
Catatan : Dalam chapter ini ingatan Akira sudah berubah menjadi seorang yang bernama Ken namun author tetap memanggilnya dengan nama Akira agar lebih mudah.
Suara serangga pohon bernyanyi ramai saling bersahutan, udara panas siang hari membuat penduduk desa mengeluh tak tahan. Percakapan mereka terdengar dari kejauhan membuat orang-orang yang sedang berjalan bergegas untuk sampai tujuan.
Aroma wangi makanan yang disajikan tercium semerbak di udara, semua telah disiapkan untuk menggelar upacara. Mereka datang dari segala penjuru desa, baik itu anak-anak maupun remaja dan dewasa.
Semua gerbang tempat itu terbuka lebar, memperlihatkan ratusan patung tersusun rapi dan berjajar. Patung-patung itu terbuat dari berbagai bantuk dengan bahan yang berbeda, ada yang terbuat dari tanah liat, besi, kayu, bahkan dari emas dan perak pun ada.
Akira dan lainnya pun telah sampai di gerbang tempat upacara itu, namun betapa terkejutnya dia ketika melihat deretan patung tersusun rapi dari yang kecil sampai yang besar, semuanya terlihat sangat banyak hingga membuatnya terdiam heran dangan apa yang dia saksikan.
"Ada apa Ken, kenapa kau terdiam?" tanya Chio.
"Oh tidak, bukan apa-apa" balas Akira, namun Chio nampak tak percaya.
"Sepertinya upacara sudah mau dilaksanakan, ayo cepat kita juga harus berkumpul," sahut Ayumi membuat mereka bergagas masuk dan berkumpul.
Melihat semua orang telah banyak, sang tetua pun berdiri di depan para penduduk sedangkan para utusan tetua berada di belakangnya.
"Para wargaku sekalian aku ucapkan terima kasih terlebih dahulu atas keikutsertaan kalian dalam mengikuti upacara yang sakral ini, kalian yang bisa datang berhadir ke sini aku berharap agar kalian dapatkan kesalamatan dan kesejahtaraan."
"Upara peribadatan ini adalah upacara yang biasa kita laksanakan di negeri kita, maka dari itu aku sangat bangga dengan kalian yang tak pernah tidak ikut dan selalu siap melaksanakan upacara ini, dan aku juga berterima kasih kepada utusan-utusanku yang telah mempersiapkan ini semua dengan baik dan cepat, patung-patung yang ada di sini adalah patung yang selalu menjaga kita semua dari bencana, dan, kita semua ...." ucap tetua desa itu lantang dan sedikit berbelit-belit.
"Hey Chio, lihatlah tetua, lagi-lagi dia bicara panjang lebar, lebih baik kita segera melaksanakan rencana kita yang biasa," ucap Akira berbisik.
"Apanya ...?" jawab Chio seolah lupa.
"Yaelah kau Chio, kita pura-pura ketinggalan sesuatu dan pergi dari sini," balas Akira mengajak.
"Ehh ...! kita sudah beralasan dua kali dengan itu, cari cara lain," jawab Chio membuat Akira terdiam berpikir.
"... dengan begitu kita akan jadi orang yang lebih baik, maka dari itu sebentar lagi kita akan persembahkan sujud kita kepada mereka semua," ucap tetua bertambah nyaring, hingga membuat seluruh penduduk bersorak riuh.
"Bagaimana kau sudah tamukan caranya?" tanya Chio lagi.
"Belu ... argh ...!" teriak Akira tiba-tiba merasa sakit kepala hingga terjongkok.
"Kenapa Ken, apa yang terjadi."
"Kepalaku tiba-tiba sangat sakit dan perutku terasa mual," jawab Akira sambil menahan perut.
__ADS_1
"Aha ha ha ... bagus Ken teruskan, itu rencana yang sangat bagus." Chio tertawa dan bangga.
"Aku serius bodoh ..." balas Akira, "tidak maksudku, ahh ... maaf Chio aku tidak sengaja berkata seperti itu, maafkan aku," sambungnya sambil mendongak memandang Chio.
"Lupakan saja, itu sudah biasa, aku pikir ini rencanamu, ayo kita segera minta izin pulang," jawab Chio mengulurkan tangan dan disambut Akira, lalu Chio membantunya berdiri, "tunggu dulu, apa kau tadi minta ...."
"Cih ...berisik!" sahut Shiro memotong pembicaraan di belakang.
Ayumi yang sedikit jauh dari mereka bertiga pun melihat Akira yang dibantu Chio beridiri sambil memegang kepalanya, dia pun berjalan mendakati.
"Kalian ini menggangguku saja! apa kalian tidak lihat aku sedang mendengarkan ucapan tatua dengan serius di sini," ucap Shiro membuat Akira dan Chio memandangnya bersamaan.
"Apa yang terjadi dengan Ken Chio?" tanya Ayumi memotong.
"Aku juga kurang tahu apa yang terjadi dengannya, katanya dia sakit kepala dan mual," jawab Chio teralihkan.
Raut wajah Shiro pun berubah kesal kerna tidak didengar. "Cih ...Kalian ini kenapa selalu saja gadungan ini yang kalian perhatikan," sahutnya kesal.
Mendengar ucapannya, Ayumi pun marah. "Ini semua ulah kau Shiro, makanya Ken jadi seperti ini, kau harus tanggung jawab untuk mengantarnya pulang."
"Loh aku gak ngapa-ngapain dari tadi Ken saja yang lemah, mungkin dia tidak tahan panas-panas."
