berjanji akan mempertemukan secara langsung.”


“Baguslah kalau begitu, nanti kami akan pergi langsung menemuinya ke istana,” jawab Chio.


“Ini kesempatan yang bagus, kita bisa pergi dengan nyaman tanpa terlalu memikirkan perbekalan,” sahut Akira.


“Hah ... kenapa lama sekali, mana kuenya!” teriak Shiro.


Akira dan Chio tersentak kaget. “Kau ini punya rasa malu atau tidak!” teriak Chio marah pada Shiro.


Naya keluar menengok mereka dengan wajah kesal. “Kalau mau cepat kalian harus ikut membantu!”

__ADS_1


Melihat Chio dan Shiro yang bertengkar, Naya yang terus marah-marah lalu disusul Ayumi yang tak tahan lagi membuat Akira dan Ibu Naya tertawa bersama. Keputusan pun telah mereka dapatkan yaitu akan segera melanjutkan perjalanan.


-Bersambung-


__ADS_2