"Bukan itu, tapi ini kerna perkelahian kalian tadi, ah sudahlah pokoknya kau harus tanggung jawab."
"Shiro!" teriak Ayumi membuat beberapa pasang mata melihatnya.
"Tidak perlu memaksanya, biar aku saja yang antarkan Ken," sahut Chio melerai, "ayo Ken kita harus cepat agar kau bisa beristirahat," sambungnya sambil membantu Akira berjalan, tampak Akira sulit untuk ikut berbicara, kerna rasa mual dan pusing mengganggunya.
"Antarkan Ken sampai ke rumahnya Chio," pinta Ayumi, sedangkan Shiro nampak tak peduli.
Kemudian Chio mengangguk dan tersenyum sambil membantu Akira berjalan menuju utusan tetua untuk meminta izin.
Setelah sampai mereka melihat Osama sibuk menyiapkan makanan."Paman Osama!" panggil chio membuatnya menghampiri.
"Oh jadi orang yang melakukan pengumuman tadi namanya Osama ya," Sahut Akira berbisik, dan Chio menoleh heran.
"Loh kenapa Ken terlihat sakit apa yang terjadi," jawab Osama.
"Sepertinya dia tidak makan pagi tadi makanya jadi begini, aku kesini mau minta izin untuk mengantarkan Ken pulang," balas Chio.
__ADS_1
"Tidak perlu, kau bisa menitipkannya di penitipan anak yang sakit."
"Paman ... itukan untuk anak-anak, sadangkan Ken sudah besar," balas Chio.
Osama kemudian memandang Akira dengan seksama seolah tak percaya, Akira pun balik memandang dan tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Baiklah sebaiknya kau segara mengantarnya, setalah itu kau tidak perlu kembali lagi ke sini, cukup bantu dia di rumah, dan ini makanan untuk kalian berdua," ucap paman itu sambil menyodorkan makanan yang telah disiapkan untuk upacara.
"Terima kasih banyak paman sudah mengizinkan kami, kalau gitu kami pergi dulu."
Setelah mendapat izin dari Osama, mereka pun bergegas untuk sampai ke rumah, walaupun Akira sadikit kesulitan untuk berjalan kerna merasa sangat pusing, namun pada akhirnya mereka pun sampai. Chio pun segera membaringkan Akira diranjang agar dia bisa beristirahat.
"Maafkan aku selalu merepotkanmu," ucap Akira yang telah berbaring.
"Tenang saja, kau tidak perlu minta maaf, ini sudah kewajibanku sebagai teman untuk saling membantu, sebaiknya kau tidur saja, aku akan bersantai di ruang tamu, kalau kau butuh sesuatu panggil saja," balas Chio, "oh ya kalau boleh aku ingin bermalam malam ini," sambungnya meminta.
"Iya terserah kau saja, sepertinya aku akan tidur sampai pagi untuk memulihkan kepalaku yang sangat sakit, dan makanan yang diberikan paman Osama, makan saja."
"Baiklah kalau maumu begitu, aku tidak akan mengganggu, malam ini aku akan tidur dikursi tamu saja."
"Iya terima kasih banyak Chio kau sudah banyak membantu." jawab Akira, Chio pun tersenyum dan keluar dari kamar.
...●●●●...
Keesokan harinya Akira terbangun kerna mendengar suara ayam yang berkokok, namun matahari belumlah terbit. Suasana pagi yang masih gelap dan dingin benar-benar sulit untuk seseorang berjalan keluar tanpa penerangan. Entah apa yang membuatnya beranjak dari tempat tidur dan menuju sumur belakang rumah.
Saat itu dia meletakkan lampu yang dibawanya didekat sumur, lalu mengambil airnya. Setelah itu membasuhkan ke wajah, tangan, dan mengusap kepala, hingga telinga dan kakinya, kemudian mengangkat kedua tangan seperti orang yang berdoa.
*Bruukkk!
Wadah yang digunakan untuk mengambil air itu tiba-tiba jatuh, Akira pun terkejut.
Nampaknya dia sedang tidak sadar dengan apa yang dilakukan, Akira seperti orang yang sedang tidur berjalan dan mengigau, tetapi, pada kenyataannya semua yang dia lakukan hanyalah sebuah repleks tubuh terhadap kebiasaan yang sering dilakukan.
"Astaga apa yang kulakukan, apa aku sedang mengigau," ucapnya memperhatikan seluruh tubuh yang basah, "ya ampun ... ada-ada saja untunglah aku tidak bercebur ke sumur sini," sambungnya melihat dalamnya sumur itu.
Tiba-tiba Angin sedikit berhembus "Woo ... dinginnya ... lebih baik aku kembali ke rumah dan tidur, hal seperti ini tidak perlu kucemaskan orang-orang pun sering melakukannya." Dia nampak tidak peduli dan mengira itu hanyalah sesuatu yang bisa terjadi kepada siapa pun.
"Apa yang sedang terjadi padamu Ken!, itu bukanlah hal biasa, itu semua adalah tindakan yang sudah terbiasa," ucap Chio yang ternyata sedari awal memperhatikan Akira, mulai dari bangun tidur dan berjalan kebalakang.
__ADS_1
"jika ada orang yang melihat itu mungkin mereka tidak peduli dan menganggap biasa, namun dimataku, semua yang kau lakukan sejak awal adalah sesuatu yang teratur, dan merupakan kebiasaan yang sering dilakukan." Dia terus memperhatikan apa yang dilakukan Akira dari balik dinding rumah.
-Bersambung-